Baru: alat cek usia dan milestone anak sudah bisa dipakai gratis. Coba sekarang

ASI

Berapa Lama ASI Bertahan? Panduan Penyimpanan ASI Perah

Oleh Tim Redaksi Asuh Anak· 11 menit baca

Berapa Lama ASI Bertahan? Panduan Penyimpanan ASI Perah

Berapa lama ASI bertahan di suhu ruang adalah pertanyaan yang hampir selalu muncul begitu Bunda mulai memerah dan menyimpan ASI, dan jawaban singkatnya bergantung pada pedoman yang dipakai. Menurut CDC, ASI perah segar aman berada di suhu ruang yang sejuk (25 derajat Celsius atau lebih dingin) hingga 4 jam. Menurut IDAI, pada suhu ruang maksimal 25 derajat Celsius, ASI perah tahan sekitar 6 sampai 8 jam. Perbedaan angka ini wajar karena setiap lembaga menetapkan batas kehati-hatian yang berbeda, dan keduanya sama-sama benar selama Bunda mengikutinya secara utuh. Artikel ini merangkum durasi ASI perah di semua tempat penyimpanan, mulai dari suhu ruang, cooler bag, kulkas, sampai berbagai jenis freezer, lengkap dengan cara menyimpan, menghangatkan, dan mengenali ASI yang sudah tidak layak.

Menyimpan ASI dengan benar adalah bagian penting dari perjuangan banyak ibu yang ingin tetap memberi ASI eksklusif walaupun harus kembali bekerja atau terpisah sementara dari bayinya. Kabar baiknya, panduan penyimpanan ASI sudah jelas dan bisa Bunda ikuti di rumah tanpa alat mahal.

Berapa Lama ASI Bertahan di Suhu Ruang?

Suhu ruang adalah tempat pertama ASI berada tepat setelah diperah, sebelum sempat dipindahkan ke pendingin. Karena itu wajar bila Bunda ingin tahu berapa lama batas amannya.

Menurut CDC, ASI perah segar yang baru diperah aman di suhu ruang (77 derajat Fahrenheit atau sekitar 25 derajat Celsius, atau lebih dingin) hingga 4 jam. Menurut IDAI, di atas meja pada suhu ruangan maksimal 25 derajat Celsius, ASI perah tahan sekitar 6 sampai 8 jam, dengan syarat wadahnya ditutup dan dijaga sedingin mungkin, bila perlu dibalut handuk dingin. Kemenkes RI memberikan rincian yang mirip: pada suhu 27 sampai 32 derajat Celsius ASI perah hanya aman maksimal 4 jam, sedangkan di bawah 25 derajat Celsius bisa bertahan 6 sampai 8 jam.

Perhatikan bahwa ketiga sumber sepakat pada satu prinsip: makin panas ruangan, makin pendek waktu aman ASI. Angka 6 sampai 8 jam hanya berlaku untuk ruangan yang benar-benar sejuk. Kalau Bunda ragu apakah ruangan cukup dingin, ambil angka paling konservatif, yaitu 4 jam, lalu segera pindahkan ASI ke cooler bag atau kulkas.

Ringkasan angka penting. Suhu ruang: 4 jam (CDC) atau 6 sampai 8 jam (IDAI, di bawah 25 derajat Celsius). Cooler bag dengan ice pack: 24 jam. Kulkas: 4 hari (CDC) atau 5 hari (IDAI). Freezer: 2 minggu sampai 12 bulan tergantung jenisnya. ASI yang sudah dihangatkan: gunakan dalam 2 jam dan jangan dibekukan ulang.

Tabel Durasi Penyimpanan ASI Perah di Semua Media

Agar mudah dibandingkan, berikut durasi penyimpanan ASI perah segar menurut CDC dan IDAI, dua rujukan yang paling sering dipakai. Angka ini berlaku untuk bayi sehat yang lahir cukup bulan (aterm). Karena CDC dan IDAI kadang berbeda, keduanya ditampilkan berdampingan, bukan dirata-ratakan.

