Baru: alat cek usia dan milestone anak sudah bisa dipakai gratis. Coba sekarang

Kehamilan

Cara Berhubungan Intim yang Tidak Mengakibatkan Kehamilan: Angka Efektivitas Tiap Metode

Oleh Tim Redaksi Asuh AnakKebijakan Editorial· 13 menit baca· Terakhir diperbarui

Satu lembar blister pil kontrasepsi di atas kain merah
Pil KB termasuk metode kontrasepsi yang efektivitasnya bergantung pada keteraturan minum setiap hari. Foto: Anqa / Wikimedia Commons, CC0

Pertanyaan tentang cara berhubungan intim yang tidak mengakibatkan kehamilan paling jujur dijawab begini: tidak ada teknik, posisi, atau kebiasaan tertentu saat berhubungan yang dengan sendirinya mencegah kehamilan. Yang menentukan adalah metode kontrasepsi apa yang dipakai dan seberapa konsisten pemakaiannya. WHO menyusun daftar metode kontrasepsi beserta angka efektivitasnya, dan angka itulah yang seharusnya menjadi dasar percakapan, bukan kabar yang beredar dari mulut ke mulut. Halaman ini merangkum daftar tersebut apa adanya, menjelaskan cara membacanya, dan menunjukkan mengapa dua metode yang terdengar sama-sama "alami" bisa punya risiko yang sangat berbeda.

Halaman ini adalah edukasi kesehatan reproduksi, bukan anjuran untuk memakai atau meninggalkan metode apa pun. Pemilihan kontrasepsi adalah keputusan medis sekaligus pribadi yang melibatkan kondisi kesehatan, keyakinan, dan kesepakatan pasangan. Yang bisa kami lakukan di sini adalah menyajikan angkanya lengkap dengan sumbernya, supaya percakapan dengan bidan atau dokter berjalan dari titik yang lebih terang.

Yang Menentukan Bukan Caranya, Melainkan Metodenya

Kata "cara" dalam pertanyaan ini sering dipahami sebagai teknik saat berhubungan, misalnya posisi tertentu, membatasi durasi, atau melakukan sesuatu sesudahnya. Padahal seluruh isi daftar WHO tidak memuat satu pun teknik semacam itu. Yang dimuat adalah metode kontrasepsi, yaitu hal yang bekerja lewat mekanisme yang jelas: mencegah pelepasan sel telur, mengentalkan lendir leher rahim, menghalangi pertemuan sperma dan sel telur, atau menjaga sperma tetap berada di luar tubuh perempuan.

Perbedaannya penting karena menyangkut apa yang bisa diandalkan. Sebuah metode punya angka karena ia diuji, sedangkan sebuah kebiasaan tidak punya angka karena tidak ada mekanisme yang bisa diukur. Pertanyaan mengenai rute mana yang secara medis benar-benar bisa menyebabkan kehamilan dan mana yang tidak sudah kami bahas terpisah di penyebab kehamilan selain bersetubuh, jadi halaman ini fokus pada sisi sebaliknya, yaitu seberapa besar peluang kehamilan tetap terjadi pada tiap metode pencegahan.

Kemenkes RI menempatkan minimnya pengetahuan sebagai bagian dari masalah. Dalam pembahasan kesehatan reproduksi remaja, Kemenkes RI mencatat bahwa kebanyakan remaja tidak memiliki pengetahuan yang akurat mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas, serta tidak memiliki akses terhadap informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi, termasuk kontrasepsi. Kemenkes RI juga menyebut informasi yang membingungkan mengenai fungsi dan proses reproduksi sebagai salah satu faktor yang berhubungan langsung dengan masalah kesehatan reproduksi. Menyajikan angka yang benar adalah bagian dari menutup celah itu.

Ringkasan. Tiga hal yang perlu dipegang sebelum membaca tabelnya:
  • Tidak ada teknik berhubungan yang punya angka efektivitas. Yang punya angka adalah metode kontrasepsi.
  • Tiap metode punya dua angka, dan angka yang lebih relevan untuk kebanyakan orang adalah angka pemakaian sehari-hari.
  • Angka WHO adalah data, bukan anjuran. Pemilihan metode tetap perlu dibicarakan dengan tenaga kesehatan.

