Baru: alat cek usia dan milestone anak sudah bisa dipakai gratis. Coba sekarang

Imunisasi

Vaksin PCV: Jadwal, Manfaat, dan Efek Sampingnya

Oleh Tim Redaksi Asuh Anak· 12 menit baca

Vaksin PCV: Jadwal, Manfaat, dan Efek Sampingnya

Vaksin PCV adalah vaksin yang melindungi anak dari penyakit akibat infeksi bakteri pneumokokus, mulai dari radang paru sampai radang selaput otak. Kabar baiknya, sejak 12 September 2022 Kementerian Kesehatan RI mencanangkan imunisasi PCV secara nasional, dan vaksin ini kini diberikan gratis di posyandu, puskesmas, serta fasilitas kesehatan lain di seluruh Indonesia. Dalam program nasional, PCV diberikan sebanyak 3 dosis, yaitu pada usia 2 bulan, 3 bulan, dan 12 bulan.

Kalau Bunda sedang membaca ini sambil memegang buku KIA dan bertanya-tanya kenapa jadwal PCV di buku berbeda dengan yang disebut teman atau dokter praktik swasta, Anda tidak sendirian. Perbedaan itu memang ada, dan ada penjelasan resminya. Artikel ini merangkum apa yang dicegah vaksin PCV, jadwal versi Kemenkes maupun IDAI, efek samping yang wajar, sampai kapan sebaiknya menghubungi tenaga kesehatan. Untuk melihat urutan lengkapnya berdasarkan tanggal lahir si kecil, Anda bisa memakai tools Jadwal Imunisasi yang kami sediakan.

Apa itu vaksin PCV dan penyakit apa yang dicegah

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), vaksin pneumokokus atau PCV (Pneumococcal Conjugate Vaccine) adalah vaksin berisi protein konjugasi yang bertujuan mencegah penyakit akibat infeksi bakteri Streptococcus pneumoniae, yang lebih sering disebut kuman pneumokokus. IDAI menjelaskan bahwa penyakit pneumokokus dapat menyerang siapa saja, dengan angka tertinggi pada anak usia kurang dari 5 tahun dan orang berusia di atas 50 tahun.

Petunjuk teknis Kemenkes RI menerangkan bahwa pneumokokus sebenarnya ditemukan sebagai flora normal di saluran napas atas. Artinya, bakteri ini bisa saja "menumpang" di hidung dan tenggorokan anak yang sehat tanpa menimbulkan gejala. Masalah muncul ketika bakteri ini menyebar ke tempat yang seharusnya steril. Dari lebih dari 90 serotipe pneumokokus yang sudah teridentifikasi, hanya sebagian yang tergolong tipe patogen penyebab penyakit serius.

Pneumonia, penyakit yang paling sering disebut

Pneumonia adalah alasan utama PCV masuk program nasional. Menurut WHO, Streptococcus pneumoniae adalah penyebab paling umum pneumonia bakterial pada anak. WHO juga mencatat bahwa pneumonia menyumbang 14 persen dari seluruh kematian anak di bawah usia 5 tahun, yaitu 740.180 anak pada tahun 2019, dan merupakan penyebab kematian akibat infeksi terbesar pada anak di dunia.

Di Indonesia, Kemenkes RI menyebutkan bahwa sekitar 14,5 persen kematian pada bayi dan 5 persen kematian pada balita setiap tahunnya disebabkan oleh pneumonia. Angka ini terdengar berat, tetapi konteksnya penting: WHO menegaskan bahwa imunisasi terhadap Hib, pneumokokus, campak, dan pertusis adalah cara paling efektif untuk mencegah pneumonia. Jadi angka itu bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menunjukkan bahwa satu suntikan kecil di paha punya bobot yang besar.

Meningitis, infeksi darah, dan otitis media

Pneumokokus tidak berhenti di paru. Petunjuk teknis Kemenkes RI menyebutkan bahwa pneumokokus juga menyebabkan meningitis (radang selaput otak), bakteriemia, sepsis, sinusitis, otitis media (radang telinga tengah), dan konjungtivitis, terutama pada anak di bawah dua tahun dan lansia. Ketika infeksi masuk ke peredaran darah, kumpulan penyakit berat ini disebut Invasive Pneumococcal Diseases atau IPD, yang mencakup pneumonia, bakteriemia, dan meningitis.

