Cara Berhubungan Intim yang Tidak Mengakibatkan Kehamilan: Angka Efektivitas Tiap Metode
Oleh Tim Redaksi Asuh AnakKebijakan Editorial· 13 menit baca· Terakhir diperbarui

Pertanyaan tentang cara berhubungan intim yang tidak mengakibatkan kehamilan paling jujur dijawab begini: tidak ada teknik, posisi, atau kebiasaan tertentu saat berhubungan yang dengan sendirinya mencegah kehamilan. Yang menentukan adalah metode kontrasepsi apa yang dipakai dan seberapa konsisten pemakaiannya. WHO menyusun daftar metode kontrasepsi beserta angka efektivitasnya, dan angka itulah yang seharusnya menjadi dasar percakapan, bukan kabar yang beredar dari mulut ke mulut. Halaman ini merangkum daftar tersebut apa adanya, menjelaskan cara membacanya, dan menunjukkan mengapa dua metode yang terdengar sama-sama "alami" bisa punya risiko yang sangat berbeda.
Halaman ini adalah edukasi kesehatan reproduksi, bukan anjuran untuk memakai atau meninggalkan metode apa pun. Pemilihan kontrasepsi adalah keputusan medis sekaligus pribadi yang melibatkan kondisi kesehatan, keyakinan, dan kesepakatan pasangan. Yang bisa kami lakukan di sini adalah menyajikan angkanya lengkap dengan sumbernya, supaya percakapan dengan bidan atau dokter berjalan dari titik yang lebih terang.
Yang Menentukan Bukan Caranya, Melainkan Metodenya
Kata "cara" dalam pertanyaan ini sering dipahami sebagai teknik saat berhubungan, misalnya posisi tertentu, membatasi durasi, atau melakukan sesuatu sesudahnya. Padahal seluruh isi daftar WHO tidak memuat satu pun teknik semacam itu. Yang dimuat adalah metode kontrasepsi, yaitu hal yang bekerja lewat mekanisme yang jelas: mencegah pelepasan sel telur, mengentalkan lendir leher rahim, menghalangi pertemuan sperma dan sel telur, atau menjaga sperma tetap berada di luar tubuh perempuan.
Perbedaannya penting karena menyangkut apa yang bisa diandalkan. Sebuah metode punya angka karena ia diuji, sedangkan sebuah kebiasaan tidak punya angka karena tidak ada mekanisme yang bisa diukur. Pertanyaan mengenai rute mana yang secara medis benar-benar bisa menyebabkan kehamilan dan mana yang tidak sudah kami bahas terpisah di penyebab kehamilan selain bersetubuh, jadi halaman ini fokus pada sisi sebaliknya, yaitu seberapa besar peluang kehamilan tetap terjadi pada tiap metode pencegahan.
Kemenkes RI menempatkan minimnya pengetahuan sebagai bagian dari masalah. Dalam pembahasan kesehatan reproduksi remaja, Kemenkes RI mencatat bahwa kebanyakan remaja tidak memiliki pengetahuan yang akurat mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas, serta tidak memiliki akses terhadap informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi, termasuk kontrasepsi. Kemenkes RI juga menyebut informasi yang membingungkan mengenai fungsi dan proses reproduksi sebagai salah satu faktor yang berhubungan langsung dengan masalah kesehatan reproduksi. Menyajikan angka yang benar adalah bagian dari menutup celah itu.
- Tidak ada teknik berhubungan yang punya angka efektivitas. Yang punya angka adalah metode kontrasepsi.
- Tiap metode punya dua angka, dan angka yang lebih relevan untuk kebanyakan orang adalah angka pemakaian sehari-hari.
- Angka WHO adalah data, bukan anjuran. Pemilihan metode tetap perlu dibicarakan dengan tenaga kesehatan.
