Baru: alat cek usia dan milestone anak sudah bisa dipakai gratis. Coba sekarang

ASI

Pompa ASI Elektrik: Cara Memilih dan Menggunakannya

Oleh Tim Redaksi Asuh Anak· 14 menit baca

Pompa ASI Elektrik: Cara Memilih dan Menggunakannya

Pompa ASI elektrik adalah alat bertenaga listrik atau baterai yang membantu Bunda mengeluarkan ASI dari payudara tanpa harus memompa dengan tangan terus-menerus. Alat ini bukan syarat wajib untuk menyusui, melainkan salah satu pilihan cara memerah di samping memerah dengan tangan dan pompa manual. Menurut IDAI, sebaiknya semua metode memerah didemonstrasikan kepada para ibu sehingga ibu dapat mencoba dan memilih metode memerah ASI yang paling sesuai dengan dirinya. Artikel ini membahas cara memilih pompa berdasarkan kebutuhan Bunda, cara memakainya dengan nyaman, mengatur jadwal memerah, sampai menyimpan dan merawatnya. Fokusnya pada kriteria alat, bukan merek tertentu, karena pompa terbaik adalah yang cocok dengan tubuh dan ritme hidup Bunda.

Apa Itu Pompa ASI Elektrik dan Kapan Bunda Perlu Memakainya

Pompa ASI elektrik bekerja dengan menciptakan isapan berulang melalui corong yang menempel di payudara, meniru pola isapan bayi. Bedanya dengan pompa manual, tenaga isapannya digerakkan mesin, bukan tuas yang ditekan tangan. Karena itu tangan Bunda lebih bebas dan tidak cepat pegal, terutama bila memerah beberapa kali dalam sehari.

Pertanyaan yang lebih penting sebelum membeli adalah: apakah Bunda benar-benar perlu memerah? IDAI menyebutkan beberapa keadaan yang membuat ibu mungkin perlu memerah ASI, antara lain payudara yang sangat bengkak, bayi yang untuk sementara tidak dapat minum langsung, puting yang sangat lecet, serta untuk merangsang pengeluaran ASI. Kemenkes RI menambahkan satu situasi yang sering dialami di rumah: bila bayi sudah kenyang tetapi payudara masih terasa penuh atau kencang, payudara perlu diperah dan ASI disimpan. Tujuannya, selain mencegah mastitis atau peradangan pada jaringan payudara, juga untuk menjaga pasokan ASI.

Kebutuhan terbesar biasanya muncul pada ibu yang kembali bekerja. IDAI menegaskan bahwa ibu bekerja bukanlah hambatan dalam memberikan ASI eksklusif, dan menyusui tetap bisa berjalan dengan persiapan yang baik. Sebagai catatan, Undang-Undang Perburuhan di Indonesia No. 1 tahun 1951 yang dikutip IDAI memberikan cuti melahirkan selama 12 minggu dan kesempatan menyusui 2 x 30 menit dalam jam kerja. Jadi memerah di tempat kerja bukan permintaan berlebihan, melainkan bagian dari hak Bunda.

Catatan Bunda. Pompa bukan pengganti menyusui langsung. WHO dan UNICEF merekomendasikan inisiasi menyusu dini dalam 1 jam setelah lahir, ASI eksklusif selama 6 bulan pertama, lalu makanan pendamping yang bergizi dan aman mulai usia 6 bulan bersama ASI yang diteruskan sampai usia 2 tahun atau lebih. Pompa hadir untuk menjembatani saat Bunda dan bayi terpisah, bukan untuk menggantikan payudara.

Perlu diketahui juga bahwa memerah bukan tanda ASI Bunda kurang. WHO mencatat bahwa hanya sekitar 44% bayi usia 0 sampai 6 bulan di seluruh dunia yang mendapat ASI eksklusif pada periode 2015 sampai 2020, dan lebih dari 820.000 nyawa anak di bawah 5 tahun dapat diselamatkan setiap tahun bila semua anak usia 0 sampai 23 bulan mendapat pemberian ASI yang optimal. Angka-angka ini menunjukkan bahwa dukungan terhadap ibu menyusui, termasuk sarana memerah, adalah kebutuhan nyata, bukan kemewahan.

Pompa Elektrik, Pompa Manual, atau Memerah dengan Tangan?