Dua Angka Efektivitas yang Perlu Dibaca Bersamaan

WHO menyajikan efektivitas kontrasepsi dalam satuan jumlah kehamilan per 100 perempuan per tahun, dan memberi dua kolom untuk tiap metode. Kolom pertama adalah hasil pada pemakaian yang konsisten dan benar. Kolom kedua adalah hasil pada pemakaian sehari-hari, yaitu sebagaimana orang pada umumnya memakainya, lengkap dengan lupa minum, telat suntik, salah pasang, dan momen yang tidak sesuai rencana.

Cara membacanya sederhana. Angka 7 berarti dari 100 perempuan yang memakai metode itu selama setahun, sekitar 7 orang tetap hamil. Semakin kecil angkanya, semakin kecil peluang kehamilan. Yang menarik justru selisih antara dua kolom itu, karena selisih itulah ukuran seberapa besar sebuah metode bergantung pada disiplin pemakainya.

Perhatikan dua contoh ekstrem. Implan punya angka 0,1 pada kedua kolom, artinya hasilnya nyaris tidak berubah entah pemakainya disiplin atau tidak, karena setelah dipasang tidak ada yang perlu diingat setiap hari. Sebaliknya, pil kombinasi punya angka 0,3 pada pemakaian sempurna tetapi 7 pada pemakaian sehari-hari, jadi hasilnya berlipat lebih dari dua puluh kali karena satu hal saja: manusia lupa. Metode yang tidak menuntut tindakan harian cenderung punya selisih kecil, dan metode yang menuntut keputusan di setiap kesempatan cenderung punya selisih besar.

Perbandingan dua angka efektivitas WHO: implan 0,1 pada pemakaian konsisten dan benar serta 0,1 pada pemakaian sehari-hari, pil kombinasi 0,3 dan 7, senggama terputus 4 dan 20 kehamilan per 100 perempuan per tahun
Angka kedua adalah yang dialami kebanyakan pemakai, karena sudah memperhitungkan lupa, telat, dan salah pakai. Diagram: Asuh Anak, berdasarkan WHO, Mechanisms of action and effectiveness of contraceptive methods.

Kesimpulan praktis dari pola itu cukup sederhana. Bagi orang yang tahu dirinya sulit rutin, memilih metode dengan angka pemakaian sempurna yang paling kecil belum tentu menolong, karena yang akan dialaminya adalah angka di kolom kedua. Sebaliknya, metode yang angkanya terlihat biasa saja bisa memberi hasil yang jauh lebih baik bila memang cocok dengan gaya hidup pemakainya. Karena itu, dalam percakapan dengan bidan atau dokter, pertanyaan tentang kebiasaan sehari-hari sama pentingnya dengan pertanyaan tentang riwayat kesehatan.

Perlu ditambahkan bahwa angka ini adalah rata-rata pada populasi, bukan ramalan untuk satu orang. Peluang kehamilan seseorang dipengaruhi usia, kondisi kesehatan, obat lain yang sedang diminum, dan seberapa sering berhubungan. Karena itu tabel di bawah berguna untuk membandingkan metode satu sama lain, bukan untuk menghitung nasib sendiri.

Tabel Efektivitas Metode Kontrasepsi Menurut WHO

Tabel di bawah ini disusun ulang dari dokumen WHO berjudul Mechanisms of action and effectiveness of contraceptive methods, diurutkan dari peluang kehamilan terkecil ke terbesar pada pemakaian sehari-hari. Semua angka adalah jumlah kehamilan per 100 perempuan per tahun, kecuali pada metode amenore laktasi yang dihitung dalam enam bulan.

MetodePemakaian konsisten dan benarPemakaian sehari-hari
Implan0,10,1
Vasektomi (sterilisasi pria)0,10,15
Tubektomi (sterilisasi perempuan)0,50,5
IUD levonorgestrel0,50,7
IUD tembaga0,60,8
Metode amenore laktasi0,9 dalam 6 bulan2 dalam 6 bulan
Metode simptotermalkurang dari 12
Metode suhu basal tubuhangka andal tidak tersedia2
Suntik kombinasi bulanan0,053
Suntik progestogen0,24
Pil kombinasi0,37
Pil progestin atau minipil0,37
Koyo kombinasi0,37
Cincin vagina kombinasi0,37
Metode Hari Standar512
Kondom pria213
Metode TwoDay414
Metode kalender atau pantang berkalaangka andal tidak tersedia15
Senggama terputus420
Kondom perempuan521

WHO juga mencantumkan pil kontrasepsi darurat dengan angkanya sendiri, tetapi pil itu memang bukan metode rutin dan pemakaiannya perlu dibicarakan dengan tenaga kesehatan, sehingga tidak dimasukkan ke urutan di atas.

