Baru: alat cek usia dan milestone anak sudah bisa dipakai gratis. Coba sekarang

Stunting

Penyebab Stunting: Gizi, Infeksi, Kehamilan, dan Lingkungan

Oleh Tim Redaksi Asuh Anak· 4 menit baca

Penyebab Stunting: Gizi, Infeksi, Kehamilan, dan Lingkungan

Penyebab stunting tidak dapat diringkas menjadi anak kurang makan. WHO menjelaskan stunting sebagai gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang berkaitan dengan gizi buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai. Kerangka UNICEF menempatkan makanan, praktik pengasuhan, layanan, dan lingkungan sebagai bagian yang saling memengaruhi sejak sebelum anak lahir.

Karena jalurnya berlapis, dua anak dengan tinggi yang sama belum tentu memiliki penyebab yang sama. Pemeriksaan pertumbuhan, riwayat kehamilan dan kelahiran, pola makan, penyakit, serta kondisi keluarga membantu tenaga kesehatan menentukan tindak lanjut. Untuk definisi dan cara ukurnya, baca stunting adalah.

Apa Penyebab Langsung Stunting Menurut Kerangka UNICEF?

Penyebab langsung gangguan gizi anak berada pada dua sisi yang saling berhubungan: makanan yang tidak memenuhi kebutuhan dan perawatan yang belum memadai ketika anak sakit. Pola makan yang kurang beragam atau tidak sesuai usia dapat membatasi zat gizi, sedangkan infeksi berulang menurunkan asupan, mengganggu pemanfaatan nutrisi, dan meningkatkan kebutuhan tubuh.

UNICEF menjelaskan bahwa hasil gizi yang baik dibentuk oleh diet dan care atau pengasuhan. Di bawahnya ada penentu seperti pangan yang sesuai usia, layanan gizi dan kesehatan, air minum yang aman, sanitasi, praktik pemberian makan, serta sumber daya keluarga. Kerangka ini membantu melihat stunting sebagai hasil proses panjang, bukan kejadian tunggal.

Beberapa jalur langsung yang perlu dinilai antara lain:

  • MPASI terlalu sedikit, terlambat, kurang beragam, atau teksturnya tidak berkembang sesuai usia.
  • Sumber protein, energi, dan mikronutrien tidak cukup untuk kebutuhan pertumbuhan.
  • Diare atau infeksi lain berulang sehingga makan berkurang dan nutrisi tidak dimanfaatkan optimal.
  • Kesulitan makan, alergi, gangguan pencernaan, atau penyakit kronis yang memerlukan tata laksana khusus.

Siklus gizi dan infeksi dapat berjalan dua arah. Anak yang kurang gizi lebih rentan sakit, sementara sakit membuat kebutuhan meningkat dan nafsu makan turun. Karena itu, fokus hanya pada satu makanan atau suplemen dapat melewatkan penyakit yang perlu diobati. Bila berat atau tinggi tidak bertambah sesuai jalur, bawalah catatan pertumbuhan ke posyandu, puskesmas, atau dokter.

Faktor Risiko Maternal Apa yang Meningkatkan Stunting pada Anak?

Risiko pertumbuhan anak sudah dipengaruhi sejak sebelum lahir melalui kesehatan dan gizi ibu. Kurang energi kronis, anemia, asupan yang tidak beragam, infeksi, pertumbuhan janin terhambat, kelahiran prematur, atau berat lahir rendah dapat menempatkan bayi pada titik awal yang lebih rentan, meski faktor tersebut tidak otomatis berarti anak akan stunting.

Pencegahan dimulai dengan pemeriksaan kehamilan yang teratur dan mengikuti anjuran tenaga kesehatan. Kebutuhan energi, protein, zat besi, asam folat, iodium, dan zat gizi lain perlu dipenuhi dari pola makan serta suplementasi yang direkomendasikan. Tanda anemia atau kurang energi kronis harus ditangani, bukan hanya dicatat.

Setelah bayi lahir, kesempatan mendukung pertumbuhan tetap terbuka melalui inisiasi dan dukungan menyusui, ASI eksklusif selama enam bulan bila memungkinkan, MPASI sejak usia enam bulan, imunisasi, serta pemantauan rutin. Riwayat prematur atau berat lahir rendah membuat tindak lanjut lebih penting karena cara menilai pertumbuhan dapat memerlukan konteks usia koreksi dan kondisi medis anak.

Faktor genetik dapat memengaruhi tinggi, tetapi tidak boleh dipakai untuk menutup evaluasi. Anak dari orang tua pendek tetap perlu diukur dan dibandingkan dengan kurva pertumbuhan. Tenaga kesehatan menilai pola pertumbuhan, proporsi tubuh, riwayat keluarga, serta tanda lain untuk membedakan variasi normal dan gangguan yang perlu ditangani.

