Baru: alat cek usia dan milestone anak sudah bisa dipakai gratis. Coba sekarang

ASI

Pumping ASI: Jadwal, Teknik, dan Kesalahan Umum

Oleh Tim Redaksi Asuh Anak· 14 menit baca

Pumping ASI: Jadwal, Teknik, dan Kesalahan Umum

Pumping ASI adalah kegiatan mengeluarkan air susu dari payudara, baik dengan tangan maupun dengan alat pompa, agar ASI dapat disimpan dan diberikan kepada bayi di lain waktu. Menurut IDAI, ASI perlu diperah pada beberapa keadaan, misalnya ketika payudara sangat bengkak, bayi untuk sementara tidak dapat minum, puting sangat lecet, atau ketika ibu ingin merangsang pengeluaran ASI. Bagi banyak Bunda di Indonesia, alasan paling sering adalah kembali bekerja, dan kabar baiknya hal itu bukan akhir dari perjalanan menyusui. Artikel ini membahas jadwal memerah, teknik yang benar, cara menyimpan hasil perahan, serta kesalahan yang paling sering terjadi, semuanya berdasarkan panduan IDAI, Kemenkes RI, dan WHO.

Apa Itu Pumping ASI dan Kapan Bunda Perlu Memerah

Memerah ASI pada dasarnya adalah cara meniru apa yang dilakukan bayi saat menyusu langsung: mengosongkan payudara agar tubuh terus mendapat sinyal untuk memproduksi susu berikutnya. IDAI menjelaskan bahwa bagi sebagian besar ibu, cara paling mudah memberikan ASI memang dengan menyusui langsung, tetapi pada keadaan tertentu hal ini sulit dilakukan sehingga ASI akhirnya diberikan dalam bentuk perahan.

IDAI menyebutkan beberapa situasi yang membuat ASI perah dibutuhkan, di antaranya bayi lahir prematur sehingga kemampuan menetek belum sempurna, bayi atau ibu perlu dirawat di rumah sakit sehingga tidak memungkinkan sering bertemu, serta kondisi ketika ibu harus kembali bekerja, sekolah, atau menjalankan kesibukan lain. Selain itu, banyak ibu merasa payudaranya penuh dan tidak nyaman sehingga ASI perlu segera diperah.

Kemenkes RI juga menyoroti satu situasi yang sering dialami sehari-hari: jika bayi sudah kenyang tetapi payudara masih terasa penuh atau kencang, artinya payudara perlu diperah dan ASI disimpan. Tujuannya bukan hanya menambah stok, tetapi juga mencegah mastitis atau peradangan pada jaringan payudara sekaligus menjaga pasokan ASI.

Satu hal yang sering terlewat: IDAI menganjurkan Bunda mempertimbangkan untuk berlatih memerah ASI dengan tangan walaupun merasa belum terlalu perlu, sebagai persiapan menghadapi kejadian yang tidak diharapkan. Jadi belajar memerah bukan berarti berencana berhenti menyusui langsung, melainkan menambah keterampilan cadangan.

Catatan Bunda. Memerah ASI bukan tanda produksi Bunda bermasalah, dan bukan pula tanda menyerah dari menyusui langsung. IDAI justru menyarankan berlatih memerah dengan tangan sejak sebelum benar-benar dibutuhkan, supaya Bunda tidak panik saat keadaan mendadak berubah.

Perlu diingat bahwa memerah adalah pelengkap, bukan pengganti tujuan utamanya. WHO menganjurkan bayi mendapat ASI eksklusif pada 6 bulan pertama kehidupan, artinya tanpa makanan atau cairan lain termasuk air putih, lalu mulai usia 6 bulan anak mulai mendapat makanan pendamping yang aman dan memadai sambil terus menyusu hingga usia dua tahun atau lebih. Untuk memahami konsep dasarnya lebih dalam, Bunda bisa membaca artikel ASI Eksklusif Adalah.

Jadwal Pumping ASI: Seberapa Sering dan Berapa Lama

Pertanyaan yang paling sering muncul adalah soal jadwal. Di sini panduan IDAI cukup jelas dan bisa dijadikan pegangan.

