Stunting Adalah: Ciri, Penyebab, dan Tabel Tinggi WHO
Jawaban singkat. Stunting adalah gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi yang berlangsung lama atau berulang, sehingga tinggi badan anak menurut usianya berada di bawah standar pertumbuhan WHO. Kondisi ini dinilai melalui pengukuran panjang atau tinggi badan yang benar dan perlu ditindaklanjuti tenaga kesehatan, bukan disimpulkan hanya dari penampilan anak.
Oleh Tim Redaksi Asuh Anak· 14 menit baca

Stunting adalah gangguan pertumbuhan pada anak akibat kekurangan gizi kronis, ditandai tinggi badan menurut usia yang berada lebih dari dua standar deviasi di bawah median standar pertumbuhan anak WHO. Sederhananya, anak terlalu pendek untuk usianya karena kebutuhan gizinya tidak tercukupi dalam waktu lama. Di Indonesia, prevalensi stunting balita tercatat 19,8 persen menurut Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang dirilis Kemenkes RI.
Kabar baiknya, stunting bisa dicegah. Artikel ini membahas definisinya, tabel batas tinggi badan per usia dari standar WHO yang juga dipakai Kemenkes RI, penyebab, ciri, angka terbaru di Indonesia, dampak jangka panjang, sampai langkah pencegahannya.
Apa Definisi Stunting Menurut WHO dan Kemenkes RI?
WHO mendefinisikan stunting sebagai tinggi badan yang rendah menurut usia (low height-for-age), dan menyebutnya sebagai salah satu bentuk kekurangan gizi (undernutrition) bersama wasting dan underweight. Menurut WHO, kondisi ini merupakan akibat kekurangan gizi yang berlangsung lama atau berulang, dan menahan anak dari mencapai potensi fisik serta kognitifnya.
Kemenkes RI mendefinisikan stunting sebagai masalah kurang gizi kronis yang disebabkan asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai kebutuhan gizi. Dalam Survei Kesehatan Indonesia 2023, Kemenkes RI mengategorikan seorang balita sebagai stunting bila z-score tinggi badan menurut umur (TB/U) berada di bawah minus dua standar deviasi (-2 SD) berdasarkan standar WHO.
IDAI menjelaskannya dengan bahasa yang senada: seorang anak dikatakan pendek jika tinggi atau panjang badan menurut usia lebih dari dua standar deviasi di bawah median kurva standar pertumbuhan anak WHO. Jadi tiga lembaga ini memakai satu batas yang sama, yaitu minus dua standar deviasi.
Yang membuat stunting sering luput dari perhatian adalah sifatnya yang perlahan. Berbeda dengan sakit mendadak yang gejalanya langsung terlihat, stunting berkembang bertahap seiring kebutuhan gizi anak yang tidak tercukupi dari waktu ke waktu. Banyak orang tua mengira anaknya "memang pendek dari sananya", padahal bisa jadi itu tanda yang perlu diperiksa lebih lanjut.
Bagaimana Cara Mendiagnosis Stunting pada Balita?
Berikut ambang batas minus dua standar deviasi dari standar pertumbuhan anak WHO. Anak dengan panjang atau tinggi badan di bawah angka pada kolom jenis kelaminnya masuk kategori pendek menurut usia, dan perlu dinilai lebih lanjut oleh tenaga kesehatan. Kolom terakhir menampilkan median WHO, yaitu ukuran "tengah" anak seusianya, sebagai pembanding.
