Tekstur MPASI 9 Bulan: Dari Bubur Kasar ke Makanan Cincang
Jawaban singkat. Tekstur MPASI 9 bulan sebaiknya lebih kasar dari bubur saring, yaitu bubur kasar atau makanan yang dicincang halus tetapi tetap lembut. Menurut Buku KIA Kemenkes RI, bayi 9 sampai 11 bulan makan 3 sampai 4 kali sehari dengan porsi setengah sampai tiga perempat mangkuk 250 ml, ditambah 1 sampai 2 kali selingan, sambil tetap menyusu.
Oleh Tim Redaksi Asuh AnakKebijakan Editorial· 11 menit baca· Terakhir diperbarui

Tekstur MPASI 9 bulan sebaiknya sudah lebih kasar dari bubur saring, yaitu bubur kasar atau makanan yang dicincang halus tetapi tetap lembut. Buku KIA Kemenkes RI menempatkan bayi usia 9 sampai 11 bulan pada tahap makanan "dicincang", memakai bahan yang sama dengan makanan orang dewasa. Di usia ini bayi makan 3 sampai 4 kali sehari, ditambah 1 sampai 2 kali selingan, sambil tetap menyusu.
Usia 9 bulan sering menjadi masa peralihan yang membingungkan. Bubur halus yang dulu lahap dimakan tiba-tiba ditolak, atau sebaliknya, Bunda khawatir si kecil tersedak saat menemukan gumpalan kecil. Panduan ini merangkum anjuran Kementerian Kesehatan RI, IDAI, dan WHO tentang tekstur, porsi, frekuensi, finger food, dan cara menaikkan tekstur dengan tenang. Setiap bayi punya kecepatannya sendiri, jadi gunakan panduan ini sebagai patokan, bukan perlombaan.
Kenapa tekstur MPASI perlu naik di usia 9 bulan?
Menurut IDAI, setelah usia 6 bulan kebutuhan nutrisi bayi tidak lagi tercukupi oleh ASI saja, dan keterampilan makan (oromotor) terus berkembang. IDAI menggambarkan masa penyapihan sebagai proses bertahap dalam jenis, jumlah, frekuensi, serta tekstur dan konsistensi makanan, sampai seluruh kebutuhan nutrisi anak dipenuhi oleh makanan. Masa 6 sampai 23 bulan disebut rawan, karena makanan yang kurang tepat dari segi kualitas maupun kuantitas bisa memicu malnutrisi.
Tekstur adalah bagian dari tahapan itu. Panduan Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA) Kemenkes RI meminta orang tua memperkenalkan makanan secara perlahan dengan tekstur lumat atau halus, lembut, lalu kasar, disesuaikan dengan usia anak. Bubur yang terus-menerus halus membuat bayi kehilangan kesempatan berlatih mengunyah, padahal kemampuan ini dibutuhkan untuk beralih ke makanan keluarga.
Perkembangan motorik di usia ini juga mendukung. Buku KIA Kemenkes RI mencatat bayi mulai merangkak di usia 8 sampai 9 bulan, dan orang tua dianjurkan mengajari bayi memegang benda kecil dengan dua jari, makan sendiri dengan sendok, dan minum sendiri dengan gelas. Keterampilan tangan ini membuat bayi siap mencoba finger food dan makanan bertekstur.
Buku KIA juga menyebut bayi mulai tumbuh gigi di rentang 6 sampai 12 bulan. Namun belum punya gigi bukan alasan menunda tekstur. Kemenkes RI menjelaskan bayi bisa mengunyah makanan yang lembut dan menggumpal meskipun belum memiliki gigi. Gusi bayi cukup kuat untuk menghancurkan makanan yang sudah dimasak empuk.
Kalau Bunda baru mulai memahami MPASI dari awal, artikel MPASI adalah dan tanda bayi siap MPASI bisa dibaca lebih dulu sebagai dasar.
Seperti apa tekstur MPASI 9 bulan yang tepat?
