Parenting Adalah: 4 Gaya Pola Asuh dan Penerapan per Usia
Jawaban singkat. Parenting adalah proses merawat, mendidik, melindungi, dan mendampingi anak agar tumbuh sehat, aman, mampu belajar, dan berkembang sesuai tahap usianya. Pengasuhan mencakup pemenuhan gizi dan kesehatan, hubungan yang responsif, kesempatan belajar sejak dini, serta batas yang konsisten tanpa kekerasan atau sikap menghakimi.
Jawaban singkat. Co parenting adalah kerja sama dua orang tua atau pengasuh utama dalam menyepakati nilai, aturan, komunikasi, dan pembagian peran untuk anak. Kerja sama ini tetap penting ketika orang tua tinggal bersama maupun terpisah, karena pesan yang konsisten membantu anak merasa aman dan tidak terjebak dalam konflik orang dewasa.
Oleh Tim Redaksi Asuh Anak· 13 menit baca

Parenting adalah proses orang tua merawat, mendidik, dan mendampingi anak sejak dalam kandungan sampai dewasa agar tumbuh dan berkembang optimal. Cakupannya lima hal yang saling terkait, yaitu kesehatan, gizi, pengasuhan responsif, kesempatan belajar dini, serta rasa aman. Kerangka lima komponen ini disebut nurturing care, disusun bersama WHO, UNICEF, dan World Bank.
Tidak ada orang tua yang lahir langsung mahir mengasuh. Semua belajar sambil jalan, sering keliru, lalu memperbaiki diri. Artikel ini disusun bukan untuk menghakimi cara Anda mengasuh, melainkan untuk merapikan tiga hal yang paling sering ditanyakan: apa arti parenting, seperti apa empat gaya pola asuh beserta pembandingnya, dan bagaimana menerapkannya di tiap rentang usia anak.
Parenting Adalah Pengasuhan: Arti dan Cakupannya
Dalam bahasa Indonesia, parenting adalah pengasuhan atau pola asuh. Istilah ini menggambarkan seluruh cara orang tua atau pengasuh utama merawat, mendidik, membimbing, dan mendampingi anak agar potensinya berkembang penuh. Istilah "parenting anak" yang sering dipakai sehari-hari merujuk pada hal yang sama, yaitu praktik pengasuhan yang diterapkan pada anak.
Pengasuhan berjalan pada dua jalur sekaligus. Jalur pertama adalah pemenuhan kebutuhan dasar seperti kesehatan dan gizi. Jalur kedua adalah pemenuhan kebutuhan emosional dan mental, seperti rasa dicintai, rasa aman, dan kesempatan mengeksplorasi dunia. Keduanya sama pentingnya. Anak yang cukup gizi tetapi jarang diajak berinteraksi bisa tertinggal dalam kemampuan bahasa dan sosial, begitu pula sebaliknya.
Kabar baiknya, pengasuhan yang berkualitas tidak menuntut biaya besar. Berbicara, bernyanyi, membacakan cerita, dan menanggapi celoteh bayi adalah bentuk pengasuhan bernilai tinggi yang bisa dilakukan siapa saja di rumah.
Lima Komponen Nurturing Care yang Menopang Pengasuhan
Menurut kerangka nurturing care yang disusun WHO, UNICEF, dan World Bank, anak berkembang paling baik ketika lima kebutuhan berikut terpenuhi bersamaan. Kelima komponen ini bisa menjadi peta sederhana untuk mengevaluasi pengasuhan di keluarga Anda.
- Kesehatan yang baik (good health). Menjaga kesehatan anak dan orang tua, termasuk pemeriksaan rutin, imunisasi, serta penanganan sakit sejak dini.
- Gizi yang cukup (adequate nutrition). Pemenuhan gizi sejak dalam kandungan, ASI, makanan pendamping yang bergizi, hingga pola makan seimbang setelahnya.