| Usia | Batas anak laki-laki | Batas anak perempuan | Median WHO (lk / pr) |
|---|---|---|---|
| Baru lahir | 46,1 cm | 45,4 cm | 49,9 / 49,1 cm |
| 3 bulan | 57,3 cm | 55,6 cm | 61,4 / 59,8 cm |
| 6 bulan | 63,3 cm | 61,2 cm | 67,6 / 65,7 cm |
| 9 bulan | 67,5 cm | 65,3 cm | 72,0 / 70,1 cm |
| 12 bulan | 71,0 cm | 68,9 cm | 75,7 / 74,0 cm |
| 18 bulan | 76,9 cm | 74,9 cm | 82,3 / 80,7 cm |
| 24 bulan | 81,7 cm | 80,0 cm | 87,8 / 86,4 cm |
| 36 bulan (3 tahun) | 88,7 cm | 87,4 cm | 96,1 / 95,1 cm |
| 48 bulan (4 tahun) | 94,9 cm | 94,1 cm | 103,3 / 102,7 cm |
| 60 bulan (5 tahun) | 100,7 cm | 99,9 cm | 110,0 / 109,4 cm |
Sumber angka: tabel z-score length/height-for-age WHO Child Growth Standards. Nilai usia 0 sampai 24 bulan memakai tabel panjang badan (anak diukur telentang), sedangkan usia 36 bulan ke atas memakai tabel tinggi badan (anak diukur berdiri). Perbedaan cara ukur ini penting: pada usia 24 bulan, batas yang sama bernilai 81,7 cm bila diukur telentang dan 81,0 cm bila diukur berdiri pada anak laki-laki.
Cara Membaca Tabel Ini
- Catat usia anak dalam bulan penuh, lalu cari baris yang paling dekat. Bila usianya di antara dua baris, misalnya 15 bulan, gunakan dua baris terdekat sebagai rentang perkiraan.
- Bandingkan panjang atau tinggi badan anak dengan kolom sesuai jenis kelaminnya. Anak perempuan punya batas yang berbeda dari anak laki-laki, jadi jangan tertukar.
- Bila angka anak berada di bawah batas, itu bukan diagnosis, melainkan tanda untuk segera memeriksakan anak ke posyandu, bidan, atau dokter.
- Perhatikan trennya, bukan satu titik. Grafik pertumbuhan di Buku KIA lebih informatif daripada satu kali pengukuran, karena yang dinilai adalah arah pertumbuhan dari bulan ke bulan.
Perlu diketahui, tenaga kesehatan juga mengenal kategori "sangat pendek", yaitu di bawah minus tiga standar deviasi. Sebagai gambaran, batas ini pada anak laki-laki usia 12 bulan adalah 68,6 cm dan pada usia 60 bulan adalah 96,1 cm. Anda tidak perlu menghafalnya, cukup pahami bahwa semakin jauh di bawah standar, semakin cepat anak perlu didampingi.
Untuk membantu mencatat dan memantau angka ini dari bulan ke bulan, Anda bisa memakai alat pantau tumbuh kembang yang mengacu kurva WHO.
Apa Perbedaan Stunting, Wasting, dan Underweight?
Stunting, wasting, dan underweight sama-sama indikator malnutrisi, tetapi ukuran yang dinilai berbeda. Stunting berarti tinggi menurut usia berada di bawah minus dua standar deviasi, wasting berarti berat menurut panjang atau tinggi berada di bawah batas tersebut, sedangkan underweight berarti berat menurut usia rendah dan dapat mencerminkan stunting, wasting, atau keduanya.
Karena indikatornya berbeda, seorang anak dapat mengalami lebih dari satu kondisi pada waktu yang sama. Pengukuran tinggi dan berat yang benar membantu tenaga kesehatan melihat pola masalahnya, menilai penyebab yang mungkin, lalu menentukan tindak lanjut. Orang tua sebaiknya tidak menyimpulkan jenis malnutrisi hanya dari penampilan anak.
Penyebab Stunting
Pembahasan lengkap kini dipisahkan agar intent tetap jelas. Baca penyebab stunting untuk menelusuri hubungan asupan, infeksi, kondisi ibu, air, sanitasi, dan layanan kesehatan.
