Buku KIA: Fungsi, Cara Mengisi, dan Membacanya
Oleh Tim Redaksi Asuh Anak· 12 menit baca

Buku KIA adalah Buku Kesehatan Ibu dan Anak terbitan Kementerian Kesehatan RI yang menemani Bunda sejak masa kehamilan sampai anak berumur 6 tahun. Menurut Buku KIA edisi 2024, buku ini membantu ibu memantau kondisi kehamilan serta kesehatan bayi dan balita, sekaligus menjadi tempat mencatat setiap pelayanan kesehatan yang diterima. Banyak keluarga menganggapnya sekadar buku pink yang dibawa ke posyandu lalu ditumpuk di lemari, padahal isinya adalah rekam jejak kesehatan anak yang paling lengkap dan paling mudah Bunda akses sendiri. Artikel ini membahas fungsi, isi, cara mengisi, dan cara membaca Buku KIA dengan bahasa yang sederhana, supaya buku ini benar-benar bekerja untuk keluarga Anda.
Apa Itu Buku KIA?
Buku KIA adalah buku pegangan resmi yang diberikan kepada setiap ibu hamil dan disimpan sendiri oleh keluarga di rumah. Kemenkes RI lewat laman Ayo Sehat menyebut Buku KIA sebagai hal yang penting dimiliki oleh setiap ibu hamil untuk memantau kesehatan ibu, bayi, dan anak sampai usia 6 tahun. Sampul Buku KIA edisi 2024 sendiri memuat pesan yang sangat jelas: bawa buku ini setiap kali mengunjungi Posyandu, fasilitas kesehatan, kelas ibu, BKB, dan PAUD, serta gunakan dari masa kehamilan sampai anak berumur 6 tahun.
Yang membuat Buku KIA istimewa adalah posisinya sebagai catatan yang dipegang keluarga, bukan disimpan di fasilitas kesehatan. WHO merekomendasikan penggunaan home-based records atau catatan kesehatan berbasis rumah untuk melengkapi catatan di fasilitas kesehatan dalam perawatan ibu hamil, ibu, bayi baru lahir, dan anak. Menurut WHO, catatan semacam ini membantu memperbaiki perilaku mencari layanan kesehatan, keterlibatan dan dukungan ayah di rumah, praktik perawatan ibu dan anak, pemberian makan bayi dan anak, serta komunikasi antara tenaga kesehatan dengan ibu, orang tua, dan pengasuh. Buku KIA adalah wujud rekomendasi itu di Indonesia.
Satu hal teknis yang sering ditanyakan: berapa buku yang didapat satu ibu. Buku KIA edisi 2024 menjelaskan bahwa setiap ibu mendapat satu Buku KIA untuk kehamilan tunggal, dan tambahan satu buku lagi untuk anak yang lain pada kehamilan kembar. Jadi bila Bunda mengandung anak kembar, catatan tiap anak tetap punya bukunya sendiri dan tidak tercampur.
Fungsi Buku KIA yang Sering Diremehkan
Kemenkes RI menjelaskan bahwa Buku KIA menunjang pelayanan kesehatan ibu dan anak sebagai media komunikasi, informasi, dan edukasi, serta sebagai pencatatan yang efektif dan efisien. Dari penjelasan itu, ada beberapa fungsi yang bisa kita pilah agar lebih mudah dipahami.
- Sebagai catatan riwayat. Buku KIA merekam pemeriksaan kehamilan, kelahiran, imunisasi, penimbangan, dan pemantauan perkembangan anak dalam satu tempat. Menurut Kemenkes RI, catatan lengkap ini dapat menjadi bukti pelayanan kesehatan yang sudah diterima.
- Sebagai media edukasi. Buku ini tidak hanya berisi tabel kosong, tetapi juga panduan praktis mulai dari perawatan sehari-hari ibu hamil, tanda bahaya, menyusui, sampai stimulasi anak.
- Sebagai alat komunikasi dengan tenaga kesehatan. Ketika Bunda pindah faskes, berganti bidan, atau dirujuk ke rumah sakit, Buku KIA membuat petugas baru bisa langsung membaca riwayat sebelumnya tanpa menebak.
