Baru: alat cek usia dan milestone anak sudah bisa dipakai gratis. Coba sekarang

Tumbuh Kembang

Berat Badan Bayi Normal: Tabel per Usia dan Cara Memantaunya

Oleh Tim Redaksi Asuh Anak· 13 menit baca

Berat Badan Bayi Normal: Tabel per Usia dan Cara Memantaunya

Berat badan bayi normal adalah berat yang berada dalam rentang wajar menurut usia dan jenis kelaminnya, bukan satu angka tunggal yang harus dicapai semua bayi. Rujukan yang dipakai di Indonesia adalah WHO Child Growth Standards, dan lewat Permenkes Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak, Kemenkes RI menetapkan bahwa indeks Berat Badan menurut Umur (BB/U) untuk anak usia 0 sampai 60 bulan dikategorikan normal bila berada pada rentang -2 SD sampai +1 SD. Artinya, bayi Bunda tidak harus persis menyentuh angka median untuk disebut sehat. Artikel ini menyajikan tabel berat badan bayi normal usia 0 sampai 24 bulan langsung dari tabel resmi WHO, plus cara membacanya tanpa bikin panik.

Berapa Berat Badan Bayi Normal Menurut WHO dan Kemenkes?

Banyak orang tua mencari "berat badan bayi normal" berharap menemukan satu angka pasti. Kenyataannya, pertumbuhan anak selalu dinilai sebagai rentang, karena bayi yang sehat pun beratnya beragam.

WHO menyusun standar berat badan menurut usia (weight-for-age) untuk anak sejak lahir sampai 5 tahun, disajikan dalam bentuk z-score dan persentil. Indonesia mengadopsi standar ini secara resmi. Permenkes Nomor 2 Tahun 2020 menyatakan bahwa klasifikasi penilaian status gizi berdasarkan indeks antropometri mengikuti kategori status gizi pada WHO Child Growth Standards untuk anak usia 0 sampai 5 tahun.

Untuk indeks Berat Badan menurut Umur (BB/U) pada anak usia 0 sampai 60 bulan, Permenkes Nomor 2 Tahun 2020 menetapkan empat kategori berikut:

Kategori BB/UAmbang batas (z-score)
Berat badan sangat kurang (severely underweight)kurang dari -3 SD
Berat badan kurang (underweight)-3 SD sampai kurang dari -2 SD
Berat badan normal-2 SD sampai +1 SD
Risiko berat badan lebihlebih dari +1 SD

Perhatikan bahwa batas atas kategori normal adalah +1 SD, bukan +2 SD. Ini sering disalahpahami. Jadi ketika kita bicara "berat badan bayi normal", yang dimaksud adalah rentang antara -2 SD dan +1 SD pada tabel WHO sesuai usia dan jenis kelamin anak.

Ringkasan. Tiga hal yang perlu diingat sebelum membaca tabel:
  • Berat badan bayi normal adalah rentang, bukan satu angka target.
  • Menurut Permenkes Nomor 2 Tahun 2020, BB/U normal berada di -2 SD sampai +1 SD.
  • Tabel laki-laki dan perempuan berbeda, jadi jangan tertukar.

Tabel Berat Badan Bayi Normal Usia 0 sampai 24 Bulan

Tabel di bawah ini disarikan langsung dari tabel z-score resmi WHO Child Growth Standards untuk weight-for-age, birth to 5 years. Kolom "batas bawah" adalah nilai -2 SD dan kolom "batas atas normal" adalah nilai +1 SD, mengikuti kategori normal pada Permenkes Nomor 2 Tahun 2020. Kolom median adalah titik tengah, bukan target wajib.