Menurut Kemenkes RI, stunting berkaitan erat dengan gizi, pola asuh, serta akses terhadap sanitasi dan air bersih. Karena itu penyebabnya jarang berdiri sendiri, melainkan gabungan beberapa faktor yang saling memengaruhi. Yang paling sering berperan antara lain:
- Gizi ibu selama hamil kurang tercukupi. Kebutuhan gizi anak sudah dimulai sejak dalam kandungan, sehingga asupan ibu hamil ikut menentukan. Kecukupan zat gizi mikro seperti asam folat dan zat besi termasuk di dalamnya.
- Pemberian ASI dan MPASI yang belum optimal. Bayi yang tidak mendapat ASI dan makanan pendamping yang tepat berisiko kekurangan zat gizi penting. IDAI secara khusus menyoroti pentingnya protein hewani dalam MPASI untuk mencegah stunting.
- Infeksi berulang dan masalah penyerapan nutrisi. Menurut IDAI, penyebab utama stunting antara lain makanan bergizi rendah, infeksi berulang, atau masalah penyerapan nutrisi di dalam tubuh.
- Sanitasi dan air bersih yang terbatas. Lingkungan yang kurang bersih membuat anak lebih mudah terkena infeksi berulang seperti diare, yang mengganggu penyerapan gizi meskipun asupannya sudah cukup.
- Pola asuh yang belum mendukung. Praktik pemberian makan yang kurang tepat atau pemantauan pertumbuhan yang jarang dilakukan memperbesar risiko karena penyimpangan terlambat terdeteksi.
Semua faktor ini menunjukkan bahwa stunting bukan semata soal "anak susah makan", melainkan persoalan gizi, kesehatan, dan lingkungan sekaligus.
Kenapa 1000 Hari Pertama Kehidupan Menentukan
Para ahli gizi menekankan periode 1000 Hari Pertama Kehidupan, yaitu sejak anak masih dalam kandungan hingga berusia dua tahun, sebagai masa yang paling menentukan. Pada rentang ini otak dan tubuh anak tumbuh sangat pesat, sehingga kekurangan gizi pada periode ini berdampak besar dan sulit dikejar di kemudian hari. Kemenkes RI menyoroti peran ASI eksklusif dan pemberian MPASI yang tepat sebagai bagian penting pengasuhan pada periode ini. Inilah alasan mengapa pencegahan sebaiknya dimulai jauh sebelum masalah terlihat.
Ciri-Ciri dan Gejala Anak Stunting
Panduan terpisah ciri-ciri stunting menjelaskan tanda antropometri, batas interpretasi ciri visual, serta perbedaan teknik ukur pada bayi dan balita.
Ciri utama stunting adalah panjang atau tinggi badan anak yang lebih pendek dibandingkan standar menurut usianya, seperti terlihat pada tabel di atas. Menurut IDAI, anak yang mengalami stunting terlihat lebih pendek dibanding anak seusianya. Namun satu kali pengukuran saja tidak cukup untuk memastikan, karena yang lebih penting adalah tren pertumbuhan dari bulan ke bulan.
Beberapa hal yang bisa menjadi perhatian orang tua:
- Panjang atau tinggi badan anak berada di bawah angka batas pada tabel usia dan jenis kelaminnya.
- Grafik pertumbuhan di Buku KIA mendatar atau tidak naik sesuai jalurnya selama beberapa bulan berturut-turut.
- Anak tampak jauh lebih pendek dari teman-teman seusianya, meskipun berat badannya terlihat cukup.
- Anak lebih sering sakit, terutama diare berulang, atau butuh waktu lama untuk pulih.
Perlu ditegaskan, tidak ada "gejala khas" stunting yang bisa dilihat sekilas seperti demam atau ruam. Stunting dinilai dari angka, bukan dari penampilan. Karena itu bila ada kekhawatiran, langkah terbaik adalah membawa anak ke posyandu atau fasilitas kesehatan untuk diukur dengan benar, bukan menyimpulkan sendiri di rumah.
Angka Stunting di Indonesia Terbaru
Untuk angka nasional, sumber data provinsi, dan target kebijakan, lihat stunting di Indonesia. Halaman tersebut dibatasi pada intent data agar artikel definisi ini tetap ringkas.