- Pengasuhan responsif (responsive caregiving). Kepekaan orang tua membaca dan menanggapi sinyal anak, seperti lapar, mengantuk, takut, atau ingin bermain.
- Kesempatan belajar dini (opportunities for early learning). Interaksi, bermain, bercerita, dan menyediakan lingkungan yang merangsang rasa ingin tahu.
- Rasa aman dan terlindungi (security and safety). Melindungi anak dari bahaya fisik dan emosional, termasuk kekerasan, penelantaran, dan lingkungan yang tidak aman.
Kelima komponen bekerja sebagai satu paket. Kalau salah satu terabaikan dalam waktu lama, dampaknya merembet ke aspek lain. Karena itu, memandang pengasuhan secara utuh lebih bermanfaat daripada fokus pada satu hal saja.
4 Gaya Pola Asuh Anak dan Tabel Pembandingnya
Selain kerangka kebutuhan di atas, kajian psikologi keluarga mengelompokkan pengasuhan menjadi beberapa gaya. Diana Baumrind, yang dianggap sebagai perintis penelitian gaya pengasuhan, mula-mula merumuskan tiga gaya lewat serangkaian publikasinya pada 1966, 1967, dan 1971, yaitu otoriter (authoritarian), otoritatif (authoritative), dan permisif (permissive).
Gaya keempat muncul belakangan. Maccoby dan Martin (1983) menyusun ulang tipologi Baumrind di atas dua dimensi, yaitu tuntutan (demandingness) dan responsivitas (responsiveness), sehingga menghasilkan empat kombinasi: otoritatif, otoriter, permisif atau indulgent, dan mengabaikan (neglectful). Baumrind kemudian mengadopsi gaya keempat itu ke dalam tipologinya sendiri pada 1989 dan 1991. Rangkuman perkembangan konsep ini dipaparkan dalam tinjauan Kuppens dan Ceulemans (2019) di Journal of Child and Family Studies.
Perlu dicatat, pembagian ini adalah kerangka umum untuk memahami kecenderungan, bukan label permanen. Dalam praktik, banyak orang tua menggabungkan beberapa gaya tergantung situasi dan suasana hati hari itu.
| Gaya pola asuh | Kehangatan (responsivitas) | Tuntutan (kontrol) | Contoh perilaku sehari-hari |
|---|---|---|---|
| Otoritatif | Tinggi | Tinggi | Menetapkan aturan, menjelaskan alasannya, mendengarkan pendapat anak, konsisten menegakkan konsekuensi |
| Otoriter | Rendah | Tinggi | Menuntut kepatuhan tanpa penjelasan, komunikasi satu arah, sering memakai ancaman atau hukuman |
| Permisif | Tinggi | Rendah | Sangat penyayang, jarang menegakkan aturan, cenderung mengalah demi menghindari konflik |
| Mengabaikan | Rendah | Rendah | Kebutuhan dasar terpenuhi seadanya, keterlibatan emosional minim, jarang memantau kegiatan anak |
Kuppens dan Ceulemans mencatat bahwa penelitian Baumrind secara konsisten menemukan anak dan remaja dari orang tua otoritatif menunjukkan hasil perkembangan yang paling baik dibanding tiga gaya lainnya. Kalau Anda hanya ingin membawa pulang satu kesimpulan dari bagian ini, ambil yang itu: hangat sekaligus tegas.
Pola Asuh Otoritatif
Pola asuh otoritatif memadukan kehangatan tinggi dengan aturan yang jelas. Orang tua menetapkan batasan, tetapi juga menjelaskan alasannya, mendengarkan pendapat anak, dan bersikap konsisten. Anak merasa dicintai sekaligus belajar bertanggung jawab. Gaya ini sejalan dengan prinsip pengasuhan responsif dalam kerangka nurturing care.
Contoh penerapannya sederhana. Alih-alih berkata "pokoknya matikan televisi sekarang", orang tua otoritatif berkata "televisi dimatikan jam delapan ya, supaya kamu cukup tidur dan besok tidak sulit bangun", lalu benar-benar menegakkannya setiap malam.
