Jadwal Imunisasi Bayi 0-11 Bulan: Tabel Vaksin Kemenkes
Jawaban singkat. Imunisasi adalah proses membentuk perlindungan terhadap penyakit tertentu dengan pemberian vaksin sesuai jadwal. Vaksin membantu sistem kekebalan mengenali kuman sebelum anak terpapar penyakit yang sebenarnya. Jenis, jumlah dosis, dan waktu pemberian berbeda menurut usia, riwayat vaksin, kondisi kesehatan, serta pedoman Kemenkes RI dan IDAI.
Jawaban singkat. Imunisasi BCG adalah pemberian vaksin untuk membantu melindungi bayi dari bentuk tuberkulosis yang berat, termasuk meningitis TB. Dalam program rutin Indonesia, BCG diberikan pada awal kehidupan sesuai jadwal layanan. Bekas kecil di lokasi suntikan dapat muncul, tetapi penilaian reaksi dan kebutuhan imunisasi kejar tetap dilakukan tenaga kesehatan.
Jawaban singkat. Imunisasi DPT adalah pemberian vaksin untuk melindungi anak dari difteri, pertusis atau batuk rejan, dan tetanus. Pada program nasional, perlindungan ini diberikan melalui vaksin kombinasi DPT-HB-Hib dalam beberapa dosis dan penguat. Jadwal yang terlambat umumnya dapat dilanjutkan melalui imunisasi kejar setelah riwayat anak diperiksa petugas kesehatan.
Oleh Tim Redaksi Asuh Anak· 11 menit baca

Jadwal imunisasi bayi dimulai sejak hari kelahiran dan berlanjut sampai bayi berusia sekitar satu tahun. Menurut Kemenkes RI, imunisasi dasar diberikan pada bayi usia 0-11 bulan, diawali vaksin Hepatitis B (HB0) saat lahir, lalu dilengkapi BCG dan Polio, DPT-HB-Hib, PCV, Rotavirus, hingga Campak-Rubella (MR) pada usia 9 bulan. Melengkapi seluruh jadwal ini tepat waktu adalah salah satu cara paling sederhana untuk melindungi buah hati dari penyakit menular yang berbahaya.
Sebagai orang tua, wajar bila Anda merasa jadwal vaksin terasa banyak dan membingungkan, apalagi di bulan-bulan pertama yang serba baru. Artikel ini merangkum daftar imunisasi per usia beserta fungsinya dengan bahasa yang sederhana, supaya Anda bisa menandai mana yang sudah dan belum diberikan tanpa cemas berlebihan. Kalau ingin pengingat otomatis sesuai tanggal lahir bayi, Anda juga bisa memakai tools Jadwal Imunisasi yang kami sediakan.
Mengapa imunisasi bayi begitu penting
Imunisasi bekerja dengan melatih sistem kekebalan tubuh bayi mengenali kuman penyebab penyakit, sehingga tubuh siap melawan bila suatu saat terpapar. Menurut WHO, vaksinasi melindungi anak dari sejumlah penyakit menular berat yang bisa berakibat fatal. Campak, misalnya, dapat menyebabkan kebutaan, radang otak, bahkan kematian. Difteri, pertusis (batuk rejan), dan tetanus dapat memicu komplikasi serius hingga kematian, sedangkan polio dapat menimbulkan kelumpuhan permanen yang tidak bisa disembuhkan.
Perlindungan ini paling dibutuhkan justru saat bayi masih sangat kecil. WHO menyebut bulan pertama kehidupan sebagai periode paling rentan bagi kelangsungan hidup anak. Karena itu vaksin pertama, Hepatitis B, sudah diberikan pada hari bayi dilahirkan. Melengkapi jadwal imunisasi bayi bukan sekadar formalitas administrasi, melainkan investasi kesehatan yang melindungi anak pada masa paling rawan dan ikut menekan penyebaran penyakit di lingkungan sekitar.
