ASI Booster: Makanan dan Suplemen Pelancar ASI
Oleh Tim Redaksi Asuh Anak· 14 menit baca

ASI booster adalah sebutan populer untuk makanan, minuman, atau suplemen yang dipercaya dapat melancarkan dan meningkatkan produksi ASI. Dalam istilah medis, zat semacam ini disebut laktogogue atau galactagogue. Kabar yang perlu Bunda ketahui sejak awal: bukti ilmiah untuk sebagian besar ASI booster masih terbatas dan tidak seragam, sementara faktor yang paling menentukan produksi ASI justru bukan produk apa pun, melainkan seberapa sering dan seberapa tuntas payudara dikosongkan oleh isapan bayi. Artikel ini membahas apa itu ASI booster, mana yang buktinya relatif kuat dan mana yang lemah, pilihan alami yang sering dipakai ibu Indonesia seperti daun katuk dan daun kelor, serta hal-hal keamanan yang perlu diperhatikan sebelum Bunda memutuskan mencobanya.
Apa Itu ASI Booster dan Laktogogue?
IDAI menjelaskan bahwa laktogogue adalah obat atau zat yang dipercaya dapat membantu merangsang, mempertahankan, atau meningkatkan produksi air susu ibu pada ibu menyusui. Istilah "ASI booster" yang beredar di pasaran pada dasarnya merujuk pada hal yang sama, hanya dengan bahasa yang lebih akrab di telinga orang tua.
Cakupannya cukup luas. Ada yang berupa bahan makanan sehari-hari seperti daun katuk, daun kelor, atau oat. Ada yang berbentuk suplemen herbal dalam kemasan kapsul, teh, atau biskuit. Ada pula yang berupa obat resep, dan kelompok terakhir ini jelas bukan sesuatu yang boleh dibeli sendiri tanpa pengawasan tenaga kesehatan.
Mengapa topik ini begitu ramai? IDAI mencatat bahwa produksi ASI yang rendah merupakan alasan tersering ibu atau orang tua menghentikan menyusui bayinya, sehingga para ibu maupun dokter berusaha mencari cara untuk mengatasi masalah ini. Kekhawatiran "ASI saya kurang" adalah kecemasan yang sangat nyata dan sangat umum, dan dari situlah pasar ASI booster tumbuh besar. Memahami konteks ini penting supaya Bunda bisa menilai klaim produk dengan kepala dingin, bukan dari rasa panik.
Kunci Produksi ASI Ada pada Pengosongan Payudara, Bukan pada Produk
Ini bagian yang paling penting dan paling sering terlewat ketika orang berburu ASI booster. Kalau Bunda hanya sempat membaca satu bagian dari artikel ini, bacalah yang ini.
IDAI menjelaskan bahwa ASI diproduksi melalui proses kompleks yang mencakup faktor fisik dan emosional serta interaksi banyak hormon, terutama prolaktin. Setelah bayi lahir dan plasenta dikeluarkan, kadar progesteron dan estrogen ibu menurun sehingga kadar prolaktin meningkat dan produksi ASI pun dimulai. Tahap ini disebut kontrol endokrin, dan ia berjalan otomatis pada tubuh ibu.
Yang menarik terjadi setelahnya. Masih menurut IDAI, setelah beberapa hari kadar prolaktin secara bertahap berkurang, tetapi produksi ASI tetap dipertahankan bahkan meningkat karena mekanisme umpan balik lokal, yaitu dengan mengosongkan payudara. Tahap ini disebut kontrol otokrin. Konsekuensinya tegas sekali, dan IDAI menuliskannya dengan jelas: peningkatan kadar prolaktin diperlukan untuk meningkatkan produksi ASI, tetapi tidak untuk mempertahankannya. Jika pengosongan payudara tidak dilakukan secara teratur dan sempurna, produksi ASI akan berkurang. Sebaliknya, makin sering dan makin sempurna pengosongan payudara, makin meningkat produksi ASI.