Ada satu hal yang perlu dijaga saat membaca tabel ini. Angka terkecil belum tentu pilihan terbaik untuk semua orang, karena metode dengan angka rendah umumnya berupa tindakan medis atau alat yang perlu dipasang tenaga terlatih, punya pertimbangan kesehatan tersendiri, dan tidak selalu cocok dengan rencana keluarga seseorang. WHO sendiri menyebutkan bahwa pilihan metode yang tepat bergantung pada kondisi kesehatan, kebutuhan, dan preferensi masing-masing individu, dan saran tenaga kesehatan membantu menentukan metode yang sesuai.

Metode Tanpa Alat: Senggama Terputus, Kalender, dan Menyusui

Tiga metode ini paling sering disebut ketika orang mencari cara yang tidak melibatkan obat atau alat, jadi angkanya layak dibaca pelan-pelan.

Senggama terputus. WHO menjelaskan cara kerjanya sebagai upaya menjaga sperma tetap berada di luar tubuh perempuan sehingga pembuahan tidak terjadi. Perhatikan kata "upaya". Angkanya 4 kehamilan per 100 perempuan per tahun bila dilakukan konsisten dan benar, tetapi melompat menjadi 20 per 100 pada pemakaian sehari-hari. Satu dari lima pasangan yang mengandalkan cara ini tetap hamil dalam setahun, dan selisih dari 4 ke 20 adalah selisih antara teori dan kenyataan.

Metode berbasis kesadaran masa subur. Kelompok ini tidak seragam, dan perbedaannya besar. Metode kalender atau pantang berkala punya angka 15 per 100 pada pemakaian sehari-hari, dan WHO menyebut angka efektivitas yang andal untuk pemakaian sempurnanya tidak tersedia. Metode Hari Standar berada di angka 12, metode TwoDay di angka 14, sedangkan metode simptotermal, yang menggabungkan beberapa tanda tubuh sekaligus, berada di angka 2. Jadi menyebut semuanya sebagai "KB kalender" dan menganggap angkanya sama adalah penyederhanaan yang menyesatkan. Metode yang menuntut pencatatan tanda tubuh secara telaten memberi hasil yang jauh berbeda dari sekadar menghitung tanggal.

Angka pemakaian sehari-hari metode tanpa alat menurut WHO: metode simptotermal 2, Metode Hari Standar 12, metode TwoDay 14, metode kalender 15, dan senggama terputus 20 kehamilan per 100 perempuan per tahun, serta metode amenore laktasi 2 per 100 dalam enam bulan
Sama-sama tanpa alat, tetapi angkanya berbeda jauh; metode yang menuntut pencatatan tanda tubuh secara telaten berada paling atas. Diagram: Asuh Anak, berdasarkan WHO, Mechanisms of action and effectiveness of contraceptive methods.

Metode amenore laktasi. WHO menjelaskan bahwa menyusui bayi di bawah enam bulan secara eksklusif menimbulkan perubahan hormon yang dapat menunda kembalinya kesuburan. Angkanya 0,9 kehamilan per 100 perempuan dalam enam bulan pada pemakaian konsisten dan benar, dan 2 per 100 dalam enam bulan pada pemakaian sehari-hari. Kata kuncinya ada pada tiga hal sekaligus, yaitu bayi masih di bawah enam bulan, ibu belum kembali haid, dan menyusui benar-benar eksklusif. Begitu salah satu syarat gugur, angka itu tidak berlaku lagi. Karena ini bersinggungan langsung dengan pola menyusui, dasarnya bisa Bunda baca di ASI eksklusif adalah, dan pembicaraan soal kelanjutannya sebaiknya dilakukan bersama bidan sejak masa nifas.