IDAI menyebut vaksin pneumokokus berguna mencegah penyakit pneumokokus seperti radang paru (pneumonia), radang selaput otak (meningitis), dan infeksi darah (bakteremia). Kemenkes RI menambahkan bahwa imunisasi PCV rutin juga menurunkan angka kejadian otitis media akut, mengurangi prevalensi kolonisasi pneumokokus di nasofaring sehingga mengurangi penularan bakteri, memutus penularan pneumokokus yang resistan terhadap antibiotik, dan memberikan kekebalan tidak langsung (herd immunity) kepada masyarakat sekitar.

Ringkasan singkat. Vaksin PCV melindungi anak dari penyakit akibat bakteri pneumokokus. Menurut Kemenkes RI, bakteri ini bisa menyebabkan pneumonia, meningitis, bakteriemia, sepsis, sinusitis, otitis media, dan konjungtivitis. Program nasional memberikan PCV gratis sebanyak 3 dosis pada usia 2 bulan, 3 bulan, dan 12 bulan.

Jadwal vaksin PCV menurut program nasional dan IDAI

Di sinilah banyak orang tua merasa bingung, dan kebingungan itu sangat wajar. Ada dua jadwal PCV yang sama-sama resmi di Indonesia, dan keduanya berlaku dalam konteks yang berbeda.

Jadwal program imunisasi nasional: 2, 3, dan 12 bulan

Petunjuk teknis Kemenkes RI menetapkan bahwa imunisasi PCV diberikan sebanyak 3 dosis. Dosis pertama pada bayi usia 2 bulan, dosis kedua pada usia 3 bulan, dan dosis ketiga (imunisasi lanjutan) pada anak usia 12 bulan. Sasarannya jelas: seluruh bayi usia 2 dan 3 bulan, serta seluruh anak usia 12 bulan. Program nasional ini menggunakan vaksin PCV 13 valent.

Jadwal yang sama tercantum di laman resmi Kemenkes RI, yang menempatkan PCV 1 pada usia 2 bulan, PCV 2 pada usia 3 bulan, dan PCV 3 pada usia 12 bulan, berdampingan dengan vaksin lain dalam rangkaian imunisasi dasar. Anda bisa melihat susunan lengkapnya bersama vaksin lain di artikel jadwal imunisasi bayi.

DosisUsia pemberian menurut program nasional
PCV 12 bulan
PCV 23 bulan
PCV 3 (imunisasi lanjutan)12 bulan

Satu hal yang sering ditanyakan: apakah PCV disuntik terpisah di hari lain? Menurut petunjuk teknis Kemenkes RI, vaksin PCV dosis pertama dan kedua diberikan bersamaan dengan vaksin DPT-HB-Hib dan Polio tetes (OPV). Khusus untuk Provinsi DI Yogyakarta, PCV dosis pertama dan kedua diberikan bersamaan dengan DPT-HB-Hib dan Polio suntik (IPV). Jadi bayi memang bisa menerima beberapa vaksin dalam satu kunjungan, dan itu memang dirancang demikian.

Jadwal rekomendasi IDAI tahun 2023: 2, 4, 6 bulan plus booster

Jadwal Imunisasi Anak Umur 0-18 Tahun Rekomendasi IDAI Tahun 2023 mencantumkan pola yang berbeda. Dokumen itu menyebutkan bahwa vaksin PCV disuntikkan secara intramuskular pada usia 2, 4, dan 6 bulan, dengan booster pada usia 12 sampai 15 bulan. Artinya, versi IDAI terdiri dari tiga dosis dasar ditambah satu booster, total empat kali.

Perlu dicatat bahwa jadwal imunisasi IDAI diperbarui dari waktu ke waktu, sehingga tahun rekomendasinya penting untuk disebut. Angka-angka di atas mengacu pada rekomendasi IDAI tahun 2023. Artikel IDAI tentang vaksin pneumokokus juga menjelaskan prinsip yang sama, yaitu vaksin diberikan mulai usia 2 bulan dengan interval 4 sampai 8 minggu sebanyak 3 kali, ditambah 1 kali dosis booster.

