Baru: alat cek usia dan milestone anak sudah bisa dipakai gratis. Coba sekarang

Imunisasi

Jadwal Vaksin IDAI Terbaru: Bacaan Lengkap per Usia

Oleh Tim Redaksi Asuh Anak· 11 menit baca

Jadwal Vaksin IDAI Terbaru: Bacaan Lengkap per Usia

Banyak orang tua mengetik jadwal vaksin IDAI 2025 di mesin pencari untuk memastikan si kecil mendapat perlindungan paling mutakhir, dari lahir sampai remaja. Perlu diketahui sejak awal, saat artikel ini disusun, rekomendasi paling baru yang benar-benar dirilis Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) adalah Jadwal Imunisasi Anak Usia 0-18 Tahun Rekomendasi IDAI tahun 2024, yang dipublikasikan di jurnal resmi IDAI, Sari Pediatri, edisi Februari 2025. Belum ada versi berlabel tahun 2025, jadi acuan yang sahih untuk saat ini adalah jadwal 2024. Karena jadwal imunisasi diperbarui setiap ada revisi, sebaiknya Anda selalu mengonfirmasi versi terbaru langsung ke laman resmi idai.or.id dan ke dokter anak yang memeriksa buah hati Anda.

Artikel ini merangkum jadwal lengkap per kelompok usia, yaitu 0-12 bulan, 1-4 tahun, 5-12 tahun, dan 12-18 tahun, sekaligus membedakan vaksin program pemerintah yang gratis dengan vaksin rekomendasi IDAI yang sebagian bersifat mandiri. Kami juga menjelaskan konsep imunisasi kejar untuk anak yang terlambat, serta apa saja yang baru dalam rekomendasi IDAI terbaru. Untuk rincian khusus bulan-bulan pertama, Anda bisa membaca panduan jadwal imunisasi bayi, dan kalau butuh pengingat berdasarkan tanggal lahir anak, tersedia tools Jadwal Imunisasi yang bisa Anda gunakan.

Jadwal vaksin IDAI 2025: versi mana yang jadi acuan

Satuan Tugas Imunisasi IDAI secara berkala mengkaji ulang jadwal imunisasi. Rekomendasi IDAI tahun 2024 disusun dengan menyelaraskan Pedoman Imunisasi di Indonesia edisi ke-7 tahun 2024 dan sumber lain, lalu dipublikasikan di jurnal IDAI, Sari Pediatri, pada Februari 2025. Jadwal resminya kini bisa diakses di laman profesional idai.or.id. Jadi ketika Anda mendengar istilah jadwal vaksin IDAI 2025, yang dimaksud kemungkinan besar adalah rekomendasi 2024 yang beredar luas pada awal 2025 ini.

IDAI menjelaskan bahwa jadwal imunisasi selalu dievaluasi ulang karena ada vaksin baru yang disetujui BPOM dan ada vaksin yang tidak lagi tersedia di Indonesia. Dalam rekomendasi 2024, beberapa perubahan menyangkut ketersediaan jenis vaksin, yaitu pada pneumococcal conjugate vaccine (PCV), vaksin rotavirus, vaksin varisela, vaksin dengue, dan vaksin human papillomavirus (HPV). Salah satu yang menonjol adalah hadirnya PCV15, yang menurut IDAI sudah diizinkan BPOM sejak Juni 2023 untuk anak usia 6 minggu hingga 17 tahun. IDAI menegaskan jadwal 2024 adalah perbaikan dari jadwal 2023 karena adanya penambahan vaksin baru yang sudah mendapat persetujuan edar.

Perubahan lain menyangkut pilihan vaksin kombinasi dan pengganti vaksin lama. IDAI menyebut vaksin kombinasi MMRV, yang menggabungkan campak, gondongan, rubela, dan varisela dalam satu suntikan, sudah disetujui beredar oleh BPOM dengan penggunaan dibatasi hingga usia 6 tahun sejak Oktober 2022. Untuk vaksin dengue, generasi lama CYD-TDV sudah tidak lagi beredar di Indonesia sejak akhir 2023 dan digantikan oleh vaksin TAK-003. Perincian seperti inilah yang membuat menyebutkan tahun rekomendasi menjadi penting, karena jenis vaksin yang tersedia bisa berbeda dari tahun ke tahun.