Tabel Berat Badan Bayi Laki-Laki (kg)

UsiaBatas bawah (-2 SD)MedianBatas atas normal (+1 SD)
Lahir2,53,33,9
1 bulan3,44,55,1
2 bulan4,35,66,3
3 bulan5,06,47,2
4 bulan5,67,07,8
5 bulan6,07,58,4
6 bulan6,47,98,8
7 bulan6,78,39,2
8 bulan6,98,69,6
9 bulan7,18,99,9
10 bulan7,49,210,2
11 bulan7,69,410,5
12 bulan7,79,610,8
18 bulan8,810,912,2
24 bulan9,712,213,6

Tabel Berat Badan Bayi Perempuan (kg)

UsiaBatas bawah (-2 SD)MedianBatas atas normal (+1 SD)
Lahir2,43,23,7
1 bulan3,24,24,8
2 bulan3,95,15,8
3 bulan4,55,86,6
4 bulan5,06,47,3
5 bulan5,46,97,8
6 bulan5,77,38,2
7 bulan6,07,68,6
8 bulan6,37,99,0
9 bulan6,58,29,3
10 bulan6,78,59,6
11 bulan6,98,79,9
12 bulan7,08,910,1
18 bulan8,110,211,6
24 bulan9,011,513,0

Terlihat bahwa bayi perempuan secara umum sedikit lebih ringan daripada bayi laki-laki pada usia yang sama. Ini perbedaan normal yang sudah diperhitungkan dalam standar, jadi membandingkan berat anak perempuan dengan tabel anak laki-laki (atau sebaliknya) akan memberi kesimpulan yang keliru.

Cara Membaca Tabel dan Grafik Pertumbuhan Bayi

Tabel di atas berguna sebagai gambaran cepat, tetapi ada beberapa aturan main yang perlu Bunda pahami supaya pembacaannya tidak meleset.

Hitung usia dalam bulan penuh. Permenkes Nomor 2 Tahun 2020 menyebutkan bahwa umur yang digunakan pada standar antropometri dihitung dalam bulan penuh, dengan contoh bila umur anak 2 bulan 29 hari maka dihitung sebagai umur 2 bulan. Jangan dibulatkan ke atas.

Satu kali penimbangan tidak menceritakan banyak hal. IDAI menegaskan bahwa pengukuran yang dilakukan satu kali hanya menunjukkan ukuran pada saat itu dan tidak memberikan informasi perubahan yang terjadi. Karena itu yang dinilai adalah tren beberapa bulan, bukan angka tunggal.

Yang dinilai adalah arah grafik. Kemenkes RI menyatakan bahwa status pertumbuhan anak dinyatakan baik jika kenaikan berat dan panjang atau tinggi badan si kecil mengikuti standar grafik pertumbuhannya. Jadi bayi yang konsisten berada di jalur bawah tetapi terus naik mengikuti pola kurva umumnya lebih menenangkan daripada bayi yang tadinya di jalur atas lalu mendatar atau turun melewati garis-garis kurva.

Berat badan bukan satu-satunya ukuran. IDAI menjelaskan bahwa skrining pertumbuhan dilakukan dengan menimbang berat badan, mengukur panjang atau tinggi badan dan lingkar kepala, lalu diplotkan ke dalam kurva pertumbuhan. Berat badan yang dibaca sendirian tanpa panjang badan bisa menyesatkan, karena bayi yang panjang memang wajar lebih berat.

Kabar baiknya, alat pencatatnya sudah ada di tangan Bunda. IDAI mencatat bahwa KMS dan Buku KIA terbaru sudah berdasarkan z-score dari baku WHO 2006, sehingga grafik di Buku KIA memang sudah selaras dengan standar internasional. Untuk membantu mencatat dan melihat trennya dari waktu ke waktu, Bunda juga bisa memanfaatkan alat pantau tumbuh kembang sebagai pelengkap catatan di buku, bukan pengganti penilaian tenaga kesehatan.

Pola Kenaikan Berat Badan Bayi yang Wajar

Memahami pola umum kenaikan berat badan membantu Bunda membedakan mana yang wajar dan mana yang perlu ditanyakan.