Untuk persiapan menjelang kembali bekerja, IDAI menyarankan menetapkan jadwal memerah ASI, yang biasanya dilakukan setiap 3 sampai 4 jam. Sementara itu, selama ibu bekerja, IDAI menganjurkan agar ibu berusaha dapat memerah ASI setiap 3 jam. Panduan IDAI lainnya menambahkan prinsip yang mudah diingat: pompalah payudara sesuai jam bayi minum jika Bunda sedang jauh darinya. Logikanya sederhana, tubuh memproduksi ASI berdasarkan permintaan, sehingga jadwal memerah yang menyerupai jadwal menyusu bayi membantu menjaga produksi.

Soal durasi, IDAI menyebutkan bahwa biasanya diperlukan waktu 15 sampai 20 menit untuk mengosongkan kedua payudara. Angka ini berguna untuk memperkirakan berapa lama waktu istirahat yang Bunda butuhkan di tempat kerja.

Kapan mulai berlatih dan menabung stok

IDAI menyarankan latihan memerah ASI dapat dimulai sejak ASI pertama keluar atau payudara mulai terasa penuh, yang umumnya terjadi pada minggu pertama setelah kelahiran. ASI yang diperah pada masa ini dapat dibekukan sebagai persediaan atau tambahan saat ibu mulai bekerja. Dengan begitu, stok tidak perlu dikejar dalam semalam menjelang hari pertama masuk kerja.

Beberapa kebiasaan lain yang dianjurkan IDAI selama masa persiapan ini antara lain menyusui bayi langsung dari payudara, menghindari empeng atau dot dan minuman lain selain ASI, mengonsumsi cairan cukup dan makanan bergizi, menghindari stres agar produksi ASI tidak terganggu, serta melakukan relaksasi selama 20 menit setiap hari di luar waktu memerah ASI.

Menyusun ritme harian saat sudah bekerja

IDAI menganjurkan agar ibu tetap menyusui bayi di pagi hari sebelum berangkat ke tempat kerja dan pada saat pulang kerja, lalu menyusui lebih sering di sore atau malam hari dan pada hari libur agar produksi ASI lebih lancar sekaligus mempererat hubungan ibu dan bayi. Bunda juga disarankan mempersiapkan persediaan ASI perah di lemari es selama bekerja, serta menyiapkan pompa, wadah penyimpanan, dan pendinginnya sebelum berangkat bila di tempat kerja tidak tersedia.

Menariknya, IDAI mengakui bahwa hambatan keberhasilan menyusui pada ibu bekerja sering datang dari luar diri ibu, seperti pendeknya waktu cuti kerja, kurangnya dukungan tempat kerja, pendeknya waktu istirahat sehingga tidak cukup waktu untuk memerah ASI, dan tidak adanya ruangan untuk memerah ASI. Sebagai catatan, IDAI menyebutkan bahwa Undang-Undang Perburuhan di Indonesia No. 1 tahun 1951 memberikan cuti melahirkan selama 12 minggu dan kesempatan menyusui 2 x 30 menit dalam jam kerja. Jadi bila Bunda merasa berat, itu memang berat, dan bukan karena Bunda kurang berusaha.

Teknik Pumping ASI dengan Tangan, Langkah demi Langkah

Banyak yang mengira memerah harus selalu pakai alat. Padahal IDAI menyatakan bahwa kebanyakan ibu memerah ASI secara manual daripada dengan pompa saat bekerja, karena merasa lebih mudah dan lebih produktif, meski sebagian ibu lain menganggap gerakan mekanik pompa lebih efektif. IDAI juga menyebut memerah dengan tangan sebagai cara yang bersih dan praktis.

Berikut langkah memerah dengan tangan sesuai panduan IDAI:

  1. Cuci tangan lebih dulu dengan bersih sebelum memerah maupun menyimpan ASI.
  2. Siapkan wadah bersih bermulut lebar seperti mangkuk, lalu letakkan di dekat payudara. Duduklah dengan santai sambil sedikit mencondongkan badan ke depan.
  3. Pijat payudara dengan lembut dari dasar payudara ke arah puting susu untuk merangsang refleks oksitosin (let down reflex). Kompres hangat atau mandi air hangat disebut IDAI membantu ASI lebih mudah keluar.
  4. Posisikan jari membentuk huruf C. Letakkan ibu jari di bagian atas di luar areola (kira-kira di posisi jam 12) dan jari telunjuk serta jari lain di bagian bawah areola (di posisi jam 6).
  5. Tekan jari ke belakang ke arah dada, lalu pencet dan tekan payudara di antara jari, kemudian lepaskan sambil mendorong ke arah puting seperti mengikuti gerakan mengisap bayi. Ulangi berulang-ulang.
  6. Ubah posisi jari secara berkala, misalnya ke posisi jam 3 dan jam 9, lalu mulai memerah lagi. Ketika ASI mengalir lambat, gerakkan jari di sekitar areola dan berpindah tempat.
  7. Bergantian antar payudara. IDAI menyarankan memerah satu payudara selama 3 sampai 5 menit, lalu beralih ke payudara lainnya, begitu seterusnya sampai payudara terasa kosong, yang umumnya memakan waktu 20 sampai 30 menit.