- Sebagai pengingat jadwal. Jadwal imunisasi, penimbangan bulanan, dan pemeriksaan kehamilan semuanya punya tempatnya sendiri di buku ini.
Sayangnya, Kemenkes RI sendiri mencatat bahwa pemanfaatan Buku KIA bisa dibilang masih minim. Banyak keluarga membawanya ke posyandu hanya untuk diisi petugas, lalu tidak pernah membukanya lagi di rumah. Padahal Buku KIA edisi 2024 secara eksplisit meminta ibu dan keluarga untuk membaca dan memahami isi Buku KIA, bukan sekadar membawanya. Buku ini juga meminta ayah turut mendukung ibu dalam memahami dan melakukan hal-hal di dalam buku, jadi ini memang dirancang sebagai pekerjaan bersama, bukan tugas ibu seorang diri.
Untuk gambaran yang lebih luas tentang apa saja yang perlu dipantau selama mengandung, Bunda bisa membaca panduan kehamilan sebagai pendamping Buku KIA di rumah.
Isi Buku KIA: Perjalanan Ibu dan Perjalanan Anak
Buku KIA edisi 2024 disusun mengikuti alur waktu, bukan alur teori, sehingga cukup mudah diikuti. Daftar isinya membagi buku menjadi beberapa bagian besar.
Bagian pertama adalah Perjalanan Ibu, yang mencakup Perjalanan Menjadi Seorang Ibu, Kehamilan, Melahirkan, Setelah Melahirkan, dan Menyusui. Bagian kedua adalah Perjalanan Anak, yang dipecah menurut usia: 0 sampai 6 bulan, 6 sampai 12 bulan, 12 sampai 24 bulan, dan 2 sampai 6 tahun. Setelah itu ada bagian Informasi Umum, lalu bagian Pengukuran dan Pencatatan oleh Tenaga Kesehatan yang terbagi menjadi Pencatatan Ibu dan Pencatatan Anak.
Pembagian ini penting dipahami karena menentukan siapa yang mengisi bagian mana. Bagian perjalanan ibu dan anak banyak berisi edukasi dan pemantauan mandiri, sedangkan bagian pengukuran dan pencatatan memang porsinya tenaga kesehatan.
Bagian kehamilan
Di bagian kehamilan, Buku KIA edisi 2024 menegaskan agar ibu memeriksakan kehamilan ke dokter atau bidan paling sedikit 6 kali. Buku ini juga mencantumkan daftar layanan kesehatan gratis selama kehamilan, antara lain pemeriksaan kehamilan oleh dokter, bidan, dan tenaga kesehatan, pemberian tablet tambah darah atau multivitamin bagi ibu hamil, pemeriksaan status gizi, pemeriksaan tekanan darah, pemeriksaan laboratorium, skrining kesehatan jiwa, pemeriksaan kondisi bayi, imunisasi tetanus, USG 2 kali, dan kelas ibu hamil.
Buku KIA juga menjelaskan alasan di balik anjuran itu, misalnya agar bayi lahir cukup bulan pada usia kehamilan 38 sampai 40 minggu dengan berat badan lahir paling sedikit 2,5 kg dan panjang badan paling sedikit 48 cm. Bagian ini juga menyinggung 1000 Hari Pertama Kehidupan, yang menurut Buku KIA terdiri dari 270 hari selama bayi berada dalam kandungan ibu dan 730 hari atau dua tahun pertama kehidupan anak setelah dilahirkan. Buku ini menyebutkan bahwa kekurangan asupan gizi dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak, termasuk memiliki tubuh pendek atau stunting, sehingga penting menjaga kesehatan sejak hamil untuk mencegah stunting. Bunda bisa mendalami topik ini lewat artikel stunting adalah.
