Baru: alat cek usia dan milestone anak sudah bisa dipakai gratis. Coba sekarang

Nama Bayi

Nama Bayi Perempuan Sansekerta: 100 Pilihan Lengkap dengan Artinya

Oleh Tim Redaksi Asuh Anak· 15 menit baca· Terakhir diperbarui

Tangan orang dewasa berhias pacar merah menggenggam tangan mungil bayi di atas tikar
Nama bayi perempuan dari bahasa Sansekerta banyak dipilih karena maknanya yang indah dan sudah lama akrab dalam budaya Nusantara. Foto: சௌந்தர்யா சுந்தரம் / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Nama bayi perempuan Sansekerta adalah nama yang akar katanya berasal dari bahasa Sanskerta, bahasa klasik India kuno yang kosakatanya sudah berabad-abad meresap ke dalam bahasa Indonesia. Itulah sebabnya nama seperti Kirana, Puspita, atau Larasati terdengar klasik dan anggun, tetapi sama sekali tidak asing di telinga kita. Halaman ini mengumpulkan 100 pilihan yang dikelompokkan ke dalam empat tema, lengkap dengan artinya, ditambah aturan resmi pencatatan nama yang sering terlewat sampai orang tua terlanjur berhadapan dengan petugas Disdukcapil.

Satu hal kami sampaikan di awal supaya Bunda bisa menakar isinya dengan tepat. Arti yang kami tuliskan mengikuti kosakata Sanskerta yang sudah terserap ke bahasa Indonesia dan pemakaiannya yang lazim dalam khazanah nama Nusantara, bukan hasil pengecekan kamus baris per baris. Untuk nama-nama yang berasal dari kisah klasik, artinya lebih tepat dipahami sebagai gambaran tokohnya, bukan terjemahan harfiah.

Kenapa Nama Sansekerta Terdengar Akrab di Telinga Indonesia

Sebelum masuk ke daftar, ada baiknya memahami kenapa kosakata Sanskerta terasa begitu dekat. Menurut artikel Badan Bahasa yang ditulis Balai Bahasa Provinsi Aceh, bahasa Sanskerta telah memengaruhi bahasa Melayu, cikal bakal bahasa Indonesia, baik secara langsung maupun melalui bahasa Jawa Kuno, sejak kontak masyarakat Nusantara dengan para pendatang India berlangsung sebelum abad pertama Masehi. Pengaruh itu sudah tertancap dalam bahkan sebelum kita mengenal bahasa Indonesia modern.

Artikel yang sama, dengan mengutip kajian Arif Budi Wurianto berjudul "Kata Serapan Bahasa Sanskerta dalam Bahasa Indonesia" yang terbit di Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya pada Oktober 2015, menyebutkan bahwa bahasa Indonesia dan Melayu menyerap 412 kosakata Sanskerta. Berbeda dengan serapan dari bahasa lain, pungutan Sanskerta sudah merasuki kosakata dasar bahasa Indonesia sehingga dalam banyak kasus tidak lagi dianggap sebagai pungutan.

Yang menarik untuk urusan nama perempuan, kata wanita sendiri termasuk serapan Sanskerta, begitu pula cinta, setia, bahagia, karunia, sejahtera, dan belia. Semuanya disebut dalam artikel Badan Bahasa tersebut sebagai contoh kosakata yang sehari-hari kita pakai tanpa sadar bahwa asalnya Sanskerta. Konsekuensinya bagus. Ketika Bunda memilih nama berakar Sansekerta, Bunda tidak sedang memakai kata asing yang perlu dijelaskan berulang kali, melainkan kata yang sudah menjadi milik bahasa Indonesia.