Tempat penyimpananSuhu perkiraanCDCIDAI
Suhu ruang25 derajat Celsius atau lebih dinginHingga 4 jam6 sampai 8 jam
Cooler bag tertutup + ice packsekitar -15 sampai 4 derajat CelsiusHingga 24 jam24 jam
Kulkas (bukan rak pintu)sekitar 4 derajat CelsiusHingga 4 hari5 hari
Freezer kulkas 1 pintusekitar -15 derajat Celsius6 bulan ideal, hingga 12 bulan*2 minggu
Freezer kulkas 2 pintusekitar -18 derajat Celsius6 bulan ideal, hingga 12 bulan*3 sampai 6 bulan
Deep freezer (pintu terpisah)sekitar -20 derajat Celsius6 bulan ideal, hingga 12 bulan*6 sampai 12 bulan

*CDC tidak memisahkan angka freezer berdasarkan jenisnya. CDC menyebut penyimpanan freezer paling baik sekitar 6 bulan dan masih dapat diterima hingga 12 bulan, tanpa membedakan freezer 1 pintu, 2 pintu, atau deep freezer.

Perbedaan pendekatan ini penting dipahami. IDAI memerinci freezer menjadi tiga jenis karena kestabilan suhunya memang berbeda: freezer kulkas 1 pintu paling hangat dan paling sering terkena fluktuasi, sedangkan deep freezer paling dingin dan stabil, sehingga bisa menyimpan ASI paling lama. CDC memilih satu rentang tunggal untuk menyederhanakan. Bunda boleh memakai salah satunya secara utuh. Yang tidak dianjurkan adalah mencampur, misalnya memakai suhu paling longgar dari satu pedoman lalu durasi paling panjang dari pedoman lain.

Suhu Ruang dan Cooler Bag: Saat ASI Belum Masuk Kulkas

Ada dua situasi umum ketika ASI belum bisa langsung masuk kulkas: saat baru selesai diperah dan menunggu diberikan, atau saat Bunda dalam perjalanan pulang dari kantor.

Untuk ASI yang menunggu di suhu ruang, kuncinya adalah suhu ruangan itu sendiri. Di sinilah perbedaan ruangan ber-AC dan tanpa AC terasa nyata. Ruangan ber-AC yang menjaga suhu di bawah 25 derajat Celsius memberi Bunda jendela waktu yang lebih longgar, sesuai angka 6 sampai 8 jam dari IDAI. Sebaliknya, ruangan tanpa AC di Indonesia mudah menembus 27 sampai 32 derajat Celsius, dan pada suhu sepanas itu Kemenkes RI membatasi ASI hanya sampai 4 jam. Jadi kalau kamar terasa gerah, jangan berpatokan pada angka 8 jam. Perlakukan ASI seolah batasnya 4 jam, atau lebih baik lagi, langsung masukkan ke pendingin.

Untuk ASI yang dibawa bepergian, cooler bag dengan ice pack beku adalah penyelamat. CDC menyatakan ASI dapat disimpan dalam cooler terinsulasi berisi ice pack beku hingga 24 jam. IDAI dan Kemenkes RI menyebut angka yang sama, yaitu 24 jam. Syaratnya, es harus menyentuh wadah ASI sepanjang waktu, dan cooler bag jangan sering dibuka agar suhu dinginnya tidak cepat hilang. Begitu tiba di tujuan, segera pakai ASI, pindahkan ke kulkas, atau bekukan.

Catatan Bunda. Bawa cooler bag yang sudah diisi ice pack ke kantor, lalu simpan ASI hasil perah di dalamnya sepanjang hari kerja. Dengan begitu ASI tetap dalam batas 24 jam saat Bunda menempuh perjalanan pulang, dan bisa langsung dipindahkan ke kulkas atau freezer di rumah. Kalau Bunda sedang berupaya menjaga pasokan, kombinasikan dengan pola memerah teratur seperti yang dibahas di artikel ASI booster.

Kulkas, Freezer 1 Pintu, 2 Pintu, dan Deep Freezer

Setelah lewat jendela suhu ruang dan cooler bag, ASI perlu masuk ke pendingin. Pilihan tempatnya menentukan berapa lama ASI bisa disimpan.

Kulkas adalah pilihan untuk ASI yang akan dipakai dalam beberapa hari ke depan. Menurut CDC, ASI perah segar aman di kulkas hingga 4 hari. Menurut IDAI, ASI tahan sampai 5 hari di lemari es bersuhu sekitar 4 derajat Celsius. CDC menambahkan aturan praktis: jika Bunda merasa tidak akan memakai ASI segar dalam 4 hari, langsung bekukan saja sejak awal untuk menjaga kualitasnya.