Mengapa dua jadwal ini berbeda

Ini bukan pertentangan, dan Anda tidak sedang disuruh memilih pihak. Dokumen jadwal IDAI 2023 sendiri secara eksplisit mencantumkan catatan bahwa program imunisasi nasional PCV memakai jadwal usia 2, 3, dan 12 bulan. Jadi IDAI mengakui dan mencantumkan jadwal program nasional di dokumen resminya, sambil tetap memberikan rekomendasi profesionalnya sendiri.

Praktisnya: kalau si kecil diimunisasi di posyandu atau puskesmas lewat program pemerintah, jadwal yang dipakai adalah 2, 3, dan 12 bulan. Kalau Anda berkonsultasi ke dokter spesialis anak di layanan swasta, bisa jadi yang dipakai adalah pola IDAI. Keduanya sah, dan yang paling penting adalah anak menerima rangkaian PCV secara lengkap. Yang perlu Anda lakukan cukup satu: tanyakan ke dokter atau bidan yang memeriksa anak Anda, jadwal mana yang mereka ikuti dan kapan kunjungan berikutnya.

Catatan Bunda. Jangan ragu bertanya di loket atau saat skrining, "Ini pakai jadwal program atau jadwal IDAI ya?" Pertanyaan ini bukan pertanyaan yang menyusahkan petugas. Justru itu membantu Anda mencatat tanggal kunjungan berikutnya dengan benar, sehingga tidak ada dosis yang terlewat.

Cara pemberian vaksin PCV dan jadwal yang terlewat

Mengetahui apa yang akan terjadi di ruang imunisasi biasanya membuat orang tua jauh lebih tenang.

Cara pemberian di hari suntik

Petunjuk teknis Kemenkes RI menjelaskan bahwa vaksin PCV diberikan secara intramuskular dengan dosis 0,5 ml di sepertiga tengah bagian luar paha kiri, baik pada bayi usia 2 dan 3 bulan maupun pada anak usia 12 bulan. Sebelum menyuntik, petugas melakukan skrining kesehatan terlebih dahulu untuk menentukan apakah sasaran memiliki kontraindikasi tertentu. Jadi kalau petugas bertanya panjang lebar soal kondisi si kecil, itu bagian resmi dari prosedurnya, bukan basa-basi.

Kalau jadwal PCV terlewat

Hidup dengan bayi jarang berjalan sesuai rencana. Anak demam, keluarga bepergian, atau posyandu bentrok dengan jadwal kerja. Kemenkes RI sudah mengantisipasi hal ini dan mengatur imunisasi kejar sebagai berikut:

  • Jika anak belum mendapat PCV pada usia 2 dan 3 bulan, imunisasi PCV masih dapat diberikan 2 kali sampai usia 11 bulan dengan interval 4 minggu. Imunisasi lanjutan kemudian diberikan pada usia 12 bulan dengan interval minimal 8 minggu dari dosis kedua.
  • Jika anak di atas usia 12 bulan belum pernah mendapat PCV, anak masih dapat diberikan dua dosis dengan interval minimal 8 minggu sebelum berusia 24 bulan.
  • Jika anak belum mendapat PCV lanjutan (dosis ketiga) pada usia 12 bulan, imunisasi tersebut masih dapat diberikan sampai usia 24 bulan.

Jadwal IDAI 2023 juga memuat aturan kejarnya sendiri, misalnya bila PCV belum diberikan pada usia 7 sampai 12 bulan, PCV diberikan 2 kali dengan jarak minimal 1 bulan dan booster pada usia 12 sampai 15 bulan dengan jarak 2 bulan dari dosis sebelumnya. Poin pentingnya sama: terlambat bukan berarti gagal, dan Anda tidak perlu mengulang dari nol. Bawa buku KIA ke puskesmas, dan petugas akan menghitungkan jadwal kejar yang sesuai untuk anak Anda.

