Nama Bayi Perempuan Sansekerta: 100 Pilihan Lengkap dengan Artinya
Oleh Tim Redaksi Asuh Anak· 15 menit baca· Terakhir diperbarui

Nama bayi perempuan Sansekerta adalah nama yang akar katanya berasal dari bahasa Sanskerta, bahasa klasik India kuno yang kosakatanya sudah berabad-abad meresap ke dalam bahasa Indonesia. Itulah sebabnya nama seperti Kirana, Puspita, atau Larasati terdengar klasik dan anggun, tetapi sama sekali tidak asing di telinga kita. Halaman ini mengumpulkan 100 pilihan yang dikelompokkan ke dalam empat tema, lengkap dengan artinya, ditambah aturan resmi pencatatan nama yang sering terlewat sampai orang tua terlanjur berhadapan dengan petugas Disdukcapil.
Satu hal kami sampaikan di awal supaya Bunda bisa menakar isinya dengan tepat. Arti yang kami tuliskan mengikuti kosakata Sanskerta yang sudah terserap ke bahasa Indonesia dan pemakaiannya yang lazim dalam khazanah nama Nusantara, bukan hasil pengecekan kamus baris per baris. Untuk nama-nama yang berasal dari kisah klasik, artinya lebih tepat dipahami sebagai gambaran tokohnya, bukan terjemahan harfiah.
Kenapa Nama Sansekerta Terdengar Akrab di Telinga Indonesia
Sebelum masuk ke daftar, ada baiknya memahami kenapa kosakata Sanskerta terasa begitu dekat. Menurut artikel Badan Bahasa yang ditulis Balai Bahasa Provinsi Aceh, bahasa Sanskerta telah memengaruhi bahasa Melayu, cikal bakal bahasa Indonesia, baik secara langsung maupun melalui bahasa Jawa Kuno, sejak kontak masyarakat Nusantara dengan para pendatang India berlangsung sebelum abad pertama Masehi. Pengaruh itu sudah tertancap dalam bahkan sebelum kita mengenal bahasa Indonesia modern.
Artikel yang sama, dengan mengutip kajian Arif Budi Wurianto berjudul "Kata Serapan Bahasa Sanskerta dalam Bahasa Indonesia" yang terbit di Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya pada Oktober 2015, menyebutkan bahwa bahasa Indonesia dan Melayu menyerap 412 kosakata Sanskerta. Berbeda dengan serapan dari bahasa lain, pungutan Sanskerta sudah merasuki kosakata dasar bahasa Indonesia sehingga dalam banyak kasus tidak lagi dianggap sebagai pungutan.
Yang menarik untuk urusan nama perempuan, kata wanita sendiri termasuk serapan Sanskerta, begitu pula cinta, setia, bahagia, karunia, sejahtera, dan belia. Semuanya disebut dalam artikel Badan Bahasa tersebut sebagai contoh kosakata yang sehari-hari kita pakai tanpa sadar bahwa asalnya Sanskerta. Konsekuensinya bagus. Ketika Bunda memilih nama berakar Sansekerta, Bunda tidak sedang memakai kata asing yang perlu dijelaskan berulang kali, melainkan kata yang sudah menjadi milik bahasa Indonesia.
- Kosakata Sanskerta sudah menyatu ke bahasa Indonesia, jadi bunyinya akrab dan mudah dieja petugas.
- Aturan pencatatan nama ada di Permendagri Nomor 73 Tahun 2022, berlaku sejak 21 April 2022.
- Satu kata sering punya lebih dari satu makna. Periksa semua artinya, bukan hanya yang Bunda niatkan.
Aturan Resmi Pencatatan Nama yang Perlu Dicek Sebelum ke Disdukcapil
Bagian ini sering dilewati, padahal dampaknya nyata di meja pelayanan. Pencatatan nama pada dokumen kependudukan diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 73 Tahun 2022, yang ditetapkan pada 11 April 2022, diundangkan pada 21 April 2022, dan berlaku sejak tanggal yang sama. Dokumen yang dicakup meliputi biodata penduduk, kartu keluarga, kartu identitas anak, KTP elektronik, surat keterangan kependudukan, dan akta pencatatan sipil.
Ketentuan yang paling relevan untuk orang tua ada di empat pasal:
- Prinsipnya. Pasal 2 menyebut pencatatan nama dilakukan sesuai prinsip norma agama, norma kesopanan, norma kesusilaan, dan ketentuan peraturan perundang-undangan.