Bagaimana Lingkungan dan Sanitasi Berkontribusi pada Stunting?

Air yang tidak aman, sanitasi buruk, kebiasaan cuci tangan yang belum konsisten, dan akses layanan terbatas dapat meningkatkan paparan infeksi. Pada saat yang sama, ketidakamanan pangan, biaya, waktu pengasuhan, serta informasi yang sulit dipahami dapat membatasi diet dan perawatan. Faktor lingkungan ini bekerja bersama, bukan sebagai penyebab tunggal yang berdiri sendiri.

Keluarga dapat mengurangi risiko melalui langkah praktis: menggunakan air minum aman, mencuci tangan dengan sabun, menyiapkan dan menyimpan makanan secara higienis, membuang tinja dengan aman, serta segera mencari pertolongan saat anak sakit. Imunisasi membantu mencegah penyakit tertentu, sedangkan pengobatan yang tepat mencegah masalah berlarut.

Perbaikan pada tingkat rumah perlu didukung layanan dan kebijakan. Posyandu yang aktif, puskesmas dengan rujukan yang jelas, akses air bersih, perlindungan sosial, pangan terjangkau, dan edukasi yang tidak menghakimi membuat keluarga lebih mampu menjalankan rekomendasi. Itulah sebabnya penurunan stunting membutuhkan kerja lintas sektor, bukan beban satu orang tua.

Jika Anda ingin mengenali tanda yang harus diukur, lanjutkan ke ciri-ciri stunting. Untuk langkah yang dapat dilakukan sejak kehamilan sampai usia dua tahun, baca pencegahan stunting.

Ringkasan untuk Orang Tua

  • Stunting biasanya memiliki lebih dari satu jalur penyebab.
  • Gizi dan infeksi berulang merupakan jalur dekat, tetapi dipengaruhi kondisi ibu, pengasuhan, layanan, pangan, air, dan sanitasi.
  • Tinggi anak tidak cukup dinilai dengan melihat; pengukuran dan tren pada kurva diperlukan.
  • Penanganan harus mengikuti penyebab yang ditemukan oleh tenaga kesehatan.

Sumber

Artikel ini untuk edukasi dan bukan pengganti pemeriksaan. Bila pertumbuhan anak melambat, berat turun, anak sulit makan, sering sakit, atau Anda khawatir, bawa anak ke posyandu, puskesmas, dokter, atau tenaga kesehatan yang merawatnya.

Pertanyaan yang sering muncul

Apa penyebab utama stunting?
Stunting biasanya terbentuk dari gabungan asupan gizi yang tidak memadai, penyakit atau infeksi berulang, dan keadaan yang membuat keluarga sulit menyediakan makanan, pengasuhan, sanitasi, serta layanan kesehatan yang baik. Karena penyebabnya saling berkaitan, penilaian tenaga kesehatan diperlukan untuk memahami masalah pada setiap anak.
Apakah stunting hanya disebabkan kurang makan?
Tidak. Jumlah dan mutu makanan memang penting, tetapi infeksi berulang, kesulitan menyerap nutrisi, kesehatan ibu saat hamil, berat lahir, sanitasi, air bersih, dan akses layanan kesehatan juga dapat memengaruhi pertumbuhan. Menambah porsi makan saja belum tentu menyelesaikan penyebab yang mendasarinya.
Apakah diare berulang dapat meningkatkan risiko stunting?
Diare berulang dapat mengurangi nafsu makan, mengganggu penyerapan nutrisi, dan meningkatkan kebutuhan tubuh ketika anak sedang sakit. Bila berlangsung berulang bersama asupan yang tidak cukup, pertumbuhan linear dapat terganggu. Anak dengan diare berulang perlu dinilai tenaga kesehatan dan tetap mendapat cairan serta makanan sesuai anjuran.
Apakah kondisi ibu hamil berpengaruh pada stunting?
Pertumbuhan anak dimulai sejak kandungan. Kecukupan gizi ibu, anemia, kurang energi kronis, infeksi, pertumbuhan janin, dan kelahiran prematur atau berat lahir rendah dapat berkaitan dengan pertumbuhan setelah lahir. Pemeriksaan kehamilan rutin membantu risiko dikenali dan ditangani lebih dini.
Apakah stunting merupakan kesalahan orang tua?
Tidak tepat menyalahkan orang tua karena stunting dipengaruhi banyak faktor pada tingkat anak, keluarga, layanan, lingkungan, dan kebijakan. Yang lebih berguna adalah mencari penyebab yang dapat diperbaiki bersama tenaga kesehatan, memenuhi gizi, mengatasi penyakit, menjaga kebersihan, dan memantau pertumbuhan secara teratur.

Konten ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Untuk keputusan medis, hubungi dokter atau bidan Anda.

Punya pertanyaan seputar stunting?

Tanya lewat WhatsApp