Nama Bayi Perempuan Jawa Keraton: Mana Gelar, Mana Nama
Oleh Tim Redaksi Asuh Anak· 13 menit baca· Terakhir diperbarui

Sebagian besar yang beredar sebagai nama bayi perempuan Jawa keraton sebenarnya bukan nama, melainkan gelar. Condrokirono, Maduretno, Hayu, dan Pembayun adalah gelar yang dianugerahkan Sultan, sedangkan nama lahir pemiliknya berbeda sama sekali. Halaman ini memisahkan tiga hal yang biasanya tercampur: gelar keraton yang terdokumentasi, nama pribadi bangsawan keraton yang benar-benar tercatat, dan kosakata Jawa klasik yang boleh dipakai siapa saja.
Yang dicatat langsung oleh Keraton Yogyakarta
Halaman Yang Bertakhta di situs resmi Keraton Yogyakarta mencantumkan keluarga Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 secara terbuka. Permaisurinya disebut Gusti Kangjeng Ratu (GKR) Hemas. Kelima putrinya dicantumkan dengan format yang sangat membantu, yaitu gelar masa kecil, garis miring, lalu gelar yang dianugerahkan kemudian.
| Nama pribadi | Gelar yang tercatat |
|---|---|
| Nurmalita Sari | GRAj, lalu GKR Pembayun, lalu GKR Mangkubumi |
| Nurmagupita | GRAj, lalu GKR Condrokirono |
| Nurkamnari Dewi | GRAj, lalu GKR Maduretno |
| Nurabra Juwita | GRAj, lalu GKR Hayu |
| Nurastuti Wijareni | GRAj, lalu GKR Bendara |
Perhatikan pola yang muncul. Kelima nama pribadi itu berawalan Nur, kata serapan dari bahasa Arab yang berarti cahaya, bukan kosakata Jawa Kuna. Jadi ketika seseorang mencari nama perempuan Jawa keraton dan berharap menemukan deretan kata Kawi yang indah, kenyataannya justru keluarga Sultan Yogyakarta memberi putri putrinya nama berunsur Arab, lalu gelar Jawanya menyusul kemudian dari keraton.
Pola itu sebenarnya masuk akal bila kita ingat Keraton Yogyakarta adalah keraton Islam. Gelar lengkap Sultan yang tercantum di situs resmi keraton memuat frasa Langgenging Tata Panotogomo, dan Wikipedia bahasa Indonesia mencatat agama keluarga Sultan adalah Islam. Jadi memberi nama berunsur Arab kepada anak, lalu menerima gelar Jawa dari keraton di kemudian hari, adalah dua lapis identitas yang berjalan berdampingan, bukan saling meniadakan. Ini juga menjelaskan mengapa mencari "nama Jawa keraton" di daftar nama bayi sering membuahkan hasil yang meleset: yang dicari orang biasanya kosakata Jawa Kuna, padahal yang dipakai keraton sebagai nama justru bukan itu.
Wikipedia bahasa Indonesia yang mengutip sejumlah pemberitaan mencatat tahun kelahiran kelimanya berturut turut 1972, 1975, 1978, 1982, dan 1986, serta menyebut nama lahir GKR Hemas adalah Tatiek Drajad Supriastuti dan ibunda Sultan adalah KRAy Windyaningrum. Ejaan Nurmalita Sari juga muncul dalam bentuk Nurmalitasari di sebagian sumber, jadi jangan kaget bila menemukan dua penulisan. Nama cucu perempuan Sultan yang tercatat pun mengikuti pola campuran serupa, misalnya Raden Ajeng Artie Ayya Fatimasari dan Raden Ajeng Nisaka Irdina Yudonegoro.
Gelar bukan nama lahir, dan itu penting
Sistem gelar keraton Jawa bertingkat dan menempel pada garis keturunan serta status pernikahan, bukan pada selera orang tua. Beberapa singkatan yang sering muncul di dokumen keraton dapat dibaca begini.
- GKR, Gusti Kanjeng Ratu, gelar tertinggi untuk permaisuri dan untuk putri raja yang telah menerima anugerah gelar.
- GRAj, Gusti Raden Ajeng, untuk putri raja yang belum menikah.
- GRAy, Gusti Raden Ayu, untuk putri raja yang sudah menikah.
- BRAj dan BRAy, Bendara Raden Ajeng dan Bendara Raden Ayu, tingkat di bawahnya, juga dibedakan menurut status pernikahan.
- KRAy, Kanjeng Raden Ayu, gelar untuk permaisuri atau istri bangsawan pada jenjang tertentu.