Menurut Badan Bahasa, bahasa Indonesia dan Melayu menyerap 412 kosakata Sanskerta, termasuk kata sehari-hari seperti wanita, cinta, setia, bahagia, karunia, sejahtera, dan belia
Karena serapannya sudah sampai ke kosakata dasar, nama berakar Sanskerta jarang perlu dieja ulang di loket pelayanan. Diagram: Asuh Anak, berdasarkan Badan Bahasa, Balai Bahasa Provinsi Aceh, Sanskerta yang Amat Berjasa.
Ringkasan singkat. Tiga hal yang perlu dipegang sebelum membaca daftar nama:
  • Kosakata Sanskerta sudah menyatu ke bahasa Indonesia, jadi bunyinya akrab dan mudah dieja petugas.
  • Aturan pencatatan nama ada di Permendagri Nomor 73 Tahun 2022, berlaku sejak 21 April 2022.
  • Satu kata sering punya lebih dari satu makna. Periksa semua artinya, bukan hanya yang Bunda niatkan.

Aturan Resmi Pencatatan Nama yang Perlu Dicek Sebelum ke Disdukcapil

Bagian ini sering dilewati, padahal dampaknya nyata di meja pelayanan. Pencatatan nama pada dokumen kependudukan diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 73 Tahun 2022, yang ditetapkan pada 11 April 2022, diundangkan pada 21 April 2022, dan berlaku sejak tanggal yang sama. Dokumen yang dicakup meliputi biodata penduduk, kartu keluarga, kartu identitas anak, KTP elektronik, surat keterangan kependudukan, dan akta pencatatan sipil.

Ketentuan yang paling relevan untuk orang tua ada di empat pasal:

  • Prinsipnya. Pasal 2 menyebut pencatatan nama dilakukan sesuai prinsip norma agama, norma kesopanan, norma kesusilaan, dan ketentuan peraturan perundang-undangan.
  • Persyaratannya. Pasal 4 ayat (2) mensyaratkan nama mudah dibaca, tidak bermakna negatif, dan tidak multitafsir; jumlah huruf paling banyak 60 huruf termasuk spasi; serta jumlah kata paling sedikit 2 kata.
  • Tata caranya. Pasal 5 ayat (1) mengatur nama ditulis dengan huruf latin sesuai kaidah bahasa Indonesia, dan nama marga atau famili boleh dicantumkan serta dihitung sebagai satu kesatuan dengan nama.
  • Larangannya. Pasal 5 ayat (3) melarang nama disingkat kecuali tidak diartikan lain, melarang penggunaan angka dan tanda baca, serta melarang pencantuman gelar pendidikan dan keagamaan pada akta pencatatan sipil.

Ada satu nuansa yang jarang dijelaskan. Pasal 7 ayat (1) menyebut petugas tidak mencatatkan dan menerbitkan dokumen kependudukan bila penduduk memberikan nama yang melanggar Pasal 4 ayat (2) huruf b, yaitu batas 60 huruf, dan Pasal 5 ayat (3), yaitu larangan singkatan, angka, serta tanda baca. Syarat jumlah kata paling sedikit dua kata berada di huruf c, yang tidak disebut dalam pasal itu. Artinya batas 60 huruf serta larangan angka dan tanda baca adalah ketentuan yang berkonsekuensi tegas, sedangkan syarat dua kata lebih berfungsi sebagai persyaratan yang dibina lewat edukasi petugas sebagaimana diatur di Pasal 6.

Syarat nama menurut Permendagri Nomor 73 Tahun 2022 Pasal 4 ayat 2: mudah dibaca, tidak bermakna negatif, dan tidak multitafsir, paling banyak 60 huruf termasuk spasi, paling sedikit 2 kata, serta larangan Pasal 5 ayat 3 tentang singkatan, angka, tanda baca, dan gelar pada akta
Batas 60 huruf dan larangan Pasal 5 ayat (3) adalah ketentuan yang membuat dokumen tidak diterbitkan bila dilanggar. Diagram: Asuh Anak, berdasarkan Permendagri Nomor 73 Tahun 2022 dan Ditjen Dukcapil Kemendagri.