Penurunan berat di minggu pertama itu lazim

Banyak orang tua kaget saat berat bayi baru lahir justru turun beberapa hari setelah persalinan. Menurut IDAI, pada minggu pertama kehidupan sering ditemukan penurunan berat badan sebesar 5 persen pada bayi yang mendapat susu formula dan 7 persen pada bayi yang mendapat ASI. IDAI juga mencatat bahwa bila terjadi masalah dalam pemberian ASI, penurunan berat badan sebesar 7 persen dapat terjadi pada 72 jam pertama kehidupan. Jadi penurunan ringan di awal adalah hal yang dikenal dalam ilmu kesehatan anak, tetapi tetap perlu dipantau tenaga kesehatan supaya penyebabnya bisa dinilai.

Dua kali lipat di 6 bulan, tiga kali lipat di 12 bulan

IDAI menyebutkan bahwa berdasarkan kurva pertumbuhan yang diterbitkan oleh National Center for Health Statistics (NCHS), berat badan bayi akan meningkat dua kali lipat dari berat lahir pada usia 6 bulan dan meningkat tiga kali lipat dari berat lahir pada usia 12 bulan. Ini pola umum yang berguna sebagai gambaran kasar, bukan patokan kaku. Bayi dengan berat lahir yang sudah besar, misalnya, tidak selalu mengikuti kelipatan ini persis.

Bayi ASI punya ritmenya sendiri

IDAI menjelaskan bahwa bayi yang mendapat ASI umumnya tumbuh dengan cepat pada 2 sampai 3 bulan pertama kehidupannya, tetapi lebih lambat dibanding bayi yang tidak mendapat ASI eksklusif. Pola melambat setelah beberapa bulan pertama ini normal dan bukan pertanda ASI Bunda kurang. Kemenkes RI menegaskan bahwa pada usia 0 sampai 6 bulan bayi tidak membutuhkan makanan lain kecuali ASI, dan kebutuhan gizi bayi dapat tercukupi dengan memberikan ASI saja hingga usia 6 bulan. Pemahaman lebih lengkapnya bisa dibaca di artikel ASI Eksklusif Adalah.

Setelah 6 bulan, kebutuhan gizi bayi tidak lagi bisa dipenuhi ASI saja, sehingga pemberian makanan pendamping yang tepat waktu dan bergizi menjadi penting untuk menopang kenaikan berat badan. Panduan memulainya ada di artikel MPASI 6 Bulan.

Catatan Bunda. Grafik yang mendatar beberapa minggu saat anak sedang sakit, tumbuh gigi, atau baru mulai banyak bergerak sering kali bersifat sementara. Yang perlu diperhatikan adalah bila:
  • Berat badan tidak naik selama dua bulan berturut-turut.
  • Grafik memotong garis kurva ke bawah, bukan sekadar melambat.
  • Berat badan turun, bukan hanya stagnan.
Kalau salah satu terjadi, bawa ke posyandu atau tenaga kesehatan untuk dinilai, jangan menunggu bulan berikutnya.

Cara Memantau Berat Badan Bayi di Rumah dan Posyandu

Memantau berat badan bayi tidak perlu rumit, tetapi perlu rutin dan konsisten.

Kemenkes RI menyatakan bahwa penimbangan dan pengukuran bayi dan balita harus dilakukan setiap bulan di posyandu, minimal 8 kali penimbangan dan 2 kali pengukuran dalam setahun. IDAI menganjurkan hal yang selaras: pemantauan pertumbuhan bayi di bawah 1 tahun dapat dilakukan setiap bulan, selanjutnya setiap 3 bulan sampai usia 5 tahun.

Kemenkes RI juga menyoroti bahwa kunjungan ke posyandu semakin berkurang saat anak mencapai usia 1 tahun atau setelah si kecil mendapatkan imunisasi. Padahal, hingga anak berusia 5 tahun, ibu tetap dianjurkan rutin membawanya ke puskesmas atau posyandu untuk memantau pertumbuhan. Jadi kalau kunjungan sempat bolong, ini bukan alasan untuk merasa bersalah, melainkan undangan untuk kembali memulai.

