Cara Memperlancar ASI: Langkah yang Terbukti
Oleh Tim Redaksi Asuh Anak· 12 menit baca

Cara memperlancar ASI yang paling efektif ternyata bukan ramuan atau suplemen tertentu, melainkan menyusui bayi dengan benar, sesering dan selama bayi menghendaki. Itu bukan opini, melainkan penjelasan Direktur Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kemenkes RI, dr. Lovely Daisy, MKM. IDAI menegaskan hal yang sama dengan bahasa yang lebih teknis: makin banyak ASI yang dikeluarkan dari gudang ASI, makin banyak produksi ASI. Jadi kalau Bunda sedang cemas karena merasa ASI sedikit, kabar baiknya adalah kunci utamanya ada di tangan Bunda sendiri, dan sebagian besar kekhawatiran di minggu-minggu awal sebetulnya normal. Artikel ini membahas langkah-langkahnya satu per satu, mulai dari frekuensi, posisi dan perlekatan, memerah ASI, sampai tanda ASI sudah cukup dan kapan perlu minta bantuan.
Mengapa ASI Terasa Sedikit di Hari-Hari Awal
Sebelum bicara cara menambah, ada baiknya kita luruskan dulu satu hal yang membuat banyak Bunda panik tanpa perlu: ASI di hari-hari pertama memang sedikit, dan itu memang seharusnya begitu.
Kemenkes RI menjelaskan bahwa selama beberapa hari setelah melahirkan, ASI yang keluar berupa kolostrum dengan volume sekitar 5 sampai 7 ml. Kolostrum berwarna kekuningan atau bening, mengandung protein yang lebih tinggi dibanding ASI yang muncul kemudian, dan mengandung zat anti infeksi. Menurut Kemenkes RI, volume yang sekecil ini justru yang sering dianggap ibu sebagai ASI tidak keluar, sulit keluar, atau sedikit.
IDAI merinci kenaikannya dari hari ke hari. Kolostrum hari pertama sekitar 5 ml, hari kedua 5 sampai 15 ml, hari ketiga 15 sampai 30 ml, hari keempat 30 sampai 45 ml, dan hari kelima 45 sampai 60 ml. Setelah itu ASI transisi muncul pada hari ke-5 sampai ke-14, volumenya terus bertambah, dan ASI menjadi matang pada hari ke-15. Kemenkes RI menambahkan bahwa pada masa peralihan ini ibu akan merasa payudara penuh, keras, dan berat, dan perubahan tersebut terjadi pada minggu pertama kehidupan.
Artinya, lambung bayi baru lahir memang belum menuntut ASI berlimpah. Yang perlu dijaga adalah agar kenaikan bertahap itu benar-benar terjadi, dan itu sangat bergantung pada seberapa sering payudara dirangsang sejak hari pertama.
Prinsip Dasarnya: Makin Sering Menyusu, Makin Banyak ASI
Semua cara memperlancar ASI yang benar-benar bekerja berakar pada satu prinsip yang sama. IDAI menyebutnya dengan gamblang: makin banyak ASI yang dikeluarkan dari gudang ASI (sinus laktiferus), makin banyak produksi ASI. Dengan kata lain, makin sering bayi menyusui, makin banyak ASI diproduksi. Sebaliknya, makin jarang bayi mengisap, makin sedikit payudara menghasilkan ASI, dan jika bayi berhenti mengisap maka payudara akan berhenti menghasilkan ASI.
Kemenkes RI menyampaikan pesan senada, bahwa produksi ASI dipengaruhi oleh isapan bayi saat menyusu, dan semakin sering bayi menyusu dengan cara yang benar, semakin banyak ASI diproduksi. WHO pun memasukkan menyusui sesuai permintaan (as often as the child wants, day and night) sebagai bagian dari praktik pemberian makan bayi yang optimal, bersama inisiasi menyusu dalam 1 jam pertama setelah lahir, ASI eksklusif selama 6 bulan, dan melanjutkan menyusui sampai usia 2 tahun atau lebih.