Perhatian. Angka pada halaman ini adalah data efektivitas metode yang diterbitkan WHO, bukan anjuran memakai atau meninggalkan metode tertentu. Sebagian metode punya kontraindikasi medis, sebagian permanen dan sulit dikembalikan, dan sebagian dipengaruhi obat lain yang sedang diminum. Karena itu keputusan akhirnya perlu diambil bersama bidan atau dokter, bukan berdasarkan tabel di internet.

Kondom dan Satu Hal yang Tidak Dimiliki Metode Lain

Kondom bukan metode dengan angka terendah, tetapi ia punya satu keunggulan yang tidak dimiliki metode mana pun dalam daftar. WHO menyatakan hanya satu metode kontrasepsi yang dapat mencegah kehamilan sekaligus penularan infeksi menular seksual termasuk HIV, dan itu adalah kondom. Dalam lembar fakta terpisah tentang kondom, WHO menyebut kondom sebagai satu-satunya teknologi pencegahan multiguna yang saat ini tersedia untuk HIV, infeksi menular seksual, dan kehamilan yang tidak direncanakan.

Soal angka perlindungannya, WHO menyebut 98 persen perempuan yang pasangannya memakai kondom pria secara benar pada setiap hubungan selama satu tahun akan terlindungi dari kehamilan yang tidak direncanakan, dan angkanya 95 persen bila yang dipakai adalah kondom perempuan. Angka-angka itu konsisten dengan kolom pemakaian konsisten dan benar pada tabel sebelumnya, yaitu 2 dan 5 kehamilan per 100 perempuan per tahun.

Menurut WHO, 98 persen perempuan yang pasangannya memakai kondom pria secara benar setiap hubungan terlindungi dari kehamilan yang tidak direncanakan, 95 persen untuk kondom perempuan, dan kondom adalah satu-satunya metode yang juga mencegah infeksi menular seksual termasuk HIV
Persentase ini berlaku untuk pemakaian yang benar pada setiap hubungan selama satu tahun. Diagram: Asuh Anak, berdasarkan WHO, Condoms (fact sheet) dan WHO, Family planning/contraception methods.

WHO juga menegaskan bahwa efektivitas kondom dalam praktik bergantung pada pemakaian yang benar, dan risiko terbesar muncul justru ketika kondom tidak dipakai secara benar pada setiap hubungan. Sangat sedikit kehamilan atau infeksi yang terjadi karena kondom robek atau lepas. Dengan kata lain, jarak antara angka 2 dan angka 13 pada tabel hampir seluruhnya disumbang oleh pemakaian yang tidak konsisten, bukan oleh cacat produk.

Di Indonesia, Bebannya Belum Terbagi Rata

Ada bagian dari pertanyaan ini yang jarang dibicarakan, padahal menyangkut keadilan di dalam rumah tangga sendiri. Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, lembaga yang sebelumnya dikenal sebagai BKKBN, menerbitkan artikel yang menyebut bahwa hanya sekitar 2,5 persen pasangan usia subur di Indonesia memakai metode kontrasepsi pria, dan dari angka itu hanya 0,2 persen yang memakai vasektomi. Sebagian besar pemakaian kontrasepsi masih ditanggung perempuan, mulai dari pil, suntik, sampai IUD.

Artikel yang sama menjelaskan bahwa vasektomi atau metode operasi pria adalah tindakan pengikatan atau pemutusan saluran sperma sehingga cairan mani yang keluar tidak lagi mengandung sperma. Prosedurnya disebut berlangsung sekitar 15 sampai 20 menit dengan anestesi dan luka yang kecil, dengan masa pemulihan yang cepat. Pemerintah melalui Kemendukbangga menyediakan layanan vasektomi secara gratis, sementara bila dilakukan mandiri di luar program pemerintah biayanya bisa jauh lebih mahal.

Program keluarga berencana di Indonesia sendiri sudah berjalan panjang. Artikel tersebut mencatat angka kelahiran total turun dari 5,6 anak per perempuan pada dekade 1970-an menjadi sekitar 2,18 pada 2020, meskipun keberhasilan itu belum merata di semua wilayah dan kesenjangan akses layanan masih menjadi masalah di sejumlah provinsi. Konteks ini berguna karena menunjukkan bahwa pilihan kontrasepsi bukan semata urusan pribadi satu orang, melainkan juga soal akses dan pembagian tanggung jawab.