Dua Angka Efektivitas yang Perlu Dibaca Bersamaan
WHO menyajikan efektivitas kontrasepsi dalam satuan jumlah kehamilan per 100 perempuan per tahun, dan memberi dua kolom untuk tiap metode. Kolom pertama adalah hasil pada pemakaian yang konsisten dan benar. Kolom kedua adalah hasil pada pemakaian sehari-hari, yaitu sebagaimana orang pada umumnya memakainya, lengkap dengan lupa minum, telat suntik, salah pasang, dan momen yang tidak sesuai rencana.
Cara membacanya sederhana. Angka 7 berarti dari 100 perempuan yang memakai metode itu selama setahun, sekitar 7 orang tetap hamil. Semakin kecil angkanya, semakin kecil peluang kehamilan. Yang menarik justru selisih antara dua kolom itu, karena selisih itulah ukuran seberapa besar sebuah metode bergantung pada disiplin pemakainya.
Perhatikan dua contoh ekstrem. Implan punya angka 0,1 pada kedua kolom, artinya hasilnya nyaris tidak berubah entah pemakainya disiplin atau tidak, karena setelah dipasang tidak ada yang perlu diingat setiap hari. Sebaliknya, pil kombinasi punya angka 0,3 pada pemakaian sempurna tetapi 7 pada pemakaian sehari-hari, jadi hasilnya berlipat lebih dari dua puluh kali karena satu hal saja: manusia lupa. Metode yang tidak menuntut tindakan harian cenderung punya selisih kecil, dan metode yang menuntut keputusan di setiap kesempatan cenderung punya selisih besar.
Kesimpulan praktis dari pola itu cukup sederhana. Bagi orang yang tahu dirinya sulit rutin, memilih metode dengan angka pemakaian sempurna yang paling kecil belum tentu menolong, karena yang akan dialaminya adalah angka di kolom kedua. Sebaliknya, metode yang angkanya terlihat biasa saja bisa memberi hasil yang jauh lebih baik bila memang cocok dengan gaya hidup pemakainya. Karena itu, dalam percakapan dengan bidan atau dokter, pertanyaan tentang kebiasaan sehari-hari sama pentingnya dengan pertanyaan tentang riwayat kesehatan.
Perlu ditambahkan bahwa angka ini adalah rata-rata pada populasi, bukan ramalan untuk satu orang. Peluang kehamilan seseorang dipengaruhi usia, kondisi kesehatan, obat lain yang sedang diminum, dan seberapa sering berhubungan. Karena itu tabel di bawah berguna untuk membandingkan metode satu sama lain, bukan untuk menghitung nasib sendiri.
Tabel Efektivitas Metode Kontrasepsi Menurut WHO
Tabel di bawah ini disusun ulang dari dokumen WHO berjudul Mechanisms of action and effectiveness of contraceptive methods, diurutkan dari peluang kehamilan terkecil ke terbesar pada pemakaian sehari-hari. Semua angka adalah jumlah kehamilan per 100 perempuan per tahun, kecuali pada metode amenore laktasi yang dihitung dalam enam bulan.
| Metode | Pemakaian konsisten dan benar | Pemakaian sehari-hari |
|---|---|---|
| Implan | 0,1 | 0,1 |
| Vasektomi (sterilisasi pria) | 0,1 | 0,15 |
| Tubektomi (sterilisasi perempuan) | 0,5 | 0,5 |
| IUD levonorgestrel | 0,5 | 0,7 |
| IUD tembaga | 0,6 | 0,8 |
| Metode amenore laktasi | 0,9 dalam 6 bulan | 2 dalam 6 bulan |
| Metode simptotermal | kurang dari 1 | 2 |
| Metode suhu basal tubuh | angka andal tidak tersedia | 2 |
| Suntik kombinasi bulanan | 0,05 | 3 |
| Suntik progestogen | 0,2 | 4 |
| Pil kombinasi | 0,3 | 7 |
| Pil progestin atau minipil | 0,3 | 7 |
| Koyo kombinasi | 0,3 | 7 |
| Cincin vagina kombinasi | 0,3 | 7 |
| Metode Hari Standar | 5 | 12 |
| Kondom pria | 2 | 13 |
| Metode TwoDay | 4 | 14 |
| Metode kalender atau pantang berkala | angka andal tidak tersedia | 15 |
| Senggama terputus | 4 | 20 |
| Kondom perempuan | 5 | 21 |
WHO juga mencantumkan pil kontrasepsi darurat dengan angkanya sendiri, tetapi pil itu memang bukan metode rutin dan pemakaiannya perlu dibicarakan dengan tenaga kesehatan, sehingga tidak dimasukkan ke urutan di atas.