Peran Prolaktin dan Oksitosin
Menurut IDAI, produksi ASI dipengaruhi oleh dua hormon penting, yaitu prolaktin dan oksitosin, dan kedua hormon ini akan diproduksi dengan baik bila bayi disusui sesering mungkin.
Prolaktin bertugas di sisi pabrik. Setiap kali bayi mengisap payudara, ujung saraf sensoris di sekitar payudara terangsang sehingga kelenjar hipofisis bagian depan menghasilkan prolaktin, yang lalu membuat sel di alveolus memproduksi ASI. IDAI mencatat prolaktin berada di peredaran darah selama sekitar 30 menit setelah diisap, sehingga isapan sekarang sebenarnya sedang menyiapkan ASI untuk sesi menyusu berikutnya, bukan untuk sesi yang sedang berjalan. Ini penjelasan penting: hasil dari menyusui sering baru terasa beberapa jam kemudian, jadi jangan menilai keberhasilan dari satu sesi saja.
Oksitosin bertugas di sisi pengaliran. IDAI menjelaskan oksitosin merangsang kontraksi otot di sekeliling alveoli sehingga memeras ASI keluar dari pabrik menuju gudang ASI, dan hanya ASI di dalam gudang inilah yang bisa dikeluarkan bayi atau ibunya. Bila refleks oksitosin tidak bekerja dengan baik, bayi kesulitan mendapatkan ASI dan payudara seolah-olah berhenti berproduksi, padahal menurut IDAI payudara tetap menghasilkan ASI, hanya saja tidak mengalir keluar.
Satu detail yang sering terlewat: IDAI menyebut prolaktin umumnya dihasilkan pada malam hari, sehingga menyusui pada malam hari dapat membantu mempertahankan produksi ASI. Godaan untuk melewatkan sesi malam demi tidur panjang justru bisa berbalik menurunkan produksi.
Perbaiki Frekuensi Menyusui Terlebih Dahulu
Kalau hanya boleh mengubah satu hal, ubahlah frekuensinya. IDAI menyarankan beberapa langkah agar berhasil memberikan ASI eksklusif, yaitu menyusu on demand atau sesuka bayi, membangunkan bayi dengan membuka bedongnya setiap 2 jam agar bayi terbangun dan menyusu, serta menyusu sesering mungkin minimal 8 sampai 12 kali per hari.
Menunggu bayi menangis dulu baru disusui adalah kesalahan yang wajar tapi merugikan. IDAI menjelaskan bahwa tanda awal bayi lapar adalah bayi bergerak, membuka mulut, menggerakkan kepala, dan mencari-cari, lalu diikuti memasukkan tangan ke mulut. Menangis, gelisah, dan muka memerah justru merupakan tanda akhir bayi lapar. Bayi yang sudah telanjur menangis biasanya lebih sulit melekat dengan baik, sehingga sesi menyusu jadi kurang efektif.
Selain itu, IDAI menekankan agar tidak memberikan minuman atau makanan lain selain ASI, dan tidak memberikan dot atau kempeng karena akan mengakibatkan bingung puting. Kemenkes RI menegaskan bahwa pemberian selain ASI akan menghambat produksi ASI, dan susu pengganti ASI atau susu formula diberikan ketika ada indikasi medis setelah melalui penilaian oleh dokter yang kompeten. Menurut Kemenkes RI, ketika bayi diberi lebih banyak susu formula dibanding ASI, bayi akan kenyang oleh formula sehingga lebih jarang menyusu, dan ini berujung pada produksi ASI yang berkurang.
Perlu digarisbawahi, ini bukan berarti formula haram atau ibu yang memakainya gagal. Ini soal urutan: keputusan memberikan susu formula sebaiknya diambil bersama dokter, bukan diputuskan sendiri di tengah malam saat lelah dan cemas.