Dari daftar itu terlihat mengapa Gusti Raden Ajeng tidak layak dipakai sebagai nama anak biasa. Kata Ajeng dan Ayu di situ bukan bagian dari nama, melainkan penanda status yang berubah ketika pemiliknya menikah. Wikipedia mencatat contohnya pada GKR Hemas: setelah menikah, gelarnya menjadi Bendara Raden Ayu Mangkubumi mengikuti gelar suaminya saat itu.
Ada pula alasan administratif yang jarang disebut. Ditjen Dukcapil Kemendagri menjelaskan bahwa dalam Permendagri Nomor 73 Tahun 2022, gelar pendidikan dan keagamaan tidak dicantumkan pada akta pencatatan sipil, meski gelar pendidikan, adat, dan keagamaan dapat dicantumkan pada kartu keluarga dan KTP elektronik. Artinya, memasukkan unsur gelar ke dalam nama di akta kelahiran bukan hanya kurang tepat secara adat, tetapi juga tidak sejalan dengan cara dokumen kependudukan disusun.
Arti kata di balik gelar putri keraton
Meski gelarnya tidak bisa dipinjam, kata pembentuknya bisa ditelusuri dan sah dipakai sebagai bahan nama. Arti di bawah ini diambil dari kamus bahasa Jawa Wikisastra, yang mencantumkan pula label Sanskerta dan Kawi bila kata itu memang berasal dari sana.
| Kata pada gelar | Arti menurut kamus Jawa |
|---|---|
| Pambayun | anak sulung |
| Candra | rembulan, dari bahasa Sanskerta dan Kawi |
| Kirana | sinar, cahaya, dari bahasa Sanskerta dan Kawi |
| Madu | air bunga yang manis, madu lebah |
| Retna | intan, yang paling indah, sekaligus sebutan bagi putri |
| Hayu dan Ayu | dalam Kawi berarti baik, selamat, sejahtera; dalam Jawa sehari-hari berarti cantik |
| Bendara | orang yang dilayani, sebutan bagi keturunan raja yang masih tinggi kedudukannya |
| Prameswari | permaisuri raja, dalam Kawi |
| Ratu | raja |
| Dyah | sebutan bagi putra dan putri kalangan luhur, dalam Kawi khusus bagi putri |
| Rara | gadis, dalam Kawi |
| Galuh | intan, juga berarti putri |
Dari sini terlihat Condrokirono berarti sinar rembulan dan Maduretno berarti madu permata. Keduanya indah, dan Anda tetap bisa memakai unsurnya, misalnya Kirana atau Retna, tanpa mengklaim gelar yang bukan milik keluarga Anda.
Nama perempuan keraton Surakarta yang terdokumentasi
Kasunanan Surakarta punya sistem gelar serupa dengan penyebutan yang sedikit berbeda. Wikipedia bahasa Indonesia yang mengutip pemberitaan dan dokumen keraton mencatat sejumlah nama pribadi perempuan bangsawan Surakarta, di antaranya Koes Moertiyah yang bergelar GKR Wandansari dan memimpin Lembaga Dewan Adat, serta Timoer Rumbai yang bergelar GKR Timoer. Putri putri Susuhunan Pakubuwana XIII lain yang tercatat adalah GRAy Devi Lelyana Dewi, GRAy Dewi Ratih Widyasari, GRAy Putri Purnaningrum, dan GRAy Sugih Oceania. Permaisuri Pakubuwana XIII bernama Pradapaningsih dengan gelar GKR Pakubuwana.
Perhatikan lagi polanya. Nama pribadi mereka berupa nama Indonesia dan Jawa modern seperti Devi, Dewi Ratih, Purnaningrum, dan Rumbai, sementara Wandansari, Timoer, dan Pakubuwana adalah gelar. Jadi kesimpulan yang sama berlaku di Surakarta seperti di Yogyakarta: yang berbau paling keraton di sebuah nama biasanya justru bagian gelarnya.
Kosakata Jawa klasik yang artinya diperiksa
Bagian ini bukan daftar nama keraton. Ini kosakata Jawa, termasuk banyak kata Kawi dan serapan Sanskerta, yang memang menjadi bahan penyusun nama di lingkungan bangsawan maupun masyarakat umum. Setiap arti di bawah ini diambil dari entri kamus Jawa Wikisastra, bukan dari daftar nama bayi.