Pola Asuh Otoriter
Pada pola asuh otoriter, tuntutan sangat tinggi tetapi kehangatan rendah. Orang tua cenderung menuntut kepatuhan tanpa banyak penjelasan, dan komunikasi berjalan satu arah. Anak mungkin patuh saat diawasi, tetapi bisa kesulitan mengambil inisiatif atau menyampaikan perasaannya.
Jika Anda merasa selama ini lebih dekat ke gaya ini, tidak apa-apa. Menambah percakapan dua arah dan apresiasi atas usaha anak adalah langkah kecil yang sudah cukup berarti untuk menggeser gaya ke arah otoritatif, tanpa harus melepas ketegasan.
Pola Asuh Permisif
Pola asuh permisif ditandai kehangatan tinggi tetapi batasan yang longgar. Orang tua sangat penyayang, namun jarang menegakkan aturan. Anak merasa dicintai, tetapi bisa kesulitan memahami konsekuensi dan mengatur diri.
Perbaikannya bukan dengan mendadak menjadi keras. Cukup pilih dua atau tiga aturan yang benar-benar penting, misalnya jam tidur dan tidak makan sambil berlari, lalu tegakkan konsisten. Konsistensi pada sedikit aturan lebih efektif daripada banyak aturan yang gugur di tengah jalan.
Pola Asuh Mengabaikan
Pola asuh mengabaikan atau tidak terlibat memiliki kehangatan dan tuntutan yang sama-sama rendah. Kebutuhan dasar anak mungkin terpenuhi, tetapi keterlibatan emosional minim dan kegiatan anak jarang dipantau.
Kondisi ini sering muncul bukan karena orang tua tidak peduli, melainkan karena kelelahan, tekanan ekonomi, atau masalah kesehatan mental yang tidak tertangani. WHO menyebut dukungan untuk orang tua dan pengajaran keterampilan pengasuhan positif sebagai pendekatan pencegahan yang efektif. Artinya, mencari dukungan pasangan, keluarga, atau tenaga profesional adalah bentuk pengasuhan yang bertanggung jawab, bukan kelemahan.
Parenting Anak per Rentang Usia, dari Bayi sampai Remaja
Gaya pengasuhan yang sama perlu diterjemahkan berbeda di tiap usia. Bagian ini merangkum fokus praktik parenting anak per rentang usia berdasarkan materi edukasi IDAI dan Kemenkes RI. Perlu diingat, setiap anak punya ritme sendiri, jadi rentang usia di bawah adalah panduan arah, bukan jadwal yang kaku.
Bayi 0 sampai 12 Bulan: Membangun Rasa Aman
IDAI menjelaskan bahwa perkembangan pada masa awal kehidupan terlihat lewat empat ranah, yaitu gerak kasar, gerak halus, bahasa, dan personal sosial. Ranah personal sosial mencakup kemampuan anak mengerti dirinya sendiri dan membangun hubungan dengan orang di sekitarnya.
Fokus pengasuhan pada tahun pertama adalah memberi rasa aman dan kasih sayang, terutama pada bulan-bulan awal. IDAI menyarankan hal-hal berikut.
- Ketika bayi menangis, cari dan atasi penyebabnya, jangan dibiarkan.
- Peluk dan belai bayi sesering mungkin sambil mengajaknya bicara, tersenyum, dan mengamati benda di sekitar.
- Pada usia 3 sampai 6 bulan, perkenalkan mainan untuk digenggam dan diraih, tunjukkan bayangannya di cermin yang tidak mudah pecah, dan ajak bermain cilukba.
- Biasakan membaca bersama sejak bayi, walaupun ia belum bisa bicara.
Batita 1 sampai 3 Tahun: Memberi Ruang Berlatih Mandiri
Menurut IDAI, kemandirian adalah keterampilan yang bisa diajarkan sejak dini dan sebaiknya sudah dikenali kebutuhannya sebelum usia tiga tahun. Kemandirian batita diasah lewat kegiatan rutin seperti makan, berpakaian, menjaga kebersihan diri, dan ikut membereskan mainan.