Banyak Bunda mengira pompa elektrik otomatis paling unggul karena paling canggih. Kenyataannya tidak sesederhana itu. IDAI mencatat bahwa kebanyakan ibu memerah ASI secara manual daripada dengan pompa saat bekerja, karena ibu merasa cara itu lebih mudah dan lebih produktif, meskipun sebagian ibu lain menganggap gerakan mekanik dari pompa lebih efektif. Artinya, hasil terbaik sangat bergantung pada kecocokan pribadi.

Berikut gambaran ketiganya berdasarkan penjelasan IDAI:

  • Memerah dengan tangan. IDAI menyebut cara ini bersih dan praktis, serta menganjurkan ibu berlatih memerah dengan tangan walaupun merasa belum terlalu perlu, sebagai persiapan untuk kejadian yang tidak diharapkan. Modalnya nol dan tidak pernah kehabisan baterai.
  • Pompa manual. Menurut IDAI, pompa manual biasanya lebih praktis dan lebih terjangkau. Cocok untuk pemakaian sesekali, misalnya saat payudara terasa penuh.
  • Pompa elektrik. IDAI mencatat bahwa pompa elektrik harganya cukup mahal dan biasanya tersedia di rumah sakit atau rumah bersalin. Keunggulannya pada kemudahan saat memerah berulang kali setiap hari.

IDAI juga memberi perspektif yang menenangkan soal biaya: bila dibandingkan dengan harga susu formula dan biaya pengobatan anak sakit, pompa atau pemeras ASI akan menjadi pilihan utama para ibu bekerja. Jadi bila Bunda memang memerah rutin, pengeluaran untuk pompa yang nyaman umumnya sepadan.

Perlu dicatat, panduan IDAI di atas ditulis pada masa ketika pilihan pompa elektrik di pasaran masih terbatas. Saat ini variasi harga jauh lebih lebar. Prinsipnya tetap sama: pilih berdasarkan kebutuhan memerah Bunda, bukan berdasarkan fitur yang paling ramai dipromosikan. Bila Bunda sedang menyiapkan daftar belanja kebutuhan bayi, pertimbangkan pompa bersama barang lain di panduan perlengkapan bayi agar anggaran keluarga tetap terkendali.

Cara Memilih Pompa ASI Elektrik yang Sesuai Kebutuhan

Karena artikel ini tidak membahas merek, mari fokus pada kriteria yang bisa Bunda cek sendiri di toko atau di deskripsi produk.

Ukuran corong yang pas

Corong (bagian yang menempel di payudara) adalah faktor kenyamanan nomor satu. Corong yang terlalu sempit membuat puting tergesek dan lecet, sedangkan yang terlalu longgar membuat isapan tidak efektif. Ini penting karena IDAI mengingatkan bahwa memerah tidak boleh sampai terasa sakit. Bila pompa yang Bunda lirik menyediakan beberapa ukuran corong atau bantalan tambahan, itu nilai plus yang nyata.

Satu sisi atau dua sisi sekaligus

Pompa dua sisi memerah kedua payudara bersamaan sehingga waktu memerah lebih singkat. Ini relevan bila Bunda mengingat catatan IDAI bahwa biasanya diperlukan 15 sampai 20 menit untuk mengosongkan kedua payudara. Bila jeda istirahat di kantor pendek, pompa dua sisi sangat membantu. Bila Bunda hanya memerah sesekali di rumah, pompa satu sisi sudah memadai.

Pengaturan isapan dan mode

Pilih pompa yang kekuatan isapannya bisa diatur bertahap, bukan hanya menyala atau mati. Bunda perlu bisa menurunkan daya isap begitu terasa tidak nyaman. Banyak pompa juga punya mode stimulasi (isapan cepat dan ringan untuk memancing aliran) sebelum mode memerah. Ini sejalan dengan penjelasan IDAI bahwa payudara perlu dirangsang lebih dulu agar refleks oksitosin muncul.

Portabilitas dan sumber daya

Bila Bunda memerah di kantor atau saat bepergian, pertimbangkan bobot, ada tidaknya baterai isi ulang, dan tingkat kebisingan mesin. IDAI menyarankan mencari tempat yang nyaman untuk memerah dan sedapat mungkin tempat khusus, bukan di toilet. Pompa yang ringkas dan tidak berisik membuat Bunda lebih leluasa memakai ruang laktasi atau ruang tertutup lain.