IDAI menegaskan dua rambu penting: hindari menarik atau memeras terlalu keras, dan jangan sampai terasa sakit. Bersabarlah, karena pada awalnya prosesnya mungkin memakan waktu agak lama.

Ringkasan teknik. Inti memerah dengan tangan menurut IDAI:
  • Cuci tangan, siapkan wadah bermulut lebar, duduk santai condong ke depan.
  • Pijat lembut dari dasar payudara ke arah puting untuk memancing let down reflex.
  • Jari membentuk huruf C di jam 12 dan jam 6, tekan ke arah dada, pencet, lepaskan.
  • Pindah posisi jari (jam 3 dan jam 9) saat aliran melambat.
  • Bergantian tiap 3 sampai 5 menit, total sekitar 20 sampai 30 menit. Tidak boleh sakit.

Memerah dengan Pompa dan Cara Memancing Refleks Oksitosin

Selain dengan tangan, ASI dapat diperah memakai pompa manual maupun elektrik. IDAI mencatat bahwa pompa elektrik harganya cukup mahal dan biasanya tersedia di rumah sakit atau rumah bersalin, sedangkan pompa manual biasanya lebih praktis dan lebih terjangkau. IDAI juga menyarankan agar semua metode sebaiknya didemonstrasikan kepada ibu, sehingga setiap ibu dapat mencoba dan memilih metode memerah yang paling sesuai dengan dirinya. Bila Bunda sedang menimbang alatnya, pembahasan khusus soal perangkat ada di artikel pompa ASI elektrik.

Apa pun alatnya, kuncinya sama: ASI keluar lancar ketika refleks oksitosin bekerja. IDAI menyebutkan beberapa cara membantu memancingnya. Untuk meningkatkan jumlah ASI yang diperah, kompres payudara dengan air hangat dan pijat dengan lembut sebelum memerah. Saat di tempat kerja, IDAI menyarankan memerah di ruangan yang nyaman sambil memandang foto bayi atau mendengarkan rekaman tangis bayi. Terdengar sederhana, tetapi ini menunjukkan bahwa suasana hati benar-benar memengaruhi aliran ASI.

IDAI juga meminta ibu tidak berkecil hati: jangan putus asa bila pada awal memerah jumlah ASI yang keluar sedikit, karena dengan memompa secara rutin biasanya produksi ASI akan meningkat dalam 2 minggu. Bila Bunda ingin menelusuri cara lain menjaga produksi, artikel cara memperlancar ASI membahasnya lebih jauh.

Soal jumlah, IDAI menyarankan menyimpan ASI sejumlah yang diminum bayi dan membaginya dalam porsi kecil, yaitu sekitar 60 sampai 120 mL, sehingga tidak perlu membuang ASI yang tidak dihabiskan. Porsi kecil juga lebih cepat mencair sehingga lebih sedikit ASI yang terbuang bila bayi hanya minum sedikit dari biasanya.

Menyimpan ASI Perah dengan Aman

Setelah berhasil memerah, tantangan berikutnya adalah menyimpan. Kemenkes RI memberikan panduan lama penyimpanan ASI yang baru diperah berdasarkan tempat dan suhunya:

  • Suhu ruangan: pada 27 sampai 32 derajat Celsius maksimal 4 jam, dan di bawah 25 derajat Celsius maksimal 6 sampai 8 jam.
  • Cooler bag atau tas pendingin: pada 15 derajat Celsius maksimal 24 jam.
  • Kulkas: pada suhu kurang dari 4 derajat Celsius selama 48 sampai 72 jam atau sekitar 2 sampai 3 hari.
  • Freezer pada lemari es 1 pintu: pada minus 15 sampai 0 derajat Celsius selama 2 minggu.
  • Freezer pada lemari es 2 pintu: pada minus 20 sampai minus 18 derajat Celsius selama 3 sampai 6 bulan.