Stunting masih menjadi masalah gizi prioritas nasional, tetapi arah datanya membaik. Berikut perkembangan prevalensi stunting balita nasional menurut rilis resmi Kemenkes RI:
| Tahun data | Prevalensi stunting balita | Sumber survei |
|---|---|---|
| 2021 | 24,4 persen | SSGI |
| 2022 | 21,6 persen | SSGI |
| 2023 | 21,5 persen | SKI (Survei Kesehatan Indonesia) |
| 2024 | 19,8 persen | SSGI |
Kemenkes RI merilis hasil SSGI 2024 pada 26 Mei 2025, yang mencatat penurunan prevalensi stunting nasional dari 21,5 persen pada 2023 menjadi 19,8 persen pada 2024. Angka ini di bawah target tahun tersebut yang dipatok 20,1 persen. Pemerintah menargetkan prevalensi stunting turun menjadi 14,2 persen pada 2029 sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional.
Sebagai perbandingan global, WHO memperkirakan sekitar 149 juta anak balita di dunia mengalami stunting pada 2022. Artinya stunting adalah tantangan kesehatan lintas negara, bukan persoalan satu wilayah saja.
Angka nasional memang membaik, tetapi sebarannya tidak merata. Data hasil SKI 2023 mencatat beberapa provinsi dengan prevalensi jauh di atas rata-rata nasional, seperti Nusa Tenggara Timur 37,9 persen, Papua 33,6 persen, Sulawesi Barat 30,3 persen, dan Sulawesi Tenggara 30 persen. Karena itu upaya pencegahan di tingkat keluarga tetap penting, di mana pun Anda tinggal.
Dampak Stunting Jangka Pendek dan Jangka Panjang
Uraian risiko tanpa stigma tersedia di dampak stunting, termasuk konteks kesehatan anak, masa dewasa, pendidikan, produktivitas, dan ekonomi keluarga.
Kemenkes RI menjelaskan bahwa stunting dapat memengaruhi kemampuan emosional, sosial, dan fisik anak. WHO menambahkan bahwa stunting menahan anak dari mencapai potensi fisik dan kognitifnya. Artinya dampaknya tidak berhenti pada tinggi badan saja.
Dalam jangka pendek, anak dengan kekurangan gizi kronis cenderung lebih rentan terhadap penyakit dan pertumbuhannya terhambat. Dalam jangka panjang, dampaknya berpotensi berlanjut hingga usia sekolah dan dewasa, terutama pada aspek fisik serta kemampuan anak belajar dan berinteraksi.
Meski demikian, ini bukan vonis mutlak. Setiap anak berbeda, dan dukungan gizi yang baik, stimulasi, serta kasih sayang tetap membantu anak berkembang. Pemahaman tentang dampak ini sebaiknya mendorong keluarga untuk fokus pada pencegahan sedini mungkin, bukan untuk menyalahkan diri sendiri.
Cara Mencegah Stunting
Ini bagian yang paling melegakan: stunting dapat dicegah. Menurut Kemenkes RI, pencegahannya bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu perbaikan gizi, pola asuh yang baik, serta akses terhadap sanitasi dan air bersih. Ringkasan langkah nyata yang bisa dilakukan keluarga:
- Penuhi gizi ibu sejak masa kehamilan, termasuk zat gizi mikro seperti asam folat dan tablet tambah darah sesuai anjuran.
- Berikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama. Pahami konsepnya lebih dalam pada artikel ASI eksklusif adalah.
- Lanjutkan dengan MPASI yang tepat waktu dan bergizi, dengan perhatian khusus pada protein hewani. Panduan memulainya ada di artikel MPASI 6 bulan.
- Jaga kebersihan, sanitasi, dan air bersih untuk mengurangi risiko infeksi berulang.
- Pantau pertumbuhan anak setiap bulan dengan menimbang dan mengukur panjang atau tinggi badannya, lalu cocokkan dengan tabel di atas.