Buku KIA Kemenkes RI membagi tekstur MPASI menjadi tiga tahap besar. Bayi 6 sampai 8 bulan mendapat makanan disaring, bertekstur lumat dan kental. Bayi 9 sampai 11 bulan mendapat makanan dicincang, dengan bahan yang sama seperti untuk orang dewasa. Anak 12 sampai 23 bulan mendapat makanan keluarga yang dimasak biasa, dengan tekstur yang diiris-iris dan dicincang bila perlu.
| Usia | Tekstur menurut Buku KIA | Contoh dari Buku KIA |
|---|---|---|
| 6 sampai 8 bulan | Disaring, lumat dan kental | Nasi, telur dadar, tempe, wortel dilumatkan lalu disaring |
| 9 sampai 11 bulan | Dicincang, bubur kasar | Nasi tim ikan kembung dengan buncis yang dicincang |
| 12 sampai 23 bulan | Masak biasa, diiris-iris | Nasi, semur hati ayam, bening bayam |
Artikel lain di laman Kemenkes RI (Ditjen Kesehatan Lanjutan) memberi rincian lebih halus dalam rentang yang sama: tekstur ditumbuk pada usia 9 sampai 10 bulan, lalu cincang kasar pada usia 11 sampai 12 bulan. Jadi bila bayi Bunda baru genap 9 bulan, wajar bila tekstur awalnya masih berupa bubur kasar yang ditumbuk, lalu pelan-pelan beralih ke potongan cincang yang lebih jelas.
Buku KIA menggambarkan tekstur ini sebagai "lebih kasar tapi tetap lembut", dengan contoh sup daging cincang, nasi tim ikan kembung telur puyuh, dan tim bubur manado daging dan udang. Patokan praktisnya, makanan bisa dihancurkan dengan menekannya di antara ibu jari dan telunjuk. Bila masih keras saat ditekan, masak lebih lama.
Cara memasaknya pun berpengaruh. Buku KIA meminta makanan bayi direbus atau dikukus, serta menghindari makanan yang digoreng, mengandung bahan pengawet, dan tinggi gula serta garam. Untuk ide menu yang sudah disusun sesuai prinsip ini, Bunda bisa melihat resep MPASI dan menu MPASI 4 bintang.
Berapa porsi dan frekuensi makan bayi 9 bulan?
Selain tekstur, porsi dan frekuensi ikut naik di usia ini. Berikut perbandingan anjuran Buku KIA Kemenkes RI 2024 untuk tiga kelompok usia:
| Usia | Porsi sekali makan | Makan utama per hari | Selingan per hari | Energi dari MPASI per hari |
|---|---|---|---|---|
| 6 sampai 8 bulan | 2 sampai 3 sendok makan, bertahap sampai setengah mangkuk 250 ml (125 ml) | 2 sampai 3 kali | 1 sampai 2 kali | 200 kkal |
| 9 sampai 11 bulan | Setengah sampai tiga perempat mangkuk 250 ml (125 sampai 200 ml) | 3 sampai 4 kali | 1 sampai 2 kali | 300 kkal |
| 12 sampai 23 bulan | Tiga perempat sampai 1 mangkuk 250 ml | 3 sampai 4 kali | 1 sampai 2 kali | 550 kkal |
Satu perbedaan kecil perlu diketahui. Buku KIA menulis selingan 1 sampai 2 kali untuk bayi 9 sampai 11 bulan, sedangkan artikel Kemenkes RI di laman Keslan menulis snack 1 kali. Keduanya sejalan bila dibaca sebagai rentang: mulai dari satu selingan, dan tambah menjadi dua bila bayi tampak masih lapar atau pertumbuhannya membutuhkan.
Angka porsi adalah panduan, bukan target yang harus dicapai setiap kali. Buku KIA meminta ibu peka terhadap respons bayi dan memperhatikan respons anak saat makan. Bayi yang menutup mulut, memalingkan wajah, atau mendorong sendok sedang memberi tanda kenyang. Memaksa makan justru membuat waktu makan menjadi tegang.