Kuncinya adalah kesempatan dan waktu berlatih. IDAI mengingatkan agar orang tua tidak segera mengambil alih tindakan yang sedang dikerjakan anak, kecuali berpotensi berbahaya. Biarkan anak mencoba, sediakan bantuan dan dorongan semangat saat dibutuhkan.
Rentang usia ini juga penting untuk bahasa. IDAI menyebut pada usia dua tahun anak diharapkan sudah mampu mengucapkan kalimat yang terdiri atas dua kata. Bila pada ulang tahun pertama anak masih belum mengoceh (babbling), sebaiknya berkonsultasi ke dokter anak agar dapat dilakukan penilaian.
Prasekolah 3 sampai 6 Tahun: Rutinitas, Aturan, dan Bermain
Pada usia ini anak mulai menguji batas, bernegosiasi, dan meniru perilaku orang dewasa di sekitarnya. Rutinitas yang dapat ditebak (waktu makan, waktu tidur, waktu bermain) membuat anak merasa aman karena ia bisa memperkirakan apa yang akan terjadi.
Kalau anak sudah punya adik, gesekan antar saudara adalah hal wajar. IDAI menyediakan panduan mencegah sibling rivalry yang menekankan pentingnya menghindari perbandingan antar anak dan memberi perhatian khusus pada masing-masing anak.
Anak Usia Sekolah 6 sampai 12 Tahun: Menyiapkan Kemandirian dan Relasi Sosial
Banyak orang tua mengukur kesiapan sekolah dari kemampuan membaca dan berhitung saja. IDAI justru menyoroti bahwa masuk Sekolah Dasar membawa perubahan lingkungan yang luas: gedung lebih besar, murid lebih banyak, aturan dan prosedur yang harus ditaati, proses belajar yang terstruktur, kebutuhan duduk tenang dalam waktu tertentu, kemandirian di kelas, serta kemampuan menjalin hubungan sosial.
Karena itu, pengasuhan pada rentang ini sebaiknya menyeimbangkan tiga hal: dukungan akademis secukupnya, latihan kemandirian harian (menyiapkan tas sendiri, mengatur waktu belajar), dan ruang bermain bersama teman sebaya. Memantau tumbuh kembang tetap perlu diteruskan lewat Buku KIA dan pemeriksaan berkala.
Remaja 12 sampai 18 Tahun: Bergeser dari Pengatur ke Pendamping
Pada masa remaja, peran orang tua bergeser dari mengatur menjadi mendampingi dan menegosiasikan. Aturan tetap ada, tetapi disepakati bersama agar remaja merasa dihargai.
Salah satu isu terbesar adalah penggunaan media digital. IDAI mencatat bahwa di Indonesia sekitar 52% anak menggunakan telepon seluler dan smartphone untuk mengakses internet, dan yang perlu diwaspadai, sebesar 24% anak berhubungan dengan orang yang tidak mereka kenal serta 25% memberitahukan alamat dan nomor telepon mereka. IDAI juga menyoroti risiko paparan kekerasan, pornografi, sexting, dan cyberbullying.
Langkah praktisnya bukan menyita perangkat, melainkan menyepakati batas waktu, menempatkan perangkat di ruang bersama, dan membuka percakapan tentang apa yang remaja temui di internet tanpa langsung menghakimi.
7 Kesalahan Umum dalam Parenting dan Cara Memperbaikinya
Sebagian besar kesalahan pengasuhan lahir dari niat baik yang keliru caranya, bukan dari ketidakpedulian. Berikut tujuh yang paling sering muncul, beserta arah perbaikannya.