Kemenkes RI juga mengingatkan untuk menghindari perubahan suhu yang terlalu ekstrem pada ASI perah. Pembahasan lebih rinci soal daya tahan di luar kulkas bisa Bunda baca di artikel berapa lama ASI bertahan di suhu ruang.

Perlu Bunda ketahui, angka penyimpanan bisa sedikit berbeda antar rujukan. Artikel IDAI tentang memerah ASI menyebut ASI dapat disimpan di lemari pendingin selama 72 jam, sementara panduan IDAI untuk ibu bekerja mencantumkan kulkas bersuhu 4 derajat Celsius sampai 5 hari. IDAI juga menegaskan bahwa petunjuk penyimpanan tersebut berlaku untuk bayi cukup bulan yang sehat, bukan untuk bayi yang dirawat di rumah sakit atau bayi prematur. Bila Bunda ragu, ambil patokan waktu yang lebih pendek dan tanyakan kepada bidan, dokter, atau konselor laktasi.

Wadah dan pelabelan

Menurut IDAI, wadah penyimpanan harus dipastikan bersih. Bunda dapat menggunakan botol kaca atau kontainer plastik dengan tutup rapat berbahan bebas bisphenol A (BPA), dan sebaiknya kedap udara. Kontainer perlu dicuci dengan air panas dan sabun lalu dianginkan hingga kering sebelum dipakai. IDAI meminta Bunda menghindari kantong plastik biasa maupun botol susu disposable karena mudah bocor dan terkontaminasi. Kantung plastik khusus penyimpanan ASI menurut IDAI dapat dipakai untuk jangka pendek, yaitu kurang dari 72 jam.

Beberapa aturan penting lain dari IDAI:

  • Beri label berisi nama anak dan tanggal ASI diperah, agar ASI yang lebih lama dipakai lebih dulu.
  • Jangan mencampur ASI yang telah dibekukan dengan ASI yang masih baru dalam satu wadah, dan jangan menambahkan ASI hangat ke dalam ASI yang sudah dibekukan.
  • Menggabungkan ASI hari yang sama boleh, caranya dengan mendinginkan ASI yang baru diperah minimal 1 jam dalam kulkas lebih dulu, baru ditambahkan ke ASI sebelumnya yang sudah dingin. ASI yang diperah pada hari berbeda disimpan dalam wadah berbeda.
  • Sisakan ruang sekitar 2,5 cm dari tutup botol karena volume ASI akan meningkat saat beku, kencangkan tutup setelah ASI benar-benar membeku, dan jangan menyimpan ASI di bagian pintu lemari es atau freezer.
  • Jangan menyimpan sisa ASI yang sudah dikonsumsi untuk pemberian berikutnya.

Menghangatkan dan Memberikan ASI Perah ke Bayi

IDAI menganjurkan prinsip first in first out, yaitu ASI yang paling lama disimpan diberikan lebih dulu, jadi selalu cek tanggal pada label. Menariknya, IDAI juga menyebut bahwa ASI tidak harus dihangatkan, karena beberapa ibu memberikannya dalam keadaan dingin.

Untuk ASI beku, IDAI menyarankan memindahkan wadah ke lemari es selama satu malam sebelum digunakan agar mencair, atau menempatkannya dalam bak berisi air dingin lalu menaikkan suhu air perlahan-lahan hingga mencapai suhu pemberian. Untuk ASI dari lemari es, hangatkan wadahnya dalam bak berisi air hangat. Kemenkes RI menyampaikan hal senada, yaitu merendam ASI perah dalam wadah berisi air hangat sebelum diberikan kepada bayi.

Yang perlu Bunda hindari, menurut IDAI:

  • Jangan memakai microwave. IDAI menjelaskan microwave tidak memanaskan ASI secara merata, dapat merusak komponen ASI, membentuk bagian panas yang melukai bayi, dan botol dapat pecah bila dimasukkan terlalu lama.
  • Jangan menghangatkan dengan api kompor secara langsung dan jangan memasak ASI.
  • Jangan membekukan ulang ASI yang sudah dihangatkan atau dicairkan, dan berikan ASI yang sudah dihangatkan dalam waktu 24 jam.
  • Jangan mengocok kuat. IDAI menyarankan memutar atau menggoyang wadah dengan lembut agar bagian krim tercampur merata, karena mengocok dapat merusak komponen penting dalam susu.