ASI tetap penting. WHO dan UNICEF merekomendasikan menyusui dilanjutkan sampai usia 2 tahun atau lebih, sambil memberikan MPASI yang cukup gizi dan aman sejak usia 6 bulan. Buku KIA juga menuliskan "lanjutkan menyusui" di setiap tahap MPASI. Ingin tahu cara menjaga produksi ASI saat bayi makin banyak makan? Artikel ASI bisa membantu.
Contoh jadwal dan menu MPASI 9 bulan
Laman Kemenkes RI (Keslan) memuat contoh jadwal makan bayi 9 sampai 11 bulan yang bisa dijadikan kerangka. Jamnya boleh digeser sesuai kebiasaan keluarga, yang penting polanya teratur.
| Jam | Kegiatan |
|---|---|
| 06.00 | ASI |
| 08.00 | Makan pagi |
| 10.00 | Selingan (snack) |
| 12.00 | Makan siang |
| 14.00 | ASI |
| 16.00 | ASI |
| 18.00 | Makan malam |
| 20.00, 22.00, 24.00 | ASI |
Buku KIA memberi contoh menu yang dibuat dari makanan keluarga matang untuk bayi 9 sampai 11 bulan: nasi putih 45 g, ikan kembung bumbu kuning 30 g, dan tumis buncis 25 g. Nasi, ikan, dan buncis dicincang, lalu disajikan dengan kuah sayur santan. Versi dari bahan mentah memakai beras putih 15 g, ikan kembung 30 g, minyak kelapa 10 g, wortel 15 g, dan tempe 10 g, dimasak sampai menjadi bubur kasar atau cincang.
Polanya mudah ditiru: satu makanan pokok, satu protein hewani, sayur, dan sedikit lemak. Buku KIA menyebut pemberian protein hewani dalam MPASI diprioritaskan, dan IDAI menekankan zat besi sebagai nutrien yang paling sering kurang setelah usia 6 bulan. Ikan, telur, ayam, daging, dan hati termasuk sumber yang baik. Menu seperti ini juga mendukung pencegahan stunting sejak dini.
Supaya menu tidak itu-itu saja, Buku KIA merinci variasi bahan yang bisa diputar. Makanan pokok bisa berupa beras, biji-bijian, jagung, gandum, sagu, umbi, kentang, atau singkong. Protein hewani dari ikan, ayam, daging, hati, udang, telur, susu, dan olahannya. Protein nabati mulai diperkenalkan dari kedelai, kacang hijau, kacang polong, atau kacang tanah yang diolah lembut, bukan utuh. Buah dan sayur kaya vitamin A dan C seperti jeruk, mangga, tomat, bayam, dan wortel juga dianjurkan, sedangkan lemak bisa didapat dari minyak, santan, dan protein hewani. IDAI menyarankan gandum dan campuran serealia ditunda sampai usia delapan bulan, jadi di usia 9 bulan bahan ini umumnya sudah boleh dicoba satu per satu.
Untuk selingan, Buku KIA mencontohkan perkedel kentang isi daging. Selingan tidak harus rumit; potongan buah matang atau sayur kukus yang lunak juga bisa menjadi pilihan sekaligus latihan finger food.
Bagaimana memberi finger food dengan aman untuk bayi 9 bulan?
Finger food adalah makanan padat seukuran genggaman bayi yang bisa dimakan sendiri tanpa disuapi. Kemenkes RI menyebut finger food sebaiknya diberikan pada usia 8 sampai 9 bulan, karena melatih bayi makan sendiri, melatih motorik halus, serta kemampuan menggigit dan mengunyah. Syaratnya, makanan mudah digigit, dikunyah, dan dipegang sendiri.
Contoh finger food yang disebut Kemenkes RI:
- Sayuran rebus: kentang, wortel, kembang kol, brokoli, atau ubi manis, dikukus atau dipanggang sampai lunak.
- Buah: apel matang, pir, mangga, pepaya, alpukat matang, pisang, dan buah naga.
- Sereal yang mudah dipegang.
Potong memanjang seukuran jari orang dewasa agar mudah digenggam, dan pastikan teksturnya bisa ditekan hancur dengan jari. Apel dan pir sebaiknya dikukus dulu bila masih keras.