- Persyaratannya. Pasal 4 ayat (2) mensyaratkan nama mudah dibaca, tidak bermakna negatif, dan tidak multitafsir; jumlah huruf paling banyak 60 huruf termasuk spasi; serta jumlah kata paling sedikit 2 kata.
- Tata caranya. Pasal 5 ayat (1) mengatur nama ditulis dengan huruf latin sesuai kaidah bahasa Indonesia, dan nama marga atau famili boleh dicantumkan serta dihitung sebagai satu kesatuan dengan nama.
- Larangannya. Pasal 5 ayat (3) melarang nama disingkat kecuali tidak diartikan lain, melarang penggunaan angka dan tanda baca, serta melarang pencantuman gelar pendidikan dan keagamaan pada akta pencatatan sipil.
Ada satu nuansa yang jarang dijelaskan. Pasal 7 ayat (1) menyebut petugas tidak mencatatkan dan menerbitkan dokumen kependudukan bila penduduk memberikan nama yang melanggar Pasal 4 ayat (2) huruf b, yaitu batas 60 huruf, dan Pasal 5 ayat (3), yaitu larangan singkatan, angka, serta tanda baca. Syarat jumlah kata paling sedikit dua kata berada di huruf c, yang tidak disebut dalam pasal itu. Artinya batas 60 huruf serta larangan angka dan tanda baca adalah ketentuan yang berkonsekuensi tegas, sedangkan syarat dua kata lebih berfungsi sebagai persyaratan yang dibina lewat edukasi petugas sebagaimana diatur di Pasal 6.
Ditjen Dukcapil Kemendagri menjelaskan lewat lamannya bahwa aturan ini bertujuan memastikan nama yang tercantum mudah dipahami dan tidak menimbulkan interpretasi yang membingungkan. Dirjen Dukcapil Teguh Setyabudi menyampaikan, "Aturan ini tidak hanya untuk kepentingan sekarang, tetapi juga untuk masa depan anak-anak kita, agar identitas mereka terlindungi dan proses administrasi berjalan lancar tanpa hambatan."
- Rangkaian nama melebihi 60 huruf termasuk spasi. Nama Sansekerta tiga kata seperti "Kirana Paramita Wijayanti" masih aman, tetapi hitunglah dulu bila Bunda menambah nama keluarga yang panjang.
- Memakai angka atau tanda baca, termasuk tanda petik, titik, dan koma.
- Menyingkat nama, kecuali singkatan itu tidak diartikan lain.
- Mencantumkan gelar pendidikan atau keagamaan pada akta pencatatan sipil.
Nama Bertema Cahaya, Bintang, dan Bulan
Tema ini paling banyak dicari karena bunyinya lembut dan maknanya mudah dijelaskan kepada anak kelak. Cahaya, bintang, dan bulan adalah gambaran yang sama sekali tidak lekang oleh tren.
| Nama | Arti |
|---|---|
| Kirana | Cahaya, sinar yang indah |
| Cahyani | Yang bercahaya dan bersinar |
| Kartika | Bintang |
| Kartikasari | Inti atau sari dari bintang |
| Arundati | Bintang, dalam kisah klasik menjadi lambang kesetiaan |
| Tejaswini | Yang bercahaya dan bersemangat |
| Erawati | Cahaya, permaisuri yang anggun |
| Aruna | Fajar, semburat merah menjelang matahari terbit |
| Purnama | Bulan yang bulat penuh dan sempurna |
| Purnamasari | Sari dari bulan purnama |
| Sitaresmi | Bulan purnama |
| Sasangka | Bulan |
| Sasikirana | Sinar bulan, gabungan sasi dan kirana |
| Candrawati | Perempuan yang berpendar seperti bulan |
| Ratri | Malam yang teduh |
| Prabawati | Yang memancarkan wibawa dan cahaya |
| Savitri | Sinar matahari, dalam kisah klasik lambang kesetiaan |
Untuk rangkaian, tema ini enak dipadukan dengan tema bunga atau permata, misalnya Kirana Puspita atau Kartika Ratna. Hindari memadukan dua kata yang artinya sama persis, seperti Kirana Cahyani, karena hasilnya terasa mengulang.