Catatan Bunda. Kalau percakapan ini terasa canggung dibuka dengan pasangan, mulailah dari pertanyaan yang tidak menuduh, misalnya "kita mau menjarakkan berapa lama" atau "kalau salah satu dari kita harus menanggung efek sampingnya, siapa yang siap". Membawa tabel angka ke ruang konsultasi bidan juga menolong, karena percakapannya berpindah dari perasaan ke pilihan yang bisa dibandingkan. Bahasan lain seputar kehamilan terkumpul di [kategori kehamilan](/kategori/kehamilan).

Cara Memutuskan Bersama Bidan atau Dokter

Langkah paling berguna setelah membaca angka adalah menyiapkan pertanyaan, bukan menyiapkan kesimpulan. Bawa catatan singkat ke puskesmas atau klinik, karena waktu konsultasi biasanya pendek dan mudah terpakai habis untuk basa-basi.

Beberapa pertanyaan yang biasanya membuka percakapan dengan cepat:

  1. Apakah ada kondisi kesehatan saya yang membuat metode tertentu tidak dianjurkan?
  2. Berapa lama metode ini bekerja, dan kapan perlu diperbarui atau diganti?
  3. Seberapa cepat kesuburan kembali setelah metode ini dihentikan?
  4. Efek samping apa yang wajar pada bulan-bulan pertama, dan mana yang harus segera dilaporkan?
  5. Apa yang harus saya lakukan bila terjadi kelalaian, misalnya lupa minum atau telat jadwal?
  6. Apakah metode ini terpengaruh obat lain yang sedang saya minum?
  7. Kalau saya sedang menyusui, mana yang aman dan tidak mengganggu produksi ASI?

Pertanyaan terakhir sering kali paling mendesak bagi ibu yang baru melahirkan, dan jawabannya tidak bisa diseragamkan. WHO mencatat menyusui juga memperpanjang jarak antarkehamilan lewat perubahan hormon, tetapi efek itu terbatas pada kondisi tertentu di enam bulan pertama, sehingga rencana jangka panjangnya tetap perlu disiapkan sejak masa nifas.

Kalau tujuannya justru sebaliknya, yaitu merencanakan kehamilan, urutannya juga berbeda dan sebaiknya dibicarakan sejak awal. Gambaran umum persiapannya bisa Bunda baca di panduan kehamilan. Bila yang sedang dicemaskan adalah kemungkinan sudah terjadi kehamilan, cara paling andal bukan menimbang-nimbang peluang, melainkan melakukan tes pada waktu yang tepat seperti dijelaskan di kapan harus tes kehamilan, dan gejala awal yang sering disalahartikan dibahas di tanda-tanda hamil.

Terakhir, ada baiknya menurunkan tegangan pertanyaan ini. Mencari tahu cara mencegah kehamilan bukan tanda ketidaksiapan menjadi orang tua. Justru merencanakan jarak kehamilan adalah bagian dari menjaga kesehatan ibu dan anak, dan itu lebih mudah dilakukan ketika angkanya jelas dan percakapannya terbuka. Yang paling berbahaya bukan bertanya, melainkan menebak.

Sumber

Artikel ini disusun sebagai edukasi kesehatan reproduksi berdasarkan sumber resmi, bukan pengganti pemeriksaan dan nasihat tenaga kesehatan, dan bukan anjuran untuk memakai atau meninggalkan metode apa pun. Seluruh angka efektivitas dikutip dari dokumen WHO dan menggambarkan hasil rata-rata pada populasi, sehingga tidak dapat dipakai untuk memperkirakan peluang pada satu orang tertentu. Sebagian metode memiliki kontraindikasi medis, efek samping, atau sifat permanen yang hanya dapat dinilai lewat pemeriksaan. Untuk memilih metode kontrasepsi, merencanakan jarak kehamilan, atau menangani kelalaian pemakaian, konsultasikan dengan bidan, dokter umum, atau dokter spesialis kebidanan dan kandungan di fasilitas kesehatan terdekat.

