Baru: alat cek usia dan milestone anak sudah bisa dipakai gratis. Coba sekarang

Kehamilan

Vitamin Ibu Hamil: Jenis, Manfaat, dan Aturan Minumnya

Oleh Tim Redaksi Asuh Anak· 14 menit baca

Vitamin Ibu Hamil: Jenis, Manfaat, dan Aturan Minumnya

Vitamin ibu hamil adalah kumpulan zat gizi mikro yang kebutuhannya meningkat selama kehamilan, sehingga sering kali perlu dilengkapi lewat suplemen selain dari makanan sehari-hari. Menurut Kemenkes RI, zat gizi mikro yang penting pada masa ini terutama vitamin A, vitamin D, asam folat, zat besi, seng, kalsium, dan iodium. Di Indonesia, bentuk yang paling dikenal adalah Tablet Tambah Darah (TTD), yang berisi zat besi dan asam folat. Kabar baiknya, Bunda tidak perlu meminum semua jenis suplemen yang ada di apotek. Yang dibutuhkan justru pemahaman tentang mana yang benar-benar penting, kapan meminumnya, dan hal apa yang perlu didiskusikan dengan bidan atau dokter.

Rak apotek yang penuh botol berlabel "untuk kehamilan" memang mudah membuat bingung, apalagi ketika setiap produk terdengar sama pentingnya. Mari kita urai satu per satu dengan tenang, berdasarkan panduan resmi Kemenkes RI dan WHO, supaya Bunda bisa memilah mana yang perlu dan mana yang sebetulnya tidak wajib.

Mengapa Ibu Hamil Butuh Vitamin dan Suplemen Tambahan

Selama kehamilan, tubuh Bunda bekerja untuk dua kepentingan sekaligus: menjaga kesehatan diri sendiri dan mendukung tumbuh kembang janin. Kemenkes RI menjelaskan bahwa kebutuhan gizi dan penyerapan mineral meningkat karena tubuh harus menyesuaikan dengan kebutuhan tumbuh kembang janin. Pada ibu hamil normal, Kemenkes RI menyebut diperlukan tambahan energi sebesar 180 sampai 300 kkal dan protein mencapai 30 gram per hari dibanding kebutuhan sebelum hamil.

Masalahnya, sebagian kebutuhan ini sulit dipenuhi dari makanan saja. Untuk zat besi, pedoman Kemenkes RI menyatakan bahwa kebutuhan zat besi pada ibu hamil meningkat 25 persen dibandingkan ibu yang tidak hamil, dan kebutuhan tersebut sangat sulit dipenuhi hanya dari makanan, apalagi makanan sehari-hari sering kali tidak cukup mengandung zat besi. Di sinilah suplemen berperan sebagai pelengkap, bukan sebagai pengganti makan.

Kekurangan zat gizi pada masa ini bukan perkara sepele. Kemenkes RI menyebutkan bahwa kurangnya asupan energi dari zat gizi makro maupun zat gizi mikro yang berlangsung berkelanjutan dapat mengakibatkan Kurang Energi Kronis (KEK) pada masa kehamilan, yang ditandai dengan Lingkar Lengan Atas (LiLA) kurang dari 23,5 cm. Memenuhi gizi sejak masa kehamilan juga menjadi bagian penting dari pencegahan stunting, karena fondasi tumbuh kembang anak dibangun sejak ia masih dalam kandungan.

Meski begitu, Kemenkes RI juga menyampaikan hal yang menenangkan: secara umum, ibu hamil bisa menjalani kehamilan tanpa mengonsumsi semua suplemen secara komplet. Kebutuhan akan suplemen tambahan meningkat pada kondisi tertentu, misalnya bila ibu mengalami anemia, kekurangan nutrisi, mengandung bayi kembar, atau mengalami muntah-muntah hebat (hyperemesis gravidarum). Jadi, jangan merasa gagal bila Anda tidak meminum sepuluh jenis suplemen sekaligus.

Jenis Vitamin Ibu Hamil dan Manfaat Masing-Masing

Berikut zat gizi yang paling sering dibahas dalam panduan resmi, beserta apa kata Kemenkes RI dan WHO tentang masing-masing.