Efek samping vaksin PCV dan cara menanganinya

Mari kita bahas bagian yang paling sering membuat orang tua deg-degan semalam sebelumnya. IDAI menyebut bahwa vaksin pneumokokus memiliki efek samping yang lebih kecil dibandingkan dengan vaksin jenis lain, seperti vaksin DPT. Ini kalimat yang layak Anda ingat saat cemas.

Petunjuk teknis Kemenkes RI merinci reaksi simpang yang mungkin terjadi. Reaksi lokal berupa nyeri, bengkak, dan kemerahan di lokasi suntikan. Reaksi sistemik dapat berupa demam, mual muntah, nafsu makan menurun, iritabilitas atau rewel, mengantuk, dan tidur tidak nyenyak. Karena dosis pertama dan kedua PCV diberikan bersamaan dengan imunisasi lain, Kemenkes mengingatkan agar tetap waspada terhadap timbulnya reaksi tersebut.

Untuk penanganannya, Kemenkes RI memberi panduan yang sederhana dan bisa langsung Anda praktikkan di rumah:

  • Untuk reaksi lokal: petugas kesehatan dapat menganjurkan kompres dingin pada lokasi suntikan, serta minum obat jika diperlukan.
  • Untuk reaksi sistemik seperti demam dan malaise: dianjurkan minum lebih banyak, menggunakan pakaian yang nyaman, kompres atau mandi air hangat, serta minum obat jika diperlukan.

Perhatikan frasa "jika diperlukan" pada kedua poin di atas. Obat penurun demam bukan sesuatu yang otomatis harus diberikan setiap kali anak divaksin. Konsultasikan dengan dokter atau bidan untuk menentukan apakah anak Anda memerlukannya dan berapa dosis yang sesuai untuk berat badan serta usianya. Jangan menakar sendiri berdasarkan cerita orang lain.

Kemenkes RI juga menyebutkan bahwa reaksi alergi berat seperti anafilaktik dapat terjadi pada pemberian vaksin PCV, seperti pada pemberian vaksin apa pun. Ini sebabnya imunisasi dilakukan di fasilitas kesehatan oleh petugas terlatih, dan sebabnya Anda biasanya diminta menunggu sebentar setelah penyuntikan. Sistem ini memang dirancang untuk menangkap kejadian yang jarang tersebut.

Anak yang perlu perhatian khusus sebelum vaksin PCV

Sebagian anak memerlukan perhatian ekstra, dan justru merekalah yang paling diuntungkan oleh PCV. IDAI menyebutkan kelompok yang memiliki risiko tinggi terserang pneumokokus meskipun dari segi usia bukan kelompok risiko tinggi, yaitu anak dengan penyakit jantung bawaan, HIV, talasemia, anak dengan keganasan yang sedang mendapatkan kemoterapi, serta kondisi medis lain yang menyebabkan kekebalan tubuh berkurang. Jika si kecil termasuk salah satunya, bicarakan secara khusus dengan dokter yang merawatnya.

Petunjuk teknis Kemenkes RI juga menyebutkan faktor risiko penyebaran penyakit pneumokokus invasif, di antaranya usia (balita dan lansia), kurangnya pemberian ASI eksklusif, gizi buruk, polusi udara dalam ruangan seperti asap rokok, berat badan lahir rendah, kepadatan penduduk, tidak mendapatkan imunisasi lengkap, dan berbagai penyakit kronis. Beberapa di antaranya bisa Anda kelola di rumah, misalnya dengan mendukung ASI eksklusif dan menjaga rumah bebas asap rokok.

Soal kontraindikasi, Kemenkes RI menyebut bahwa adanya riwayat reaksi anafilaktik berat terhadap komponen vaksin PCV-13 atau vaksin lain yang mengandung komponen difteri (DPT-HB-Hib, DT, Td) merupakan kontraindikasi vaksin PCV. Di sisi lain, IDAI menyatakan tidak ada kontraindikasi absolut untuk memberikan vaksin ini, hanya saja idealnya vaksin diberikan saat kondisi bayi atau anak sedang sehat, meskipun kondisi sakit ringan bukan kontraindikasi pemberian vaksin.