Ada satu hal yang perlu dijaga saat membaca tabel ini. Angka terkecil belum tentu pilihan terbaik untuk semua orang, karena metode dengan angka rendah umumnya berupa tindakan medis atau alat yang perlu dipasang tenaga terlatih, punya pertimbangan kesehatan tersendiri, dan tidak selalu cocok dengan rencana keluarga seseorang. WHO sendiri menyebutkan bahwa pilihan metode yang tepat bergantung pada kondisi kesehatan, kebutuhan, dan preferensi masing-masing individu, dan saran tenaga kesehatan membantu menentukan metode yang sesuai.
Metode Tanpa Alat: Senggama Terputus, Kalender, dan Menyusui
Tiga metode ini paling sering disebut ketika orang mencari cara yang tidak melibatkan obat atau alat, jadi angkanya layak dibaca pelan-pelan.
Senggama terputus. WHO menjelaskan cara kerjanya sebagai upaya menjaga sperma tetap berada di luar tubuh perempuan sehingga pembuahan tidak terjadi. Perhatikan kata "upaya". Angkanya 4 kehamilan per 100 perempuan per tahun bila dilakukan konsisten dan benar, tetapi melompat menjadi 20 per 100 pada pemakaian sehari-hari. Satu dari lima pasangan yang mengandalkan cara ini tetap hamil dalam setahun, dan selisih dari 4 ke 20 adalah selisih antara teori dan kenyataan.
Metode berbasis kesadaran masa subur. Kelompok ini tidak seragam, dan perbedaannya besar. Metode kalender atau pantang berkala punya angka 15 per 100 pada pemakaian sehari-hari, dan WHO menyebut angka efektivitas yang andal untuk pemakaian sempurnanya tidak tersedia. Metode Hari Standar berada di angka 12, metode TwoDay di angka 14, sedangkan metode simptotermal, yang menggabungkan beberapa tanda tubuh sekaligus, berada di angka 2. Jadi menyebut semuanya sebagai "KB kalender" dan menganggap angkanya sama adalah penyederhanaan yang menyesatkan. Metode yang menuntut pencatatan tanda tubuh secara telaten memberi hasil yang jauh berbeda dari sekadar menghitung tanggal.
Metode amenore laktasi. WHO menjelaskan bahwa menyusui bayi di bawah enam bulan secara eksklusif menimbulkan perubahan hormon yang dapat menunda kembalinya kesuburan. Angkanya 0,9 kehamilan per 100 perempuan dalam enam bulan pada pemakaian konsisten dan benar, dan 2 per 100 dalam enam bulan pada pemakaian sehari-hari. Kata kuncinya ada pada tiga hal sekaligus, yaitu bayi masih di bawah enam bulan, ibu belum kembali haid, dan menyusui benar-benar eksklusif. Begitu salah satu syarat gugur, angka itu tidak berlaku lagi. Karena ini bersinggungan langsung dengan pola menyusui, dasarnya bisa Bunda baca di ASI eksklusif adalah, dan pembicaraan soal kelanjutannya sebaiknya dilakukan bersama bidan sejak masa nifas.