Kemenkes RI menjelaskan hal yang sejalan dari sisi praktik sehari-hari. Bila bayi diberi air putih atau cairan lain, bayi akan cepat merasa kenyang sehingga jarang menyusu, dan bayi yang jarang menyusu berisiko mengurangi produksi ASI. Jadi rantai sebabnya sederhana: makin jarang payudara dikosongkan, makin sedikit ASI yang diproduksi.
Karena itulah lembaga rujukan pun menempatkan booster pada posisi sekunder. LactMed, basis data obat dan laktasi milik National Institutes of Health (NIH), mencantumkan kalimat yang sama berulang kali pada monografi fenugreek, kelor, maupun katuk: laktogogue tidak boleh menggantikan evaluasi dan konseling terhadap faktor-faktor yang bisa diperbaiki yang memengaruhi produksi ASI. IDAI menyimpulkan hal serupa, bahwa sebelum menggunakan laktogogue sebaiknya perbaiki dulu teknik menyusui dan faktor lain yang mungkin menjadi penyebab kurangnya produksi ASI.
Memahami mekanisme ini juga melegakan secara emosional. Produksi ASI bukan soal keberuntungan atau kualitas tubuh ibu yang "bagus" atau "kurang bagus". Ia adalah sistem yang merespons rangsangan, dan rangsangan itu bisa diperbaiki dengan bantuan yang tepat. Bila Bunda ingin memahami fondasinya lebih dulu, silakan baca panduan ASI eksklusif adalah yang membahas prinsip dasar menyusui pada enam bulan pertama.
Makanan Pelancar ASI yang Sering Dipakai Ibu Indonesia
Setelah fondasinya jelas, mari kita bahas bahan-bahan yang paling sering disebut sebagai makanan pelancar ASI, lengkap dengan seberapa kuat buktinya masing-masing.
Daun Katuk
Daun katuk adalah primadona di Indonesia. LactMed (NIH) sendiri mencatat bahwa daun Sauropus androgynus digunakan sebagai laktogogue di Indonesia dan Malaysia, tempat tanaman ini disebut katuk atau cangkok. Daunnya kaya karotenoid provitamin A, vitamin C dan E, beberapa mineral, serta polifenol dan flavonoid seperti kuersetin dan kaempferol.
Bagaimana buktinya? Di sinilah kita perlu jujur. Menurut LactMed, penelitian pada hewan menunjukkan katuk meningkatkan ekspresi gen prolaktin dan oksitosin pada tikus menyusui. Namun untuk manusia, LactMed menilai bahwa penelitian katuk sebagai laktogogue mengandung kelemahan desain yang serius dan belum tentu membuktikan bahwa katuk benar-benar bekerja sebagai laktogogue.
Contohnya bisa dilihat dari studi Indonesia yang dikutip LactMed. Studi multisenter tanpa penyamaran itu memberi ibu tablet katuk tiga kali sehari selama 15 hari, dan kelompok tersebut menghasilkan 264 mL ASI dibandingkan 198 mL pada kelompok kontrol, sebuah perbedaan yang secara statistik bermakna. Tidak ada perbedaan bermakna pada kadar lemak maupun protein ASI. Tetapi LactMed mencatat studi ini tidak memiliki plasebo dan penyamaran yang sesungguhnya, serta memperlakukan kedua kelompok secara tidak setara. IDAI juga mengutip penelitian Saroni dan kawan-kawan yang mendapatkan kenaikan produksi ASI 50,7 persen lebih banyak pada ibu yang mengonsumsi ekstrak daun katuk dibandingkan kelompok plasebo, serta penurunan jumlah subjek kurang ASI sebanyak 12,5 persen, tanpa perbedaan kadar protein dan lemak ASI.
Jadi gambarannya begini: sinyalnya ada dan konsisten ke arah positif, tetapi mutu buktinya belum cukup kuat untuk disebut terbukti. Untuk takaran yang sesuai dengan kondisi Bunda, konsultasikan dengan bidan, dokter, atau konselor laktasi.
