Surah Maryam untuk Ibu Hamil: Bacaan, Arti, dan Keutamaan
Oleh Tim Redaksi Asuh Anak· 12 menit baca

Surah Maryam untuk ibu hamil adalah amalan yang banyak dipilih Bunda di Indonesia selama masa kehamilan, terutama karena surah ini memuat kisah seorang perempuan yang melewati kehamilan dan persalinan dalam kondisi yang sangat berat, lalu ditolong Allah dengan cara yang tidak disangka-sangka. Menurut Qur'an Kemenag, Surah Maryam adalah surah ke-19 dalam Al-Qur'an, terdiri atas 98 ayat, dan tergolong Makkiyah. Artikel ini akan membahas bacaan dan arti ayat-ayat kuncinya (khususnya ayat 22-26 yang mengisahkan kelahiran), keutamaan yang bisa diteladani, cara mengamalkannya tanpa memberatkan diri, sekaligus meluruskan beberapa anggapan yang beredar. Semuanya dengan satu tujuan: agar hati Bunda lebih tenang menjalani kehamilan, bukan justru bertambah cemas.
Mengenal Surah Maryam: Surah Ke-19 dalam Al-Qur'an
Sebelum masuk ke bacaannya, ada baiknya Bunda mengenal dulu profil singkat surah ini. Berdasarkan data Qur'an Kemenag, Surah Maryam memiliki 98 ayat, tergolong Makkiyah (diturunkan pada periode Makkah), dan dalam mushaf standar dimulai pada halaman 305. Kisah kelahiran yang paling sering dibaca ibu hamil, yaitu ayat 22 sampai 26, berada di juz 16.
Nama surah ini diambil dari Maryam, ibunda Nabi Isa, dan ini istimewa: Maryam adalah satu-satunya nama perempuan yang menjadi nama surah dalam Al-Qur'an. Namun perlu dicatat, isi Surah Maryam tidak hanya tentang Maryam. Surah ini dibuka dengan huruf-huruf muqatha'ah pada ayat 1, yaitu Kāf Hā Yā 'Ain Ṣād, lalu langsung masuk ke kisah Nabi Zakaria yang berdoa memohon keturunan, dilanjutkan kisah Maryam, dan sejumlah kisah para nabi lainnya.
Menariknya, dua kisah pembuka surah ini sama-sama berbicara tentang tema yang dekat sekali dengan hati banyak keluarga: penantian akan seorang anak dan pertolongan Allah yang datang di luar perhitungan manusia. Inilah yang membuat Surah Maryam terasa relevan, baik bagi Bunda yang sedang mengandung maupun bagi pasangan yang masih menanti kehamilan.
- Surah ke-19 dalam Al-Qur'an
- Jumlah ayat: 98 ayat
- Golongan: Makkiyah
- Dimulai pada halaman 305 mushaf standar
- Kisah kelahiran (ayat 22-26) berada di juz 16
Mengapa Surah Maryam Sering Dikaitkan dengan Ibu Hamil
Di banyak keluarga Indonesia, membaca Surah Maryam saat hamil sudah menjadi kebiasaan yang diwariskan turun-temurun, sering kali bersamaan dengan Surat Yusuf untuk ibu hamil. Ada baiknya kita jujur dan terbuka soal ini, karena kejujuran justru membuat amalan terasa lebih ringan.
Kebiasaan membaca Surah Maryam saat hamil adalah tradisi yang berkembang di masyarakat, bukan ketentuan dengan dalil khusus yang menjanjikan hasil tertentu. Tidak ada sumber keagamaan resmi yang menyatakan bahwa membaca surah ini akan membuat persalinan pasti lancar atau membuat anak pasti rupawan. Yang secara umum dianjurkan dalam Islam adalah membaca Al-Qur'an sebagai ibadah dan sarana menenangkan hati, dan Surah Maryam termasuk di dalamnya.