Imunisasi lengkap juga berjalan seiring dengan upaya lain menjaga tumbuh kembang anak, mulai dari ASI, gizi, stimulasi, hingga pemantauan rutin. Anak yang sehat dan terlindung dari infeksi berulang punya kesempatan lebih baik untuk tumbuh optimal. Karena vaksin tidak melindungi dari semua penyebab penyakit, orang tua tetap perlu menerapkan kebersihan, memberi makanan bergizi sesuai usia, dan membawa anak berobat ketika sakit.
Jadwal imunisasi bayi 0-11 bulan menurut Kemenkes RI
Berikut jadwal imunisasi rutin lengkap untuk bayi usia 0 sampai 12 bulan sesuai laman resmi Kemenkes RI. Ini adalah rujukan publik yang bisa Anda pegang. Ikatan Dokter Anak Indonesia menerbitkan Jadwal Imunisasi Anak Usia 0 sampai 18 Tahun Rekomendasi IDAI 2024 pada 5 Februari 2025. Jadwal IDAI mencakup vaksin program dan vaksin tambahan, sedangkan tabel di bawah berfokus pada layanan rutin nasional. Dokter atau bidan dapat menyesuaikan jadwal dengan riwayat dan kondisi bayi.
| Usia | Vaksin atau dosis program nasional |
|---|---|
| Kurang dari 24 jam | Hepatitis B dosis lahir (HB0) |
| 1 bulan | BCG |
| 1 bulan | Polio tetes 1 (bOPV 1) |
| 2 bulan | DPT-HB-Hib 1 dan Polio tetes 2 |
| 2 bulan | PCV 1 dan Rotavirus 1 |
| 3 bulan | DPT-HB-Hib 2 dan Polio tetes 3 |
| 3 bulan | PCV 2 dan Rotavirus 2 |
| 4 bulan | DPT-HB-Hib 3 dan Polio tetes 4 |
| 4 bulan | Polio suntik 1 (IPV 1) dan Rotavirus 3 |
| 9 bulan | Campak-Rubella 1 (MR 1) |
| 9 bulan | Polio suntik 2 (IPV 2) |
| 10 bulan | Japanese Encephalitis di wilayah endemis |
| 12 bulan | PCV 3 |
| 18 bulan | DPT-HB-Hib 4 dan Campak-Rubella 2 sebagai imunisasi lanjutan |
Tabel juga menunjukkan mengapa satu kunjungan dapat memuat lebih dari satu vaksin. Setiap vaksin menargetkan penyakit berbeda dan diberikan pada usia ketika manfaat perlindungannya dibutuhkan. Pemberian beberapa suntikan atau vaksin oral pada kunjungan yang sama sudah diperhitungkan dalam jadwal resmi. Jangan memisahkan jadwal sendiri hanya karena jumlahnya terlihat banyak. Bila orang tua memiliki kekhawatiran khusus, mintalah petugas menjelaskan nama vaksin, cara pemberian, reaksi yang mungkin muncul, dan tanggal dosis berikutnya sebelum pelayanan dimulai.
Beberapa vaksin memiliki batas usia atau jumlah dosis yang bergantung pada jenis produk. Rotavirus adalah contoh yang penting karena jadwal dosis akhir perlu mengikuti produk dan usia bayi. Japanese Encephalitis pada program rutin juga ditujukan untuk wilayah endemis, sehingga tidak semua bayi di Indonesia menerimanya pada usia yang sama. Perbedaan catatan antar keluarga belum tentu berarti ada dosis yang salah. Buku KIA dan kartu imunisasi perlu dibaca bersama riwayat fasilitas kesehatan agar petugas dapat menentukan kebutuhan bayi secara akurat.