Perhatian. Daftar di atas adalah rangkuman panduan resmi, bukan alat untuk menilai sendiri apakah anak Anda boleh divaksin atau tidak. Keputusan itu ada pada petugas kesehatan yang memeriksa langsung lewat skrining. Sampaikan riwayat alergi berat, penyakit bawaan, dan obat yang sedang dikonsumsi anak sebelum penyuntikan.

Biaya dan tempat mendapatkan vaksin PCV

Ini kabar yang paling melegakan banyak keluarga. Kemenkes RI menyatakan bahwa imunisasi PCV diberikan gratis. Vaksin yang digunakan aman, telah direkomendasikan oleh WHO, dan telah lulus uji dari BPOM.

Perjalanannya bertahap. Kemenkes menyebutkan bahwa pemberian imunisasi PCV dilaksanakan secara bertahap dimulai pada tahun 2017. Pada 12 September 2022, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin meresmikan pencanangan imunisasi PCV tingkat nasional di Puskesmas Talang Jambe, Kota Palembang. Sejak saat itu, seluruh anak Indonesia tanpa terkecuali mendapatkan manfaat perlindungan dari vaksin PCV.

Untuk tempatnya, Kemenkes RI menyebutkan pelayanan imunisasi PCV dilakukan di posyandu, puskesmas, puskesmas pembantu, rumah sakit pemerintah, rumah sakit swasta, klinik, praktik mandiri dokter, praktik mandiri bidan, dan fasilitas pelayanan kesehatan lain yang memberikan layanan imunisasi. Anda cukup membawa si kecil bersama buku KIA atau kartu imunisasinya agar riwayat vaksin tercatat rapi.

Perwakilan UNICEF untuk Indonesia, Maniza Zaman, dalam siaran resmi Kemenkes menyebut bahwa ketersediaan vaksin ini secara luas di seluruh Indonesia dapat mengurangi hingga setengah juta anak menderita pneumonia dan mencegah 10.000 kematian anak setiap tahunnya. Menteri Kesehatan juga menyampaikan harapan bahwa pemberian imunisasi PCV tidak hanya menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat pneumonia, tetapi juga dapat mencegah anak terkena stunting, karena pneumonia mengganggu status gizi penderitanya. Kaitan ini sejalan dengan upaya pencegahan stunting yang lebih luas.

Kapan Bunda perlu menghubungi tenaga kesehatan

Sebagian besar reaksi setelah PCV bersifat ringan dan mereda sendiri. Namun ada tanda yang sebaiknya tidak ditunggu di rumah. WHO menyebutkan bahwa pada anak di bawah 5 tahun yang mengalami batuk dan atau kesulitan bernapas, dengan atau tanpa demam, pneumonia ditegakkan dengan adanya napas cepat atau tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam. WHO juga menyebut bayi yang sakit sangat berat mungkin tidak mampu menyusu atau minum, serta dapat mengalami penurunan kesadaran, hipotermia, dan kejang.

Segera hubungi bidan, dokter, atau fasilitas kesehatan terdekat bila Anda melihat tanda-tanda tersebut, atau bila muncul reaksi berat setelah imunisasi seperti reaksi alergi yang hebat. Untuk pertanyaan ringan di luar jam layanan, Anda bisa memakai Asisten Tanya Bunda sebagai teman berdiskusi awal, meski tetap tidak menggantikan pemeriksaan langsung oleh tenaga kesehatan.

Terakhir, satu hal yang perlu ditegaskan: jadwal imunisasi dan kondisi setiap anak berbeda, sehingga jadwal PCV serta kelayakan anak Anda menerimanya wajib dikonsultasikan dengan dokter atau bidan yang memeriksa langsung. Artikel ini membantu Anda datang ke ruang periksa dengan pertanyaan yang lebih siap, bukan menggantikan penilaian mereka. Untuk panduan vaksin lainnya, silakan telusuri kategori Imunisasi di Asuh Anak.

Menandai tanggal, menyiapkan buku KIA, dan datang tepat waktu terdengar sepele, tetapi itulah yang benar-benar melindungi si kecil. Anda sudah melakukan langkah pertama dengan mencari tahu lebih dulu.