Karena pencegahan paling efektif dimulai pada 1000 Hari Pertama Kehidupan, langkah-langkah ini paling berdampak bila dijalankan sejak kehamilan sampai anak berusia dua tahun.
Bagian ini sengaja diringkas. Untuk panduan pencegahan yang lengkap dan bertahap, mulai dari persiapan kehamilan, ASI, MPASI, sanitasi, imunisasi, sampai pemantauan pertumbuhan, silakan lanjut membaca artikel Pencegahan Stunting. Bila ada pertanyaan yang lebih spesifik seputar gizi dan tumbuh kembang anak, Bunda juga bisa berdiskusi lewat Asisten AI Bunda sebagai teman mencari informasi awal.
Stunting atau Sekadar Pendek? Meluruskan Mitos
Di sekitar kita masih beredar banyak anggapan tentang stunting yang tidak sepenuhnya tepat. Meluruskannya penting agar langkah pencegahan keluarga tidak salah arah.
- Mitos: anak pendek pasti karena keturunan. Fakta: menurut IDAI, perawakan pendek disebabkan oleh faktor lingkungan dan genetik, dan faktor lingkungan seperti status gizi ibu, pola pemberian makan, serta kebersihan lingkungan masih dapat diintervensi. Jadi anak yang orang tuanya bertubuh pendek pun tetap perlu dipantau pertumbuhannya, bukan langsung dimaklumi.
- Mitos: yang penting anak gemuk dan lahap makan. Fakta: stunting dinilai dari tinggi atau panjang badan menurut usia, bukan dari berat badan. Anak yang beratnya tampak cukup tetap bisa mengalami hambatan pertumbuhan tinggi bila kualitas gizinya kurang.
- Mitos: stunting hanya terjadi pada keluarga kurang mampu. Fakta: pola makan yang kurang beragam, MPASI yang belum tepat, atau kebersihan yang kurang terjaga bisa terjadi pada keluarga mana pun. Kondisi ekonomi berpengaruh, tetapi bukan satu-satunya penentu.
- Mitos: stunting bisa diatasi cukup dengan vitamin atau suplemen tertentu. Fakta: Kemenkes RI menekankan pencegahan lewat perbaikan gizi, pola asuh yang baik, serta akses sanitasi dan air bersih. Tidak ada satu produk tunggal yang menggantikan pola makan bergizi dan lingkungan yang sehat.
- Mitos: anak stunting pasti kurang pintar. Fakta: stunting memang dapat memengaruhi kemampuan emosional, sosial, dan fisik anak menurut Kemenkes RI, tetapi ini bukan vonis. Dengan gizi yang baik, stimulasi, dan kasih sayang, anak tetap dapat berkembang.
Bila Anda menemukan informasi seputar stunting yang meragukan, cara paling aman adalah mengonfirmasinya ke bidan atau petugas puskesmas, karena penjelasan mereka mengacu pedoman resmi tenaga kesehatan.
Kapan Harus ke Posyandu atau Dokter
Rutin menimbang dan mengukur anak di posyandu setiap bulan adalah cara paling sederhana untuk memantau pertumbuhannya. Jadikan ini kebiasaan, bukan hanya saat anak sakit. Segera konsultasikan ke bidan, dokter, atau tenaga kesehatan bila Anda mendapati:
- Panjang atau tinggi badan anak berada di bawah angka batas pada tabel di atas.
- Grafik pertumbuhan di Buku KIA mendatar atau menurun selama dua bulan berturut-turut.
- Anak tampak jauh lebih pendek dibandingkan teman-teman seusianya.
- Ada kekhawatiran soal perkembangan anak, misalnya terlambat pada kemampuan tertentu.
Semakin dini kondisi terdeteksi, semakin besar peluang untuk ditindaklanjuti dengan baik. Membawa anak untuk diperiksa bukanlah tanda kegagalan sebagai orang tua. Justru sebaliknya, itu bentuk kepedulian dan tindakan yang tepat. Tenaga kesehatan ada untuk membantu, bukan menghakimi.