Nama Bertema Bunga, Permata, dan Keindahan
Kelompok ini adalah yang paling luas dan paling mudah dipakai sehari-hari. Banyak di antaranya sudah menjadi kata biasa dalam bahasa Indonesia, sehingga tidak akan terdengar asing saat dipanggil di sekolah.
| Nama | Arti |
|---|---|
| Puspita | Bunga yang mekar indah |
| Puspa | Bunga |
| Puspasari | Sari atau inti dari bunga |
| Puspawati | Perempuan yang berhias bunga |
| Puspanjali | Persembahan berupa bunga |
| Kusuma | Bunga, keindahan dan kemuliaan |
| Kusumawati | Yang berhias bunga |
| Padma | Bunga teratai yang suci |
| Kamala | Bunga teratai, kesempurnaan |
| Kumuda | Teratai putih yang mekar pada malam hari |
| Cempaka | Bunga cempaka yang harum |
| Anggraeni | Bunga anggrek yang memikat |
| Ratna | Permata, batu yang berharga |
| Ratnasari | Inti dari permata |
| Kencana | Emas, sesuatu yang berharga |
| Rukmawati | Perempuan yang berhias emas |
| Mustika | Permata yang sangat berharga |
| Widuri | Batu permata baiduri |
| Baiduri | Batu permata yang berkilau |
| Nila | Batu permata berwarna biru tua |
| Nilamsari | Sari dari batu nilam |
| Citra | Gambaran dan rupa yang indah |
| Citrawati | Perempuan yang rupawan |
| Sari | Inti, saripati dari sesuatu |
| Lalita | Yang menawan dan lembut |
| Manohara | Yang memikat hati |
| Anindita | Sempurna tanpa cela |
| Anindya | Tidak tercela, sangat baik |
| Nirmala | Suci tanpa noda dan cela |
| Amrita | Air kehidupan yang abadi |
| Indira | Keindahan, nama lain bagi Dewi Laksmi |
Nama pada tema ini sangat lentur dipakai sebagai nama depan maupun nama tengah. Ratna, Puspa, dan Kusuma termasuk yang paling sering muncul di posisi depan, sedangkan Anindita dan Nirmala lebih sering dipakai sebagai kata kedua karena bunyinya lebih panjang.
Satu hal yang perlu diperiksa pada tema ini adalah kemiripan bunyi antarnama. Puspa, Puspita, dan Puspasari berasal dari akar yang sama, jadi memakai dua di antaranya dalam satu rangkaian akan terasa berulang. Begitu pula Ratna dan Ratnasari. Bila Bunda menyukai lebih dari satu nama dari kelompok ini, biasanya lebih enak memasangkannya dengan nama dari tema lain daripada menumpuknya.
Nama Bertema Ilmu, Kebijaksanaan, dan Ketenangan
Kalau Bunda ingin nama yang membawa harapan tentang cara anak berpikir dan membawa diri, bukan tentang penampilannya, tema ini pilihannya. Sebagian nama di sini juga terdengar lebih matang saat anak dewasa nanti.
| Nama | Arti |
|---|---|
| Widya | Ilmu pengetahuan |
| Vidya | Ilmu pengetahuan, ejaan lain dari Widya |
| Widyawati | Perempuan yang berilmu |
| Saraswati | Dewi ilmu pengetahuan dan seni |
| Gayatri | Mantra suci, perempuan yang dimuliakan |
| Paramita | Kesempurnaan yang luhur |
| Prajna | Kebijaksanaan yang mendalam |
| Pradnya | Kebijaksanaan, ejaan yang lazim dipakai di Bali |
| Wiweka | Kebijaksanaan membedakan yang baik dan yang buruk |
| Wicaksani | Yang bijaksana, bentuk perempuan dari Wicaksana |
| Cendekia | Cerdik pandai dan berilmu |
| Larasati | Perempuan yang tenang dan selaras |
| Santi | Kedamaian dan ketenangan |
| Nirwana | Ketenangan sempurna, bebas dari gelisah |
| Suci | Bersih dan tanpa noda |
| Pramesti | Yang utama dan dimuliakan |
| Sasmita | Isyarat, pertanda yang halus |
| Pramudita | Yang gembira dan berbahagia |
| Maitri | Persahabatan dan kasih yang tulus |
| Trisna | Cinta dan kasih |
| Bhadra | Yang baik dan membawa berkah |
| Gita | Nyanyian, lagu kehidupan |
| Swara | Suara, nada |
| Pratiwi | Bumi, ibu pertiwi |
Perlu satu catatan jujur di sini. Nama seperti Gayatri, Prajna, dan Santi punya latar keagamaan yang kuat dalam tradisi Hindu dan Buddha. Bagi sebagian keluarga hal itu justru menjadi nilai lebih, bagi sebagian lain perlu dipertimbangkan lagi. Tidak ada yang salah dari kedua sikap itu, yang penting keputusannya diambil dengan tahu.