Lalu mengapa surah ini terasa begitu dekat dengan ibu hamil? Jawabannya ada pada isinya, bukan pada janji-janji yang ditempelkan orang kepadanya. Surah Maryam memuat kisah seorang perempuan yang melahirkan seorang diri, di tempat yang jauh dari siapa pun, dalam rasa sakit dan kecemasan yang luar biasa, lalu Allah menolongnya secara langsung. Bagi Bunda yang sedang cemas menghadapi persalinan, kisah ini menyentuh karena terasa manusiawi. Maryam pun sempat merasa putus asa, dan itu tidak membuatnya kehilangan pertolongan Allah.
Jadi, membaca Surah Maryam saat hamil tetap sangat baik dan sarat pelajaran. Yang perlu diletakkan pada tempatnya hanyalah niatnya: sebagai ibadah dan penguat batin, bukan sebagai jaminan medis atau syarat agar persalinan berjalan mulus.
Bacaan dan Arti Surah Maryam Ayat 22-26: Kisah Maryam Melahirkan
Inilah bagian yang paling banyak dicari Bunda. Berikut teks Arab dan terjemahan resmi dari Qur'an Kemenag untuk ayat 22 sampai 26, yaitu rangkaian ayat yang mengisahkan detik-detik kelahiran.
Ayat 22
فَحَمَلَتْهُ فَانْتَبَذَتْ بِهٖ مَكَانًا قَصِيًّا
"Maka, dia (Maryam) mengandungnya, lalu mengasingkan diri bersamanya ke tempat yang jauh."
Ayat 23
فَاَجَاۤءَهَا الْمَخَاضُ اِلٰى جِذْعِ النَّخْلَةِۚ قَالَتْ يٰلَيْتَنِيْ مِتُّ قَبْلَ هٰذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَّنْسِيًّا
"Rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma. Dia (Maryam) berkata, 'Oh, seandainya aku mati sebelum ini dan menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan (selama-lamanya).'"
Ayat 24
فَنَادٰىهَا مِنْ تَحْتِهَآ اَلَّا تَحْزَنِيْ قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا
"Dia (Jibril) berseru kepadanya dari tempat yang rendah, 'Janganlah engkau bersedih. Sungguh, Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.'"
Ayat 25
وَهُزِّيْٓ اِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسٰقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا
"Goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menjatuhkan buah kurma yang masak kepadamu."
Ayat 26
فَكُلِيْ وَاشْرَبِيْ وَقَرِّيْ عَيْنًا
"Makan, minum, dan bersukacitalah engkau."
Penjelasan Singkat Berdasarkan Tafsir Kemenag
Rangkaian ayat di atas menjadi jauh lebih hidup ketika dibaca bersama tafsirnya. Dalam Tafsir Kemenag, ayat 23 digambarkan sebagai saat Maryam mulai merasakan rasa sakit akibat kontraksi yang menjadi pertanda dia akan melahirkan, sehingga dia terpaksa bersandar pada pangkal pohon kurma. Kalimat "seandainya aku mati sebelum ini" muncul karena dia membayangkan cemoohan orang-orang di sekelilingnya saat mereka tahu dia melahirkan tanpa suami.
Yang menenangkan adalah respons yang datang sesudahnya. Menurut Tafsir Kemenag, seruan pada ayat 24 agar Maryam tidak bersedih disertai kabar bahwa Allah menjadikan anak sungai di bawahnya, dan tafsir menjelaskan air itu berguna agar dia dapat membersihkan diri setelah melahirkan. Tempat itu pada mulanya kering tanpa aliran air, lalu muncul aliran air yang bersih. Begitu pula pada ayat 25: Tafsir Kemenag menerangkan bahwa pohon kurma itu semula telah kering, lalu dengan kehendak Allah menjadi hijau dan subur kembali serta berbuah sebagai rezeki untuk Maryam.
Perhatikan urutannya, karena di sinilah letak pelajaran yang paling menyentuh. Maryam tidak langsung diangkat dari kesulitannya. Dia tetap harus melewati rasa sakit itu, tetapi ditemani, ditenangkan, lalu dicukupi kebutuhannya satu per satu: air untuk minum dan membersihkan diri, makanan berupa kurma masak, dan ketenangan hati. Bahkan pada ayat 25 dia tetap diminta menggoyang pangkal pohon kurma, artinya ada bagian kecil yang tetap perlu dia usahakan sendiri, meski hasilnya sepenuhnya karunia Allah.