Freezer adalah pilihan untuk simpanan jangka panjang. Di sinilah jenis freezer berpengaruh besar menurut IDAI. Freezer pada kulkas 1 pintu (yang menyatu dengan ruang pendingin) hanya menahan ASI sekitar 2 minggu karena suhunya paling tidak stabil. Freezer kulkas 2 pintu yang terpisah bisa menyimpan 3 sampai 6 bulan. Deep freezer atau freezer dengan pintu terpisah yang mencapai sekitar -20 derajat Celsius adalah yang terbaik, dengan daya simpan 6 sampai 12 bulan. CDC menyederhanakan semuanya menjadi satu angka: paling baik sekitar 6 bulan, masih dapat diterima hingga 12 bulan.

Satu hal yang disepakati semua sumber: jangan menyimpan ASI di rak pintu kulkas atau freezer. Suhu di pintu paling sering berubah karena buka-tutup, sehingga ASI lebih cepat rusak. Simpan wadah di bagian paling dalam. Perlu dicatat juga bahwa ASI yang disimpan melewati durasi anjuran tetap tidak otomatis berbahaya, tetapi kandungan lemaknya mulai terdegradasi sehingga kualitasnya menurun, seperti dijelaskan IDAI.

Cara Menyimpan ASI Perah agar Aman dan Tahan Lama

Durasi di atas hanya berlaku bila cara menyimpannya benar. Berikut langkah-langkah yang dianjurkan IDAI, CDC, dan Kemenkes RI.

  • Cuci tangan lebih dulu. Selalu cuci tangan dengan sabun dan air bersih sebelum memerah maupun menyimpan ASI, agar tidak ada kuman yang ikut masuk.
  • Gunakan wadah yang tepat. Pakai botol kaca atau wadah plastik bebas BPA dengan tutup rapat, atau kantong khusus ASI. Hindari kantong plastik biasa dan botol susu sekali pakai karena mudah bocor dan terkontaminasi.
  • Beri label tanggal. Tulis nama anak dan tanggal ASI diperah pada setiap wadah. Label ini memastikan Bunda selalu memakai ASI yang paling lama disimpan lebih dulu (prinsip masuk pertama, keluar pertama).
  • Simpan dalam porsi kecil. CDC menyarankan menyimpan ASI dalam porsi 2 sampai 4 ons atau sebanyak yang biasa dihabiskan bayi dalam sekali minum. Porsi kecil mengurangi ASI yang terbuang karena tidak habis.
  • Jangan penuhi wadah. Sisakan ruang sekitar 2,5 sentimeter (kira-kira satu inci) dari tutup, karena ASI mengembang saat membeku. Kalau terlalu penuh, wadah bisa retak atau tutupnya terdorong.
  • Jangan campur ASI beku dengan ASI baru. IDAI menyarankan untuk tidak mencampurkan ASI yang sudah dibekukan dengan ASI yang masih segar dalam satu wadah penyimpanan.
Perhatian. Jangan mengocok wadah ASI dengan keras. IDAI menyarankan cukup memutar wadah perlahan agar bagian krim yang mengambang di atas tercampur merata, karena mengocok terlalu keras dapat merusak komponen penting dalam ASI. Bila Bunda ragu soal cara menyimpan untuk kondisi bayi tertentu, tanyakan lewat Asisten Bunda atau langsung ke tenaga kesehatan.

Cara Menghangatkan ASI dan Aturan ASI Sisa

ASI sebenarnya tidak harus dihangatkan. CDC menyebut ASI boleh disajikan pada suhu ruang atau dalam keadaan dingin, dan sebagian bayi menerimanya tanpa masalah. Namun banyak bayi lebih suka ASI hangat, dan cara menghangatkannya perlu benar agar nutrisinya tidak rusak.