Nama Bertema Kemuliaan dan Tokoh Perempuan dalam Kisah Klasik
Tema terakhir mengambil dari nama dewi dan tokoh perempuan dalam kisah Ramayana serta Mahabharata versi Nusantara, yang sudah berabad-abad hidup dalam wayang dan sastra Jawa Kuno. Arti yang tertera lebih tepat dibaca sebagai gambaran tokohnya, bukan terjemahan kata.
| Nama | Arti |
|---|---|
| Dewi | Perempuan yang mulia |
| Sri | Kemuliaan, cahaya, dan kemakmuran |
| Laksmi | Dewi kemakmuran dan keberuntungan |
| Maheswari | Dewi yang agung |
| Prameswari | Permaisuri, ratu yang mulia |
| Nareswari | Ratu, perempuan pemimpin |
| Tribhuwana | Tiga dunia, nama Ratu Majapahit Tribhuwana Tunggadewi |
| Parwati | Dewi putri gunung |
| Uma | Dewi ketenangan, nama lain bagi Parwati |
| Ratih | Dewi cinta dan kecantikan |
| Supraba | Bidadari dalam kisah pewayangan |
| Dresanala | Putri kahyangan dalam kisah pewayangan |
| Sinta | Istri Rama, lambang kesetiaan dan kesucian |
| Srikandi | Kesatria perempuan yang pemberani |
| Drupadi | Perempuan berpendirian teguh, permaisuri Pandawa |
| Kunti | Ibu para Pandawa yang mulia |
| Subadra | Yang membawa keberuntungan, istri Arjuna |
| Sembadra | Nama lain Subadra dalam pewayangan Jawa |
| Arimbi | Tokoh perempuan gagah dalam Mahabharata versi Jawa, istri Bima |
| Utari | Perempuan mulia, istri Abimanyu |
| Banowati | Permaisuri yang cantik jelita |
| Rukmini | Yang berhias emas, permaisuri Kresna |
| Anjani | Ibu Hanoman, perempuan yang dimuliakan |
| Damayanti | Putri dalam kisah Nala dan Damayanti, lambang kesetiaan |
| Sakuntala | Putri dalam kisah klasik Sanskerta yang dilakonkan Kalidasa |
| Nandini | Yang membahagiakan, putri tersayang |
| Wijayanti | Kemenangan, perempuan pemenang |
| Sekarwangi | Bunga yang harum, dari khazanah Jawa Kuno |
Nama dari kelompok ini punya bobot cerita yang kuat, dan itu pedang bermata dua. Sisi baiknya, anak punya kisah untuk diceritakan tentang namanya sendiri. Sisi yang perlu dipertimbangkan, sebagian tokoh punya kisah hidup yang berat, sehingga ada baiknya Bunda membaca dulu ringkasan kisahnya sebelum memutuskan.
Merangkai Nama Sansekerta Dua sampai Tiga Kata
Karena Permendagri menyarankan minimal dua kata, kebanyakan orang tua akhirnya merangkai. Ada beberapa pola yang terbukti nyaman dipakai seumur hidup.
Pola satu tema, dua kata. Cara paling aman, misalnya Kirana Puspita, Ratna Kusuma, atau Widya Paramita. Bunyinya selaras karena berasal dari rumpun yang sama, dan artinya mudah dijelaskan dalam satu kalimat.
Pola dua tema yang saling melengkapi. Gabungkan kata bermakna sifat dengan kata bermakna benda indah, misalnya Anindita Kirana, Larasati Puspa, atau Nirmala Kencana. Pola ini menghindari kesan mengulang.
Pola tiga kata dengan nama keluarga. Bila Bunda ingin menyertakan nama ayah atau marga, taruh dua kata Sansekerta di depan lalu nama keluarga di belakang. Ingat, menurut Permendagri Nomor 73 Tahun 2022 nama marga atau famili dihitung sebagai satu kesatuan dengan nama, dan seluruh rangkaiannya tetap dibatasi 60 huruf termasuk spasi.
Beberapa hal yang sebaiknya dihindari saat merangkai. Pertama, dua kata dengan bunyi akhir yang sama persis, misalnya Cahyani Anjani, karena terdengar seperti pantun. Kedua, rangkaian yang huruf awalnya membentuk singkatan yang lucu atau bermakna lain. Ketiga, ejaan yang tidak lazim seperti mengganti c dengan tj atau menambahkan huruf mati ganda, karena akan membuat anak mengeja namanya seumur hidup di setiap loket. Keempat, memilih nama hanya karena sedang tren tanpa mengetahui artinya.