Bahan dan kemudahan dibersihkan

Semua bagian yang bersentuhan dengan ASI sebaiknya mudah dilepas dan dicuci. IDAI menganjurkan wadah ASI dari botol kaca atau kontainer plastik dengan tutup rapat berbahan bebas bisphenol A (BPA), dan mengingatkan agar kontainer dicuci dengan air panas dan sabun serta dianginkan hingga kering sebelum dipakai. Pompa dengan komponen yang rumit dan banyak celah sempit akan terasa melelahkan saat dicuci setiap hari.

Ringkasan kriteria memilih.
  • Corong pas, tidak menimbulkan nyeri atau lecet
  • Daya isap bisa diatur bertahap, ada mode stimulasi
  • Dua sisi bila waktu memerah terbatas, satu sisi bila hanya sesekali
  • Ringan, tidak berisik, ada opsi baterai bila sering bepergian
  • Bahan bebas BPA, bagian mudah dilepas dan dicuci
  • Suku cadang (corong, katup, selang) mudah dicari

Cara Memakai Pompa ASI Elektrik dengan Nyaman

Alat yang bagus tetap perlu cara pakai yang benar. Langkah-langkah berikut disusun dari panduan Kemenkes RI dan IDAI.

Sebelum memerah. Kemenkes RI meminta Bunda mencuci tangan terlebih dahulu dengan sabun dan air mengalir sebelum memerah ASI. Siapkan wadah penampung yang sudah dicuci dengan air panas bersabun dan dibilas, seperti dianjurkan IDAI. Untuk memperlancar aliran, IDAI menyarankan mengompres payudara dengan air hangat dan memijatnya dengan lembut sebelum memerah, serta memijat lembut dari dasar payudara ke arah puting untuk merangsang refleks oksitosin.

Saat memerah. Pasang corong sehingga puting berada di tengah, lalu mulai dari daya isap paling rendah dan naikkan perlahan sampai terasa nyaman, bukan sampai terasa sakit. IDAI menegaskan prinsip "jangan sampai terasa sakit" saat memerah. Bila Bunda memerah jauh dari bayi, IDAI menyarankan memerah di ruangan yang nyaman sambil memandang foto bayi atau mendengarkan rekaman tangis bayi, karena kondisi rileks membantu ASI mengalir. IDAI juga menganjurkan relaksasi selama 20 menit setiap hari di luar waktu memerah ASI.

Berapa lama. Menurut IDAI, biasanya diperlukan 15 sampai 20 menit untuk mengosongkan kedua payudara, dan ibu disarankan berlatih memerah lebih dulu sambil memperhatikan berapa waktu yang dibutuhkan dirinya sendiri.

Mengatur jadwal memerah

Frekuensi memerah lebih menentukan daripada durasi sekali memerah. IDAI menyarankan menetapkan jadwal memerah ASI, biasanya setiap 3 sampai 4 jam, dan selama ibu bekerja diusahakan dapat memerah setiap 3 jam. IDAI juga menyarankan memompa payudara sesuai jam bayi minum bila Bunda sedang jauh darinya. Sebagai pembanding, Kemenkes RI menyebutkan bayi menyusu 8 sampai 12 kali sehari atau lebih, dengan durasi normal 20 sampai 30 menit untuk dua sisi payudara.

Bila di awal hasil perahan masih sedikit, itu wajar. IDAI mengingatkan agar Bunda jangan putus asa, karena dengan memompa secara rutin biasanya produksi ASI akan meningkat dalam 2 minggu. Bila Bunda sedang mencari cara lain mendukung produksi, bacaan tentang ASI booster bisa menjadi tambahan, tetapi tetap jadikan rutinitas memerah sebagai fondasinya.

Satu catatan penting dari IDAI: ASI perah sebaiknya tidak diberikan dengan botol karena akan mengganggu penyusuan langsung dari payudara, sebab mengisap dari botol berbeda dengan menyusu langsung dari ibu. IDAI menyarankan berlatih memberikan ASI perah melalui cangkir, sendok, atau pipet, dan melatih pengasuh agar terampil melakukannya. Pemahaman ini penting agar usaha memerah tidak berujung pada bayi menolak menyusu langsung, sesuatu yang sering membuat Bunda sedih. Untuk gambaran menyeluruh tentang prinsipnya, Bunda bisa membaca ASI eksklusif adalah.