Perhatian. Setiap usia, jenis vaksin, dan jumlah dosis dalam artikel ini mengacu pada rekomendasi IDAI tahun 2024 dan program imunisasi Kemenkes RI yang berlaku. Jadwal imunisasi dapat berubah pada setiap revisi, jadi selalu cocokkan dengan versi terbaru di idai.or.id. Yang terpenting, jadwal serta kelayakan anak menerima setiap vaksin wajib dikonsultasikan dengan dokter anak atau bidan, karena kondisi tiap anak berbeda dan hanya tenaga kesehatan yang bisa menilainya secara langsung.

Bedanya vaksin program pemerintah dan rekomendasi IDAI

Kebingungan yang paling sering dirasakan orang tua adalah menemukan dua jadwal yang sama-sama resmi. Keduanya benar, hanya berbeda konteks. Yang pertama adalah imunisasi rutin lengkap dari pemerintah lewat Kemenkes RI, diberikan gratis di posyandu, puskesmas, dan fasilitas kesehatan lain. Program ini kini mencakup vaksin seperti PCV, rotavirus, dan HPV, yang semuanya dibebaskan dari biaya bagi masyarakat.

Yang kedua adalah jadwal rekomendasi organisasi profesi, yaitu IDAI. Pada beberapa vaksin, IDAI merekomendasikan pola yang sedikit berbeda. Contoh paling jelas ada pada PCV: program nasional memakai pola 2, 3, dan 12 bulan (disebut jadwal 2p+1) dengan PCV13, sedangkan IDAI merekomendasikan pola 2, 4, 6 bulan ditambah booster pada usia 12-15 bulan (disebut jadwal 3p+1). Selain itu, IDAI mencantumkan sejumlah vaksin yang belum seluruhnya masuk program nasional, seperti MMR, varisela, hepatitis A, tifoid, influenza, Japanese encephalitis, dan dengue, yang bila diinginkan bisa diperoleh secara mandiri di fasilitas kesehatan. Pembahasan tuntas satu jenis vaksin bisa Anda baca pada artikel vaksin PCV.

IDAI sendiri menegaskan bahwa kedua pola PCV ini tidak bertentangan dengan rekomendasi WHO. Jadi Anda tidak sedang diminta memilih mana yang benar dan mana yang salah. Perbedaannya lebih pada tempat anak diimunisasi. Bila lewat posyandu atau puskesmas dalam program pemerintah, yang dipakai adalah pola 2, 3, dan 12 bulan. Bila lewat dokter spesialis anak di layanan mandiri, bisa jadi yang dipakai adalah pola IDAI. Sepanjang rangkaiannya lengkap, keduanya sama-sama melindungi anak dengan baik.

Catatan Bunda. Tidak perlu bingung memilih pihak. Saat mendaftar imunisasi, cukup tanyakan ke petugas, "Ini mengikuti jadwal program pemerintah atau jadwal IDAI ya?" Pertanyaan ini membantu Anda mencatat tanggal kunjungan berikutnya dengan benar, sehingga tidak ada dosis yang terlewat. Keduanya sah, dan yang paling penting anak menerima rangkaian vaksin secara lengkap dan tepat waktu.

Jadwal vaksin usia 0-12 bulan (imunisasi dasar)

Tahun pertama adalah fondasi. Di rentang inilah bayi menerima paling banyak vaksin dalam program dasar. Menurut laman resmi Kemenkes RI, urutannya dimulai dari Hepatitis B (HB0) saat lahir, lalu BCG dan Polio tetes pada usia 1 bulan, dilanjutkan rangkaian DPT-HB-Hib, Polio, PCV, dan Rotavirus pada usia 2, 3, dan 4 bulan, kemudian Campak-Rubella (MR) pada usia 9 bulan. Karena bagian ini sudah dibahas mendetail, susunan lengkap per bulan dapat Anda lihat pada panduan jadwal imunisasi bayi.

Alasan tahun pertama begitu padat adalah karena tubuh bayi membutuhkan beberapa dosis untuk membentuk kekebalan yang kuat dan tahan lama, sementara masa bayi justru periode paling rentan terhadap penyakit menular berat. Menurut WHO, imunisasi melindungi anak dari sejumlah penyakit yang bisa berakibat fatal, seperti campak, difteri, pertusis, tetanus, dan polio. Karena itu banyak vaksin dikemas dalam bentuk kombinasi, misalnya DPT-HB-Hib, agar satu suntikan bisa melindungi dari beberapa penyakit sekaligus dan jumlah tusukan pada bayi berkurang.