- Mengandalkan hukuman fisik. WHO memperkirakan 1,2 miliar anak usia 0 sampai 18 tahun mengalami hukuman fisik di rumah setiap tahun. Bukti ilmiah menunjukkan hukuman fisik merugikan kesehatan fisik dan mental anak, meningkatkan masalah perilaku dari waktu ke waktu, dan tidak menghasilkan satu pun dampak positif. WHO juga menegaskan semua hukuman fisik, seringan apa pun, mengandung risiko bawaan untuk meningkat menjadi kekerasan yang lebih berat. Gantilah dengan aturan yang jelas, konsekuensi logis, dan waktu menenangkan diri bagi orang tua sebelum merespons.
- Membandingkan anak dengan saudara atau anak lain. Perbandingan memicu sibling rivalry dan menggerus rasa percaya diri. Ganti dengan mengapresiasi kemajuan tiap anak dibanding dirinya sendiri kemarin.
- Aturan yang berbeda antara ayah dan ibu. Anak yang menerima dua pesan berlawanan akan mencari celah, bukan karena nakal, melainkan karena bingung. Sepakati aturan inti berdua sebelum diberlakukan.
- Mengambil alih terlalu cepat. IDAI mengingatkan agar orang tua tidak buru-buru mengambil alih kegiatan yang sedang dikerjakan anak kecuali berbahaya. Menyuapi terus-menerus atau memakaikan baju karena "biar cepat" menunda tumbuhnya kemandirian.
- Menunda konsultasi saat ada tanda keterlambatan. Menunggu anak "nanti juga bisa sendiri" berisiko. IDAI menyarankan konsultasi ke dokter anak bila pada ulang tahun pertama bayi belum mengoceh, karena penanganan yang lebih dini memberi hasil lebih maksimal.
- Memberi gawai tanpa pendampingan dan batas. Menyerahkan perangkat sebagai penenang instan membuka akses ke risiko yang disorot IDAI, mulai dari konten kekerasan sampai cyberbullying. Sepakati batas waktu dan tetap dampingi.
- Mengabaikan kondisi diri sendiri. Orang tua yang kelelahan berkepanjangan lebih sulit bersikap responsif. WHO menempatkan dukungan untuk orang tua dan pengajaran keterampilan pengasuhan positif sebagai pendekatan pencegahan kekerasan yang efektif. Meminta bantuan adalah bagian dari pengasuhan, bukan kegagalan.
Catatan pengalaman pribadi, bukan saran medis: banyak orang tua bercerita bahwa hari terberat bukan saat anak sakit, melainkan saat mereka sendiri kelelahan dan kehilangan kesabaran. Mengakui bahwa mengasuh itu melelahkan, lalu meminta bantuan pasangan atau keluarga, sering membuat pengasuhan terasa jauh lebih ringan. Setiap keluarga berbeda, jadi sesuaikan dengan kondisi Anda.
Peran Pola Asuh dalam Tumbuh Kembang dan Pencegahan Stunting
Pola asuh bukan sekadar urusan perilaku, melainkan bagian dari kesehatan anak. Kemenkes RI menjelaskan bahwa stunting, yaitu masalah kekurangan gizi kronis yang dapat menghambat pertumbuhan anak serta memengaruhi kemampuan emosional, sosial, dan fisiknya, dapat dicegah melalui perbaikan gizi, pola asuh anak, serta akses terhadap sanitasi dan air bersih. Dengan kata lain, pola asuh yang baik adalah salah satu pilar utama pencegahan stunting, bukan pelengkap.
Kaitannya masuk akal. Orang tua yang responsif cenderung lebih peka terhadap tanda anak kurang gizi, lebih rutin membawa anak ke posyandu, lebih konsisten memberi ASI dan makanan pendamping yang tepat, serta lebih menjaga kebersihan.
Untuk memantau apakah pertumbuhan dan perkembangan anak berjalan sesuai jalur, termasuk tahapan milestone dan tanda keterlambatan yang perlu diwaspadai, baca pembahasan tumbuh kembang anak. Jika Anda ingin mendalami langkah konkret pencegahannya, silakan baca panduan pencegahan stunting dan pahami peran ASI eksklusif pada enam bulan pertama.