Beberapa hal yang membantu supaya pemantauan lebih akurat:

  1. Timbang di tempat dan alat yang konsisten. Kemenkes RI menganjurkan penimbangan dengan pengukuran antropometri sesuai standar, yaitu menggunakan timbangan bayi dan balita digital. Timbangan rumah yang berbeda-beda bisa memberi selisih yang membingungkan.
  2. Timbang dalam kondisi serupa. Usahakan pakaian dan waktu penimbangan mirip setiap bulan agar perbandingannya adil.
  3. Selalu catat di KMS atau Buku KIA. Kemenkes RI menyebutkan bahwa setelah penimbangan dan pengukuran, kader akan mengisi KMS untuk menentukan status gizi dan pertumbuhan anak.
  4. Ukur panjang badan juga, bukan hanya berat. Keduanya perlu dibaca bersama.
  5. Lihat tren, bukan satu titik. Bandingkan arah grafik beberapa bulan terakhir.

Kemenkes RI menjelaskan bahwa manfaat utama penimbangan di posyandu adalah memastikan bayi dan balita tumbuh sehat sesuai usianya, dan bila ditemukan kelainan dalam pertumbuhan, si kecil bisa segera mendapatkan perawatan yang tepat sejak dini. Pemantauan yang rutin inilah yang membuat masalah gizi, termasuk stunting, bisa terdeteksi sebelum terlanjur jauh.

Kalau ada angka di grafik yang membuat Bunda ragu, catat pertanyaannya dan bawa ke penimbangan berikutnya. Petugas posyandu terbiasa menjelaskan arti grafik itu, dan bertanya jauh lebih baik daripada memendam cemas sebulan penuh.

Faktor yang Memengaruhi Berat Badan Bayi

Kalau berat bayi Bunda berbeda dari anak tetangga yang seumuran, itu belum tentu masalah. Ada beberapa faktor yang membuat angkanya wajar berbeda.

Jenis kelamin. WHO menerbitkan tabel weight-for-age yang terpisah untuk anak laki-laki dan perempuan justru karena polanya memang berbeda. Seperti terlihat pada dua tabel di atas, pada usia 12 bulan median bayi laki-laki adalah 9,6 kg sedangkan bayi perempuan 8,9 kg. Perbedaan ini bawaan, bukan tanda salah satu kurang gizi.

Berat lahir sebagai titik awal. Pola kelipatan yang disebut IDAI, yaitu dua kali lipat di usia 6 bulan dan tiga kali lipat di usia 12 bulan, dihitung dari berat lahir masing-masing anak. Artinya, dua bayi sehat dengan berat lahir berbeda memang akan berjalan di jalur kurva yang berbeda pula, dan itu tidak menjadikan yang satu lebih baik dari yang lain.

Fase pertumbuhan. Kecepatan naiknya berat badan tidak rata sepanjang tahun pertama. IDAI mencatat bahwa bayi yang mendapat ASI umumnya tumbuh dengan cepat pada 2 sampai 3 bulan pertama kehidupannya, lalu lebih lambat setelahnya. Grafik yang melandai setelah beberapa bulan pertama karena itu sering kali mengikuti pola yang memang diharapkan.

Kecukupan asupan sesuai usia. Kemenkes RI menegaskan bahwa pada 6 bulan pertama bayi tidak perlu diberikan air putih atau makanan lainnya, karena kebutuhan gizinya dapat tercukupi dengan ASI saja. Setelah itu, makanan pendamping yang tepat waktu dan bergizi menjadi penopang berikutnya. Memberi air putih atau makanan terlalu dini justru berisiko menggeser porsi ASI yang seharusnya masuk.

Kondisi kesehatan anak. Kemenkes RI menyebutkan bahwa bila kenaikan berat badan tidak adekuat, langkah pertamanya adalah membawa anak ke dokter atau bidan untuk penapisan penyakit. Ini menunjukkan bahwa berat badan yang sulit naik kadang merupakan gejala dari sesuatu yang lain, bukan semata soal jumlah makanan yang masuk.