Doa Nabi Zakaria di Awal Surah Maryam untuk yang Menanti Buah Hati
Bagian ini sering terlewat, padahal sangat relevan, khususnya bagi pasangan yang masih menanti kehamilan. Sebelum berkisah tentang Maryam, Surah Maryam justru dibuka dengan kisah Nabi Zakaria yang berdoa memohon keturunan pada usia yang sudah sangat tua.
Qur'an Kemenag menerjemahkan ayat 3 sebagai momen "ketika dia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lirih". Pada ayat 4 dan 5, Nabi Zakaria berkata, "Wahai Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah, kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku tidak pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, wahai Tuhanku. Sesungguhnya aku khawatir terhadap keluargaku sepeninggalku, sedangkan istriku adalah seorang yang mandul. Anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu."
Doa itu dijawab pada ayat 7, ketika Allah memberi kabar gembira berupa seorang anak laki-laki bernama Yahya. Bahkan pada ayat 8, Nabi Zakaria sempat bertanya bagaimana mungkin dia memiliki anak sementara istrinya mandul dan usianya sudah sangat lanjut. Sebuah pengingat lembut bahwa keheranan dan pertanyaan pun tidak menghalangi karunia Allah.
Bagi Bunda yang sedang menanti garis dua atau sedang menjalani proses panjang untuk hamil, dua kisah pembuka ini terasa seperti pelukan: doa yang lirih tetap didengar, dan usia atau kondisi medis bukanlah batas bagi kuasa Allah. Bunda juga bisa melengkapi ikhtiar batin ini dengan membaca kumpulan doa untuk ibu hamil agar selamat dan bayi sehat.
Keutamaan dan Pelajaran Surah Maryam bagi Bunda
Daripada mengejar keutamaan yang tidak jelas sumbernya, jauh lebih bermanfaat menggali pelajaran yang benar-benar ada di dalam surahnya. Berikut beberapa di antaranya:
- Kesulitan dan pertolongan bisa datang berdampingan. Maryam tetap merasakan sakit melahirkan, tetapi pada saat yang sama Allah menyiapkan air dan kurma untuknya. Pertolongan tidak selalu berarti kesulitan dihapus, kadang berarti kita dikuatkan dan dicukupi saat melewatinya.
- Rasa takut dan sedih itu manusiawi. Kalimat Maryam pada ayat 23 menunjukkan bahwa perempuan sekuat beliau pun sempat merasa tidak sanggup. Bunda tidak perlu menghukum diri sendiri karena merasa cemas menjelang persalinan.
- Ada bagian yang tetap perlu diusahakan. Perintah menggoyang pangkal pohon kurma mengajarkan bahwa tawakal berjalan bersama ikhtiar. Dalam konteks kehamilan, ikhtiar itu antara lain menjaga gizi, istirahat cukup, dan memeriksakan kehamilan secara rutin.
- Penilaian orang bukan ukuran segalanya. Maryam menghadapi tuduhan dari kaumnya, tetapi kebenarannya dijaga oleh Allah. Ini pelajaran berharga bagi Bunda yang lelah menghadapi komentar orang lain seputar kehamilan atau pola asuhnya.
- Doa yang lirih tetap didengar. Kisah Nabi Zakaria di awal surah menegaskan bahwa tidak ada doa yang terlalu kecil atau terlambat.
Bagi Bunda yang tengah mencari inspirasi nama, kisah dalam surah ini juga kerap menjadi rujukan. Bunda bisa menelusuri pilihan nama bayi perempuan dalam Al-Qur'an untuk melihat nama-nama bermakna baik beserta artinya.
Cara Membaca Surah Maryam saat Hamil Tanpa Memberatkan Diri
Tidak ada aturan baku soal waktu, jumlah, atau cara membacanya, karena memang tidak ada ketentuan khusus yang mengaturnya. Karena itu, silakan sesuaikan dengan kondisi tubuh Bunda. Beberapa cara yang biasanya terasa ringan:
- Bagi menjadi beberapa sesi. Surah Maryam terdiri atas 98 ayat. Bunda tidak harus menyelesaikannya sekali duduk. Membaca sepuluh sampai dua puluh ayat per sesi sudah sangat baik.