| Kata | Arti | Lapis bahasa |
|---|---|---|
| Adi | unggul, lebih; baik | Jawa |
| Arja | makmur, selamat | Jawa |
| Arum | harum; dalam Kawi berarti pelan dan manis untuk tutur kata | Jawa dan Kawi |
| Asih | kasih, sayang kepada | Jawa |
| Ayom | meneduhkan, melindungi | Jawa |
| Bawana | tempat tinggal; jagat, buwana | Jawa |
| Cahya | sinar; kemuliaan; air muka | Jawa |
| Cempaka | pohon yang bunganya wangi | Jawa |
| Dewi | dewa perempuan; sebutan putri dan bidadari | Jawa |
| Driya | hati, sumber perasaan | Kawi |
| Emas | logam berwarna kuning | Jawa |
| Gendhis | gula | Jawa |
| Jagad | bumi seisinya | Sanskerta |
| Jaya | menang, beruntung, berkuasa | Jawa |
| Kanthi | teman yang menyertai; dengan, disertai | Jawa |
| Kartika | bintang; mangsa keempat | Jawa |
| Kembang | bunga | Jawa |
| Kencana | emas | Sanskerta dan Kawi |
| Kenanga | bunga kenanga | Jawa |
| Kusuma | bunga; sangat indah untuk putri; keturunan luhur | Jawa |
| Laras | keindahan yang menyenangkan; tangga nada gamelan | Kawi dan Jawa |
| Lestari | tetap, tidak berubah, terus menerus | Jawa |
| Lintang | bintang | Jawa |
| Luhur | tinggi; keturunan raja; utama budi pekertinya | Kawi dan Jawa |
| Maharsi | pendeta yang luhur | Kawi |
| Manis | manis; baik dan menyenangkan rupanya | Jawa |
| Mekar | membesar, mekar untuk bunga | Jawa |
| Mirah | merah; intan merah | Kawi dan Jawa |
| Mulya | luhur dan dihormati; hidup serba berkecukupan | Jawa |
| Nala | hati, perasaan hati | Kawi |
| Nawang | memandang, melihat dengan diterangi sinar | Jawa |
| Padhang | terang; bersih tanpa rasa khawatir | Jawa |
| Padma | bunga teratai | Sanskerta dan Kawi |
| Palupi | pola, teladan; surat, tulisan | Jawa |
| Praba | sinar, cahaya | Jawa |
| Pratiwi | bumi, tanah | Kawi |
| Puspita | bunga | Sanskerta dan Kawi |
| Rahayu | selamat, beruntung, terhindar dari celaka | Jawa |
| Raras | keselarasan | Kawi |
| Ratih | rembulan | Kawi |
| Ratna | intan, permata | Sanskerta dan Kawi |
| Ratri | malam | Sanskerta dan Kawi |
| Riris | gerimis | Kawi |
| Santi | tenang dan tenteram; doa dan pujian | Jawa |
| Sari | asri dan indah; bunga; inti dari sesuatu | Kawi dan Jawa |
| Sasi | rembulan; bulan sebagai satuan waktu | Kawi dan Jawa |
| Sekar | bunga; tembang | Jawa |
| Slamet | terhindar dari bahaya; sehat | Jawa |
| Sri | sinar dan cahaya; sangat indah; sebutan bagi yang mulia; ratu; asri | Jawa |
| Sumirat | memancar | Jawa |
| Sumunar | bersinar | Kawi |
| Surya | matahari | Sanskerta dan Kawi |
| Tanjung | pohon berbunga putih dan wangi | Jawa |
| Teja | sinar, pelangi | Jawa |
| Tentrem | tidak gelisah, tidak khawatir | Jawa |
| Tirta | air suci, pemandian suci | Jawa |
| Tresna | kasih, ketulusan hati kepada orang lain | Jawa |
| Tunjung | bunga teratai | Jawa |
| Tyas | hati | Kawi |
| Utami | utama | Jawa |
| Wangi | bau yang sedap | Jawa |
| Wening | bening; bersih tidak tercampur apa pun, terutama untuk pikiran | Jawa |
| Wengi | malam | Jawa |
| Werdi | arti, makna | Jawa |
| Widya | pengetahuan, kebijaksanaan | Sanskerta dan Kawi |
| Wirya | berani dan berkuasa; mulia dan luhur untuk keturunan | Jawa |
| Wulan | rembulan; bulan sebagai satuan waktu | Jawa |
Enam puluh tujuh kata di atas adalah yang berhasil kami temukan entrinya. Beberapa kata yang sangat populer dalam daftar nama Jawa, misalnya Larasati, Gayatri, Mustika, Kinasih, dan Esti, tidak kami masukkan karena entrinya tidak kami temukan di kamus yang kami pakai. Itu tidak berarti kata tersebut salah, hanya berarti kami belum bisa membuktikannya.
Menyusun nama Jawa untuk anak perempuan
Cara paling aman adalah menggabungkan dua kata yang artinya nyambung, bukan yang bunyinya nyambung. Beberapa pola yang lazim:
- Sifat ditambah benda, misalnya Wening Sasi yang berarti bening seperti rembulan.
- Benda ditambah sifat, misalnya Sekar Arum yang berarti bunga yang harum.
- Cahaya ditambah waktu, misalnya Praba Ratri yang berarti cahaya malam.
