Baru: alat cek usia dan milestone anak sudah bisa dipakai gratis. Coba sekarang

Stunting

Stunting di Indonesia: Data SSGI 2024, Provinsi, dan Target 2029

Oleh Tim Redaksi Asuh Anak· 4 menit baca

Stunting di Indonesia: Data SSGI 2024, Provinsi, dan Target 2029

Stunting di Indonesia menurun, tetapi masih menjadi masalah gizi besar. Survei Status Gizi Indonesia atau SSGI 2024 mencatat prevalensi stunting balita sebesar 19,8 persen, turun dari 21,5 persen pada Survei Kesehatan Indonesia 2023. Hasil tersebut diumumkan Kementerian Kesehatan dan BKPK pada Mei 2025.

Angka nasional berguna untuk melihat arah, tetapi tidak menggambarkan setiap provinsi, kabupaten, keluarga, atau anak. Halaman ini menjelaskan sumber resmi dan cara membaca data tanpa menyederhanakan ketidakpastian survei. Untuk arti kondisi dan cara ukur pada anak, baca stunting adalah.

Berapa Prevalensi Stunting Nasional Indonesia Terbaru?

Data terbaru yang dapat diverifikasi pada portal resmi ketika halaman ini diperbarui adalah SSGI 2024, dengan prevalensi stunting balita 19,8 persen. Angka itu lebih rendah daripada 21,5 persen pada SKI 2023 dan 21,6 persen pada SSGI 2022. Perbandingan tetap perlu menyebut survei karena rancangan dan sumber data dapat berbeda.

Rilis BKPK menyebut penurunan 1,7 poin persentase dari 2023 ke 2024. Dalam bahasa sederhana, 19,8 persen setara dengan hampir satu dari lima balita pada populasi yang diwakili survei. Angka ini bukan persentase anak yang baru mengalami stunting pada tahun tersebut, melainkan prevalensi pada saat pengukuran.

Tahun dataPrevalensi stunting balitaSumber
202221,6 persenSSGI 2022
202321,5 persenSKI 2023
202419,8 persenSSGI 2024

Saat membaca berita terbaru, periksa empat hal: tahun data, tanggal rilis, nama survei, dan lembaga penerbit. Sebuah berita yang terbit pada 2026 dapat tetap membahas data 2024. Artikel ini tidak mengganti angka hanya karena ada klaim sekunder; pembaruan dilakukan setelah publikasi nasional resmi dapat diverifikasi.

Penurunan nasional adalah kemajuan, bukan alasan untuk mengurangi perhatian. Prevalensi dapat turun sementara jumlah anak yang memerlukan layanan tetap besar. Mutu pengukuran, tindak lanjut anak dengan gangguan pertumbuhan, dan pencegahan sejak kehamilan harus berjalan bersama.

Bagaimana Variasi Prevalensi Stunting Antarprovinsi di Indonesia?

Prevalensi stunting berbeda antarprovinsi dan kabupaten atau kota karena kondisi gizi, pangan, layanan kesehatan, air, sanitasi, pendidikan, kemiskinan, serta faktor geografis tidak merata. Publikasi SSGI 2024 Dalam Angka menyediakan tabel wilayah. Angka daerah sebaiknya dibaca bersama interval kepercayaan dan ukuran sampel, bukan sebagai peringkat mutlak semata.

Survei memakai sampel untuk memperkirakan keadaan populasi. Karena itu, setiap angka memiliki ketidakpastian. Dua provinsi dengan selisih kecil belum tentu benar-benar berbeda bila rentang ketidakpastiannya bertumpang tindih. Dokumen penuh biasanya memberi konteks yang tidak terlihat pada infografik atau judul berita.

Untuk memperoleh data resmi:

  1. buka halaman publikasi SSGI 2024 di situs BKPK Kemenkes;
  2. unduh buku hasil atau SSGI 2024 Dalam Angka;
  3. cari tabel provinsi atau kabupaten dan kota yang dibutuhkan;
  4. catat indikator, kelompok usia, estimasi, dan interval kepercayaan;
  5. bandingkan hanya dengan survei dan indikator yang cukup sebanding.

Data BPS dapat membantu menjelaskan konteks penduduk, kemiskinan, air, sanitasi, pendidikan, atau pangan, tetapi angka prevalensi stunting nasional yang dibahas di sini berasal dari survei gizi Kemenkes. Jangan menggabungkan denominator atau tahun yang berbeda tanpa penjelasan.

Bagi keluarga, angka provinsi tidak dapat mendiagnosis anak. Anak di daerah dengan prevalensi rendah tetap perlu diukur, dan anak di daerah dengan prevalensi tinggi tidak otomatis mengalami stunting. Gunakan posyandu atau fasilitas kesehatan untuk penilaian individu. Pelajari tandanya di ciri-ciri stunting.