Ditjen Dukcapil Kemendagri menjelaskan lewat lamannya bahwa aturan ini bertujuan memastikan nama yang tercantum mudah dipahami dan tidak menimbulkan interpretasi yang membingungkan. Dirjen Dukcapil Teguh Setyabudi menyampaikan, "Aturan ini tidak hanya untuk kepentingan sekarang, tetapi juga untuk masa depan anak-anak kita, agar identitas mereka terlindungi dan proses administrasi berjalan lancar tanpa hambatan."

Perhatian sebelum ke Disdukcapil. Hal-hal berikut berisiko membuat dokumen anak Bunda tidak diterbitkan:
  • Rangkaian nama melebihi 60 huruf termasuk spasi. Nama Sansekerta tiga kata seperti "Kirana Paramita Wijayanti" masih aman, tetapi hitunglah dulu bila Bunda menambah nama keluarga yang panjang.
  • Memakai angka atau tanda baca, termasuk tanda petik, titik, dan koma.
  • Menyingkat nama, kecuali singkatan itu tidak diartikan lain.
  • Mencantumkan gelar pendidikan atau keagamaan pada akta pencatatan sipil.

Nama Bertema Cahaya, Bintang, dan Bulan

Tema ini paling banyak dicari karena bunyinya lembut dan maknanya mudah dijelaskan kepada anak kelak. Cahaya, bintang, dan bulan adalah gambaran yang sama sekali tidak lekang oleh tren.

NamaArti
KiranaCahaya, sinar yang indah
CahyaniYang bercahaya dan bersinar
KartikaBintang
KartikasariInti atau sari dari bintang
ArundatiBintang, dalam kisah klasik menjadi lambang kesetiaan
TejaswiniYang bercahaya dan bersemangat
ErawatiCahaya, permaisuri yang anggun
ArunaFajar, semburat merah menjelang matahari terbit
PurnamaBulan yang bulat penuh dan sempurna
PurnamasariSari dari bulan purnama
SitaresmiBulan purnama
SasangkaBulan
SasikiranaSinar bulan, gabungan sasi dan kirana
CandrawatiPerempuan yang berpendar seperti bulan
RatriMalam yang teduh
PrabawatiYang memancarkan wibawa dan cahaya
SavitriSinar matahari, dalam kisah klasik lambang kesetiaan

Untuk rangkaian, tema ini enak dipadukan dengan tema bunga atau permata, misalnya Kirana Puspita atau Kartika Ratna. Hindari memadukan dua kata yang artinya sama persis, seperti Kirana Cahyani, karena hasilnya terasa mengulang.

Nama Bertema Bunga, Permata, dan Keindahan

Kelompok ini adalah yang paling luas dan paling mudah dipakai sehari-hari. Banyak di antaranya sudah menjadi kata biasa dalam bahasa Indonesia, sehingga tidak akan terdengar asing saat dipanggil di sekolah.

NamaArti
PuspitaBunga yang mekar indah
PuspaBunga
PuspasariSari atau inti dari bunga
PuspawatiPerempuan yang berhias bunga
PuspanjaliPersembahan berupa bunga
KusumaBunga, keindahan dan kemuliaan
KusumawatiYang berhias bunga
PadmaBunga teratai yang suci
KamalaBunga teratai, kesempurnaan
KumudaTeratai putih yang mekar pada malam hari
CempakaBunga cempaka yang harum
AnggraeniBunga anggrek yang memikat
RatnaPermata, batu yang berharga
RatnasariInti dari permata
KencanaEmas, sesuatu yang berharga
RukmawatiPerempuan yang berhias emas
MustikaPermata yang sangat berharga
WiduriBatu permata baiduri
BaiduriBatu permata yang berkilau
NilaBatu permata berwarna biru tua
NilamsariSari dari batu nilam
CitraGambaran dan rupa yang indah
CitrawatiPerempuan yang rupawan
SariInti, saripati dari sesuatu
LalitaYang menawan dan lembut
ManoharaYang memikat hati
AninditaSempurna tanpa cela
AnindyaTidak tercela, sangat baik
NirmalaSuci tanpa noda dan cela
AmritaAir kehidupan yang abadi
IndiraKeindahan, nama lain bagi Dewi Laksmi