Daftar lengkap bahan yang perlu ditunda ada di artikel makanan yang harus dihindari saat MPASI. Bila bayi tersedak dan tidak bisa menangis, batuk, atau bernapas, itu kondisi darurat; segera minta pertolongan medis.
Wajar bila bayi kadang tersedak ringan, batuk, atau memuntahkan potongan yang terlalu besar saat belajar. Ini bagian dari proses belajar mengunyah. Namun bila bayi selalu muntah setiap diberi tekstur baru, sering tersedak hebat, atau tampak kesulitan menelan, konsultasikan ke dokter anak.
Bagaimana cara menaikkan tekstur bila bayi menolak?
Penolakan tekstur baru adalah hal yang sangat umum. Bayi yang lama makan bubur halus mungkin kaget dengan gumpalan. Beberapa langkah yang bisa dicoba:
- Naikkan bertahap. Campur sebagian bubur kasar dengan bubur yang lebih halus, lalu kurangi porsi halusnya dalam beberapa hari. Sejalan dengan anjuran PMBA Kemenkes untuk memperkenalkan tekstur secara perlahan.
- Perkenalkan satu hal baru dalam satu waktu. Buku KIA menganjurkan memperkenalkan makanan satu per satu sambil memperhatikan tanda alergi.
- Atur suasana makan. Buku KIA meminta MPASI diberikan teratur pagi, siang, dan sore, dengan lama makan maksimal 30 menit, di lingkungan netral (tidak sambil bermain atau menonton TV).
- Biarkan bayi ikut memegang. Sendok sendiri atau finger food membuat bayi merasa punya kendali, sehingga lebih mau mencoba.
- Tawarkan ulang tanpa memaksa. Makanan yang ditolak hari ini bisa diterima beberapa hari kemudian.
Pemantauan pertumbuhan membantu memastikan tekstur dan porsi sudah mencukupi. Buku KIA menganjurkan mengecek perkembangan bayi setiap bulan di posyandu atau fasilitas kesehatan. Bunda juga bisa mencatat berat dan panjang badan di tracker tumbuh kembang, dan membandingkannya dengan penjelasan di artikel berat badan bayi normal. Rangkaian jadwal MPASI dari awal sampai satu tahun ada di jadwal MPASI, dan panduan topik lain tersedia di kategori MPASI.
Ingat juga bahwa setiap bayi berbeda. Ada yang langsung lahap makan cincang di usia 9 bulan, ada yang butuh beberapa minggu. Yang terpenting adalah arah perkembangannya maju, gizinya cukup, dan suasana makan tetap menyenangkan bagi bayi dan orang tua.
Sumber
- Kemenkes RI - Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Edisi 2024 (PDF), halaman 56-59
- Kemenkes RI - Buku Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA)
- Kemenkes RI (Keslan) - Pentingnya dan Tahap Pemberian MPASI pada Bayi
- Kemenkes RI (Keslan) - Yuk, Cermati MPASI Anak (5 Desember 2024)
- IDAI - Makanan Pendamping ASI (MPASI)
- WHO - Infant and young child feeding (fact sheet)
Artikel ini bersifat edukasi umum dan tidak menggantikan konsultasi dengan dokter, bidan, ahli gizi, atau kader posyandu. Bayi dengan kondisi khusus, misalnya lahir prematur, alergi makanan, atau gangguan menelan, memerlukan panduan tekstur dan porsi dari tenaga kesehatan.
Pertanyaan yang sering muncul
Tekstur MPASI 9 bulan seperti apa?
Berapa kali bayi 9 bulan makan dalam sehari?
Berapa porsi MPASI bayi 9 bulan sekali makan?
Apakah bayi 9 bulan sudah boleh finger food?
Bayi 9 bulan belum punya gigi, apakah tetap bisa makan cincang?
Makanan apa yang perlu dihindari untuk bayi 9 bulan?
Bayi 9 bulan menolak tekstur kasar, apa yang harus dilakukan?
Konten ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Untuk keputusan medis, hubungi dokter atau bidan Anda.
Punya pertanyaan seputar mpasi?
Tanya lewat WhatsApp