Daun Kelor
Daun kelor (Moringa oleifera) justru punya dukungan bukti yang lebih baik dibanding katuk. LactMed (NIH) mencatat daunnya mengandung vitamin, mineral, dan asam amino esensial, dan telah digunakan sebagai laktogogue di Asia, khususnya di Filipina yang menyebutnya malunggay.
Poin kuncinya: menurut LactMed, meta-analisis terbaru dan paling komprehensif yang mencakup 14 studi dengan 865 subjek menunjukkan bahwa kelor meningkatkan prolaktin serum serta volume dan kualitas ASI. Ini adalah dukungan bukti terkuat di antara bahan-bahan yang dibahas di artikel ini. Meski begitu, LactMed menambahkan bahwa manfaat jangka panjang bagi bayi yang disusui belum diteliti dengan baik.
Fenugreek
Fenugreek (Trigonella foenum-graecum), yang di Indonesia dikenal juga sebagai klabet, adalah herbal yang menurut IDAI paling sering direkomendasikan sebagai laktogogue. Menariknya, justru di sinilah buktinya paling bertentangan.
LactMed (NIH) menuliskan bahwa efek laktogogue fenugreek pada manusia mungkin terutama bersifat psikologis, meskipun sebagian penelitian lain menunjukkan fenugreek mungkin bekerja dengan meningkatkan sekresi insulin, prolaktin, dan oksitosin. Yang paling menggambarkan situasinya: satu meta-analisis menemukan fenugreek memiliki efek laktogogue ringan dengan profil keamanan yang belum diketahui, sementara meta-analisis lain tidak menemukan bukti yang baik bahwa fenugreek adalah laktogogue. Dalam sebuah survei di Amerika Serikat terhadap 122 ibu yang memakai fenugreek, 43 persen merasa produksi ASI-nya meningkat dan 5 persen justru merasa produksinya menurun. IDAI juga mencatat bahwa mekanisme kerja spesifik fenugreek tidak diketahui.
Oat dan Kurma
Dua bahan ini sangat populer di media sosial, tetapi di sinilah kita paling perlu berhati-hati. Berbeda dengan katuk, kelor, dan fenugreek yang punya monografi tersendiri di LactMed (NIH), oat maupun kurma tidak memiliki monografi laktogogue di basis data tersebut. Artinya dukungan bukti ilmiahnya sebagai pelancar ASI adalah yang paling tipis di antara semuanya.
Namun ini bukan berarti Bunda perlu menghindarinya. Oat dan kurma adalah makanan bergizi yang aman dan mengenyangkan, dan itu saja sudah menjadi alasan yang cukup baik untuk memakannya. Ibu menyusui membutuhkan asupan yang cukup dan bervariasi, jadi menikmati semangkuk oat atau beberapa butir kurma adalah kebiasaan yang baik. Yang perlu diluruskan hanya klaimnya: nikmati keduanya sebagai makanan bergizi, bukan sebagai obat yang dijanjikan menambah ASI.
Seberapa Kuat Bukti Ilmiah ASI Booster Secara Keseluruhan?
Bila kita rangkum, gradasi buktinya tidak sama rata. Kelor berdiri paling depan dengan dukungan meta-analisis 14 studi dan 865 subjek menurut LactMed. Katuk punya banyak penelitian dengan arah positif tetapi mutu desainnya dinilai lemah oleh LactMed. Fenugreek berada di posisi paling membingungkan karena dua meta-analisis memberi kesimpulan yang saling bertentangan. Oat dan kurma nyaris tidak punya dukungan bukti spesifik sebagai laktogogue.