Dari sisi rekomendasi IDAI, ada beberapa catatan penting di tahun pertama. Vaksin Hepatitis B adalah vaksin pertama yang diberikan, idealnya sebelum 24 jam pada bayi dengan berat lahir 2000 gram atau lebih. Vaksin BCG disuntikkan sesegera mungkin pada bayi usia kurang dari 1 bulan. Untuk polio, IDAI menyebut rangkaian lengkap terdiri atas polio tetes (bOPV) ditambah paling tidak 2 kali polio suntik (IPV) pada usia 4 dan 9 bulan. Vaksin DTP primer bisa mengikuti jadwal 2, 3, 4 bulan atau 2, 4, 6 bulan dengan interval 4-8 minggu. Rangkaian tahun pertama yang lengkap juga menjadi salah satu upaya menjaga anak dari infeksi berulang, sejalan dengan usaha pencegahan stunting secara lebih luas.

Jadwal vaksin usia 1-4 tahun (imunisasi lanjutan dan pengejaran)

Memasuki usia batita, tujuan imunisasi bergeser dari membangun kekebalan dasar menjadi mempertahankan dan memperpanjangnya. Dalam program pemerintah, imunisasi lanjutan diberikan pada anak usia 18 bulan berupa DPT-HB-Hib satu dosis dan Campak-Rubella (MR) satu dosis. Dua suntikan penguat ini penting karena kekebalan dari imunisasi dasar akan menurun seiring waktu bila tidak diperkuat.

Rekomendasi IDAI menambahkan beberapa vaksin yang memperkaya perlindungan di rentang usia ini. Vaksin varisela (cacar air) diberikan mulai usia 12-18 bulan, dengan anak usia 1-2 tahun menerima 2 dosis berjarak 6 minggu sampai 3 bulan. Vaksin hepatitis A diberikan mulai usia 12 bulan sebanyak 2 dosis dengan jarak 6-18 bulan. Vaksin tifoid dijadwalkan pada usia 2 tahun dan diulang setiap 3 tahun. Untuk campak, dosis kedua MR atau MMR diberikan pada usia 15-18 bulan, dan vaksin MMR menjadi pilihan pada usia 12 bulan bila anak belum menerima MR pada usia 9 bulan. Di daerah endemis tertentu seperti Bali, vaksin Japanese encephalitis diberikan mulai usia sekitar 9 bulan dengan booster 1-2 tahun kemudian.

Vaksin influenza juga layak diperhatikan pada rentang ini. Menurut IDAI, influenza di Indonesia dapat terjadi sepanjang tahun sehingga vaksinnya bisa diberikan kapan saja. Untuk anak usia kurang dari 9 tahun, imunisasi influenza pertama diberikan 2 dosis dengan jarak 4 minggu, lalu diulang setahun sekali. Usia 1-4 tahun juga menjadi kesempatan emas untuk mengejar imunisasi yang sempat terlewat. IDAI menyebut rentang ini sebagai masa memperpanjang kekebalan sekaligus melengkapi vaksin yang belum lengkap. Jadi jika ada dosis yang tertinggal di tahun pertama, inilah saat yang tepat untuk menambalnya bersama petugas kesehatan.

Jadwal vaksin usia 5-12 tahun (masa sekolah dan BIAS)

Di usia sekolah dasar, imunisasi lanjutan diberikan lewat program Bulan Imunisasi Anak Sekolah atau BIAS, yang menurut Kemenkes RI dilaksanakan setiap tahun pada bulan Agustus dan November. Program ini memastikan anak tetap terlindungi dari difteri, tetanus, campak, rubela, dan kanker leher rahim. Berdasarkan laman resmi Kemenkes RI, jadwalnya adalah sebagai berikut.

SasaranJenis vaksinBulan pelaksanaan
Kelas 1 SD (usia 7 tahun)Campak-RubelaAgustus
Kelas 1 SD (usia 7 tahun)DTNovember
Kelas 2 SD (usia 8 tahun)TdNovember
Kelas 5 SD (usia 11 tahun)HPV (anak perempuan)Agustus
Kelas 5 SD (usia 11 tahun)TdNovember

Selain lewat program pemerintah, rekomendasi IDAI juga menempatkan beberapa penguat pada usia sekolah. Dosis ketiga vaksin campak (MR atau MMR) dapat diberikan melalui BIAS SD kelas 1 atau saat anak berusia 5-7 tahun. IDAI juga menyebut booster DTP diberikan pada rentang usia 5-7 tahun, sementara vaksin tifoid, hepatitis A, varisela, dan influenza tetap dapat dilanjutkan sesuai kebutuhan. Penguat pada usia sekolah ini bukan sekadar formalitas, melainkan cara menjaga agar kekebalan yang dibangun sejak bayi tidak memudar begitu saja saat anak mulai banyak berinteraksi di lingkungan sekolah. Bila ada pertanyaan ringan seputar jadwal di luar jam layanan, Anda bisa memakai Asisten Tanya Bunda sebagai teman diskusi awal, meski tetap tidak menggantikan pemeriksaan langsung oleh tenaga kesehatan.