Untuk ASI beku, IDAI menyarankan memindahkan wadah ke kulkas selama satu malam, atau merendamnya dalam bak berisi air dingin lalu menaikkan suhu air perlahan-lahan. Untuk ASI dari kulkas, hangatkan dengan merendam wadah dalam bak berisi air hangat, atau air panci yang sudah dipanaskan sebelumnya. Kemenkes RI menambahkan, jika butuh cepat, ASI bisa dialiri air biasa dulu baru direndam air hangat. Sebelum diberikan, teteskan sedikit ASI ke pergelangan tangan untuk memastikan suhunya sudah pas.

Ada dua larangan yang ditegaskan semua sumber. Pertama, jangan pakai microwave. Menurut IDAI dan CDC, microwave memanaskan ASI tidak merata dan menciptakan titik-titik panas yang bisa melukai mulut bayi, sekaligus merusak kandungan ASI. Kedua, jangan menghangatkan ASI langsung di atas api kompor atau merebusnya, karena panas berlebih merusak zat gizi dan antibodi di dalamnya.

Soal ASI sisa dan ASI yang sudah dihangatkan, aturannya ketat karena menyangkut keamanan bayi:

  • ASI yang sudah dihangatkan atau mencapai suhu ruang, menurut CDC, harus digunakan dalam 2 jam. IDAI menyebut ASI yang dihangatkan diberikan dalam 24 jam.
  • ASI beku yang dicairkan di kulkas, menurut CDC, sebaiknya dipakai dalam 24 jam sejak benar-benar mencair, bukan dihitung sejak dikeluarkan dari freezer.
  • ASI yang sudah dicairkan tidak boleh dibekukan ulang. Ini disepakati CDC dan IDAI.
  • Untuk sisa ASI di botol yang sudah diminum bayi, CDC memperbolehkan pemakaian dalam 2 jam lalu sisanya dibuang, sedangkan IDAI menyarankan tidak menyimpan sisa ASI yang sudah dikonsumsi untuk pemberian berikutnya. Bila bayi sering menyisakan ASI, kecilkan porsi tiap botol.

ASI Berbau Sabun, ASI Basi, dan Catatan untuk Bayi Prematur

Banyak Bunda panik saat ASI simpanannya berbau tidak biasa, padahal belum tentu basi. IDAI menjelaskan bahwa ASI yang telah dihangatkan kadang terasa seperti sabun karena pecahnya komponen lemak, dan ASI seperti ini masih aman dikonsumsi. Ada juga ASI yang berbau amis karena kadar enzim lipase (pemecah lemak) yang tinggi. Untuk ASI yang berbau amis akibat lipase, IDAI menyarankan, setelah diperah, ASI dihangatkan hingga muncul gelembung di bagian tepi (jangan sampai mendidih), lalu segera didinginkan dan dibekukan. Cara ini menghentikan aktivitas lipase. Bahkan dalam kondisi ini, IDAI menegaskan kualitas ASI masih lebih baik daripada susu formula.

Lalu bagaimana mengenali ASI yang benar-benar sudah tidak layak? Petunjuk paling andal bukanlah bau atau rasa, melainkan durasi penyimpanan. Kalau ASI sudah melewati batas waktu di tabel di atas, jangan diberikan meski baunya tampak normal. Sebaliknya, bau sabun ringan atau amis khas lipase seperti dijelaskan IDAI bukan tanda basi dan tetap aman selama masih dalam batas durasi. Bila ASI menunjukkan bau yang jelas berbeda dari kedua hal itu, apalagi disertai keraguan Bunda, prinsip amannya sederhana: bila ragu, buang. ASI yang terbuang bisa dipompa lagi, tetapi keamanan bayi tidak bisa dinegosiasikan.

Satu catatan penting untuk menutup. Semua durasi dalam artikel ini disusun untuk bayi sehat yang lahir cukup bulan, sebagaimana dinyatakan CDC (mengacu pada pedoman untuk full-term infants) dan IDAI (untuk bayi sehat yang lahir aterm). Untuk bayi prematur atau bayi dengan kondisi medis tertentu, pedoman penyimpanannya lebih ketat dan sering berbeda, terutama bila bayi masih dirawat di rumah sakit. IDAI membahas hal ini secara terpisah dalam panduan pemberian ASI pada bayi prematur. Karena itu, bila bayi Bunda lahir prematur, sedang sakit, atau punya kondisi medis khusus, jangan berpatokan pada tabel umum ini. Konsultasikan aturan penyimpanan ASI yang sesuai dengan dokter anak atau tenaga kesehatan yang merawat bayi Anda. Sambil menjaga pasokan ASI, Bunda juga bisa membaca kebutuhan dasar bayi baru lahir dan menjelajahi kumpulan panduan lain di kategori ASI.