Ada satu hal lagi yang jarang dibicarakan iklan: soal produknya sendiri. LactMed (NIH) mengingatkan bahwa suplemen makanan tidak memerlukan persetujuan pra-pemasaran yang ketat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat. Produsen bertanggung jawab memastikan keamanan, tetapi tidak perlu membuktikan keamanan dan efektivitas suplemen sebelum dipasarkan. LactMed juga mencatat bahwa suplemen bisa mengandung banyak bahan sekaligus, dan sering ditemukan perbedaan antara bahan yang tertera di label dengan bahan atau jumlah yang sebenarnya. Konsekuensinya, hasil uji klinis pada satu produk belum tentu berlaku untuk produk lain, bahkan bila bahan utamanya sama.
Bagaimana dengan obat resep? IDAI membahas beberapa obat yang dilaporkan penggunaannya untuk mempertahankan proses menyusui dan memperbaiki produksi ASI, seperti metoklopramid, domperidon, sulpirid, dan klorpromazin. Namun IDAI menegaskan penggunaan obat-obat tersebut perlu pengawasan karena adanya efek samping yang dilaporkan. Obat-obat ini bukan sesuatu yang bisa dibeli dan diminum sendiri berdasarkan cerita di grup ibu-ibu. Keputusan menggunakannya harus datang dari dokter yang menilai kondisi Bunda secara langsung.
Kesimpulan IDAI menutup bagian ini dengan seimbang: laktogogue herbal dapat dipertimbangkan penggunaannya pada keadaan kekurangan ASI dengan mempertimbangkan risiko dan keuntungannya. Perhatikan kata "dipertimbangkan" dan "risiko", bukan "dianjurkan untuk semua ibu".
Keamanan ASI Booster dan Kapan Wajib Konsultasi
Karena berasal dari tanaman, ASI booster herbal sering dianggap otomatis aman. Anggapan ini perlu diluruskan, karena alami tidak selalu berarti tanpa risiko.
Pada daun katuk, LactMed (NIH) mencatat bahwa konsumsi daun katuk segar secara berlebihan dapat menyebabkan bronkiolitis obliterans, sebuah gangguan paru yang berpotensi fatal. Sebagian besar pasien yang dilaporkan adalah perempuan muda dan paruh baya dengan rata-rata usia 39 tahun. LactMed menambahkan bahwa daun yang dimasak kemungkinan tidak menimbulkan efek racun serupa, dan mencatat dalam satu penelitian, 3 sampai 5 persen perempuan yang menerima katuk mengalami peningkatan enzim hati.
Pada fenugreek, catatannya cukup panjang. LactMed (NIH) mencatat fenugreek diakui "generally recognized as safe" sebagai perisa oleh otoritas obat dan makanan Amerika Serikat, tetapi data ilmiah tentang keamanannya pada ibu menyusui dan bayi masih terbatas. Efek samping saluran cerna seperti diare, kembung, mual, dan muntah dapat terjadi. Toksisitas hati pernah dilaporkan, baik saat dipakai sendiri maupun dalam kombinasi herbal yang mengandung fenugreek. Reaksi alergi dan perburukan gejala asma juga pernah dilaporkan, dan reaksi silang dengan kacang arab, kacang tanah, serta polong-polongan lain dimungkinkan. Fenugreek juga dapat berinteraksi dengan warfarin sehingga menimbulkan perdarahan, dan LactMed menyarankan kehati-hatian pada perempuan dengan diabetes melitus atau yang sedang mengonsumsi warfarin. Dalam survei ibu menyusui di Australia, dari 421 ibu yang memakai fenugreek, 17 persen melaporkan mengalami reaksi yang tidak diinginkan, paling sering berupa kenaikan berat badan dan berbagai efek saluran cerna. IDAI juga mencatat efek samping berupa bau seperti maple pada urine dan keringat, diare, serta memperberat gejala asma.
Pada daun kelor, LactMed (NIH) mencatat kabar yang relatif menenangkan: daun kelor luas digunakan sebagai makanan dan obat di Asia dan Afrika, dan penelitian tidak menemukan efek samping serius jangka pendek pada ibu menyusui maupun bayi yang disusui. Namun ada satu catatan penting, yaitu kelor dapat merangsang pembekuan darah sehingga kehati-hatian disarankan pada siapa pun yang berisiko tinggi mengalami pembekuan darah.