Menyimpan dan Menghangatkan ASI Perah dengan Aman

Hasil memerah akan sia-sia bila penyimpanannya keliru. Berikut panduan lama penyimpanan ASI perah menurut Kemenkes RI:

Tempat penyimpananSuhuLama maksimal
Suhu ruangan27-32 derajat4 jam
Suhu ruangandi bawah 25 derajat6-8 jam
Cooler bag atau tas pendingin15 derajat24 jam
Kulkaskurang dari 4 derajat48-72 jam (2-3 hari)
Freezer lemari es 1 pintu-15 sampai 0 derajat2 minggu
Freezer lemari es 2 pintu-20 sampai -18 derajat3-6 bulan

Kemenkes RI juga mengingatkan untuk menghindari perubahan suhu yang terlalu ekstrem pada ASI perah. IDAI memberikan panduan penyimpanan serupa dengan angka yang sedikit berbeda, misalnya ASI dapat disimpan dalam lemari es bersuhu 4 derajat Celsius sampai 5 hari, dan menegaskan bahwa petunjuk penyimpanan tersebut berlaku untuk bayi cukup bulan yang sehat, tidak untuk bayi yang dirawat di rumah sakit atau bayi prematur. Bila Bunda ragu di antara dua angka, memilih durasi yang lebih pendek adalah langkah yang lebih aman. Pembahasan lebih rinci soal ini ada di artikel berapa lama ASI bertahan di suhu ruang.

Beberapa aturan penyimpanan penting dari IDAI:

  • Gunakan wadah yang keras dari kaca atau plastik keras, dengan tutup rapat, bebas BPA, dan kedap udara. Hindari kantong plastik biasa dan botol susu disposable karena mudah bocor dan terkontaminasi.
  • Sisakan ruang sekitar 2,5 cm dari tutup botol, karena volume ASI meningkat saat beku.
  • Beri label berisi nama anak dan tanggal ASI diperah.
  • Jangan menyimpan ASI di bagian pintu lemari es atau freezer.
  • Jangan mencampurkan ASI yang telah dibekukan dengan ASI yang masih baru.
  • Simpan dalam porsi kecil, sekitar 60 sampai 120 mL, agar tidak ada ASI yang terbuang.
  • ASI perah dari hari yang sama boleh digabung dengan cara mendinginkan ASI yang baru diperah minimal 1 jam di kulkas lebih dulu, lalu menambahkannya ke ASI yang sudah dingin.

Untuk menghangatkan, Kemenkes RI menyarankan merendam ASI perah dalam wadah berisi air hangat sebelum diberikan, memakai gelas atau mangkuk kaca atau keramik, dan menghindari bahan plastik atau melamin. IDAI menambahkan bahwa ASI beku sebaiknya dipindahkan ke lemari es selama 1 malam agar mencair, lalu dihangatkan dengan merendam wadahnya di air hangat. IDAI juga menyebutkan bahwa ASI yang telah dihangatkan sebaiknya diberikan dalam waktu 24 jam dan tidak dibekukan ulang, serta gunakan ASI yang paling dulu disimpan.

Perhatian. IDAI menegaskan sejumlah hal yang tidak boleh dilakukan pada ASI perah:
  • Jangan menaruh wadah ASI dalam microwave, karena panasnya tidak merata, dapat merusak komponen ASI, dan membentuk bagian panas yang melukai bayi
  • Jangan memasak ASI atau memanaskannya langsung di atas api kompor
  • Jangan mengocok ASI dengan kuat, cukup goyang lembut untuk mencampur krim yang mengapung
  • Jangan membekukan ulang ASI yang sudah dicairkan atau dihangatkan
  • Sisa ASI pada wadah yang tidak dihabiskan saat menyusui tidak boleh dipergunakan ulang

Bila ASI perah Bunda berbau agak berbeda atau terasa seperti sabun setelah dihangatkan, jangan panik. IDAI menjelaskan bahwa rasa seperti sabun muncul karena hancurnya komponen lemak, dan ASI dalam kondisi ini masih aman dikonsumsi. Warna ASI pun bisa berbeda setiap hari tergantung makanan ibu, bisa terlihat kebiruan, kekuningan, atau kecoklatan. Menurut IDAI, tidak ada alasan membuang ASI selama bayi masih mau meminumnya.