Karena faktornya beragam, membandingkan berat bayi dengan anak lain jarang membantu. Yang jauh lebih bermakna adalah membandingkan bayi Bunda dengan dirinya sendiri bulan lalu, lewat grafik pertumbuhannya sendiri.

Kapan Perlu Konsultasi ke Dokter atau Bidan

Sebagian besar variasi berat badan bayi masih dalam batas wajar. Namun ada kondisi yang sebaiknya tidak ditunda dan langsung dibicarakan dengan bidan, dokter, atau petugas puskesmas.

Segera konsultasikan bila Bunda mendapati salah satu dari hal berikut:

  • Berat badan bayi tidak naik atau justru turun pada penimbangan berturut-turut.
  • Grafik pertumbuhan di Buku KIA memotong garis kurva ke bawah atau berada di bawah garis merah.
  • Berat badan bayi berada di bawah -2 SD pada tabel sesuai usia dan jenis kelaminnya.
  • Bayi tampak lemas, malas menyusu, atau jumlah popok basahnya jauh berkurang.
  • Bayi sering sakit berulang atau butuh waktu lama untuk pulih.
  • Ada kekhawatiran soal perkembangan lain, misalnya belum mencapai kemampuan yang biasanya muncul di usianya.

Kemenkes RI memberi gambaran tentang tindak lanjut bila hasil penimbangan menunjukkan kenaikan berat badan yang tidak adekuat: anak dibawa ke dokter atau bidan untuk penapisan penyakit, diberi konseling dan suplementasi gizi bila ditemukan masalah, lalu dipantau setiap minggu. Bila tidak ada perbaikan, pemeriksaan lanjutan sampai rujukan ke rumah sakit dapat dipertimbangkan. Rangkaian ini menunjukkan bahwa berat badan yang seret bukan vonis, melainkan pintu masuk untuk mencari sebabnya.

Perhatian. Angka pada tabel di artikel ini adalah rujukan populasi dari WHO, bukan alat diagnosis. Penilaian status gizi anak dilakukan tenaga kesehatan dengan membandingkan hasil pengukuran berat badan dan panjang atau tinggi badan terhadap Standar Antropometri Anak, dan mempertimbangkan riwayat kesehatan anak secara utuh. Jangan mengambil kesimpulan sendiri di rumah, dan jangan memberi suplemen atau mengubah pola makan bayi hanya berdasarkan pembacaan tabel. Konsultasikan dengan dokter atau bidan untuk keputusan yang sesuai kondisi anak Anda.

Perlu ditegaskan juga, membawa anak untuk diperiksa bukan tanda kegagalan sebagai orang tua. IDAI menyampaikan bahwa tujuan pemantauan adalah mendeteksi dini penyimpangan pertumbuhan, penyimpangan perkembangan, serta penyimpangan mental emosional anak agar dapat segera ditindaklanjuti. Semakin awal terdeteksi, semakin ringan penanganannya.

Yang paling melegakan untuk diingat: berat badan bayi normal punya rentang yang cukup lebar, dan bayi Bunda tidak perlu menyamai anak tetangga atau angka median untuk disebut sehat. Selama grafiknya naik mengikuti pola kurvanya sendiri, penimbangannya rutin, dan gizinya terpenuhi sesuai usianya, Bunda sudah menempuh langkah yang paling penting. Untuk menelusuri topik terkait lebih jauh, silakan kunjungi kumpulan artikel tumbuh kembang di Asuh Anak.

Sumber

Artikel ini disusun sebagai edukasi dan bukan pengganti konsultasi langsung dengan tenaga kesehatan. Angka pada tabel merupakan rujukan standar populasi, bukan alat diagnosis mandiri. Untuk penilaian pertumbuhan, diagnosis, dan penanganan yang sesuai dengan kondisi anak Anda, silakan berkonsultasi dengan bidan, dokter, atau petugas kesehatan terdekat.