Cara Meningkatkan Produksi ASI yang Paling Terbukti
Bila booster hanya pelengkap, apa yang seharusnya jadi fokus utama? Kemenkes RI memberi panduan yang konkret dan bisa langsung dijalankan.
Susui bayi sesering mungkin atau setiap kali bayi menginginkannya, yaitu 8 sampai 12 kali sehari atau lebih. Bayi menyusu normalnya antara 20 sampai 30 menit untuk dua sisi payudara. Bangunkan bayi bila ia tidur lebih dari 3 jam, lalu susui. Susui sampai payudara terasa kosong, baru pindah ke payudara lainnya. Panduan terakhir ini penting sekali karena langsung menyentuh mekanisme kontrol otokrin yang dijelaskan IDAI tadi: payudara yang benar-benar kosong adalah sinyal paling kuat untuk memproduksi lebih banyak ASI.
Pada hari-hari awal, polanya sedikit berbeda dan itu wajar. Kemenkes RI menjelaskan bahwa pada hari pertama, ukuran dan volume lambung bayi hanya sebesar kelereng, dan bayi menyusu sebanyak 5 sampai 12 kali dalam 24 jam pertama, meski ini juga bergantung pada bayi, kontak kulit ke kulit, dan rawat gabung bersama ibunya. Pada hari kedua sampai ketiga, lambung bayi membesar sekitar sebesar bola pingpong dan frekuensi menyusu meningkat menjadi 10 sampai 12 kali. Jadi bila bayi baru lahir tampak menyusu terus-menerus, itu bukan tanda ASI kurang, melainkan cara alami tubuh membangun pasokan.
Selain frekuensi, perhatikan juga hal-hal berikut:
- Pastikan pelekatan benar. Pelekatan yang baik membuat pengosongan payudara lebih efektif dan mengurangi risiko puting lecet. Bila menyusui terasa nyeri terus-menerus, ini pertanda pelekatan perlu diperiksa.
- Jangan beri air putih sebelum 6 bulan. Kemenkes RI menjelaskan bayi akan cepat kenyang sehingga jarang menyusu, dan itu berisiko mengurangi produksi ASI. Bayi juga bisa terkena diare.
- Perah ASI bila terpisah dari bayi. Pengosongan payudara tetap perlu berjalan meski bayi tidak ada di dekat Bunda, misalnya saat kembali bekerja.
- Jaga asupan dan istirahat Bunda. IDAI menyebut produksi ASI melibatkan faktor fisik dan emosional sekaligus, jadi kondisi Bunda ikut berperan.
- Cari dukungan. Bantuan pasangan dan keluarga membuat Bunda lebih tenang dan lebih leluasa menyusui sesering yang dibutuhkan bayi.
Langkah-langkah ini terdengar sederhana dan tidak semenarik iklan produk, tetapi justru di sinilah letak pengaruh terbesarnya. Untuk gambaran menyeluruh merawat si kecil di minggu-minggu awal, Bunda bisa membaca panduan bayi baru lahir, dan bila mendekati usia enam bulan, siapkan transisinya lewat panduan MPASI 6 bulan.
Kalau ASI Booster Tidak Berefek, Bunda Tidak Gagal
Ini bagian yang ingin kami tegaskan dengan hangat. Banyak ibu mencoba berbagai ASI booster, lalu merasa hancur ketika tidak ada yang terasa berhasil. Perasaan itu manusiawi, tetapi kesimpulannya keliru.