Nama pada tema ini sangat lentur dipakai sebagai nama depan maupun nama tengah. Ratna, Puspa, dan Kusuma termasuk yang paling sering muncul di posisi depan, sedangkan Anindita dan Nirmala lebih sering dipakai sebagai kata kedua karena bunyinya lebih panjang.

Satu hal yang perlu diperiksa pada tema ini adalah kemiripan bunyi antarnama. Puspa, Puspita, dan Puspasari berasal dari akar yang sama, jadi memakai dua di antaranya dalam satu rangkaian akan terasa berulang. Begitu pula Ratna dan Ratnasari. Bila Bunda menyukai lebih dari satu nama dari kelompok ini, biasanya lebih enak memasangkannya dengan nama dari tema lain daripada menumpuknya.

Nama Bertema Ilmu, Kebijaksanaan, dan Ketenangan

Kalau Bunda ingin nama yang membawa harapan tentang cara anak berpikir dan membawa diri, bukan tentang penampilannya, tema ini pilihannya. Sebagian nama di sini juga terdengar lebih matang saat anak dewasa nanti.

NamaArti
WidyaIlmu pengetahuan
VidyaIlmu pengetahuan, ejaan lain dari Widya
WidyawatiPerempuan yang berilmu
SaraswatiDewi ilmu pengetahuan dan seni
GayatriMantra suci, perempuan yang dimuliakan
ParamitaKesempurnaan yang luhur
PrajnaKebijaksanaan yang mendalam
PradnyaKebijaksanaan, ejaan yang lazim dipakai di Bali
WiwekaKebijaksanaan membedakan yang baik dan yang buruk
WicaksaniYang bijaksana, bentuk perempuan dari Wicaksana
CendekiaCerdik pandai dan berilmu
LarasatiPerempuan yang tenang dan selaras
SantiKedamaian dan ketenangan
NirwanaKetenangan sempurna, bebas dari gelisah
SuciBersih dan tanpa noda
PramestiYang utama dan dimuliakan
SasmitaIsyarat, pertanda yang halus
PramuditaYang gembira dan berbahagia
MaitriPersahabatan dan kasih yang tulus
TrisnaCinta dan kasih
BhadraYang baik dan membawa berkah
GitaNyanyian, lagu kehidupan
SwaraSuara, nada
PratiwiBumi, ibu pertiwi

Perlu satu catatan jujur di sini. Nama seperti Gayatri, Prajna, dan Santi punya latar keagamaan yang kuat dalam tradisi Hindu dan Buddha. Bagi sebagian keluarga hal itu justru menjadi nilai lebih, bagi sebagian lain perlu dipertimbangkan lagi. Tidak ada yang salah dari kedua sikap itu, yang penting keputusannya diambil dengan tahu.

Nama Bertema Kemuliaan dan Tokoh Perempuan dalam Kisah Klasik

Tema terakhir mengambil dari nama dewi dan tokoh perempuan dalam kisah Ramayana serta Mahabharata versi Nusantara, yang sudah berabad-abad hidup dalam wayang dan sastra Jawa Kuno. Arti yang tertera lebih tepat dibaca sebagai gambaran tokohnya, bukan terjemahan kata.