Merawat dan Membersihkan Pompa ASI Elektrik

Perawatan pompa berpusat pada dua hal: kebersihan bagian yang menyentuh ASI, dan menjaga mesin tetap kering. Semua komponen yang dilalui ASI, seperti corong, katup, membran, dan botol penampung, perlu dilepas dan dicuci setiap selesai dipakai. IDAI menyebutkan bahwa wadah untuk menampung ASI hasil perahan sebelumnya sudah dicuci dengan air panas mengandung sabun dan telah dibilas, serta kontainer harus dicuci dengan air panas dan sabun lalu dianginkan hingga kering sebelum dipakai. Mengeringkan dengan cara diangin-anginkan lebih aman daripada mengelapnya dengan kain yang belum tentu bersih.

Bagian mesin, kabel, dan baterai justru tidak boleh terkena air. Karena itu, saat membeli, perhatikan apakah desainnya memisahkan jalur ASI dari motor dengan jelas. Pompa yang membiarkan uap atau tetesan ASI masuk ke selang menuju mesin lebih sulit dijaga kebersihannya. Periksa juga katup dan membran secara berkala, karena bagian karet tipis inilah yang biasanya lebih dulu aus dan membuat daya isap terasa melemah. Banyak Bunda mengira pompanya rusak, padahal cukup mengganti membran.

Kemenkes RI menegaskan bahwa mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum memerah adalah langkah pertama menjaga keamanan dan kualitas ASI. Kebiasaan sederhana ini sering terlewat saat Bunda terburu-buru di sela pekerjaan, padahal dampaknya besar. Untuk aturan sterilisasi yang lebih spesifik, ikuti buku petunjuk produsen pompa, karena setiap alat punya batasan suhu dan metode yang berbeda.

Terakhir, perlu diakui bahwa memerah ASI itu melelahkan, dan wajar bila Bunda merasa terbebani menjalaninya sambil bekerja atau mengurus rumah. IDAI menekankan bahwa keberhasilan memberikan ASI eksklusif pada ibu bekerja sangat bergantung pada dukungan suami, anggota keluarga lain, rekan sekerja, dan komunitas, sehingga ibu dapat dengan nyaman memberikan ASI serta mengasuh anaknya sambil bekerja. Memberikan ASI bukanlah semata-mata masalah ibu seorang diri, melainkan juga masalah keluarga dan masyarakat. Jadi membagi tugas di rumah dan meminta bantuan bukanlah tanda Bunda kurang mampu.

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Tenaga Kesehatan

Pompa ASI elektrik adalah alat bantu, bukan solusi untuk semua masalah menyusui. Ada kondisi yang perlu dinilai langsung oleh bidan, dokter, atau konselor menyusui. Sebaiknya Bunda berkonsultasi bila mengalami:

  • Nyeri saat memerah yang tidak hilang meski daya isap sudah diturunkan dan ukuran corong sudah disesuaikan. IDAI menegaskan memerah seharusnya tidak sampai terasa sakit.
  • Puting lecet, luka, atau berdarah.
  • Payudara sangat bengkak, terasa keras, kemerahan, atau disertai demam. Ini perlu diperiksa karena Kemenkes RI mengaitkan payudara yang terlalu penuh dengan risiko mastitis atau peradangan jaringan payudara.
  • Produksi ASI yang terasa menurun drastis meski Bunda sudah memerah rutin sesuai jadwal.
  • Bayi menolak menyusu langsung, atau berat badannya tidak naik sesuai grafik pertumbuhan.
  • Bayi lahir prematur atau sedang dirawat di rumah sakit. IDAI menegaskan panduan penyimpanan ASI umum tidak berlaku untuk kondisi ini, sehingga Bunda perlu petunjuk khusus dari tenaga kesehatan.

Semua keputusan tentang alat bantu, jadwal memerah, dan pemberian ASI pada kondisi khusus sebaiknya didiskusikan dengan tenaga kesehatan yang memeriksa Bunda dan bayi secara langsung. Mereka bisa melihat pelekatan, kondisi payudara, dan pertumbuhan bayi, sesuatu yang tidak bisa dinilai lewat artikel. Untuk pertanyaan awal seputar menyusui, Bunda juga bisa berdiskusi lewat Asisten AI Bunda sebagai teman mencari informasi, lalu membawa pertanyaan itu ke bidan atau dokter.

Akhirnya, ingatlah bahwa keberhasilan menyusui tidak diukur dari secanggih apa pompa yang Bunda punya. IDAI menyimpulkan bahwa pengetahuan ibu yang baik, persiapan yang matang menjelang dan saat bekerja, pemahaman tentang memerah, penyimpanan, dan pemberian ASI, ditambah dukungan keluarga serta tempat kerja, memberikan dampak besar bagi keberhasilan ibu menyusui. Pompa hanyalah satu alat kecil dalam gambaran besar itu. Bila Bunda ingin menelusuri topik terkait, silakan kunjungi kumpulan artikel ASI di Asuh Anak.