Apa Target dan Strategi Nasional Indonesia untuk Menurunkan Stunting?

Dalam rilis hasil SSGI 2024, pemerintah menyebut target prevalensi stunting 14,2 persen pada 2029 sesuai RPJMN. Untuk bergerak dari 19,8 persen menuju target tersebut, upaya perlu mencakup intervensi gizi langsung pada ibu dan anak serta intervensi sensitif melalui pangan, air, sanitasi, pendidikan, perlindungan sosial, dan layanan dasar.

Intervensi gizi spesifik berhubungan langsung dengan penyebab dekat, misalnya kesehatan dan gizi remaja putri serta ibu hamil, dukungan menyusui, MPASI yang memadai, imunisasi, pemantauan pertumbuhan, pengobatan infeksi, dan tata laksana anak berisiko. Intervensi sensitif memperbaiki lingkungan yang membuat praktik sehat mungkin dilakukan.

Kemajuan sebaiknya tidak hanya dinilai dari satu target hasil. Indikator proses membantu melihat apakah perubahan benar-benar menjangkau keluarga, misalnya cakupan pemeriksaan kehamilan, tablet tambah darah, ASI, keragaman makanan anak, posyandu aktif, akses air minum aman, sanitasi, dan rujukan anak dengan masalah pertumbuhan.

Target nasional juga harus diterjemahkan menjadi perbaikan yang adil. Daerah dengan hambatan geografis, kemiskinan, bencana, atau keterbatasan tenaga kesehatan membutuhkan dukungan yang sesuai konteks. Pelibatan keluarga dan kader penting, tetapi tanggung jawab sistem tidak boleh dipindahkan seluruhnya kepada ibu.

Untuk langkah keluarga yang dapat dimulai hari ini, baca pencegahan stunting. Untuk memahami mengapa gizi, infeksi, kehamilan, dan lingkungan saling terkait, buka penyebab stunting.

Cara Mengutip Data dengan Benar

Gunakan rumus singkat: nama indikator, populasi, angka, tahun data, survei, dan penerbit. Contoh: “Prevalensi stunting pada balita Indonesia adalah 19,8 persen berdasarkan SSGI 2024 yang diterbitkan Kementerian Kesehatan melalui BKPK.” Sertakan tautan dokumen resmi dan tanggal akses bila dipakai dalam laporan.

Sumber

Data halaman ini bersifat informatif dan bukan alat diagnosis. Pastikan pembaruan melalui portal resmi sebelum menggunakan angka untuk keputusan program atau publikasi.

Pertanyaan yang sering muncul

Berapa prevalensi stunting Indonesia terbaru?
Data nasional terbaru yang dapat diverifikasi pada sumber resmi ketika artikel ini diperbarui adalah SSGI 2024, yaitu 19,8 persen balita. Angka tersebut turun dari 21,5 persen pada SKI 2023. Tahun pada nama survei merujuk tahun pengumpulan atau estimasi data, bukan selalu tahun rilis.
Apa sumber resmi data stunting Indonesia?
Sumber utamanya adalah Survei Status Gizi Indonesia dari Kementerian Kesehatan melalui BKPK. Rilis, buku hasil, dan katalog data tersedia pada situs BKPK serta Layanan Data Kemenkes. Untuk membandingkan angka, periksa nama survei, tahun, kelompok usia, indikator, dan tingkat wilayahnya.
Di mana data stunting per provinsi tersedia?
Tabel provinsi dan kabupaten atau kota tersedia dalam publikasi SSGI 2024 Dalam Angka serta katalog resmi Kemenkes. Gunakan dokumen lengkap untuk melihat interval kepercayaan dan catatan metode. Jangan menyusun peringkat hanya dari cuplikan media karena perbedaan kecil dapat dipengaruhi ketidakpastian survei.
Apa target prevalensi stunting Indonesia pada 2029?
Pemerintah menyebut target 14,2 persen pada 2029 sesuai RPJMN. Target adalah arah kebijakan, bukan proyeksi pasti. Kemajuan perlu dinilai melalui survei yang sebanding serta indikator layanan seperti gizi ibu, pemberian makan bayi dan anak, pemantauan pertumbuhan, air, sanitasi, dan penanganan penyakit.
Apakah penurunan angka nasional berarti masalah selesai?
Belum. Angka 19,8 persen berarti sekitar satu dari lima balita dalam populasi survei masih tergolong stunting, dan situasi antarwilayah tidak sama. Penurunan nasional perlu diikuti perbaikan yang merata, mutu layanan, perlindungan kelompok rentan, serta pemantauan agar kemajuan bertahan.

Konten ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Untuk keputusan medis, hubungi dokter atau bidan Anda.

Punya pertanyaan seputar stunting?

Tanya lewat WhatsApp