NamaArti
DewiPerempuan yang mulia
SriKemuliaan, cahaya, dan kemakmuran
LaksmiDewi kemakmuran dan keberuntungan
MaheswariDewi yang agung
PrameswariPermaisuri, ratu yang mulia
NareswariRatu, perempuan pemimpin
TribhuwanaTiga dunia, nama Ratu Majapahit Tribhuwana Tunggadewi
ParwatiDewi putri gunung
UmaDewi ketenangan, nama lain bagi Parwati
RatihDewi cinta dan kecantikan
SuprabaBidadari dalam kisah pewayangan
DresanalaPutri kahyangan dalam kisah pewayangan
SintaIstri Rama, lambang kesetiaan dan kesucian
SrikandiKesatria perempuan yang pemberani
DrupadiPerempuan berpendirian teguh, permaisuri Pandawa
KuntiIbu para Pandawa yang mulia
SubadraYang membawa keberuntungan, istri Arjuna
SembadraNama lain Subadra dalam pewayangan Jawa
ArimbiTokoh perempuan gagah dalam Mahabharata versi Jawa, istri Bima
UtariPerempuan mulia, istri Abimanyu
BanowatiPermaisuri yang cantik jelita
RukminiYang berhias emas, permaisuri Kresna
AnjaniIbu Hanoman, perempuan yang dimuliakan
DamayantiPutri dalam kisah Nala dan Damayanti, lambang kesetiaan
SakuntalaPutri dalam kisah klasik Sanskerta yang dilakonkan Kalidasa
NandiniYang membahagiakan, putri tersayang
WijayantiKemenangan, perempuan pemenang
SekarwangiBunga yang harum, dari khazanah Jawa Kuno

Nama dari kelompok ini punya bobot cerita yang kuat, dan itu pedang bermata dua. Sisi baiknya, anak punya kisah untuk diceritakan tentang namanya sendiri. Sisi yang perlu dipertimbangkan, sebagian tokoh punya kisah hidup yang berat, sehingga ada baiknya Bunda membaca dulu ringkasan kisahnya sebelum memutuskan.

Merangkai Nama Sansekerta Dua sampai Tiga Kata

Karena Permendagri menyarankan minimal dua kata, kebanyakan orang tua akhirnya merangkai. Ada beberapa pola yang terbukti nyaman dipakai seumur hidup.

Pola satu tema, dua kata. Cara paling aman, misalnya Kirana Puspita, Ratna Kusuma, atau Widya Paramita. Bunyinya selaras karena berasal dari rumpun yang sama, dan artinya mudah dijelaskan dalam satu kalimat.

Pola dua tema yang saling melengkapi. Gabungkan kata bermakna sifat dengan kata bermakna benda indah, misalnya Anindita Kirana, Larasati Puspa, atau Nirmala Kencana. Pola ini menghindari kesan mengulang.

Pola tiga kata dengan nama keluarga. Bila Bunda ingin menyertakan nama ayah atau marga, taruh dua kata Sansekerta di depan lalu nama keluarga di belakang. Ingat, menurut Permendagri Nomor 73 Tahun 2022 nama marga atau famili dihitung sebagai satu kesatuan dengan nama, dan seluruh rangkaiannya tetap dibatasi 60 huruf termasuk spasi.

Tiga pola merangkai nama Sansekerta: satu tema dua kata seperti Kirana Puspita, dua tema yang saling melengkapi seperti Anindita Kirana, dan tiga kata dengan nama keluarga yang seluruhnya tetap dibatasi 60 huruf termasuk spasi
Contoh rangkaian diambil dari daftar nama di artikel ini; hitung seluruh rangkaian, termasuk nama keluarga, sebelum ke Disdukcapil. Diagram: Asuh Anak, berdasarkan Permendagri Nomor 73 Tahun 2022 untuk batas jumlah huruf.

Beberapa hal yang sebaiknya dihindari saat merangkai. Pertama, dua kata dengan bunyi akhir yang sama persis, misalnya Cahyani Anjani, karena terdengar seperti pantun. Kedua, rangkaian yang huruf awalnya membentuk singkatan yang lucu atau bermakna lain. Ketiga, ejaan yang tidak lazim seperti mengganti c dengan tj atau menambahkan huruf mati ganda, karena akan membuat anak mengeja namanya seumur hidup di setiap loket. Keempat, memilih nama hanya karena sedang tren tanpa mengetahui artinya.