Sebelum diberikan, IDAI menyarankan meneteskan ASI pada pergelangan tangan untuk mengecek suhunya. Soal wadah minum, Kemenkes RI menyarankan menggunakan gelas atau mangkuk kaca atau keramik dan menghindari bahan plastik atau melamin. IDAI menambahkan bahwa ASI perah sebaiknya tidak diberikan dengan botol karena akan mengganggu penyusuan langsung dari payudara, sebab mengisap dari botol berbeda dengan menyusu langsung dari ibu. Sebagai gantinya, ASI dapat diberikan melalui cangkir, sendok, atau pipet, dan IDAI menyarankan melatih pengasuh agar terampil melakukannya.

Bunda mungkin menemukan ASI yang tampak "aneh". IDAI menenangkan bahwa warna ASI bisa berbeda setiap hari tergantung diet ibu dan dapat terlihat kebiruan, kekuningan, atau kecoklatan, sementara ASI beku memiliki bau berbeda dari ASI segar. ASI yang dihangatkan kadang terasa seperti sabun karena hancurnya komponen lemak, dan IDAI menyatakan ASI dalam kondisi ini masih aman dikonsumsi. Menurut IDAI, tidak ada alasan membuang ASI selama bayi masih mau meminumnya.

Kesalahan Umum Saat Pumping ASI dan Kapan Perlu Bantuan

Berdasarkan panduan IDAI dan Kemenkes RI di atas, beberapa hal berikut termasuk yang paling sering keliru dilakukan:

  • Memerah dengan menarik atau memeras terlalu keras sampai sakit. IDAI jelas melarang ini. Rasa sakit adalah tanda teknik perlu diperbaiki, bukan tanda usaha yang lebih keras.
  • Langsung menyerah karena hasil perahan sedikit di hari pertama. IDAI menyebut produksi biasanya meningkat dalam 2 minggu bila memerah dilakukan rutin.
  • Menghangatkan ASI dengan microwave atau kompor. Selain merusak komponen ASI, IDAI menyebut risiko bagian panas yang melukai bayi dan botol pecah.
  • Mengocok botol dengan kuat agar krim tercampur, padahal IDAI menyarankan memutar atau menggoyang dengan lembut.
  • Menyimpan ASI di pintu kulkas atau freezer, yang suhunya paling tidak stabil.
  • Mencampur ASI hangat yang baru diperah ke ASI beku, atau menggabungkan ASI tanpa mendinginkannya minimal 1 jam lebih dulu.
  • Memakai kantong plastik biasa atau botol disposable, yang menurut IDAI mudah bocor dan terkontaminasi.
  • Menyimpan sisa ASI yang sudah diminum bayi untuk pemberian berikutnya.
  • Membekukan ulang ASI yang sudah dicairkan atau dihangatkan.
Perhatian. Segera hubungi bidan, dokter, atau konselor laktasi bila Bunda mengalami salah satu hal berikut:
  • Payudara terasa sangat bengkak, nyeri, kemerahan, teraba benjolan, atau disertai demam, karena Kemenkes RI menyebut mastitis sebagai peradangan pada jaringan payudara yang perlu diwaspadai.
  • Puting sangat lecet atau memerah selalu terasa sakit meski teknik sudah diperbaiki.
  • Berat badan bayi tidak naik sesuai grafik pertumbuhan, atau bayi tampak jarang buang air kecil dan lesu.
  • Bayi lahir prematur atau sedang dirawat, karena IDAI menegaskan panduan penyimpanan umum tidak berlaku untuk kondisi ini.
  • Bunda merasa sangat cemas, kelelahan, atau tertekan menjalani rutinitas memerah.
Informasi dalam artikel ini bersifat edukasi umum dan tidak menggantikan penilaian tenaga kesehatan atas kondisi Bunda dan bayi.

Perlu ditegaskan, meminta bantuan bukan tanda gagal. Justru IDAI menyoroti bahwa keberhasilan memberikan ASI eksklusif pada ibu bekerja sangat bergantung pada dukungan lingkungan, dan menganjurkan ibu mendiskusikan masalah yang dialami dengan ibu bekerja lainnya atau dengan atasan agar dapat mencari jalan keluar bersama. Bunda tidak seharusnya menanggung ini sendirian.

Pada akhirnya, pumping ASI adalah keterampilan yang dilatih, bukan bakat yang dimiliki sejak awal. Wajar bila minggu-minggu pertama terasa canggung dan hasilnya belum banyak. Yang lebih menentukan adalah konsistensi jadwal, teknik yang tidak menyakitkan, penyimpanan yang aman, dan dukungan orang sekitar. Untuk pertanyaan yang lebih spesifik seputar menyusui, Bunda bisa berdiskusi lewat Asisten AI Bunda sebagai teman mencari informasi awal, atau menelusuri kumpulan artikel ASI di Asuh Anak. Namun untuk keputusan yang menyangkut kondisi Bunda dan bayi, tenaga kesehatan tetap rujukan utamanya.