Sumber

Artikel ini disusun untuk edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Jadwal imunisasi dapat diperbarui dari waktu ke waktu dan kondisi setiap anak berbeda, sehingga keputusan mengenai pemberian vaksin PCV pada anak Anda sebaiknya dibicarakan dengan bidan, dokter, atau petugas kesehatan terdekat.

Pertanyaan yang sering muncul

Vaksin PCV untuk mencegah penyakit apa?
Vaksin PCV mencegah penyakit akibat infeksi bakteri Streptococcus pneumoniae atau pneumokokus. Menurut petunjuk teknis Kemenkes RI, pneumokokus dapat menyebabkan pneumonia (radang paru), meningitis (radang selaput otak), bakteriemia, sepsis, sinusitis, otitis media, dan konjungtivitis, terutama pada anak di bawah dua tahun dan lansia. Kemenkes juga menyebut imunisasi PCV rutin menurunkan angka kejadian otitis media akut.
Berapa kali vaksin PCV diberikan?
Dalam program imunisasi nasional, Kemenkes RI memberikan PCV sebanyak 3 dosis, yaitu pada usia 2 bulan, 3 bulan, dan 12 bulan. Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tahun 2023 memakai pola berbeda, yaitu 3 dosis dasar pada usia 2, 4, dan 6 bulan ditambah booster pada usia 12 sampai 15 bulan. Dokter atau bidan yang memeriksa anak Anda akan membantu menentukan jadwal mana yang diikuti.
Apakah vaksin PCV gratis di puskesmas?
Ya. Kemenkes RI menyatakan imunisasi PCV diberikan gratis sejak dicanangkan secara nasional pada 12 September 2022. Layanannya tersedia di posyandu, puskesmas, rumah sakit, klinik, praktik mandiri dokter, praktik mandiri bidan, serta fasilitas kesehatan lain yang melayani imunisasi. Cukup bawa bayi beserta buku KIA atau kartu imunisasinya.
Apa efek samping vaksin PCV pada bayi?
Menurut petunjuk teknis Kemenkes RI, reaksi yang mungkin muncul berupa reaksi lokal seperti nyeri, bengkak, dan kemerahan di lokasi suntikan. Reaksi sistemik dapat berupa demam, mual muntah, nafsu makan menurun, rewel, mengantuk, atau tidur tidak nyenyak. IDAI menyebut efek samping vaksin pneumokokus lebih kecil dibandingkan vaksin jenis lain seperti DPT.
Bagaimana jika jadwal vaksin PCV bayi terlewat?
Jadwal yang terlewat umumnya masih bisa dikejar tanpa mengulang dari awal. Kemenkes RI mengatur bahwa bila PCV belum diberikan pada usia 2 dan 3 bulan, imunisasi masih dapat diberikan 2 kali sampai usia 11 bulan dengan interval 4 minggu, lalu dosis lanjutan pada usia 12 bulan dengan jarak minimal 8 minggu dari dosis kedua. Segera bawa anak ke puskesmas agar petugas menyusun jadwal kejar yang sesuai.
Siapa yang tidak boleh mendapat vaksin PCV?
Petunjuk teknis Kemenkes RI menyebut kontraindikasi vaksin PCV adalah adanya riwayat reaksi anafilaktik berat terhadap komponen vaksin PCV-13 atau vaksin lain yang mengandung komponen difteri seperti DPT-HB-Hib, DT, dan Td. IDAI menyatakan tidak ada kontraindikasi absolut, dan sakit ringan bukan halangan. Petugas kesehatan akan melakukan skrining sebelum menyuntik.
Apakah vaksin PCV bisa diberikan bersama vaksin lain?
Bisa. Menurut petunjuk teknis Kemenkes RI, vaksin PCV dosis pertama dan kedua diberikan bersamaan dengan vaksin DPT-HB-Hib dan Polio tetes (OPV). Khusus Provinsi DI Yogyakarta, PCV dosis pertama dan kedua diberikan bersamaan dengan DPT-HB-Hib dan Polio suntik (IPV). Pemberian bersamaan ini sudah menjadi bagian dari jadwal resmi program nasional.

Konten ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Untuk keputusan medis, hubungi dokter atau bidan Anda.

Punya pertanyaan seputar imunisasi?

Tanya lewat WhatsApp