Kondom dan Satu Hal yang Tidak Dimiliki Metode Lain
Kondom bukan metode dengan angka terendah, tetapi ia punya satu keunggulan yang tidak dimiliki metode mana pun dalam daftar. WHO menyatakan hanya satu metode kontrasepsi yang dapat mencegah kehamilan sekaligus penularan infeksi menular seksual termasuk HIV, dan itu adalah kondom. Dalam lembar fakta terpisah tentang kondom, WHO menyebut kondom sebagai satu-satunya teknologi pencegahan multiguna yang saat ini tersedia untuk HIV, infeksi menular seksual, dan kehamilan yang tidak direncanakan.
Soal angka perlindungannya, WHO menyebut 98 persen perempuan yang pasangannya memakai kondom pria secara benar pada setiap hubungan selama satu tahun akan terlindungi dari kehamilan yang tidak direncanakan, dan angkanya 95 persen bila yang dipakai adalah kondom perempuan. Angka-angka itu konsisten dengan kolom pemakaian konsisten dan benar pada tabel sebelumnya, yaitu 2 dan 5 kehamilan per 100 perempuan per tahun.
WHO juga menegaskan bahwa efektivitas kondom dalam praktik bergantung pada pemakaian yang benar, dan risiko terbesar muncul justru ketika kondom tidak dipakai secara benar pada setiap hubungan. Sangat sedikit kehamilan atau infeksi yang terjadi karena kondom robek atau lepas. Dengan kata lain, jarak antara angka 2 dan angka 13 pada tabel hampir seluruhnya disumbang oleh pemakaian yang tidak konsisten, bukan oleh cacat produk.
Di Indonesia, Bebannya Belum Terbagi Rata
Ada bagian dari pertanyaan ini yang jarang dibicarakan, padahal menyangkut keadilan di dalam rumah tangga sendiri. Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, lembaga yang sebelumnya dikenal sebagai BKKBN, menerbitkan artikel yang menyebut bahwa hanya sekitar 2,5 persen pasangan usia subur di Indonesia memakai metode kontrasepsi pria, dan dari angka itu hanya 0,2 persen yang memakai vasektomi. Sebagian besar pemakaian kontrasepsi masih ditanggung perempuan, mulai dari pil, suntik, sampai IUD.
Artikel yang sama menjelaskan bahwa vasektomi atau metode operasi pria adalah tindakan pengikatan atau pemutusan saluran sperma sehingga cairan mani yang keluar tidak lagi mengandung sperma. Prosedurnya disebut berlangsung sekitar 15 sampai 20 menit dengan anestesi dan luka yang kecil, dengan masa pemulihan yang cepat. Pemerintah melalui Kemendukbangga menyediakan layanan vasektomi secara gratis, sementara bila dilakukan mandiri di luar program pemerintah biayanya bisa jauh lebih mahal.
Program keluarga berencana di Indonesia sendiri sudah berjalan panjang. Artikel tersebut mencatat angka kelahiran total turun dari 5,6 anak per perempuan pada dekade 1970-an menjadi sekitar 2,18 pada 2020, meskipun keberhasilan itu belum merata di semua wilayah dan kesenjangan akses layanan masih menjadi masalah di sejumlah provinsi. Konteks ini berguna karena menunjukkan bahwa pilihan kontrasepsi bukan semata urusan pribadi satu orang, melainkan juga soal akses dan pembagian tanggung jawab.
Cara Memutuskan Bersama Bidan atau Dokter
Langkah paling berguna setelah membaca angka adalah menyiapkan pertanyaan, bukan menyiapkan kesimpulan. Bawa catatan singkat ke puskesmas atau klinik, karena waktu konsultasi biasanya pendek dan mudah terpakai habis untuk basa-basi.
Beberapa pertanyaan yang biasanya membuka percakapan dengan cepat:
- Apakah ada kondisi kesehatan saya yang membuat metode tertentu tidak dianjurkan?
- Berapa lama metode ini bekerja, dan kapan perlu diperbarui atau diganti?
- Seberapa cepat kesuburan kembali setelah metode ini dihentikan?