Sumber

Artikel ini disusun sebagai edukasi dan bukan pengganti konsultasi langsung dengan tenaga kesehatan. Panduan memerah dan menyimpan ASI dapat berbeda untuk bayi prematur atau bayi yang sedang dirawat. Untuk penilaian dan penanganan yang sesuai dengan kondisi Bunda dan bayi, silakan berkonsultasi dengan bidan, dokter, atau konselor laktasi terdekat.

Pertanyaan yang sering muncul

Berapa jam sekali sebaiknya pumping ASI?
Menurut IDAI, jadwal memerah ASI biasanya ditetapkan setiap 3 sampai 4 jam. Khusus selama ibu bekerja, IDAI menganjurkan agar ibu berusaha memerah ASI setiap 3 jam. Panduan lain dari IDAI juga menyebutkan bahwa bila Bunda sedang jauh dari bayi, pompalah payudara sesuai jam bayi biasa minum, sehingga tubuh tetap menerima sinyal untuk memproduksi ASI.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan sekali pumping?
IDAI menyebutkan bahwa biasanya diperlukan sekitar 15 sampai 20 menit untuk mengosongkan kedua payudara. Untuk memerah dengan tangan, IDAI memberi panduan memerah satu payudara selama 3 sampai 5 menit lalu bergantian, sampai payudara terasa kosong dalam waktu sekitar 20 sampai 30 menit. Setiap ibu berbeda, jadi angka ini adalah gambaran umum, bukan target yang harus dipaksakan.
Kenapa ASI yang keluar saat pumping hanya sedikit?
Ini sangat wajar terjadi di awal dan bukan tanda Bunda gagal. IDAI secara khusus mengingatkan untuk tidak putus asa bila pada awal memerah jumlah ASI yang keluar sedikit, karena dengan memompa secara rutin produksi ASI biasanya akan meningkat dalam 2 minggu. Kompres hangat dan pijatan lembut sebelum memerah juga disebut IDAI dapat membantu meningkatkan jumlah ASI yang diperah.
Berapa lama ASI perah bisa disimpan di kulkas?
Menurut Kemenkes RI, ASI perah dapat disimpan di kulkas bersuhu kurang dari 4 derajat Celsius selama 48 sampai 72 jam atau sekitar 2 sampai 3 hari. Artikel IDAI tentang memerah ASI juga menyebut angka 72 jam untuk penyimpanan di lemari pendingin. Bila Bunda ragu, gunakan patokan yang lebih pendek dan tanyakan kepada bidan atau konselor laktasi.
Apakah ASI perah boleh dihangatkan dengan microwave?
Tidak dianjurkan. IDAI menegaskan agar tidak menaruh wadah ASI dalam microwave karena microwave tidak memanaskan ASI secara merata, dapat merusak komponen ASI, dan membentuk bagian panas yang berisiko melukai bayi. Botol juga dapat pecah bila dimasukkan ke microwave terlalu lama. Cara yang dianjurkan adalah menghangatkan wadah dalam air hangat.
Apakah ASI perah sebaiknya diberikan pakai botol dot?
IDAI menyebutkan bahwa ASI perah sebaiknya tidak diberikan dengan botol karena akan mengganggu penyusuan langsung dari payudara, sebab mengisap dari botol berbeda dengan menyusu langsung. Sebagai gantinya, IDAI menganjurkan pemberian lewat cangkir, sendok, atau pipet, dan pengasuh sebaiknya dilatih agar terampil menggunakannya.
Apakah ASI yang warnanya berubah masih aman diberikan?
Menurut IDAI, warna ASI bisa berbeda setiap hari tergantung diet ibu, dan ASI dapat terlihat kebiruan, kekuningan, atau kecoklatan. ASI yang dibekukan juga memiliki bau yang berbeda dari ASI segar. IDAI menyatakan tidak ada alasan membuang ASI selama bayi masih mau meminumnya, tetapi bila Bunda ragu, konsultasikan dengan tenaga kesehatan.

Konten ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Untuk keputusan medis, hubungi dokter atau bidan Anda.

Punya pertanyaan seputar asi?

Tanya lewat WhatsApp