Zat Besi lewat Tablet Tambah Darah (TTD)

Inilah suplemen yang paling ditekankan bagi ibu hamil di Indonesia. Menurut pedoman Kemenkes RI, zat besi merupakan unsur penting dalam pembentukan hemoglobin pada sel darah merah, dan hemoglobin berfungsi mengikat serta menghantarkan oksigen ke seluruh sel jaringan tubuh, termasuk otot dan otak. Kebutuhan zat besi meningkat karena digunakan untuk pembentukan sel dan jaringan baru, termasuk jaringan otak pada janin.

Anemia pada ibu hamil masih umum terjadi. Kemenkes RI mencatat bahwa berdasarkan Riskesdas 2018, persentase ibu hamil yang mengalami anemia adalah 48,9 persen, yang berarti sekitar 5 dari 10 ibu hamil di Indonesia menderita anemia. Secara global, WHO memperkirakan lebih dari 40 persen ibu hamil di dunia mengalami anemia, dan setidaknya separuh dari beban anemia itu diperkirakan berasal dari kekurangan zat besi.

Soal takaran, Kemenkes RI menyebutkan bahwa ibu hamil dapat mengonsumsi TTD mandiri dengan kandungan zat besi sekurang-kurangnya 60 mg besi elemental dan 400 mcg asam folat, sama dengan TTD program. WHO merekomendasikan suplementasi harian zat besi dan asam folat sebesar 30 mg sampai 60 mg besi elemental disertai 400 mcg (0,4 mg) asam folat bagi ibu hamil untuk mencegah anemia pada ibu, sepsis nifas, berat lahir rendah, dan kelahiran prematur. Konsultasikan dengan dokter atau bidan untuk takaran yang sesuai dengan kondisi Anda, karena kebutuhan setiap ibu bisa berbeda.

Untuk lamanya, Kemenkes RI menganjurkan ibu hamil minum TTD minimal 90 tablet selama kehamilan sebagai upaya mencegah anemia.

Catatan Bunda. Kalau Anda pernah membaca angka yang berbeda-beda soal zat besi, itu wajar. Kemenkes RI menetapkan kandungan TTD sekurang-kurangnya 60 mg besi elemental, sedangkan WHO memberi rentang 30 sampai 60 mg besi elemental. Keduanya tidak bertentangan, karena angka Kemenkes berada di dalam rentang WHO. Yang penting, ikuti TTD yang diberikan bidan atau diresepkan dokter Anda, bukan menakar sendiri.

Asam Folat

Asam folat berperan dalam mencegah cacat tabung saraf pada janin, yaitu gangguan pada pembentukan otak dan sumsum tulang belakang bayi. WHO menganjurkan asam folat dimulai sedini mungkin, idealnya sebelum pembuahan, karena tabung saraf terbentuk pada minggu-minggu awal kehamilan. Kemenkes RI juga menyebut dosis yang disarankan adalah 400 mikrogram per hari dan konsumsinya harus dimulai sedini mungkin, bahkan sejak trimester pertama.

Karena topik ini punya banyak seluk-beluk tersendiri, mulai dari perbedaan folat alami dan asam folat sintetis sampai kapan tepatnya berhenti, kami membahasnya terpisah di artikel asam folat untuk ibu hamil. Satu hal yang perlu diingat di sini: TTD program sudah mengandung 400 mcg asam folat, jadi tanyakan kepada bidan apakah Anda masih memerlukan suplemen asam folat terpisah agar asupan tidak tumpang tindih.

Kalsium

Kalsium berkaitan erat dengan pencegahan preeklampsia, yaitu gangguan tekanan darah yang menjadi salah satu penyebab utama kematian ibu dan kelahiran prematur. WHO merekomendasikan, pada populasi dengan asupan kalsium dari makanan yang rendah, suplementasi kalsium harian sebesar 1,5 sampai 2,0 gram kalsium elemental oral untuk ibu hamil guna mengurangi risiko preeklampsia. Kemenkes RI menyebut angka yang sejalan, yaitu suplementasi kalsium sebanyak 1,5 sampai 2 gram untuk mencegah preeklampsia semasa kehamilan.

Perhatikan kata kuncinya pada rekomendasi WHO: "pada populasi dengan asupan kalsium yang rendah". Artinya, ini bukan anjuran otomatis untuk semua ibu hamil di semua situasi. Kemenkes RI mengingatkan bahwa kalsium juga bisa didapat dari banyak makanan seperti keju, susu, yoghurt, daging, sayur brokoli, dan ikan. Karena itu, keputusan perlu atau tidaknya suplemen kalsium sebaiknya diambil bersama tenaga kesehatan yang menilai pola makan dan kondisi Anda.