- Pilih waktu yang paling tenang. Banyak ibu merasa nyaman membaca setelah salat atau menjelang tidur. Bila pagi hari terasa lebih segar, silakan pilih pagi.
- Baca terjemahannya juga. Memahami arti ayatnya sering kali lebih menenangkan daripada sekadar menyelesaikan bacaan. Kisah pada ayat 22-26 terasa jauh lebih menguatkan ketika maknanya dipahami.
- Manfaatkan murottal saat lelah. Bila tubuh sedang tidak nyaman, mendengarkan bacaan sambil berbaring tetap bernilai dan membantu menenangkan.
- Jangan memaksakan diri saat mual atau pusing. Trimester pertama sering diwarnai mual. Bila kondisi sedang berat, istirahat dulu. Ibadah dinilai sesuai kemampuan.
- Ajak pasangan. Membaca bersama pasangan menjadikannya momen kebersamaan, sekaligus dukungan emosional yang nyata bagi Bunda.
Bila Bunda ingin memperkirakan usia kehamilan dan menyusun rencana menyambut persalinan, kalkulator kehamilan bisa membantu memberi gambaran perkiraan tanggal lahir sebagai panduan awal.
Menjaga Ketenangan Batin dan Kesehatan Kehamilan
Amalan batin dan perawatan kesehatan bukan dua hal yang saling menggantikan, melainkan berjalan beriringan. Membaca Surah Maryam bisa menenangkan hati, dan ketenangan itu memang penting selama kehamilan.
Kemenkes RI menjelaskan bahwa hormon stres dapat ditransfer dari ibu ke janin melalui plasenta, sehingga mengelola stres selama kehamilan bukan perkara sepele. Namun ini bukan alasan untuk menyalahkan diri sendiri saat merasa cemas. Justru sebaliknya, ini alasan untuk lebih lembut kepada diri sendiri dan mencari dukungan.
Cara Menghindari Stres Saat Hamil Menurut Kemenkes
Beberapa langkah yang disarankan Kemenkes RI antara lain membuat daftar prioritas agar lebih mudah menentukan hal yang perlu diselesaikan, berolahraga ringan secara rutin, melakukan relaksasi dan menarik napas dalam, berpikir positif tanpa kekhawatiran berlebihan, melakukan hal-hal yang membuat bahagia, tidak panik saat mengambil keputusan, berbagi masalah dengan pasangan, beristirahat cukup, serta makan dengan pola gizi seimbang. Untuk menyusun asupan harian yang tepat, Bunda bisa membaca panduan makanan sehat untuk ibu hamil.
Menariknya, membaca Al-Qur'an dengan tenang dapat menyatukan beberapa hal itu sekaligus: relaksasi, pengaturan napas, dan menghadirkan pikiran yang lebih positif. Inilah titik temu yang indah antara amalan yang Bunda jalani dan anjuran kesehatan.
Rutin Memeriksakan Kehamilan Tetap Wajib
Sebanyak apa pun amalan yang dijalani, pemeriksaan kehamilan tetap tidak tergantikan. Menurut Kemenkes RI, pemeriksaan kehamilan atau Antenatal Care (ANC) bertujuan memantau kondisi kesehatan fisik dan mental ibu hamil hingga siap menghadapi masa persalinan, sekaligus mendeteksi komplikasi atau masalah kehamilan sejak dini dan mengurangi angka kesakitan serta kematian ibu hamil.
Kemenkes RI menyebutkan pemeriksaan kehamilan sebaiknya dilakukan minimal 6 kali selama kehamilan, dengan pembagian 1 kali pada trimester pertama, 2 kali pada trimester kedua, dan 3 kali pada trimester ketiga. Pemeriksaan ini dapat dilakukan di puskesmas, klinik, atau rumah sakit oleh tenaga kesehatan seperti bidan, perawat, dan dokter spesialis obstetri dan ginekologi.