Pertanyaan yang sering muncul

Berapa berat badan bayi normal usia 6 bulan?
Berdasarkan tabel WHO Child Growth Standards, bayi laki-laki usia 6 bulan memiliki berat median 7,9 kg, sedangkan bayi perempuan 7,3 kg. Mengacu kategori Permenkes Nomor 2 Tahun 2020, berat badan dinilai normal bila berada pada rentang -2 SD sampai +1 SD, yaitu sekitar 6,4 kg sampai 8,8 kg untuk laki-laki dan 5,7 kg sampai 8,2 kg untuk perempuan. Angka ini rujukan populasi, jadi penilaian akhir tetap dilakukan tenaga kesehatan lewat grafik pertumbuhan.
Apakah berat badan bayi di bawah median berarti tidak normal?
Tidak. Median hanyalah titik tengah sebaran berat badan anak sehat, bukan target yang harus dicapai setiap bayi. Menurut Permenkes Nomor 2 Tahun 2020, berat badan menurut umur masih dikategorikan normal selama berada di rentang -2 SD sampai +1 SD. Yang lebih penting daripada satu angka adalah arah tren grafik pertumbuhan dari bulan ke bulan.
Kenapa berat badan bayi turun di minggu pertama setelah lahir?
Menurut IDAI, pada minggu pertama kehidupan sering ditemukan penurunan berat badan sebesar 5 persen pada bayi yang mendapat susu formula dan 7 persen pada bayi yang mendapat ASI. Penurunan ini umum terjadi dan biasanya diikuti kenaikan kembali. Meski begitu, penurunan berat badan pada bayi baru lahir tetap perlu dipantau tenaga kesehatan agar penyebabnya dapat dinilai dengan tepat.
Kapan berat badan bayi menjadi dua kali lipat berat lahirnya?
IDAI menyebutkan bahwa berdasarkan kurva pertumbuhan yang diterbitkan National Center for Health Statistics (NCHS), berat badan bayi akan meningkat dua kali lipat dari berat lahir pada usia 6 bulan dan tiga kali lipat pada usia 12 bulan. Ini adalah pola umum, bukan patokan kaku yang harus dipenuhi persis. Setiap bayi punya ritme pertumbuhan yang sedikit berbeda.
Berapa kali bayi perlu ditimbang dalam setahun?
Menurut Kemenkes RI, penimbangan dan pengukuran bayi dan balita harus dilakukan setiap bulan di posyandu, minimal 8 kali penimbangan dan 2 kali pengukuran dalam setahun. IDAI juga menganjurkan pemantauan pertumbuhan bayi di bawah 1 tahun dilakukan setiap bulan, lalu setiap 3 bulan sampai usia 5 tahun. Hasilnya dicatat di KMS atau Buku KIA agar trennya terlihat.
Apakah bayi yang minum ASI eksklusif beratnya lebih ringan?
Menurut IDAI, bayi yang mendapat ASI umumnya tumbuh dengan cepat pada 2 sampai 3 bulan pertama kehidupannya, tetapi lebih lambat dibanding bayi yang tidak mendapat ASI eksklusif. Pola ini normal dan bukan tanda ASI kurang. Standar WHO sendiri dibangun dari data anak yang mendapat ASI, sehingga grafik WHO justru sesuai untuk bayi ASI.
Bagaimana cara menghitung usia bayi untuk membaca tabel berat badan?
Permenkes Nomor 2 Tahun 2020 menyebutkan bahwa umur yang digunakan pada standar antropometri adalah umur yang dihitung dalam bulan penuh. Sebagai contoh, bila umur anak 2 bulan 29 hari maka dihitung sebagai umur 2 bulan, bukan dibulatkan ke atas menjadi 3 bulan. Salah menghitung usia bisa membuat pembacaan tabel meleset.

Konten ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Untuk keputusan medis, hubungi dokter atau bidan Anda.

Punya pertanyaan seputar tumbuh kembang?

Tanya lewat WhatsApp