Jika anak lahir prematur, memiliki berat lahir rendah, pernah mengalami reaksi berat, sedang menjalani pengobatan tertentu, atau mempunyai gangguan kekebalan, sampaikan seluruh riwayat tersebut. Kondisi khusus tidak otomatis membuat semua imunisasi dilarang, tetapi dapat mengubah waktu, jenis vaksin, atau tempat pelayanan yang paling aman. Keputusan individual seperti ini tidak dapat digantikan oleh tabel umum di internet.
Kemenkes menegaskan bahwa imunisasi dasar harus diberikan pada bayi usia 0-11 bulan. Agar lebih mudah dibaca, mari kita bagi jadwal di atas menjadi tiga fase.
Usia 0-1 bulan
Pada fase paling awal, bayi menerima Hepatitis B (HB0) kurang dari 24 jam setelah lahir, biasanya di fasilitas kesehatan tempat persalinan. Memasuki usia 1 bulan, bayi mendapat BCG untuk melindungi dari tuberkulosis berat serta dosis pertama Polio tetes. Simpan catatan tanggal pemberian, nama vaksin, dan lokasi layanan di buku KIA karena informasi itu menjadi dasar untuk menentukan dosis berikutnya.
Usia 2-4 bulan
Inilah periode dengan vaksin terbanyak. Pada usia 2, 3, dan 4 bulan, bayi menjalani rangkaian DPT-HB-Hib (dosis 1 sampai 3), Polio (OPV dan kemudian IPV pada usia 4 bulan), PCV, serta Rotavirus. Vaksin-vaksin ini diberikan bertahap karena tubuh bayi membutuhkan beberapa dosis untuk membentuk kekebalan yang kuat dan tahan lama. Jika satu kunjungan terlewat, jangan panik, cukup lanjutkan pada kunjungan berikutnya sesuai arahan petugas.
Usia 9-12 bulan
Menjelang usia 9 bulan, bayi menerima vaksin Campak-Rubella (MR) dosis pertama bersama IPV 2. Kemudian pada usia 12 bulan diberikan PCV 3 sebagai penguat. Setelah rangkaian imunisasi dasar ini selesai, anak masih akan membutuhkan imunisasi lanjutan (booster) di usia balita dan sekolah, yang jadwalnya juga bisa Anda tanyakan ke posyandu.
Fungsi setiap vaksin dalam jadwal imunisasi bayi
Mengetahui tujuan tiap vaksin membantu Anda memahami mengapa jumlahnya cukup banyak. Berikut ringkasannya:
- Hepatitis B (HB0): melindungi bayi dari infeksi virus hepatitis B yang menyerang organ hati.
- BCG: memberi perlindungan terhadap penyakit tuberkulosis (TBC), termasuk bentuk berat pada anak.
- Polio (OPV tetes dan IPV suntik): mencegah polio yang, menurut WHO, dapat menyebabkan kelumpuhan permanen. Kombinasi tetes dan suntik memberi perlindungan yang lebih lengkap.
- DPT-HB-Hib: satu vaksin kombinasi yang melindungi dari difteri, pertusis, dan tetanus (yang menurut WHO bisa berujung komplikasi serius atau kematian), sekaligus hepatitis B dan infeksi Haemophilus influenzae tipe b.
- PCV: melindungi dari infeksi pneumokokus, penyebab umum radang paru (pneumonia) pada anak.
- Rotavirus: menurunkan risiko diare berat akibat infeksi rotavirus yang bisa menyebabkan bayi kekurangan cairan.
- Campak-Rubella (MR): mencegah campak yang, menurut WHO, berisiko menyebabkan kebutaan, radang otak, hingga kematian, serta rubella yang berbahaya bila menular ke ibu hamil.
Karena setiap vaksin punya sasaran penyakit yang berbeda, tidak ada satu vaksin yang bisa menggantikan yang lain. Itulah alasan jadwal disusun bertahap sepanjang tahun pertama.