Ada juga soal panggilan sehari-hari yang sering baru disadari setelah anak lahir. Nama tiga suku kata seperti Kirana atau Puspita hampir selalu berakhir dipendekkan menjadi Kira atau Puspa, dan itu tidak masalah selama bentuk pendeknya juga enak didengar. Yang perlu diperiksa adalah kemungkinan bentuk pendek yang tidak Bunda inginkan, misalnya rangkaian yang otomatis dipanggil dengan suku kata terakhir. Coba tebak sendiri bagaimana teman-teman sekolahnya kelak akan memanggil, karena merekalah yang paling sering menyebut nama itu.

Cara mengujinya sederhana. Ucapkan rangkaian lengkapnya keras-keras beberapa kali, panggil dengan nada memanggil anak dari kejauhan, lalu bayangkan nama itu dibacakan saat wisuda dan tercetak di paspor. Kalau ketiganya terasa nyaman, biasanya pilihan itu sudah cukup matang. Daftar lengkap lebih dari dua ribu nama beserta arti dan asal katanya juga bisa Bunda telusuri di kamus nama bayi.

Masih menimbang rumpun lain? Padanan untuk anak laki-laki ada di nama anak laki-laki Sansekerta, sedangkan gambaran menyeluruh lintas rumpun, mulai dari Jawa, Bali, sampai Alkitabiah, kami kumpulkan di nama anak perempuan. Bila Bunda mencari nuansa yang lebih kekinian, nama bayi perempuan modern bisa menjadi pembanding. Kumpulan bahasan lainnya ada di kategori nama bayi.

Pada akhirnya, tidak ada nama yang sempurna, dan tidak ada orang tua yang perlu merasa gagal karena butuh waktu lama memutuskan. Nama Sansekerta menawarkan sesuatu yang jarang dimiliki tren nama musiman, yaitu makna yang berakar dan bunyi yang sudah teruji berabad-abad di telinga orang Indonesia. Ambil waktu Bunda, ucapkan pilihannya berulang kali, cocokkan dengan aturan yang berlaku, lalu percayalah pada keputusan Bunda.

Sumber

Artikel ini disusun sebagai edukasi bahasa dan administrasi kependudukan, bukan pengganti konsultasi langsung dengan instansi yang berwenang. Ketentuan pencatatan nama mengacu pada Permendagri Nomor 73 Tahun 2022 yang kami baca langsung dari salinan resminya. Arti nama dalam daftar di atas mengikuti kosakata Sanskerta yang sudah terserap ke bahasa Indonesia serta pemakaiannya yang lazim dalam khazanah nama Nusantara, dan tidak diverifikasi ke kamus satu per satu, sehingga sebuah kata bisa saja memiliki makna lain yang tidak kami sebutkan. Untuk kepastian penulisan nama pada akta kelahiran dan dokumen kependudukan anak Anda, silakan berkonsultasi dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil di kabupaten atau kota tempat Anda tinggal. Untuk pertanyaan seputar kesehatan dan tumbuh kembang anak, silakan berkonsultasi dengan bidan, dokter, atau petugas kesehatan terdekat.