Co-Parenting: Kerja Sama Kedua Orang Tua
Pengasuhan bukan tugas satu orang. Co-parenting adalah kerja sama kedua orang tua dalam mengasuh anak, baik ketika masih tinggal serumah maupun ketika sudah berpisah. Kuncinya adalah kesepakatan mengenai nilai, aturan, dan pembagian peran, agar anak menerima pesan yang konsisten dari kedua pihak.
Keterlibatan ayah sama pentingnya dengan peran ibu. Ayah yang ikut menggendong, menemani bermain, membacakan cerita, dan hadir dalam pemeriksaan kesehatan turut memperkuat rasa aman anak sekaligus meringankan beban pasangan. Dalam konteks pencegahan stunting, dukungan ayah pada gizi ibu hamil dan pengasuhan bayi juga memberi pengaruh nyata.
Jika terjadi perbedaan pendapat soal cara mengasuh, sebisa mungkin diskusikan jauh dari hadapan anak. Anak yang menyaksikan orang tuanya kompak lebih mudah menyerap aturan dan merasa didukung.
Kapan Perlu Dukungan Tenaga Profesional
Sebagian besar tantangan pengasuhan bisa diatasi dengan belajar, mencoba, dan dukungan keluarga. Namun ada kalanya bantuan profesional sangat menolong, misalnya ketika Anda merasa kewalahan berkepanjangan, mengalami suasana hati yang terus menurun setelah melahirkan, atau khawatir dengan perkembangan anak.
Anda bisa berkonsultasi dengan bidan, dokter, atau psikolog anak melalui posyandu, puskesmas, maupun fasilitas kesehatan terdekat. Untuk pertanyaan cepat seputar pengasuhan, Anda juga dapat mencoba fitur Asisten AI Bunda dan memantau perkembangan si kecil lewat tracker tumbuh kembang. Menjelajahi topik pengasuhan lain di kategori parenting serta mencari inspirasi nama bayi juga bisa menjadi bekal menyambut peran baru Anda. Meminta bantuan bukan tanda gagal, melainkan bagian dari pengasuhan yang bertanggung jawab.
Sumber
- Nurturing Care Framework (WHO, UNICEF, World Bank) - What is Nurturing Care?
- Kuppens S, Ceulemans E. Parenting Styles: A Closer Look at a Well-Known Concept. Journal of Child and Family Studies. 2019;28:168-181
- WHO - Corporal punishment of children and health
- WHO - Child maltreatment
- Kemenkes RI - Cegah Stunting dengan Pola Asuh yang Baik
- Kemenkes RI - Buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak)
- IDAI - Merangsang Perkembangan Personal Sosial Bayi
- IDAI - Memupuk Kemandirian Batita (Bagian I)
- IDAI - Mencegah Terlambat Bicara pada Anak
- IDAI - Kapan Anak Siap Masuk Sekolah Dasar
- IDAI - Bijak Menimbang Batas Pemakaian Media pada Remaja
- IDAI - Tips Mencegah Sibling Rivalry
Artikel ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi langsung dengan tenaga kesehatan. Untuk kondisi spesifik anak atau keluarga Anda, silakan berkonsultasi dengan bidan, dokter, atau psikolog anak.
Pertanyaan yang sering muncul
Apa arti parenting dalam bahasa Indonesia?
Apa saja 4 jenis pola asuh anak?
Apa pola asuh yang paling baik?
Bagaimana cara menerapkan parenting anak sesuai usia?
Apakah memukul anak efektif untuk mendisiplinkan?
Apa itu pengasuhan responsif?
Apa itu co-parenting?
Bagaimana pola asuh memengaruhi tumbuh kembang anak?
Konten ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Untuk keputusan medis, hubungi dokter atau bidan Anda.
Punya pertanyaan seputar parenting?
Tanya lewat WhatsApp