Efek samping ringan setelah imunisasi dan cara menanganinya
Sebagian bayi tampak baik-baik saja setelah imunisasi, sebagian lain menunjukkan reaksi ringan. Yang umum terjadi antara lain demam ringan, rewel, mengantuk, atau kemerahan dan sedikit bengkak di area bekas suntikan. Reaksi seperti ini biasanya wajar, menandakan tubuh sedang membentuk kekebalan, dan umumnya mereda dalam satu sampai dua hari.
Untuk membuat bayi lebih nyaman, Anda bisa tetap menyusui lebih sering, memberi kompres pada area bekas suntikan bila diperlukan, dan memastikan bayi cukup istirahat. Bila petugas kesehatan meresepkan obat penurun demam, ikuti dosis yang dianjurkan. Segera hubungi tenaga kesehatan bila muncul tanda yang lebih berat, seperti demam tinggi yang tidak turun, kejang, sulit bernapas, atau bayi sangat lemas. Jangan ragu bertanya, karena memantau kondisi bayi setelah vaksin adalah bagian normal dari pengasuhan.
Pengalaman orang tua
Sebagai gambaran ringan (pengalaman pribadi, bukan saran medis): banyak orang tua bercerita bahwa bayinya sempat demam ringan dan lebih sering menyusu semalam setelah imunisasi usia 2 bulan, lalu kembali ceria keesokan harinya. Cerita seperti ini menunjukkan reaksi ringan itu umum dan sementara. Meski begitu, pengalaman satu keluarga tidak bisa dijadikan patokan medis untuk semua bayi. Bila ragu, selalu utamakan konsultasi dengan bidan atau dokter.
Bagaimana jika jadwal imunisasi bayi terlambat
Hidup dengan bayi tidak selalu berjalan mulus. Bayi sakit, keluarga sibuk, atau ada kendala lain yang membuat satu jadwal terlewat. Kabar baiknya, jadwal yang terlambat umumnya masih bisa dikejar tanpa perlu mengulang seluruh rangkaian dari nol. Yang terpenting adalah segera melengkapinya begitu memungkinkan.
Langkah praktisnya: bawa bayi beserta buku KIA atau catatan imunisasinya ke posyandu, puskesmas, atau fasilitas kesehatan, lalu sampaikan vaksin mana yang terlewat. Petugas akan menyusun jadwal imunisasi kejar (catch-up) yang aman sesuai usia bayi. Semakin cepat dilengkapi, semakin cepat pula perlindungan bayi kembali penuh. Untuk pertanyaan kecil di luar jam layanan, Anda bisa memakai Asisten Tanya Bunda sebagai teman diskusi awal, meski tetap tidak menggantikan pemeriksaan langsung.
Di mana bayi bisa mendapat imunisasi
Imunisasi dasar merupakan bagian dari program nasional Kemenkes RI dan tersedia luas. Anda bisa mendapatkannya di posyandu, puskesmas, dan banyak fasilitas kesehatan pemerintah, umumnya tanpa biaya untuk vaksin program. Cukup bawa bayi bersama buku KIA atau kartu imunisasinya agar riwayat vaksin tercatat rapi. Beberapa keluarga juga memilih layanan di klinik atau rumah sakit sesuai kenyamanan masing-masing.
Menandai setiap vaksin yang sudah diberikan akan sangat membantu Anda. Selain lewat buku KIA, Anda dapat memakai tools Jadwal Imunisasi untuk melihat urutan vaksin berdasarkan tanggal lahir bayi. Untuk membaca lebih banyak panduan seputar vaksin, kunjungi kategori Imunisasi dan hub Kesehatan Keluarga di Asuh Anak.
Persiapan sebelum membawa bayi imunisasi
Kunjungan imunisasi akan terasa jauh lebih lancar bila disiapkan sejak malam sebelumnya. Checklist sederhana ini bisa Anda ikuti:
- Bawa buku KIA atau kartu imunisasi. Ini catatan resmi riwayat vaksin bayi, jadi petugas bisa memastikan dosis mana yang akan diberikan hari itu.