Kapan Harus ke Bidan atau Dokter
Selain jadwal pemeriksaan rutin, ada kondisi yang sebaiknya tidak ditunda dan perlu segera diperiksakan. Kemenkes RI menyoroti antara lain mual dan muntah berlebih yang bisa menyebabkan kekurangan gizi, dehidrasi, hingga penurunan kesadaran, serta berkurangnya pergerakan janin (di bawah sepuluh kali dalam dua jam). Kemenkes RI juga mengingatkan bahwa tanpa pemeriksaan, komplikasi seperti preeklamsia dan tekanan darah tinggi bisa tidak terdeteksi.
Segera hubungi bidan atau dokter bila Bunda mengalami:
- Mual dan muntah berlebihan sampai sulit makan dan minum.
- Gerakan janin berkurang atau terasa tidak seperti biasanya.
- Perdarahan dari jalan lahir.
- Nyeri perut hebat, sakit kepala berat, atau gangguan penglihatan.
- Demam tinggi, atau keluar cairan dari jalan lahir sebelum waktunya.
Memeriksakan diri bukan tanda kurang tawakal. Justru itu bagian dari ikhtiar, persis seperti Maryam yang tetap diminta menggoyang pangkal pohon kurma. Bila ada pertanyaan yang mengganjal seputar kehamilan, Bunda juga bisa berdiskusi lewat Asisten AI Bunda sebagai teman mencari informasi awal, lalu mengonfirmasikannya kepada bidan atau dokter.
Pada akhirnya, membaca Surah Maryam untuk ibu hamil paling indah bila diniatkan sebagai ibadah dan cara menenangkan hati, bukan sebagai beban atau syarat yang harus dipenuhi. Kisah Maryam mengajarkan bahwa dalam kesulitan yang paling sunyi sekalipun, pertolongan Allah tetap hadir, sering kali lewat hal-hal sederhana seperti air yang mengalir dan kurma yang jatuh. Semoga Bunda menjalani sisa kehamilan dengan hati yang tenang, tubuh yang terjaga, dan dukungan yang cukup dari orang-orang terdekat. Untuk menelusuri topik lain seputar masa mengandung, Bunda bisa mengunjungi kumpulan artikel kehamilan di Asuh Anak.
Sumber
- Qur'an Kemenag - Surah Maryam (surah ke-19, 98 ayat, Makkiyah)
- Qur'an Kemenag - Surah Maryam per ayat beserta terjemahan dan tafsir
- Kemenkes RI - Ayo Sehat: Pentingnya Pemeriksaan Kehamilan (ANC) di Fasilitas Kesehatan
- Kemenkes RI - Ayo Sehat: Cara Menghindari Stres Saat Hamil
- Kemenkes RI - Ayo Sehat: Tidak Periksakan Kehamilan, Apa Saja Bahayanya?
Teks Arab dan terjemahan ayat dalam artikel ini mengacu pada Qur'an Kemenag, dan penjelasan tafsirnya mengacu pada Tafsir Kemenag yang tersedia di laman yang sama. Artikel ini disusun sebagai edukasi dan bukan pengganti konsultasi langsung dengan tenaga kesehatan. Untuk pemeriksaan, diagnosis, dan penanganan yang sesuai dengan kondisi kehamilan Anda, silakan berkonsultasi dengan bidan, dokter, atau petugas kesehatan terdekat.
Pertanyaan yang sering muncul
Surah Maryam ada di juz berapa dan berapa ayat?
Apakah ada dalil khusus yang menganjurkan ibu hamil membaca Surah Maryam?
Apakah membaca Surah Maryam membuat persalinan pasti lancar?
Apakah benar anak akan cantik atau rupawan jika ibu membaca Surah Maryam?
Kapan waktu terbaik ibu hamil membaca Surah Maryam?
Bagaimana kalau saya belum lancar membaca Arab atau cepat lelah?
Konten ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Untuk keputusan medis, hubungi dokter atau bidan Anda.
Punya pertanyaan seputar kehamilan?
Tanya lewat WhatsApp