Perbaiki Posisi dan Perlekatan Saat Menyusui
Frekuensi tinggi tidak banyak menolong bila perlekatannya tidak benar. Kemenkes RI menyebutkan bahwa indikator dalam proses menyusui yang efektif meliputi posisi ibu dan bayi yang benar, perlekatan bayi yang tepat, dan keefektifan isapan bayi pada payudara. Sebaliknya, teknik menyusui yang salah dapat menimbulkan puting susu lecet dan ASI tidak keluar secara optimal, yang lalu memengaruhi produksi ASI dan membuat bayi enggan menyusu.
Empat Kunci Posisi yang Benar
Kemenkes RI lewat portal Ayo Sehat merangkum posisi menyusui yang benar dalam empat kunci:
- Kepala dan badan bayi membentuk garis lurus.
- Wajah bayi menghadap payudara, hidung berhadapan dengan puting susu.
- Badan bayi dekat ke tubuh ibu.
- Ibu menggendong atau mendekap badan bayi secara utuh.
IDAI menambahkan detail praktis yang membantu, misalnya menyangga seluruh punggung bayi (bukan hanya bahu dan leher), memegang belakang bahu bayi dan bukan kepalanya, serta meletakkan kepala bayi di lengan dan bukan di daerah siku. IDAI juga mengingatkan bahwa menyusui seharusnya tidak menimbulkan rasa sakit, jadi posisikan ibu senyaman mungkin lebih dulu, sandarkan punggung, dan gunakan penyangga kaki bila perlu.
Empat Kunci Perlekatan yang Benar
Masih dari Ayo Sehat Kemenkes RI, perlekatan yang benar ditandai oleh:
- Bayi dekat dengan payudara dengan mulut terbuka lebar.
- Dagu bayi menyentuh payudara.
- Bagian areola di atas lebih banyak terlihat dibanding di bagian bawah mulut bayi.
- Bibir bawah bayi memutar keluar.
Caranya, menurut IDAI, rangsang bayi agar membuka mulut dengan menyentuhkan puting pada bibirnya, tunggu sampai mulutnya terbuka selebar mungkin, lalu masukkan payudara sebanyak mungkin ke dalam mulut bayi. Semakin banyak jaringan payudara yang masuk, semakin banyak saluran ASI yang ikut terperas lidah bayi.
- Frekuensi: minimal 8 sampai 12 kali per hari, termasuk malam hari (IDAI).
- Perlekatan: mulut terbuka lebar, dagu menempel payudara, bibir bawah memutar keluar (Kemenkes RI).
- Pengosongan: makin banyak ASI dikeluarkan, makin banyak diproduksi (IDAI).
Memerah ASI, Pijat Payudara, dan Soal Power Pumping
Bagaimana kalau bayi belum bisa melekat, atau Bunda harus berpisah karena bekerja? Di sinilah memerah ASI berperan. IDAI menyebut bahwa jika bayi tidak dapat melekat setelah 6 jam pasca melahirkan, ASI sebaiknya diperah dan diberikan dengan pipet atau sendok. IDAI juga menjelaskan bahwa rangsangan pada payudara, baik lewat isapan bayi maupun perahan tangan, akan meningkatkan produksi hormon oksitosin dan prolaktin. Jadi tangan atau pompa ASI elektrik dapat menggantikan peran isapan bayi dalam mengirim sinyal ke tubuh untuk terus berproduksi.
Untuk membantu pengeluaran, Kemenkes RI lewat Ayo Sehat menyebut teknik pemijatan payudara sebagai cara yang relatif lebih aman untuk memperlancar keluarnya ASI. Menurut Kemenkes RI, ketika dipijat, peredaran darah di payudara akan berjalan lancar dan mengurai kelenjar susu yang mengendap di saluran ASI dalam payudara, dan pemijatan ini juga membuat tubuh ibu lebih rileks. Tekniknya dilakukan perlahan, diurut dari arah bawah hingga mengerucut ke bagian puting.