- Pastikan bayi cukup istirahat dan sudah menyusu. Bayi yang kenyang dan tidak terlalu lelah umumnya lebih tenang saat ditangani petugas.
- Kenakan pakaian yang mudah dibuka. Sebagian vaksin disuntikkan di paha atau lengan, jadi baju yang praktis mempersingkat proses.
- Catat kondisi bayi beberapa hari terakhir. Sampaikan bila bayi sedang demam, pilek, diare, baru sembuh dari sakit, atau sedang mengonsumsi obat, agar petugas bisa menilai apakah imunisasi diteruskan atau dijadwalkan ulang.
- Siapkan pertanyaan Anda. Tuliskan hal yang ingin ditanyakan, misalnya soal reaksi setelah vaksin atau jadwal berikutnya, supaya tidak lupa saat di lokasi.
- Tandai jadwal berikutnya begitu pulang. Kebiasaan kecil ini paling ampuh mencegah jadwal terlewat.
Mitos dan Fakta Seputar Imunisasi Bayi
Ada beberapa anggapan yang sering membuat orang tua ragu. Mari kita luruskan satu per satu.
- Mitos: bayi ASI eksklusif tidak perlu imunisasi. Fakta: ASI memang mendukung daya tahan bayi, tetapi tidak menggantikan perlindungan spesifik vaksin. Menurut WHO, vaksinasi melindungi anak dari penyakit berat seperti campak, difteri, pertusis, tetanus, dan polio. ASI dan imunisasi saling melengkapi, bukan saling menggantikan.
- Mitos: beberapa vaksin dalam satu kunjungan terlalu berat untuk bayi. Fakta: jadwal yang memuat beberapa vaksin sekaligus adalah bagian dari program imunisasi nasional yang mengacu pedoman resmi tenaga kesehatan. Bila Anda ragu, tanyakan langsung ke petugas yang memeriksa bayi Anda.
- Mitos: demam setelah vaksin berarti vaksinnya berbahaya. Fakta: demam ringan termasuk reaksi yang umum dan biasanya mereda dalam satu sampai dua hari, seperti dijelaskan pada bagian efek samping di atas. Yang perlu diwaspadai adalah reaksi berat, dan untuk itu tenaga kesehatan siap membantu.
- Mitos: jadwal yang terlewat membuat semua vaksin harus diulang dari awal. Fakta: jadwal yang terlambat umumnya cukup dilanjutkan lewat imunisasi kejar sesuai arahan petugas, tanpa mengulang seluruh rangkaian.
Melengkapi jadwal imunisasi bayi memang butuh sedikit disiplin, tetapi manfaatnya terasa sepanjang hidup anak. Anggap setiap kunjungan imunisasi sebagai satu langkah kecil yang menjaga si kecil tetap sehat dan tumbuh maksimal. Anda sudah melakukan hal yang tepat dengan mencari tahu lebih dulu.
Sumber
- IDAI - Jadwal Imunisasi Anak Usia 0-18 Tahun, Rekomendasi IDAI 2024
- Kemenkes RI - Seputar Imunisasi (1000 Hari Pertama Kehidupan)
- WHO - Immunization coverage (fact sheet)
- WHO - Newborns: reducing mortality (fact sheet)
Artikel ini disusun untuk edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Untuk keputusan mengenai imunisasi dan kondisi kesehatan bayi Anda, silakan berkonsultasi dengan bidan, dokter, atau petugas kesehatan terdekat.
Pertanyaan yang sering muncul
Kapan bayi mulai imunisasi pertama?
Apa saja imunisasi dasar lengkap untuk bayi?
Apakah boleh imunisasi saat bayi sedang pilek?
Bagaimana jika jadwal imunisasi bayi terlewat?
Apakah imunisasi menyebabkan demam?
Di mana bisa imunisasi bayi gratis?
Konten ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Untuk keputusan medis, hubungi dokter atau bidan Anda.
Punya pertanyaan seputar imunisasi?
Tanya lewat WhatsApp