Ada juga soal panggilan sehari-hari yang sering baru disadari setelah anak lahir. Nama tiga suku kata seperti Kirana atau Puspita hampir selalu berakhir dipendekkan menjadi Kira atau Puspa, dan itu tidak masalah selama bentuk pendeknya juga enak didengar. Yang perlu diperiksa adalah kemungkinan bentuk pendek yang tidak Bunda inginkan, misalnya rangkaian yang otomatis dipanggil dengan suku kata terakhir. Coba tebak sendiri bagaimana teman-teman sekolahnya kelak akan memanggil, karena merekalah yang paling sering menyebut nama itu.
Cara mengujinya sederhana. Ucapkan rangkaian lengkapnya keras-keras beberapa kali, panggil dengan nada memanggil anak dari kejauhan, lalu bayangkan nama itu dibacakan saat wisuda dan tercetak di paspor. Kalau ketiganya terasa nyaman, biasanya pilihan itu sudah cukup matang. Daftar lengkap lebih dari dua ribu nama beserta arti dan asal katanya juga bisa Bunda telusuri di kamus nama bayi.
Masih menimbang rumpun lain? Padanan untuk anak laki-laki ada di nama anak laki-laki Sansekerta, sedangkan gambaran menyeluruh lintas rumpun, mulai dari Jawa, Bali, sampai Alkitabiah, kami kumpulkan di nama anak perempuan. Bila Bunda mencari nuansa yang lebih kekinian, nama bayi perempuan modern bisa menjadi pembanding. Kumpulan bahasan lainnya ada di kategori nama bayi.
Pada akhirnya, tidak ada nama yang sempurna, dan tidak ada orang tua yang perlu merasa gagal karena butuh waktu lama memutuskan. Nama Sansekerta menawarkan sesuatu yang jarang dimiliki tren nama musiman, yaitu makna yang berakar dan bunyi yang sudah teruji berabad-abad di telinga orang Indonesia. Ambil waktu Bunda, ucapkan pilihannya berulang kali, cocokkan dengan aturan yang berlaku, lalu percayalah pada keputusan Bunda.
Sumber
- Kemendagri - Permendagri Nomor 73 Tahun 2022 tentang Pencatatan Nama pada Dokumen Kependudukan
- Ditjen Dukcapil Kemendagri - Aturan Pencatatan Nama di Dokumen Kependudukan
- Badan Bahasa, Balai Bahasa Provinsi Aceh - Sanskerta yang Amat Berjasa
- Badan Bahasa - KBBI Daring (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
Artikel ini disusun sebagai edukasi bahasa dan administrasi kependudukan, bukan pengganti konsultasi langsung dengan instansi yang berwenang. Ketentuan pencatatan nama mengacu pada Permendagri Nomor 73 Tahun 2022 yang kami baca langsung dari salinan resminya. Arti nama dalam daftar di atas mengikuti kosakata Sanskerta yang sudah terserap ke bahasa Indonesia serta pemakaiannya yang lazim dalam khazanah nama Nusantara, dan tidak diverifikasi ke kamus satu per satu, sehingga sebuah kata bisa saja memiliki makna lain yang tidak kami sebutkan. Untuk kepastian penulisan nama pada akta kelahiran dan dokumen kependudukan anak Anda, silakan berkonsultasi dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil di kabupaten atau kota tempat Anda tinggal. Untuk pertanyaan seputar kesehatan dan tumbuh kembang anak, silakan berkonsultasi dengan bidan, dokter, atau petugas kesehatan terdekat.
Pertanyaan yang sering muncul
Ejaannya Sansekerta atau Sanskerta?
Kenapa nama Sansekerta terdengar akrab padahal berasal dari bahasa India kuno?
Apakah nama anak wajib terdiri atas dua kata?
Berapa batas panjang nama yang boleh dicatat di dokumen kependudukan?
Bolehkah nama keluarga atau gelar ikut ditulis di akta kelahiran anak?
Apakah nama Sansekerta boleh dipakai keluarga muslim atau kristen?
Apakah arti nama di artikel ini sudah dicek ke kamus satu per satu?
Konten ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Untuk keputusan medis, hubungi dokter atau bidan Anda.
Punya pertanyaan seputar nama bayi?
Tanya lewat WhatsApp