Sumber

Artikel ini disusun sebagai edukasi dan bukan pengganti konsultasi langsung dengan tenaga kesehatan. Durasi penyimpanan di sini berlaku untuk bayi sehat yang lahir cukup bulan. Untuk bayi prematur, bayi dengan kondisi medis, atau bila Anda ragu terhadap keamanan ASI simpanan, silakan berkonsultasi dengan bidan, dokter anak, atau petugas kesehatan terdekat.

Pertanyaan yang sering muncul

Berapa lama ASI perah bertahan di suhu ruang?
Pedomannya berbeda antar lembaga. Menurut CDC, ASI perah segar aman di suhu ruang yang sejuk (25 derajat Celsius atau lebih dingin) hingga 4 jam. Menurut IDAI, di suhu ruang maksimal 25 derajat Celsius ASI perah tahan sekitar 6 sampai 8 jam. Semakin panas ruangan, semakin pendek waktu amannya, jadi bila ragu pilih angka yang paling konservatif.
Apakah ASI di suhu ruang lebih awet kalau ruangan ber-AC?
Ya. Ruangan ber-AC yang menjaga suhu di bawah 25 derajat Celsius membuat ASI bertahan lebih lama dibanding ruangan panas tanpa AC. Menurut Kemenkes RI, pada suhu 27 sampai 32 derajat Celsius ASI perah hanya aman maksimal 4 jam, sedangkan di bawah 25 derajat Celsius bisa 6 sampai 8 jam. Jika ruangan terasa gerah, segera masukkan ASI ke cooler bag atau kulkas.
ASI perah di kulkas tahan berapa lama?
Menurut CDC, ASI perah segar aman di kulkas hingga 4 hari. Menurut IDAI, ASI perah tahan sampai 5 hari di lemari es bersuhu sekitar 4 derajat Celsius. Simpan wadah di bagian dalam kulkas, bukan di rak pintu, agar suhunya lebih stabil.
ASI perah di freezer tahan berapa lama?
Menurut IDAI, ASI perah tahan sekitar 2 minggu di freezer kulkas 1 pintu, 3 sampai 6 bulan di freezer kulkas 2 pintu, dan 6 sampai 12 bulan di deep freezer. Menurut CDC, penyimpanan freezer paling baik sekitar 6 bulan dan masih dapat diterima hingga 12 bulan. Makin dingin dan stabil suhunya, makin lama ASI bisa disimpan.
Apakah ASI beku yang sudah dicairkan boleh dibekukan lagi?
Tidak. Baik CDC maupun IDAI menegaskan ASI yang sudah dicairkan tidak boleh dibekukan ulang. Menurut CDC, ASI yang dicairkan di kulkas sebaiknya dipakai dalam 24 jam sejak benar-benar mencair. Setelah dihangatkan atau mencapai suhu ruang, gunakan dalam 2 jam.
Bolehkah ASI sisa dari botol yang sudah diminum bayi disimpan lagi?
Sebaiknya tidak disimpan untuk jangka lama. IDAI menyarankan agar sisa ASI yang sudah dikonsumsi tidak disimpan untuk pemberian berikutnya. Menurut CDC, jika bayi tidak menghabiskan botolnya, sisa ASI itu masih boleh dipakai dalam 2 jam, setelah itu dibuang.
Kenapa ASI perah berbau seperti sabun atau amis, apakah masih boleh diberikan?
Menurut IDAI, ASI yang dihangatkan kadang terasa seperti sabun karena pecahnya komponen lemak, dan ASI seperti ini masih aman dikonsumsi. Bau amis dapat muncul karena kadar enzim lipase yang tinggi. Bau sabun atau amis semacam ini berbeda dari ASI yang benar-benar basi, dan tetap aman selama ASI masih dalam batas durasi penyimpanan.

Konten ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Untuk keputusan medis, hubungi dokter atau bidan Anda.

Punya pertanyaan seputar asi?

Tanya lewat WhatsApp