- Efek samping apa yang wajar pada bulan-bulan pertama, dan mana yang harus segera dilaporkan?
- Apa yang harus saya lakukan bila terjadi kelalaian, misalnya lupa minum atau telat jadwal?
- Apakah metode ini terpengaruh obat lain yang sedang saya minum?
- Kalau saya sedang menyusui, mana yang aman dan tidak mengganggu produksi ASI?
Pertanyaan terakhir sering kali paling mendesak bagi ibu yang baru melahirkan, dan jawabannya tidak bisa diseragamkan. WHO mencatat menyusui juga memperpanjang jarak antarkehamilan lewat perubahan hormon, tetapi efek itu terbatas pada kondisi tertentu di enam bulan pertama, sehingga rencana jangka panjangnya tetap perlu disiapkan sejak masa nifas.
Kalau tujuannya justru sebaliknya, yaitu merencanakan kehamilan, urutannya juga berbeda dan sebaiknya dibicarakan sejak awal. Gambaran umum persiapannya bisa Bunda baca di panduan kehamilan. Bila yang sedang dicemaskan adalah kemungkinan sudah terjadi kehamilan, cara paling andal bukan menimbang-nimbang peluang, melainkan melakukan tes pada waktu yang tepat seperti dijelaskan di kapan harus tes kehamilan, dan gejala awal yang sering disalahartikan dibahas di tanda-tanda hamil.
Terakhir, ada baiknya menurunkan tegangan pertanyaan ini. Mencari tahu cara mencegah kehamilan bukan tanda ketidaksiapan menjadi orang tua. Justru merencanakan jarak kehamilan adalah bagian dari menjaga kesehatan ibu dan anak, dan itu lebih mudah dilakukan ketika angkanya jelas dan percakapannya terbuka. Yang paling berbahaya bukan bertanya, melainkan menebak.
Sumber
- WHO - Family planning/contraception methods (fact sheet)
- WHO - Mechanisms of action and effectiveness of contraceptive methods (tabel efektivitas)
- WHO - Condoms (fact sheet)
- WHO - Infant and young child feeding (fact sheet)
- Kemendukbangga/BKKBN - Antara Efektivitas dan Stigma: Menimbang Pro-Kontra Vasektomi
- Kemenkes RI - Kesehatan Reproduksi Remaja: Permasalahan dan Upaya Pencegahan
Artikel ini disusun sebagai edukasi kesehatan reproduksi berdasarkan sumber resmi, bukan pengganti pemeriksaan dan nasihat tenaga kesehatan, dan bukan anjuran untuk memakai atau meninggalkan metode apa pun. Seluruh angka efektivitas dikutip dari dokumen WHO dan menggambarkan hasil rata-rata pada populasi, sehingga tidak dapat dipakai untuk memperkirakan peluang pada satu orang tertentu. Sebagian metode memiliki kontraindikasi medis, efek samping, atau sifat permanen yang hanya dapat dinilai lewat pemeriksaan. Untuk memilih metode kontrasepsi, merencanakan jarak kehamilan, atau menangani kelalaian pemakaian, konsultasikan dengan bidan, dokter umum, atau dokter spesialis kebidanan dan kandungan di fasilitas kesehatan terdekat.
Pertanyaan yang sering muncul
Apakah ada posisi atau teknik berhubungan yang membuat tidak hamil?
Kenapa satu metode punya dua angka efektivitas yang berbeda?
Seberapa andal ejakulasi di luar atau senggama terputus?
Apakah menyusui bisa mencegah kehamilan?
Metode apa yang sekaligus mencegah infeksi menular seksual?
Kenapa beban kontrasepsi di Indonesia banyak ditanggung perempuan?
Ke mana harus bertanya sebelum memilih metode?
Konten ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Untuk keputusan medis, hubungi dokter atau bidan Anda.
Punya pertanyaan seputar kehamilan?
Tanya lewat WhatsApp