Sejujurnya soal Power Pumping
Istilah power pumping sangat populer di kalangan ibu menyusui, biasanya berupa jadwal memompa dan istirahat yang diulang dalam satu jam untuk meniru cluster feeding. Prinsip di baliknya sejalan dengan penjelasan IDAI bahwa makin sering ASI dikeluarkan makin banyak ASI diproduksi. Namun perlu jujur di sini: jadwal spesifik yang beredar di internet bukan protokol resmi yang dikeluarkan Kemenkes RI maupun IDAI. Karena itu perlakukan power pumping sebagai penerapan dari prinsip pengosongan payudara, bukan sebagai resep baku dengan angka yang wajib diikuti.
Yang tidak berubah adalah dasarnya: rangsang payudara sesering mungkin, kosongkan seoptimal mungkin, dan pastikan tekniknya tidak menyakitkan. Bila Bunda memerah untuk stok, pahami juga berapa lama ASI bertahan di suhu ruang agar hasil perahan tidak terbuang percuma.
Nutrisi, Istirahat, dan Ketenangan Bunda
Bagian ini sering dijadikan yang pertama, padahal seharusnya pelengkap. Kemenkes RI menyebutkan bahwa selama masa menyusui, tubuh ibu membutuhkan lebih banyak nutrisi, energi, dan air, sehingga ibu perlu makan dan minum yang cukup agar proses menyusui dan produksi ASI lancar. Ayo Sehat Kemenkes RI mencontohkan beberapa makanan bergizi yang mendukung ibu menyusui, antara lain susu sebagai sumber kalsium, telur, ikan salmon, daging sapi rendah lemak, serta kacang-kacangan yang mengandung protein nabati dan zat besi. IDAI menambahkan bahwa selain makanan, ibu sebaiknya tetap beristirahat cukup untuk mempertahankan produksi ASI.
Perhatikan bahwa tidak satu pun sumber resmi di atas menjanjikan satu makanan ajaib yang membuat ASI melimpah dalam semalam. Bila Bunda tertarik menelusuri klaim seputar pelancar ASI, bacaan soal ASI booster bisa membantu menakar mana yang masuk akal dan mana yang sekadar pemasaran.
Sisi emosional juga nyata pengaruhnya. IDAI menyebut beberapa keadaan yang dianggap dapat meningkatkan produksi hormon oksitosin, yaitu perasaan dan curahan kasih sayang terhadap bayi, celotehan atau tangisan bayi, pijat bayi, serta dukungan ayah dalam pengasuhan seperti menggendong bayi ke ibu saat akan disusui, mengganti popok, memandikan, bermain, dan membantu pekerjaan rumah tangga. Sebaliknya, IDAI menyebut rasa cemas, sedih, marah, kesal, bingung, kecemasan terhadap perubahan bentuk payudara dan tubuh, serta rasa sakit terutama saat menyusui dapat mengurangi produksi oksitosin.
Perhatikan implikasinya. Menekan Bunda dengan kalimat "ayo dong ASI-nya" justru bekerja berlawanan arah secara biologis. Dukungan konkret dari pasangan dan keluarga bukan sekadar kebaikan hati, melainkan bagian dari cara memperlancar ASI itu sendiri.
Tanda ASI Sudah Cukup dan Kapan Harus ke Dokter
Karena payudara tidak punya takaran, orang tua butuh penanda yang objektif. IDAI menyebutkan tanda-tanda normal bayi mendapatkan cukup ASI, antara lain buang air kecil 1 sampai 2 kali per hari dalam 12 sampai 24 jam pertama kehidupan, buang air kecil 6 sampai 8 kali per hari setelah 5 hari, mekonium atau tinja pertama keluar dalam 24 jam pertama, mekonium menipis menjadi hijau kecoklatan atau hijau kekuningan dalam 3 sampai 6 hari, dan setelah lebih dari 6 hari tinja ASI sudah terbentuk (cair, bau asam, bergas). IDAI juga mencatat urin yang sangat pekat pada beberapa hari pertama bisa memperlihatkan endapan merah bata berupa kristal asam urat.
Tanda Bahaya yang Perlu Dievaluasi
IDAI menyebutkan tanda-tanda bahaya yang sebaiknya mendapat evaluasi yang baik oleh tenaga kesehatan:
- Urin berwarna merah bata pada popok setelah hari ke-5.