Sumber

Artikel ini disusun sebagai edukasi dan bukan pengganti konsultasi langsung dengan tenaga kesehatan. Pemilihan alat bantu menyusui serta keputusan seputar pemberian ASI, terutama pada bayi prematur atau bayi dengan kondisi medis tertentu, perlu didiskusikan dengan bidan, dokter, atau konselor menyusui yang memeriksa Bunda dan bayi secara langsung.

Pertanyaan yang sering muncul

Apakah pompa ASI elektrik lebih baik daripada pompa manual?
Tidak ada satu metode yang otomatis lebih baik untuk semua ibu. IDAI menyebutkan bahwa sebaiknya semua metode memerah didemonstrasikan kepada ibu agar ibu dapat mencoba dan memilih metode yang paling sesuai dengan dirinya. Menurut IDAI, pompa elektrik harganya cukup mahal, sementara pompa manual biasanya lebih praktis dan lebih terjangkau. Yang paling cocok adalah alat yang membuat Bunda nyaman dan bisa dipakai rutin.
Berapa lama sekali memerah ASI dengan pompa elektrik saat bekerja?
Menurut IDAI, jadwal memerah ASI biasanya ditetapkan setiap 3 sampai 4 jam, dan selama ibu bekerja diusahakan memerah setiap 3 jam. IDAI juga menyarankan memompa sesuai jam bayi minum bila ibu sedang jauh dari bayinya. Setiap ibu bisa berbeda, jadi sesuaikan dengan pola menyusu bayi dan kondisi payudara Bunda.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk sekali memerah?
IDAI menyebutkan bahwa biasanya diperlukan sekitar 15 sampai 20 menit untuk mengosongkan kedua payudara. Waktu ini bisa berbeda pada setiap ibu, sehingga IDAI menyarankan berlatih memerah lebih dulu sambil memperhatikan berapa lama waktu yang Bunda butuhkan. Yang menjadi patokan adalah payudara terasa lebih lembek, bukan angka di jam.
Apakah memakai pompa ASI elektrik bisa menambah produksi ASI?
Menurut IDAI, dengan memompa secara rutin biasanya produksi ASI akan meningkat dalam waktu sekitar 2 minggu. IDAI juga mengingatkan agar tidak putus asa bila pada awal memerah jumlah ASI yang keluar masih sedikit. Kemenkes RI menambahkan bahwa memerah saat payudara masih terasa penuh membantu menjaga pasokan ASI.
Berapa lama ASI perah bisa disimpan di kulkas?
Menurut Kemenkes RI, ASI perah bertahan 48 sampai 72 jam atau sekitar 2 sampai 3 hari di kulkas dengan suhu kurang dari 4 derajat Celsius. Pada suhu ruangan 27 sampai 32 derajat, ASI perah bertahan maksimal 4 jam. Simpan ASI di bagian dalam kulkas, bukan di pintunya, karena suhu di pintu lebih mudah berubah.
Bolehkah menghangatkan ASI perah dengan microwave?
IDAI menegaskan untuk tidak menaruh wadah ASI dalam microwave, karena microwave tidak memanaskan ASI secara merata dan justru dapat merusak komponen ASI serta membentuk bagian panas yang melukai bayi. IDAI juga mengingatkan agar ASI tidak dimasak atau dipanaskan langsung di atas kompor. Cara yang dianjurkan adalah merendam wadah ASI dalam bak berisi air hangat.
Apakah pompa ASI elektrik harus disterilkan setiap kali dipakai?
Yang ditegaskan sumber resmi adalah kebersihan wadah dan tangan. IDAI menyebutkan bahwa kontainer penyimpan ASI harus dicuci dengan air panas dan sabun serta dianginkan hingga kering sebelum dipakai, dan Kemenkes RI meminta ibu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum memerah. Untuk aturan perawatan alat yang lebih rinci, ikuti petunjuk produsen pompa dan tanyakan pada bidan atau konselor menyusui.

Konten ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Untuk keputusan medis, hubungi dokter atau bidan Anda.

Punya pertanyaan seputar asi?

Tanya lewat WhatsApp