- Doa ditambah penegas, misalnya Rahayu Utami yang berarti keselamatan yang utama.
Hindari menempelkan unsur gelar seperti Gusti, Raden, Kanjeng, atau Bendara di depan nama anak. Selain menyangkut kepatutan adat, gelar juga tidak akan tercatat di akta kelahiran. Kalau Anda ingin membandingkan dengan tradisi penamaan Jawa untuk anak laki laki, kami membahasnya di panduan nama anak laki-laki Jawa, sedangkan kata kata berakar Sanskerta dibahas lebih dalam di nama bayi perempuan Sansekerta.
Tradisi sepasaran dan aturan pencatatan nama
Dalam tradisi Jawa, pemberian nama punya momennya sendiri. Dokumentasi tradisi Jawa Timur yang diterbitkan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur menjelaskan bahwa sepasar adalah perhitungan waktu Jawa selama lima hari, dan selamatan sepasaran diadakan ketika bayi berumur lima hari. Sebagian keluarga menunggu tali pusat bayi putus lebih dulu, sehingga acaranya disebut puputan. Dokumentasi yang sama menyebut bahwa bersamaan dengan selamatan sepasaran, bayi diberi nama, dan nama itu diikrarkan secara resmi pada saat kenduri berlangsung.
Setelah nama disepakati keluarga, tinggal memastikan namanya bisa dicatat. Ditjen Dukcapil Kemendagri menjelaskan pokok ketentuan Permendagri Nomor 73 Tahun 2022 yang diundangkan pada 21 April 2022, yaitu jumlah huruf paling banyak 60 termasuk spasi, jumlah kata paling sedikit dua kata yang sifatnya imbauan, ditulis dengan huruf Latin sesuai kaidah bahasa Indonesia, tidak memakai angka dan tanda baca, mudah dibaca, tidak bermakna negatif, dan tidak multitafsir. Nama marga atau famili boleh dicantumkan, sedangkan gelar tidak dicantumkan pada akta pencatatan sipil.
Untuk membandingkan dengan pilihan dari tradisi lain, Anda bisa menelusuri kumpulan artikel nama bayi, melihat arti kata per kata di kamus nama bayi, atau membaca panduan nama anak perempuan yang cakupannya lebih umum.
Sumber
Sumber resmi:
- Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur - Sepasaran (Puputan), Tradisi Budaya Jawatimuran
- Ditjen Dukcapil Kemendagri - Permendagri Nomor 73 Tahun 2022 untuk Berikan Perlindungan Sejak Dini pada Anak
- JDIH - Permendagri No. 73 Tahun 2022 tentang Pencatatan Nama pada Dokumen Kependudukan
Sumber keraton dan kamus Jawa yang dipakai memeriksa nama dan arti kata:
- Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat - Yang Bertakhta (daftar permaisuri dan kelima putri Sultan)
- Wikipedia bahasa Indonesia - Hamengkubuwana X
- Wikipedia bahasa Indonesia - Kasunanan Surakarta Hadiningrat
- Wikisastra, kamus bahasa Jawa - retna
- Wikisastra, kamus bahasa Jawa - pambayun
- Wikisastra, kamus bahasa Jawa - kirana
Arti kata pada halaman ini ditelusuri ke entri kamus bahasa Jawa, dan nama serta gelar bangsawan ditelusuri ke halaman resmi Keraton Yogyakarta serta ensiklopedia daring yang mengutip pemberitaan. Meski begitu, sistem gelar keraton punya rincian yang berbeda antara Yogyakarta dan Surakarta serta dapat berubah melalui sabda raja, sehingga artikel ini bukan rujukan adat yang mengikat. Untuk urusan gelar dan silsilah, rujukan yang sah adalah keraton yang bersangkutan. Untuk persyaratan pencatatan nama, pastikan langsung ke Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil setempat karena tata cara pelayanan dapat berbeda tiap daerah. Untuk pertanyaan seputar kesehatan ibu dan bayi, silakan berkonsultasi dengan bidan, dokter, atau petugas kesehatan terdekat.
Pertanyaan yang sering muncul
Apa bedanya nama keraton dan gelar keraton?
Bolehkah anak saya diberi nama Gusti Raden Ajeng?
Nama apa yang benar-benar dipakai putri Keraton Yogyakarta?
Apa arti Condrokirono, Maduretno, dan Pembayun?
Kapan bayi Jawa biasanya diberi nama?
Apakah nama Jawa harus dua kata agar bisa dicatat?
Kenapa banyak daftar nama keraton di internet yang isinya nama Jawa biasa?
Konten ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Untuk keputusan medis, hubungi dokter atau bidan Anda.
Punya pertanyaan seputar nama bayi?
Tanya lewat WhatsApp