Pertanyaan yang sering muncul

Ejaannya Sansekerta atau Sanskerta?
Keduanya merujuk pada bahasa yang sama. Dalam pemakaian sehari-hari dan pencarian di internet, orang lebih sering menulis Sansekerta, sedangkan Badan Bahasa dan kalangan akademik konsisten menulis Sanskerta. Untuk urusan akta kelahiran, yang jauh lebih penting adalah ejaan nama anak itu sendiri harus sama persis di semua dokumen, bukan ejaan nama bahasanya.
Kenapa nama Sansekerta terdengar akrab padahal berasal dari bahasa India kuno?
Karena kosakatanya sudah lama menyatu ke dalam bahasa Indonesia. Menurut artikel Badan Bahasa yang ditulis Balai Bahasa Provinsi Aceh, bahasa Indonesia dan Melayu menyerap 412 kosakata Sanskerta, dan serapan itu sudah merasuki kosakata dasar sehingga dalam banyak kasus tidak lagi dianggap kata pungutan. Kata sehari-hari seperti wanita, cinta, setia, bahagia, dan karunia semuanya berakar Sanskerta.
Apakah nama anak wajib terdiri atas dua kata?
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 73 Tahun 2022 mensyaratkan jumlah kata paling sedikit dua kata. Namun perlu diketahui bahwa Pasal 7 ayat (1) hanya menyebut pelanggaran batas 60 huruf dan larangan pada Pasal 5 ayat (3) sebagai alasan dokumen tidak diterbitkan, sedangkan syarat dua kata tidak disebut di pasal itu. Meski begitu, memakai minimal dua kata tetap disarankan karena memudahkan banyak layanan di kemudian hari.
Berapa batas panjang nama yang boleh dicatat di dokumen kependudukan?
Paling banyak 60 huruf termasuk spasi, sesuai Pasal 4 ayat (2) huruf b Permendagri Nomor 73 Tahun 2022. Batas ini termasuk ketentuan yang berkonsekuensi tegas, karena Pasal 7 ayat (1) menyatakan petugas tidak mencatatkan dan menerbitkan dokumen kependudukan bila nama melanggar ketentuan tersebut. Rangkaian nama Sansekerta mudah membengkak, jadi sebaiknya dihitung dulu sebelum ke Disdukcapil.
Bolehkah nama keluarga atau gelar ikut ditulis di akta kelahiran anak?
Nama keluarga boleh, gelar tidak. Permendagri Nomor 73 Tahun 2022 Pasal 5 membolehkan nama marga, famili, atau sebutan lain dicantumkan pada dokumen kependudukan, dan nama itu dihitung sebagai satu kesatuan dengan nama sehingga ikut masuk hitungan batas 60 huruf. Sebaliknya, gelar pendidikan, adat, dan keagamaan hanya dapat dicantumkan pada kartu keluarga dan KTP elektronik, dan pasal yang sama melarang gelar pendidikan dan keagamaan dicantumkan pada akta pencatatan sipil. Ditjen Dukcapil memberi contoh gelar seperti Dr. atau Hj. boleh muncul di KTP-el, tetapi tidak di akta kelahiran.
Apakah nama Sansekerta boleh dipakai keluarga muslim atau kristen?
Aturannya tidak membatasi berdasarkan asal bahasa. Permendagri Nomor 73 Tahun 2022 Pasal 2 menyebut pencatatan nama dilakukan sesuai prinsip norma agama, norma kesopanan, norma kesusilaan, dan ketentuan peraturan perundang-undangan. Karena kosakata Sanskerta sudah menjadi bagian dari bahasa Indonesia, banyak keluarga dari berbagai latar belakang memakainya, sering kali dipadukan dengan nama dari rumpun bahasa lain.
Apakah arti nama di artikel ini sudah dicek ke kamus satu per satu?
Tidak. Arti yang kami tuliskan mengikuti kosakata Sanskerta yang sudah terserap ke bahasa Indonesia dan pemakaiannya yang lazim dalam khazanah nama Nusantara, bukan hasil pengecekan kamus baris per baris. Sebagian kata bisa ditelusuri sendiri di KBBI Daring, meskipun saat artikel ini disusun laman entrinya sedang dalam moda terbatas dan meminta pengguna masuk ke akun terlebih dahulu. Bila arti sebuah nama penting bagi Bunda, sebaiknya diperiksa kembali ke sumber kebahasaan sebelum dipakai.

Konten ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Untuk keputusan medis, hubungi dokter atau bidan Anda.

Punya pertanyaan seputar nama bayi?

Tanya lewat WhatsApp