Vitamin D

Bagian ini sering mengejutkan banyak orang. WHO menyatakan bahwa suplementasi vitamin D oral tidak direkomendasikan untuk semua ibu hamil sebagai upaya memperbaiki luaran ibu dan bayi. WHO menjelaskan bahwa bukti yang tersedia saat ini masih terbatas untuk menilai secara langsung manfaat dan bahaya penggunaan suplemen vitamin D tunggal pada kehamilan, dan menekankan bahwa ibu hamil sebaiknya didorong memperoleh gizi yang cukup, yang paling baik dicapai lewat konsumsi pola makan sehat dan seimbang.

Ini bukan berarti vitamin D tidak penting. WHO menjelaskan vitamin D berperan penting dalam metabolisme tulang melalui pengaturan keseimbangan kalsium dan fosfat. Vitamin D diproduksi tubuh saat terpapar sinar matahari, dan juga terdapat pada ikan berminyak, telur, serta produk pangan yang difortifikasi. Kemenkes RI pun memasukkan vitamin D dalam daftar zat gizi mikro yang penting bagi ibu hamil. Yang dikatakan WHO adalah bahwa suplemennya tidak perlu diberikan secara rutin ke semua ibu hamil. Bila Anda memiliki kondisi khusus, dokterlah yang menilai apakah suplemen ini diperlukan.

Iodium

WHO menjelaskan bahwa iodium sangat penting untuk perkembangan otak yang sehat pada janin dan anak kecil, dan kebutuhan iodium perempuan meningkat secara substansial selama kehamilan untuk memastikan pasokan yang cukup bagi janin. Sebagian besar makanan relatif rendah kandungan iodiumnya, sehingga WHO dan UNICEF merekomendasikan iodisasi garam universal sebagai strategi global.

Untuk suplemen iodium, WHO dan UNICEF merekomendasikannya bagi ibu hamil dan menyusui di negara-negara dengan akses rumah tangga terhadap garam beriodium kurang dari 20 persen, sampai program iodisasi garam ditingkatkan. Di Indonesia, Kemenkes RI menempatkan "mengonsumsi garam beriodium" sebagai salah satu tips sehat ibu hamil, jadi pemenuhan iodium terutama diarahkan lewat garam beriodium dalam masakan sehari-hari, bukan lewat suplemen terpisah.

DHA dan Omega-3

DHA banyak dipromosikan sebagai suplemen kecerdasan janin, tetapi posisi WHO di sini masih berhati-hati. WHO menyatakan bahwa bukti yang ada saat ini menunjukkan suplementasi asam lemak tak jenuh ganda rantai panjang n-3 berkaitan dengan penurunan risiko kelahiran prematur dan sedikit peningkatan berat lahir, namun masih diperlukan penelitian lebih lanjut sebelum rekomendasi khusus dapat dibuat. Dengan kata lain, WHO belum menetapkan rekomendasi resmi untuk suplemen minyak ikan pada kehamilan.

WHO juga menyebutkan bahwa makanan laut merupakan sumber kaya asam lemak tak jenuh ganda rantai panjang n-3. Jadi bila Anda ingin memenuhi omega-3, memasukkan ikan ke dalam menu adalah langkah yang masuk akal. Untuk suplemen DHA, diskusikan dulu dengan bidan atau dokter Anda daripada membelinya sendiri karena tergiur klaim di kemasan.

Aturan Minum Vitamin Ibu Hamil dan Waktu Terbaiknya

Cara meminum ternyata ikut menentukan seberapa banyak zat gizi yang benar-benar terserap tubuh. Kemenkes RI memberi panduan praktis khusus untuk TTD agar konsumsinya lebih efektif mencegah anemia:

  • Minum pada malam hari sebelum tidur. Kemenkes RI menyebut waktu ini membantu mengurangi rasa mual.
  • Jangan minum saat perut kosong. Ini termasuk cara meminimalkan efek samping seperti perut perih dan mual.
  • Minum bersama sumber vitamin C. Kemenkes RI menganjurkan TTD dikonsumsi bersama makanan atau minuman yang mengandung vitamin C seperti buah segar, sayuran, dan jus buah, agar penyerapan zat besi di dalam tubuh lebih baik.
  • Hindari diminum bersama teh, kopi, susu, obat sakit maag, dan tablet kalsium. Menurut Kemenkes RI, semuanya menghambat penyerapan zat besi.
  • Catat konsumsinya. Kemenkes RI menganjurkan ibu hamil mencatat di kartu kontrol minum TTD dalam Buku KIA, atau mencatat secara manual untuk dilaporkan ke bidan atau tenaga gizi.
Perhatian. Poin "jangan bersamaan dengan tablet kalsium" sering terlewat. Bila bidan atau dokter meresepkan TTD dan kalsium sekaligus, tanyakan bagaimana mengatur jarak waktunya. Jangan berinisiatif menghentikan salah satunya sendiri, dan jangan pula menggabungkan beberapa produk suplemen tanpa sepengetahuan tenaga kesehatan, karena berisiko menyebabkan asupan yang tumpang tindih.

Bila Anda ingin memperkirakan usia kehamilan dan menyusun rencana pemeriksaan, kalkulator kehamilan bisa membantu memberi gambaran awal sebelum Anda berkonsultasi.

Efek Samping yang Umum dan Cara Menyiasatinya

Banyak ibu berhenti minum TTD di tengah jalan karena merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Padahal, sebagian keluhan itu sudah diantisipasi dalam pedoman resmi.

Kemenkes RI menyatakan dengan jelas: bila perut terasa perih, mual, serta tinja atau feses berwarna kehitaman, tidak perlu khawatir karena tubuh akan menyesuaikan. Tinja yang menghitam adalah hal yang lumrah pada konsumsi zat besi dan bukan pertanda bahaya. Untuk meminimalkan efek samping tersebut, Kemenkes RI menganjurkan agar TTD tidak diminum dalam kondisi perut kosong, dan sebaiknya diminum pada malam hari sebelum tidur.

Jadi, kalau selama ini Anda diam-diam berhenti minum TTD karena mual atau kaget melihat warna tinja, Anda tidak sendirian dan Anda tidak salah paham. Yang perlu diperbaiki hanyalah cara dan waktu meminumnya. Namun bila keluhan terasa berat, tidak membaik, atau justru membuat Anda tidak bisa makan sama sekali, itu hal yang perlu disampaikan kepada bidan atau dokter, bukan ditahan sendiri.

Suplemen Bukan Pengganti Makanan Bergizi

Ini prinsip yang diulang baik oleh Kemenkes RI maupun WHO. Kemenkes RI mengingatkan agar konsumsi suplemen diimbangi dengan istirahat tidur yang cukup dan makan makanan bergizi seimbang. WHO, dalam pembahasan vitamin D, menegaskan bahwa ibu hamil sebaiknya didorong untuk memperoleh gizi yang cukup, yang paling baik dicapai lewat konsumsi pola makan sehat dan seimbang.

Kemenkes RI memberi beberapa tips sehat ibu hamil yang sifatnya sehari-hari dan tidak memerlukan produk apa pun:

  • Melakukan pemeriksaan kehamilan atau ANC secara rutin.
  • Makan 3 kali makanan utama ditambah 1 sampai 2 kali makanan selingan dalam sehari sesuai anjuran porsi makan ibu hamil.
  • Cukup konsumsi air putih.
  • Mengonsumsi garam beriodium.
  • Pada kondisi mual di trimester pertama atau mudah kenyang di trimester akhir, konsumsi makanan dalam porsi kecil tapi sering, dengan buah dan sayur tetap masuk menu harian.
  • Membatasi konsumsi kopi atau minuman berkafein lainnya.
  • Membatasi makanan tinggi gula, garam, dan lemak.
  • Rutin memantau pertambahan berat badan dan cukup istirahat.
Ringkasan. Suplemen melengkapi, makanan tetap fondasinya. Kalau harus memilih satu kebiasaan yang paling berdampak, pilih pemeriksaan kehamilan rutin, karena dari sanalah kebutuhan Anda dinilai secara personal. Selebihnya, TTD sesuai anjuran, makan beragam, garam beriodium, dan istirahat cukup sudah mencakup sebagian besar yang dianjurkan Kemenkes RI.

Mitos dan Fakta Seputar Vitamin Ibu Hamil

Beberapa anggapan yang beredar perlu diluruskan agar Bunda tidak salah melangkah, dan juga tidak merasa bersalah tanpa alasan.