Jadwal vaksin usia 12-18 tahun (perlindungan menjelang remaja)

Banyak orang tua mengira imunisasi berhenti saat anak masuk sekolah. Padahal rekomendasi IDAI berlaku hingga usia 18 tahun, dan masa remaja punya beberapa vaksin penting tersendiri. Yang paling dikenal adalah vaksin HPV untuk mencegah kanker leher rahim. Dalam program BIAS, Kemenkes RI menjadwalkan HPV untuk anak perempuan kelas 5 dan kelas 6, dan mulai tahun 2025 jumlah dosisnya berubah dari 2 dosis menjadi 1 dosis dengan mempertimbangkan rekomendasi WHO. Dalam rekomendasi IDAI, vaksin HPV diberikan untuk anak perempuan usia 9-14 tahun sebanyak 2 dosis dengan jarak 6-12 bulan, sedangkan pada usia 15 tahun ke atas diberikan 3 dosis.

Selain HPV, IDAI menyebut vaksin Td atau Tdap sebagai penguat difteri dan tetanus, dengan booster yang dianjurkan setiap 10 tahun sekali. Perlu dicatat, vaksin DTP sebaiknya tidak diberikan untuk anak di atas 7 tahun, dan penggantinya adalah Td atau Tdap. Ada pula vaksin dengue untuk mencegah demam berdarah. Menurut rekomendasi IDAI 2024, vaksin dengue TAK-003 diberikan pada anak usia 6-18 tahun dalam 2 dosis dengan selang waktu 3 bulan, dan bisa diberikan tanpa harus ada riwayat infeksi dengue sebelumnya. Vaksin influenza pun tetap dianjurkan setiap tahun. Semua ini menunjukkan bahwa perhatian pada imunisasi tidak berhenti ketika anak beranjak besar.

Imunisasi kejar untuk anak yang terlambat

Hidup dengan anak jarang berjalan mulus. Anak sakit, keluarga sibuk, atau ada kendala lain yang membuat satu jadwal terlewat. Kabar baiknya, ini bukan akhir dari segalanya. IDAI menegaskan bahwa pemberian imunisasi yang tidak sesuai jadwal, terlambat, atau belum lengkap bukan merupakan hambatan untuk melanjutkan. Imunisasi yang sudah diberikan tetap menghasilkan respons kekebalan, sehingga yang perlu dilakukan hanyalah melengkapi dan mengejarnya (catch-up immunization) agar perlindungannya optimal.

Konsep ini berlaku lintas usia. Sebagai contoh, IDAI mengatur bahwa anak usia 7-12 bulan yang belum menerima PCV masih bisa diberikan 2 kali dengan jarak paling tidak 1 bulan, dilanjutkan booster pada usia 12-15 bulan. Prinsipnya sama untuk vaksin lain: terlambat bukan berarti gagal, dan pada umumnya Anda tidak perlu mengulang seluruh rangkaian dari nol. Langkah praktisnya cukup satu, yaitu bawa anak beserta buku KIA ke posyandu, puskesmas, atau fasilitas kesehatan, lalu sampaikan vaksin mana yang terlewat. Petugas akan menghitung jadwal kejar yang aman sesuai usia anak, tanpa membuat Anda merasa dihakimi karena sempat terlambat.

Ringkasan singkat. Rekomendasi IDAI mencakup empat kelompok usia: 0-12 bulan (imunisasi dasar), 1-4 tahun (lanjutan dan pengejaran), 5-12 tahun (usia sekolah lewat BIAS), dan 12-18 tahun (remaja, termasuk HPV dan dengue). Vaksin program pemerintah gratis, sebagian vaksin rekomendasi IDAI diberikan mandiri, dan keduanya sama-sama sah. Angka pada artikel ini mengacu pada jadwal IDAI 2024 yang berlaku saat ini.

Menandai tanggal, menyiapkan buku KIA, dan datang tepat waktu memang terdengar sederhana, tetapi itulah yang benar-benar melindungi anak dari lahir hingga remaja. Anda bisa menelusuri panduan vaksin lain di kategori Imunisasi di Asuh Anak. Yang perlu ditegaskan sekali lagi, jadwal imunisasi dan kondisi setiap anak berbeda, sehingga jadwal vaksin serta kelayakan anak menerimanya wajib dikonsultasikan dengan dokter anak atau bidan yang memeriksa langsung. Artikel ini membantu Anda datang ke ruang periksa dengan pertanyaan yang lebih siap, bukan menggantikan penilaian mereka.