Catatan dari Orang Tua
Pengalaman pribadi, bukan saran medis: sebagai orang tua, wajar sekali merasa cemas ketika membandingkan tinggi anak dengan anak lain. Yang banyak membantu keluarga adalah rutin datang ke posyandu dan bertanya langsung kepada petugas, alih-alih menebak-nebak sendiri di rumah. Punya angka batas seperti tabel di atas justru menenangkan, karena kekhawatiran jadi bisa dicek, bukan diraba-raba.
Checklist Sederhana Pencegahan di Rumah
Agar lebih mudah dijalankan sehari-hari, berikut kebiasaan yang bisa dijadikan rutinitas keluarga:
- Datang ke posyandu setiap bulan untuk menimbang dan mengukur anak, lalu pastikan hasilnya tercatat di Buku KIA.
- Cocokkan angka hasil pengukuran dengan tabel batas WHO di atas, lalu perhatikan trennya dari bulan ke bulan.
- Untuk ibu hamil, rutin memeriksakan kehamilan dan menjaga asupan gizi harian sejak awal kandungan.
- Berikan ASI eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan, lalu lanjutkan MPASI yang tepat waktu, adekuat, aman, dan diberikan dengan cara yang benar.
- Biasakan cuci tangan pakai sabun, jaga kebersihan alat makan, dan pastikan air yang digunakan keluarga bersih.
- Segera tanyakan ke tenaga kesehatan bila ada hal yang membuat ragu, sekecil apa pun.
Memahami bahwa stunting adalah masalah gizi kronis yang bisa dicegah seharusnya membuat kita lebih tenang, bukan panik. Dengan gizi cukup sejak kehamilan, ASI eksklusif, MPASI yang tepat, lingkungan bersih, dan pemantauan pertumbuhan yang rutin, kita sudah menempuh langkah paling penting untuk mendukung tumbuh kembang anak. Untuk menelusuri topik terkait lebih jauh, Anda bisa mengunjungi kumpulan artikel stunting di Asuh Anak.
Sumber
- WHO - Malnutrition (fact sheet, 1 Maret 2024)
- WHO - Child growth standards: Length/height-for-age (tabel z-score)
- Kemenkes RI - Ayo Sehat: Stunting (pengertian dan pencegahan)
- Kemenkes RI - SSGI 2024: Prevalensi Stunting Nasional Turun Menjadi 19,8%
- BKPK Kemenkes RI - Hasil Utama SKI 2023 (prevalensi stunting 21,5%)
- Kemenkes RI - Ayo Sehat: Cegah Stunting dengan Pola Asuh yang Baik
- Kemenkes RI - Ayo Sehat: 1000 Hari Pertama Kehidupan (Bayi)
- IDAI - Mencegah Anak Berperawakan Pendek
- IDAI - Pentingnya Protein Hewani dalam MP-ASI untuk Cegah Stunting
Artikel ini disusun sebagai edukasi dan bukan pengganti konsultasi langsung dengan tenaga kesehatan. Angka pada tabel adalah alat bantu skrining, bukan alat diagnosis. Untuk penilaian dan penanganan yang sesuai dengan kondisi anak Anda, silakan berkonsultasi dengan bidan, dokter, atau petugas kesehatan terdekat.
Pertanyaan yang sering muncul
Apa itu stunting secara sederhana?
Berapa tinggi badan anak yang termasuk stunting?
Apa perbedaan stunting dan pendek biasa?
Berapa angka stunting di Indonesia saat ini?
Apakah stunting bisa disembuhkan?
Pada usia berapa stunting terjadi?
Bagaimana cara memastikan anak stunting?
Konten ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Untuk keputusan medis, hubungi dokter atau bidan Anda.
Punya pertanyaan seputar stunting?
Tanya lewat WhatsApp