Bagian anak
Di bagian anak, Buku KIA memuat lembar pemantauan kondisi bayi, penanda perkembangan sesuai usia, catatan imunisasi, serta Kartu Menuju Sehat. Buku KIA edisi 2024 mengingatkan agar anak dibawa ke Posyandu atau fasilitas kesehatan setiap bulan untuk memantau pertumbuhan, perkembangan sesuai jadwal, pelayanan imunisasi, vitamin A, dan obat cacing.
Cara Mengisi Buku KIA
Inilah bagian yang paling sering membuat orang tua ragu. Kabar baiknya, Buku KIA edisi 2024 sudah memberi petunjuk yang cukup gamblang tentang siapa mengisi apa.
Aturan warna. Buku KIA meminta ibu dan keluarga untuk memperhatikan dan mengisi pemantauan kesehatan secara mandiri pada bagian yang berwarna kuning. Jadi bila Bunda menemukan halaman berwarna kuning, itu adalah bagian yang memang menunggu diisi oleh Bunda sendiri di rumah, bukan oleh petugas.
Daftar halaman wajib. Buku KIA edisi 2024 bahkan mencantumkan daftarnya di halaman awal. Lembar yang harus diisi untuk ibu ada di halaman 1, 7, 10 sampai 13, 15, 18, 24, 28 sampai 31, 33, 86, dan 100. Sementara lembar yang harus diisi untuk anak ada di halaman 40, 42 sampai 47, 50, 52 sampai 55, 61 sampai 63, 66 sampai 69, 74 sampai 77, 79, 81 sampai 83, 111, 151, dan 152. Menandai halaman-halaman ini dengan sticky note di hari pertama menerima buku akan sangat menghemat waktu Bunda nantinya.
Halaman identitas. Bagian identitas diisi oleh ibu dan memuat data seperti nama, NIK, nomor JKN, fasilitas kesehatan tingkat pertama, fasilitas kesehatan rujukan, tempat dan tanggal lahir, alamat, telepon, sampai golongan darah. Mengisinya lengkap sejak awal membuat proses di faskes jauh lebih cepat, terutama dalam situasi darurat.
Tabel centang. Banyak lembar pemantauan di Buku KIA menggunakan sistem centang yang sederhana. Untuk lembar pemantauan mingguan bayi, misalnya, Buku KIA meminta ibu mengecek kondisi bayi setiap minggu dan memberi tanda centang bila bayi mengalami kondisi yang tercantum dalam kotak. Untuk pemantauan bulanan berlaku pola yang sama, dan Buku KIA menambahkan pesan agar segera ke Puskesmas untuk periksa bila ada kondisi yang tercentang. Pada penanda perkembangan anak, Bunda memberi tanda centang pada kolom Ya atau Tidak sesuai kemampuan yang sudah atau belum dikuasai anak.
Tabel tablet tambah darah. Buku KIA menyediakan tabel khusus untuk mencatat konsumsi tablet tambah darah atau multivitamin selama kehamilan. Menurut Buku KIA edisi 2024, pendamping menuliskan bulan dan tahun, lalu memberikan tanda centang pada kotak sesuai tanggal ibu minum. Buku ini juga menyebutkan bahwa tablet tambah darah sebaiknya tidak diminum bersama teh, kopi, susu, dan obat maag karena dapat menghambat penyerapan zat besi. Perlu ditegaskan, Buku KIA sendiri mengingatkan agar ibu hamil tidak minum obat yang tidak diresepkan oleh dokter. Keputusan mengenai obat, suplemen, dan dosisnya selama kehamilan harus melalui konsultasi dengan dokter atau bidan, bukan berdasarkan artikel di internet, termasuk artikel ini. Bila Bunda ingin memahami jenis suplemen kehamilan secara umum, artikel vitamin ibu hamil bisa menjadi bacaan awal sebelum berdiskusi dengan tenaga kesehatan.
- Bagian berwarna kuning: diisi mandiri oleh ibu dan keluarga.
- Halaman identitas: diisi ibu, lengkapi sejak hari pertama.
- Lembar pemantauan: cukup beri tanda centang sesuai kondisi.
- Grafik pertumbuhan dan pencatatan pemeriksaan: diisi kader dan tenaga kesehatan.