Pertanyaan yang sering muncul

Apakah ada posisi atau teknik berhubungan yang membuat tidak hamil?
Tidak ada. Kehamilan ditentukan oleh apakah sperma punya jalur untuk mencapai sel telur, bukan oleh posisi tubuh, waktu, atau apa yang dilakukan sesudahnya. Semua metode yang punya angka efektivitas terukur dalam daftar WHO adalah metode kontrasepsi, bukan teknik berhubungan. Karena itu pertanyaan yang lebih tepat adalah metode apa yang dipakai dan seberapa konsisten pemakaiannya.
Kenapa satu metode punya dua angka efektivitas yang berbeda?
WHO memberi dua angka untuk tiap metode, yaitu jumlah kehamilan per 100 perempuan per tahun pada pemakaian yang konsisten dan benar, serta pada pemakaian sehari-hari sebagaimana orang umumnya memakainya. Angka pertama menggambarkan kemampuan metode itu sendiri, angka kedua menggambarkan hasil nyata setelah memperhitungkan lupa, telat, dan kesalahan pemakaian. Selisih keduanya menunjukkan seberapa besar metode itu bergantung pada disiplin pemakainya.
Seberapa andal ejakulasi di luar atau senggama terputus?
Menurut tabel WHO, senggama terputus menghasilkan 4 kehamilan per 100 perempuan per tahun bila dilakukan konsisten dan benar, tetapi 20 kehamilan per 100 perempuan per tahun pada pemakaian sehari-hari. Angka 20 per 100 berarti sekitar satu dari lima pasangan yang mengandalkannya tetap hamil dalam setahun. WHO menggolongkan cara ini sebagai pilihan yang kurang dapat diandalkan dibanding metode modern.
Apakah menyusui bisa mencegah kehamilan?
Menyusui eksklusif pada bayi di bawah enam bulan memang menimbulkan perubahan hormon yang dapat menunda kembalinya kesuburan, dan WHO mencantumkannya sebagai metode amenore laktasi. Angkanya 0,9 kehamilan per 100 perempuan dalam enam bulan pada pemakaian konsisten dan benar, serta 2 per 100 perempuan dalam enam bulan pada pemakaian sehari-hari. Perlu dicatat bahwa angka itu hanya berlaku dalam enam bulan pertama dan bergantung pada syarat yang ketat, jadi sebaiknya dibicarakan dengan bidan setelah melahirkan.
Metode apa yang sekaligus mencegah infeksi menular seksual?
Hanya kondom. WHO menyatakan kondom adalah satu-satunya metode kontrasepsi yang juga mencegah penularan infeksi menular seksual termasuk HIV. Menurut WHO, 98 persen perempuan yang pasangannya memakai kondom pria secara benar pada setiap hubungan selama satu tahun akan terlindungi dari kehamilan yang tidak direncanakan, dan angkanya 95 persen bila yang dipakai kondom perempuan.
Kenapa beban kontrasepsi di Indonesia banyak ditanggung perempuan?
Menurut artikel yang diterbitkan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, hanya sekitar 2,5 persen pasangan usia subur yang memakai metode kontrasepsi pria, dan hanya 0,2 persen di antaranya yang memakai vasektomi. Sebagian besar pemakaian kontrasepsi masih ditanggung perempuan lewat pil, suntik, dan IUD. Rendahnya partisipasi pria disebut sebagai salah satu tantangan besar program keluarga berencana di Indonesia.
Ke mana harus bertanya sebelum memilih metode?
Ke bidan, dokter umum, atau dokter spesialis kebidanan dan kandungan di puskesmas maupun fasilitas kesehatan lain. WHO menyebut pemilihan metode yang tepat bergantung pada kondisi kesehatan, kebutuhan, dan preferensi tiap orang, sehingga saran tenaga kesehatan membantu menyaring pilihan yang sesuai. Kemenkes RI juga mencatat bahwa banyak orang tidak memiliki pengetahuan akurat dan akses terhadap informasi serta pelayanan kesehatan reproduksi termasuk kontrasepsi, sehingga bertanya langsung ke fasilitas kesehatan jauh lebih aman daripada mengandalkan kabar yang beredar.

Konten ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Untuk keputusan medis, hubungi dokter atau bidan Anda.

Punya pertanyaan seputar kehamilan?

Tanya lewat WhatsApp