  • Mitos: makin banyak jenis suplemen, makin baik untuk janin. Fakta: Kemenkes RI menyatakan secara umum ibu hamil bisa menjalani kehamilan tanpa mengonsumsi semua suplemen secara komplet, kecuali bila ada kondisi tertentu seperti anemia, kekurangan nutrisi, kehamilan kembar, atau muntah-muntah hebat. Menumpuk suplemen tanpa indikasi justru berisiko membuat asupan tumpang tindih.
  • Mitos: semua ibu hamil wajib minum suplemen vitamin D. Fakta: WHO menyatakan suplementasi vitamin D oral tidak direkomendasikan untuk semua ibu hamil untuk memperbaiki luaran ibu dan bayi. Vitamin D tetap penting, tetapi pemenuhannya diarahkan lewat pola makan sehat dan seimbang, kecuali ada penilaian khusus dari dokter.
  • Mitos: suplemen DHA sudah pasti membuat bayi lebih cerdas. Fakta: WHO menyatakan masih diperlukan penelitian lebih lanjut sebelum rekomendasi khusus soal suplemen minyak ikan dapat dibuat. Klaim di kemasan produk bukan pengganti rekomendasi resmi.
  • Mitos: TTD yang bikin mual berarti tidak cocok dan harus dihentikan. Fakta: menurut Kemenkes RI, mual, perut perih, dan tinja kehitaman tidak perlu dikhawatirkan karena tubuh akan menyesuaikan. Solusinya mengatur waktu minum, bukan berhenti diam-diam.
  • Mitos: minum TTD dengan susu supaya lebih sehat. Fakta: Kemenkes RI justru menyebut susu, teh, kopi, obat sakit maag, dan tablet kalsium menghambat penyerapan zat besi. Pasangan yang tepat untuk TTD adalah sumber vitamin C.

Bila Anda menemukan informasi seputar suplemen kehamilan yang meragukan, cara paling aman adalah menanyakannya saat pemeriksaan kehamilan. Anda juga bisa menjelajahi topik lain di kategori Kehamilan atau berdiskusi lewat Asisten Bunda sebagai teman mencari informasi awal.

Kapan Harus Konsultasi ke Dokter atau Bidan

Perlu ditegaskan satu hal yang menjadi inti artikel ini: keputusan mengonsumsi vitamin atau suplemen apa pun selama kehamilan harus melalui konsultasi dengan tenaga kesehatan. Kemenkes RI sendiri menutup panduan suplemennya dengan pesan agar Anda selalu mengonsultasikan penggunaan suplemen dengan bidan atau tenaga kesehatan yang Anda percayai. Artikel ini membantu Anda memahami peta besarnya, tetapi yang menilai kebutuhan spesifik Anda tetaplah orang yang memeriksa Anda langsung.

Kenali juga tanda-tanda anemia yang disebutkan Kemenkes RI, yaitu lesu, lelah, letih, lemah, lunglai (5L), kelopak mata pucat, lidah dan bibir pucat, mata berkunang-kunang, serta pusing. Kemenkes RI menyebut ibu hamil dikatakan anemia apabila kandungan hemoglobin (Hb) kurang dari 11 gr/dl, dan ini hanya bisa dipastikan lewat pemeriksaan, bukan lewat perkiraan sendiri di rumah.

Segera hubungi bidan atau dokter apabila Anda:

  • Mengalami tanda-tanda anemia seperti 5L, pucat, atau sering pusing.
  • Merasa efek samping TTD terlalu berat sampai mengganggu makan sehari-hari.
  • Sedang mengonsumsi beberapa suplemen sekaligus dan ragu apakah kandungannya tumpang tindih.
  • Memiliki kondisi medis tertentu, mengandung bayi kembar, atau mengalami muntah-muntah hebat.
  • Merasa berat badan tidak bertambah atau sering sakit-sakitan selama kehamilan.

Untuk memahami gambaran kehamilan dari trimester ke trimester, Anda bisa membaca panduan kehamilan kami sebagai pelengkap.

Pengalaman pribadi, bukan saran medis: banyak ibu bercerita bahwa menyimpan TTD di meja samping tempat tidur, bersebelahan dengan botol air minum, membantu mereka konsisten meminumnya setiap malam. Kebiasaan sederhana seperti ini sering lebih menolong daripada mengandalkan ingatan semata. Tetap sesuaikan dengan anjuran tenaga kesehatan Anda.