Cara Membaca Buku KIA
Mengisi saja tidak cukup bila Bunda tidak tahu cara membacanya. Ada tiga bagian yang paling sering dipakai sehari-hari.
Kartu Menuju Sehat. Buku KIA edisi 2024 memuat KMS yang dipisahkan menurut jenis kelamin dan usia, yaitu untuk anak laki-laki 0 sampai 2 tahun dan 2 sampai 5 tahun, serta untuk anak perempuan pada rentang usia yang sama. Buku KIA mencatat bahwa pengisian KMS dilakukan oleh kader dan didampingi oleh tenaga kesehatan. Yang perlu Bunda perhatikan bukan satu titik pada satu bulan, melainkan arah garis dari bulan ke bulan. Buku KIA bahkan menyebut adanya Kenaikan Berat Badan Minimal yang digunakan bila ada keraguan dalam menginterpretasikan arah kurva pertumbuhan. Bila arah kurva terasa mendatar atau menurun, itulah saatnya bertanya kepada petugas, bukan menunggu bulan berikutnya. Untuk memantau tren di rumah, Bunda juga bisa memakai alat pantau tumbuh kembang sebagai pelengkap, bukan pengganti pengukuran di posyandu.
Penanda perkembangan. Di setiap rentang usia, Buku KIA menyediakan daftar penanda perkembangan anak dengan kolom Ya dan Tidak, misalnya apakah bayi dapat berjalan dengan dituntun. Daftar ini membantu Bunda mengenali keterlambatan lebih awal. Cara membacanya sederhana: bila ada penanda yang belum tercapai, itu bukan vonis, melainkan sinyal untuk dibicarakan dengan tenaga kesehatan. Penjelasan lebih lengkap soal tahapan usia bisa Bunda baca di artikel tumbuh kembang anak.
Catatan imunisasi. Buku KIA memuat halaman khusus imunisasi beserta manfaat tiap jenisnya, misalnya BCG untuk mencegah penyakit TBC, polio untuk mencegah polio yang menyebabkan lumpuh layu, dan JE untuk mencegah anak dari penyakit radang otak. Halaman ini adalah rujukan pertama Bunda saat ragu apakah suatu imunisasi sudah diberikan atau belum. Untuk gambaran jadwalnya, artikel jadwal imunisasi bayi dapat membantu, tetapi catatan di Buku KIA dan konfirmasi petugas tetap menjadi acuan utama.
Kapan Harus ke Dokter atau Posyandu
Buku KIA bukan alat diagnosis, melainkan alat pemantauan. Karena itu, bagian tanda bahaya di dalamnya justru dirancang supaya Bunda tahu kapan harus berhenti mencatat dan segera mencari bantuan.
Untuk ibu hamil, Buku KIA edisi 2024 menyebutkan bahwa bila mengalami tanda bahaya pada masa kehamilan, ibu hamil harus segera dibawa periksa ke Puskesmas atau Rumah Sakit. Beberapa tanda bahaya yang dicantumkan pada trimester pertama antara lain demam tinggi, nyeri perut hebat, mual dan muntah hebat, perdarahan, serta sakit saat kencing atau keluar keputihan atau gatal di daerah kemaluan. Buku KIA juga mencantumkan tanda bahaya untuk trimester kedua dan ketiga di halaman tersendiri, jadi sebaiknya Bunda menandai halaman-halaman itu sejak awal.
Untuk anak, Buku KIA menyediakan halaman tanda bahaya pada balita usia 29 hari sampai 5 tahun, dengan pesan yang tegas: jika bayi mengalami tanda bahaya, segera periksa ke bidan, dokter, atau perawat. Pada bayi baru lahir, Buku KIA juga mencantumkan kondisi yang perlu diwaspadai seperti kejang, kulit dan mata kuning, serta tubuh yang lemah. Pembahasan yang lebih menyeluruh soal perawatan minggu-minggu pertama ada di artikel bayi baru lahir.