Sumber

Artikel ini disusun untuk edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Jadwal imunisasi dapat diperbarui dari waktu ke waktu dan kondisi setiap anak berbeda, sehingga keputusan mengenai pemberian vaksin pada anak Anda sebaiknya dibicarakan dengan bidan, dokter, atau petugas kesehatan terdekat.

Pertanyaan yang sering muncul

Apakah IDAI sudah merilis jadwal vaksin tahun 2025?
Saat artikel ini disusun, rekomendasi paling baru yang benar-benar dirilis Ikatan Dokter Anak Indonesia adalah Jadwal Imunisasi Anak Usia 0-18 Tahun Rekomendasi IDAI tahun 2024. Jadwal ini dipublikasikan di jurnal resmi IDAI, Sari Pediatri, edisi Februari 2025. Belum ada versi berlabel 2025, sehingga acuan yang sahih untuk saat ini adalah jadwal 2024. Karena jadwal dapat diperbarui setiap revisi, sebaiknya cek versi terbaru di idai.or.id.
Apa perbedaan jadwal vaksin program pemerintah dan rekomendasi IDAI?
Jadwal program pemerintah (Kemenkes RI) adalah imunisasi rutin lengkap yang diberikan gratis di posyandu dan puskesmas, misalnya PCV pada usia 2, 3, dan 12 bulan. Rekomendasi IDAI adalah jadwal dari organisasi profesi yang sebagian polanya berbeda dan mencakup beberapa vaksin tambahan yang diberikan mandiri, seperti MMR, varisela, hepatitis A, tifoid, influenza, dan dengue. Keduanya sama-sama sah, dan dokter atau bidan akan membantu menentukan mana yang diikuti.
Apa saja perubahan dalam rekomendasi IDAI 2024?
Menurut IDAI, jadwal 2024 merupakan perbaikan dari jadwal 2023 karena ada penambahan vaksin baru yang sudah mendapat izin edar BPOM. Perubahan menyangkut ketersediaan jenis vaksin pada pneumococcal conjugate vaccine (termasuk hadirnya PCV15), vaksin rotavirus, vaksin varisela, vaksin dengue, dan vaksin HPV. Perinciannya sebaiknya dikonfirmasi ke dokter anak.
Berapa dosis vaksin HPV sekarang?
Dimulai sejak tahun 2025, dengan mempertimbangkan rekomendasi WHO, Kemenkes RI mengubah jumlah dosis imunisasi HPV pada program Bulan Imunisasi Anak Sekolah dari 2 dosis menjadi 1 dosis. Vaksin HPV pada program ini ditujukan untuk anak perempuan. Dalam rekomendasi IDAI, vaksin HPV diberikan untuk anak perempuan usia 9-14 tahun sebanyak 2 dosis, sedangkan usia 15 tahun ke atas sebanyak 3 dosis.
Bagaimana jika jadwal imunisasi anak terlambat?
Menurut IDAI, imunisasi yang terlambat atau belum lengkap bukan hambatan untuk melanjutkan, dan umumnya tidak perlu diulang dari awal. Konsep ini disebut imunisasi kejar atau catch-up. Segera bawa anak beserta buku KIA ke posyandu, puskesmas, atau fasilitas kesehatan agar petugas menyusun jadwal kejar yang aman sesuai usia anak.
Sampai usia berapa anak perlu imunisasi menurut IDAI?
Rekomendasi IDAI mencakup jadwal imunisasi anak dari usia 0 sampai 18 tahun. Artinya perlindungan tidak berhenti di masa bayi, melainkan berlanjut pada usia batita, usia sekolah, hingga remaja. Beberapa vaksin memang diberikan pada usia yang lebih besar, seperti tifoid, HPV, dan dengue.
Kalau anak sudah ikut program pemerintah, apakah masih perlu vaksin mandiri?
Program pemerintah sudah memberi perlindungan dasar yang penting dan gratis. Beberapa vaksin dalam rekomendasi IDAI belum masuk program nasional, sehingga bila ingin melengkapinya orang tua bisa mendapatkannya secara mandiri di fasilitas kesehatan. Keputusan menambah vaksin mandiri sebaiknya dibicarakan dengan dokter anak sesuai kondisi dan kebutuhan anak Anda.

Konten ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Untuk keputusan medis, hubungi dokter atau bidan Anda.

Punya pertanyaan seputar imunisasi?

Tanya lewat WhatsApp