- Buang air kecil kurang dari 6 kali dalam 24 jam setelah hari ke-5.
- Mekonium masih keluar setelah usia 5 hari.
- Kehilangan berat badan sebesar 7 persen atau lebih dalam 72 jam pertama, atau berat badan belum kembali ke berat lahir pada hari ke-7 sampai ke-10.
Selain daftar itu, ada satu alasan lagi untuk minta bantuan lebih awal: rasa sakit. Karena menurut IDAI menyusui seharusnya tidak menimbulkan rasa sakit, puting yang lecet atau nyeri hebat adalah petunjuk bahwa perlekatannya perlu diperbaiki, dan itu bisa dikoreksi dengan pendampingan.
Kemenkes RI menyarankan agar ibu menghubungi konselor menyusui di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat atau mengakses telekonseling menyusui bila mengalami keraguan atau kendala terkait menyusui. Seperti dikatakan dr. Lovely Daisy, konselor menyusui siap memberikan informasi dan mendukung ibu untuk menyusui. Menyusui memang proses alami, tapi seperti dicatat IDAI, proses ini tetap harus dipelajari. Meminta bantuan bukan tanda gagal, melainkan langkah yang tepat dan cepat.
Untuk pertanyaan awal yang lebih spesifik seputar menyusui dan tumbuh kembang, Bunda bisa berdiskusi lewat Asisten AI Bunda sebagai teman mencari informasi, lalu menindaklanjutinya bersama tenaga kesehatan. Topik-topik lain seputar menyusui juga bisa ditelusuri di kumpulan artikel ASI, dan bila bayi sudah mendekati usia 6 bulan, persiapkan tahap berikutnya lewat panduan MPASI 6 bulan sambil tetap melanjutkan ASI.
Menutup semuanya, ingatlah bahwa cara memperlancar ASI bukan perlombaan melawan ibu lain, melainkan soal konsistensi kecil setiap hari: susui sesering bayi mau, perbaiki perlekatan, jangan lewatkan sesi malam, makan dan istirahat cukup, dan minta tolong lebih awal saat ragu. Tubuh Bunda sudah dirancang untuk ini, dan tugas kita hanya memberinya sinyal yang tepat, berulang-ulang, dengan sabar.
Sumber
- Kemenkes RI - Memperlancar Produksi ASI
- IDAI - Manajemen Laktasi
- IDAI - ASI Saya Kurang?
- Kemenkes RI - Ayo Sehat: Perhatikan Posisi dan Perlekatan Saat Menyusui
- Kemenkes RI - Ayo Sehat: Cara Melakukan Pijat Payudara untuk Memperlancar ASI
- Kemenkes RI - Ayo Sehat: Ingin ASI Banyak? Konsumsi 5 Makanan Kaya Nutrisi Berikut Ini
- WHO - Infant and young child feeding (fact sheet)
Artikel ini disusun sebagai edukasi dan bukan pengganti konsultasi langsung dengan tenaga kesehatan. Keputusan mengonsumsi obat, jamu, atau suplemen apa pun saat menyusui dan saat hamil harus dibicarakan lebih dulu dengan dokter atau bidan. Untuk penilaian dan penanganan yang sesuai dengan kondisi Bunda dan bayi, silakan berkonsultasi dengan bidan, dokter, atau konselor menyusui di fasilitas kesehatan terdekat.
Pertanyaan yang sering muncul
Berapa kali sehari sebaiknya bayi menyusu agar ASI lancar?
Kenapa ASI saya sedikit di hari-hari pertama setelah melahirkan?
Apakah payudara kecil menghasilkan ASI lebih sedikit?
Bagaimana tanda bayi sudah cukup mendapat ASI?
Apakah menyusui malam hari perlu dilanjutkan?
Bolehkah memberi susu formula sambil menunggu ASI lancar?
Apakah power pumping terbukti menambah produksi ASI?
Konten ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Untuk keputusan medis, hubungi dokter atau bidan Anda.
Punya pertanyaan seputar asi?
Tanya lewat WhatsApp