Mitos dan Kesalahan Umum Seputar Buku KIA
Beberapa anggapan keliru membuat Buku KIA tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Meluruskannya membantu keluarga mendapat manfaat penuh dari buku ini.
- Mitos: Buku KIA hanya untuk dibawa ke posyandu. Faktanya, Buku KIA edisi 2024 meminta ibu dan keluarga membaca dan memahami isinya, serta mengisi bagian pemantauan mandiri di rumah. Membawanya saja tanpa membacanya berarti melewatkan sebagian besar isinya.
- Mitos: Buku KIA selesai dipakai setelah melahirkan. Faktanya, sampul Buku KIA menyebut buku ini digunakan dari masa kehamilan sampai anak berumur 6 tahun, dan daftar isinya memang memuat bagian anak sampai rentang usia 2 sampai 6 tahun.
- Mitos: mengisi Buku KIA adalah tugas ibu sendirian. Faktanya, Buku KIA meminta ayah turut mendukung ibu dalam memahami dan melakukan hal-hal di dalam buku. Kemenkes RI juga menempatkan kader dan tenaga kesehatan sebagai pihak yang membantu ibu memahami isi dan cara penggunaan Buku KIA, jadi bertanya kepada mereka memang bagian dari sistemnya.
- Mitos: yang penting grafiknya naik, isi lainnya tidak penting. Faktanya, Buku KIA memuat penanda perkembangan, catatan imunisasi, dan tanda bahaya yang sama pentingnya dengan grafik berat badan. Anak bisa saja naik berat badannya tetapi perlu perhatian pada aspek perkembangan lain.
Bila Bunda menemukan informasi seputar Buku KIA yang meragukan, cara paling aman adalah menanyakannya langsung ke bidan atau petugas puskesmas, karena penjelasan mereka mengacu pada pedoman resmi. Bunda juga bisa menelusuri topik terkait di kumpulan artikel tumbuh kembang Asuh Anak.
Pada akhirnya, Buku KIA adalah salah satu alat paling sederhana sekaligus paling berharga yang dimiliki keluarga Indonesia. Ia gratis, ada di tangan Bunda, dan memuat hampir semua hal yang perlu dipantau sejak kehamilan sampai anak masuk usia sekolah. Yang dibutuhkan hanyalah kebiasaan kecil: membawanya setiap kali berkunjung ke fasilitas kesehatan, mengisi bagian kuningnya, dan membukanya sesekali di rumah. Tidak perlu sempurna sejak hari pertama, dan tidak perlu merasa bersalah bila selama ini buku itu jarang dibuka. Mulai dari hari ini pun tetap bermanfaat.
Sumber
- Kemenkes RI - Buku Kesehatan Ibu dan Anak, Cetakan Tahun 2024 (PDF)
- Kemenkes RI - Ayo Sehat: Buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak)
- Kemenkes RI - Seberapa Penting Buku KIA?
- WHO - Strengthening home-based records implementation
Artikel ini disusun sebagai edukasi dan bukan pengganti konsultasi langsung dengan tenaga kesehatan. Keputusan mengenai obat, suplemen, dan penanganan kondisi kehamilan maupun kesehatan anak harus dibuat bersama dokter atau bidan yang memeriksa langsung. Untuk diagnosis dan penanganan yang sesuai dengan kondisi Anda dan anak Anda, silakan berkonsultasi dengan bidan, dokter, atau petugas kesehatan terdekat.
Pertanyaan yang sering muncul
Buku KIA itu buku apa?
Buku KIA dipakai sampai anak umur berapa?
Apakah ibu hamil kembar mendapat dua Buku KIA?
Bagian mana dari Buku KIA yang diisi sendiri oleh ibu?
Apa yang terjadi kalau Buku KIA tidak dibawa saat kontrol?
Buku KIA hilang atau rusak, harus bagaimana?
Apakah Buku KIA sama dengan KMS?
Konten ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Untuk keputusan medis, hubungi dokter atau bidan Anda.
Punya pertanyaan seputar tumbuh kembang?
Tanya lewat WhatsApp