Memahami vitamin ibu hamil sebenarnya tidak serumit yang terlihat di rak apotek. Intinya sederhana: TTD sesuai anjuran Kemenkes RI menjadi tulang punggung, asam folat dipenuhi sedini mungkin, kalsium dipertimbangkan bila asupan dari makanan rendah, sementara vitamin D dan DHA tidak dianjurkan secara otomatis untuk semua ibu hamil menurut WHO. Sisanya dibangun dari makanan bergizi seimbang, garam beriodium, istirahat cukup, dan pemeriksaan kehamilan yang rutin. Bunda tidak perlu membeli semua yang ditawarkan, cukup memenuhi yang memang dibutuhkan, bersama pendampingan tenaga kesehatan yang memeriksa Anda.

Sumber

Artikel ini disusun sebagai edukasi dan bukan pengganti konsultasi langsung dengan tenaga kesehatan. Keputusan untuk mengonsumsi vitamin atau suplemen apa pun selama kehamilan harus melalui konsultasi dengan dokter atau bidan yang memeriksa kondisi Anda.

Pertanyaan yang sering muncul

Vitamin apa saja yang penting untuk ibu hamil?
Kemenkes RI menyebut zat gizi mikro yang penting selama kehamilan meliputi vitamin A, vitamin D, asam folat, zat besi, seng, kalsium, dan iodium. Di Indonesia, bentuk paling umum adalah Tablet Tambah Darah (TTD) yang berisi zat besi dan asam folat. Jenis dan kebutuhan tiap ibu berbeda, jadi tanyakan kepada bidan atau dokter mana yang benar-benar Anda perlukan.
Kapan waktu terbaik minum Tablet Tambah Darah?
Menurut pedoman Kemenkes RI, TTD sebaiknya diminum pada malam hari sebelum tidur untuk mengurangi rasa mual. TTD juga sebaiknya tidak diminum dalam kondisi perut kosong. Bila jadwal ini sulit Anda jalani, diskusikan dengan bidan agar dicarikan cara yang paling cocok dengan rutinitas Anda.
Berapa lama ibu hamil perlu minum Tablet Tambah Darah?
Kemenkes RI menganjurkan ibu hamil minum TTD minimal 90 tablet selama kehamilan untuk mencegah anemia. Yang dinilai bukan sekadar jumlahnya, melainkan keteraturan meminumnya dari waktu ke waktu. Catat konsumsi Anda di kartu kontrol pada Buku KIA agar mudah dipantau bersama tenaga kesehatan.
Apakah semua ibu hamil perlu suplemen vitamin D?
Tidak. WHO menyatakan suplementasi vitamin D oral tidak direkomendasikan untuk semua ibu hamil sebagai upaya memperbaiki luaran ibu dan bayi. WHO menekankan bahwa kecukupan gizi paling baik dicapai lewat pola makan sehat dan seimbang. Bila Anda punya kondisi khusus, dokterlah yang menilai apakah suplemen ini diperlukan.
Kenapa Tablet Tambah Darah membuat mual dan tinja menjadi hitam?
Menurut Kemenkes RI, perut perih, mual, dan tinja berwarna kehitaman adalah hal yang tidak perlu dikhawatirkan karena tubuh akan menyesuaikan. Untuk meminimalkan efek samping ini, jangan minum TTD saat perut kosong dan pilih waktu malam sebelum tidur. Bila keluhan terasa berat atau mengganggu, sampaikan kepada bidan atau dokter Anda.
Bolehkah minum Tablet Tambah Darah bersama susu atau teh?
Sebaiknya tidak. Kemenkes RI menyebutkan bahwa TTD jangan diminum bersama teh, kopi, susu, obat sakit maag, dan tablet kalsium karena akan menghambat penyerapan zat besi. Sebaliknya, meminumnya bersama makanan atau minuman ber-vitamin C seperti buah segar dan jus buah justru membantu penyerapan.
Apakah ibu hamil perlu suplemen DHA atau minyak ikan?
WHO menyatakan bahwa bukti yang ada saat ini belum cukup untuk membuat rekomendasi khusus mengenai suplemen minyak ikan pada kehamilan, sehingga masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut. Ikan dan makanan laut sendiri merupakan sumber alami asam lemak omega-3 rantai panjang. Bila Anda mempertimbangkan suplemen DHA, bicarakan dulu dengan tenaga kesehatan Anda.

Konten ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Untuk keputusan medis, hubungi dokter atau bidan Anda.

Punya pertanyaan seputar kehamilan?

Tanya lewat WhatsApp