Ingat kembali apa yang sudah kita bahas. LactMed (NIH) berulang kali menegaskan bahwa laktogogue tidak boleh menggantikan evaluasi dan konseling terhadap faktor-faktor yang bisa diperbaiki. IDAI menyimpulkan bahwa sebelum menggunakan laktogogue sebaiknya perbaiki dulu teknik menyusui dan faktor lain penyebab kurangnya produksi ASI. Artinya, sejak awal booster memang tidak diposisikan sebagai penentu utama oleh lembaga rujukan mana pun. Kalau sebuah produk tidak berefek, itu sesuai dengan apa yang diperkirakan bukti ilmiah, bukan cerminan usaha atau kasih sayang Bunda.
Kekhawatiran soal ASI kurang juga sangat umum. IDAI mencatat produksi ASI yang rendah merupakan alasan tersering orang tua menghentikan menyusui. Bunda tidak sendirian merasakan ini. Kabar baiknya, banyak penyebab kurangnya produksi ASI bisa ditemukan dan diperbaiki bila diperiksa oleh orang yang tepat.
Segera temui bidan, dokter, atau konselor laktasi bila berat badan bayi tidak naik sesuai pemantauan pertumbuhan, bayi jarang buang air kecil, bayi tampak sangat lemas, atau Bunda merasa asupan bayi kurang cukup. Pemantauan rutin di posyandu membantu memastikan bayi tumbuh sesuai jalurnya, dan Bunda bisa memakai alat pantau tumbuh kembang untuk mencatat perkembangannya dari waktu ke waktu.
Perlu diingat juga bahwa menyusui bukan proyek yang harus sempurna. WHO menganjurkan bayi mendapat ASI eksklusif selama enam bulan pertama, lalu dilanjutkan bersama makanan pendamping hingga usia dua tahun atau lebih, dan secara global WHO memperkirakan sekitar 44 persen bayi usia 0 sampai 6 bulan mendapat ASI eksklusif. Angka itu menunjukkan bahwa perjalanan menyusui memang tidak mudah bagi banyak ibu di seluruh dunia. Jadi bila Bunda sedang berjuang, itu bukan kelemahan pribadi.
Bunda bisa menelusuri topik menyusui lainnya di kategori ASI, atau berdiskusi tentang pertanyaan yang lebih spesifik lewat Asisten AI Bunda sebagai teman mencari informasi awal sebelum berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Pada akhirnya, ASI booster adalah pelengkap yang boleh dicoba dengan harapan yang wajar, bukan kunci yang menentukan keberhasilan menyusui. Kuncinya ada pada hal yang gratis dan selalu tersedia: isapan bayi yang sering, pelekatan yang benar, dan dukungan orang-orang di sekitar Bunda.
Sumber
- IDAI - Laktogogue: Seberapa Besar Manfaatnya?
- Kemenkes RI - Ayo Sehat: Ingin Bayi Tumbuh Sehat dan Cerdas? ASI Eksklusif 6 Bulan
- Kemenkes RI - Ayo Sehat: 1000 Hari Pertama Kehidupan (Bayi)
- WHO - Infant and Young Child Feeding
- NIH LactMed - Sauropus androgynus (daun katuk)
- NIH LactMed - Moringa (daun kelor)
- NIH LactMed - Fenugreek
Catatan: artikel ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Keputusan mengonsumsi suplemen atau obat pelancar ASI, termasuk takarannya, harus dibicarakan lebih dulu dengan bidan, dokter, atau konselor laktasi, terutama bila Bunda memiliki kondisi medis tertentu atau sedang mengonsumsi obat lain.
Pertanyaan yang sering muncul
Apakah ASI booster benar-benar bekerja?
Apa makanan pelancar ASI yang paling kuat buktinya?
Apakah daun katuk aman dikonsumsi setiap hari?
Berapa lama ASI booster mulai terasa efeknya?
Apakah suplemen pelancar ASI perlu izin dokter?
Kalau ASI booster tidak berefek, apakah artinya saya gagal?
Kapan harus konsultasi ke tenaga kesehatan soal produksi ASI?
Konten ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Untuk keputusan medis, hubungi dokter atau bidan Anda.
Punya pertanyaan seputar asi?
Tanya lewat WhatsApp