Baru: alat cek usia dan milestone anak sudah bisa dipakai gratis. Coba sekarang

Imunisasi

Imunisasi Kejar: Cara Melengkapi Vaksin Anak yang Terlambat

Jawaban singkat. Imunisasi kejar adalah cara melengkapi vaksin anak yang terlambat atau belum lengkap. Menurut IDAI, dosis yang jaraknya lebih lama dari anjuran tidak perlu diulang dari awal, cukup dilanjutkan dengan vaksin yang belum diberikan. Kemenkes RI meminta orang tua melaporkan status imunisasi yang terlambat ke bidan desa atau petugas imunisasi puskesmas agar dilengkapi.

Oleh Tim Redaksi Asuh AnakKebijakan Editorial· 11 menit baca· Terakhir diperbarui

Kartu kesehatan anak berwarna merah muda berisi tabel jadwal imunisasi dengan tanggal yang ditulis tangan
Catatan imunisasi yang tersimpan rapi menjadi titik awal untuk menyusun jadwal kejar vaksin yang terlewat. Foto: Beendy234 / Wikimedia Commons, CC0

Imunisasi kejar adalah cara melengkapi vaksin anak yang terlambat, belum lengkap, atau belum pernah diberikan sama sekali. Kabar baiknya, jadwal baru tidak dimulai lagi dari nol. IDAI menjelaskan bahwa dosis yang jaraknya lebih lama dari anjuran tidak perlu diulang, cukup dilanjutkan dengan vaksin yang belum diberikan. Petugas lalu menyusun urutan berdasarkan usia, catatan, dan kondisi kesehatan anak.

Keterlambatan bisa terjadi karena anak sakit, sulit menjangkau layanan, pindah tempat tinggal, khawatir dengan reaksi setelah imunisasi, atau catatan yang hilang. Bunda tidak perlu merasa malu. Fokusnya adalah mengumpulkan bukti yang ada dan menyusun langkah berikutnya bersama tenaga kesehatan.

Jangan menyusun jadwal kejar sendiri. Beberapa vaksin punya batas usia dan jarak khusus. Anak dengan gangguan kekebalan, terapi tertentu, atau riwayat reaksi berat memerlukan penilaian tenaga kesehatan sebelum menerima vaksin.

Kapan anak membutuhkan imunisasi kejar?

Anak membutuhkan evaluasi kejar ketika satu atau lebih dosis terlewat, catatan menunjukkan rangkaian belum lengkap, atau keluarga tidak yakin vaksin pernah diberikan. Evaluasi juga berguna setelah pindah daerah atau negara, karena nama produk dan jadwalnya bisa berbeda.

Kemenkes RI dalam halaman Seputar Imunisasi menyebut imunisasi dasar harus diberikan pada bayi usia 0 sampai 11 bulan. Untuk mempertahankan perlindungan, imunisasi lanjutan diberikan pada anak di bawah 2 tahun (baduta) dan anak usia sekolah dasar melalui Bulan Imunisasi Anak Usia Sekolah (BIAS). Jadwal di bawah ini bisa dipakai sebagai patokan untuk mengecek dosis yang terlewat.

UsiaImunisasi rutin (program Kemenkes RI)
0 bulanHepatitis B (HB 0)
1 bulanBCG, Polio tetes 1
2 bulanDPT-HB-Hib 1, Polio tetes 2, PCV 1, Rotavirus 1
3 bulanDPT-HB-Hib 2, Polio tetes 3, PCV 2, Rotavirus 2
4 bulanDPT-HB-Hib 3, Polio tetes 4, Polio suntik (IPV) 1, Rotavirus 3
9 bulanCampak-Rubela 1, Polio suntik (IPV) 2
10 bulanJapanese Encephalitis (JE), khusus wilayah endemis JE
12 bulanPCV 3
18 bulanDPT-HB-Hib 4, Campak-Rubela 2
Garis waktu imunisasi rutin Kemenkes untuk bayi dan baduta: HB 0 saat lahir, BCG dan polio di 1 bulan, DPT-HB-Hib, polio, PCV, dan rotavirus di 2 sampai 4 bulan, campak-rubela dan IPV 2 di 9 bulan, PCV 3 di 12 bulan, serta DPT-HB-Hib 4 dan campak-rubela 2 di 18 bulan
Jadwal imunisasi rutin bayi dan baduta dari Kemenkes RI. Bandingkan dengan catatan di buku KIA untuk melihat dosis mana yang belum diterima. Diagram: Asuh Anak, berdasarkan Kemenkes RI (Seputar Imunisasi, Tabel 1).

Keterlambatan satu dosis berbeda dari belum pernah imunisasi sama sekali. Kemenkes RI pada 2 Mei 2026 melaporkan cakupan imunisasi dasar lengkap mencapai 80,2% pada 2025, tetapi masih ada hampir 960.000 anak zero-dose yang belum menerima imunisasi sama sekali. Kelompok ini menjadi fokus utama intervensi karena belum punya perlindungan dasar.

Anak yang punya sebagian catatan biasanya bisa melanjutkan, sedangkan anak tanpa dosis sama sekali memerlukan rencana yang lebih menyeluruh. Prioritasnya bisa mempertimbangkan usia, wabah di sekitar, rencana sekolah, kondisi medis, dan ketersediaan vaksin. Tidak ada satu urutan yang tepat untuk semua anak.

Program sekolah juga bisa menemukan kekurangan. Menurut Kemenkes, BIAS memberikan Campak-Rubela dan DT di kelas 1, Td di kelas 2, Td dan HPV di kelas 5, serta HPV di kelas 6 (HPV khusus anak perempuan). BIAS tidak otomatis menutup dosis masa bayi yang terlewat, jadi bawa catatan saat sekolah meminta informasi.

Anak yang baru melewati bencana, pengungsian, atau perpindahan berulang sering punya catatan yang terpecah. Kumpulkan foto, pesan, kartu kecil, dan nama petugas bila ada. Jangan menunggu hidup benar-benar stabil, karena puskesmas dapat membantu menyusun ulang riwayat sambil layanan lain berjalan.

Anak yang pernah mendapat vaksin di luar jadwal juga perlu dinilai ulang. Dosis yang diberikan terlalu dekat dengan dosis sebelumnya, sebelum usia yang dianjurkan, atau tanpa catatan yang jelas mungkin perlu ditinjau petugas sebelum dihitung. Bawa bukti aslinya, bukan salinan yang ditulis ulang dari ingatan, supaya petugas bisa memutuskan dengan tepat.

Penyakit yang pernah dialami juga tidak otomatis menggantikan vaksin. Banyak vaksin rutin berbentuk kombinasi yang melindungi dari beberapa penyakit sekaligus, misalnya DPT-HB-Hib. Pernah sakit satu penyakit tidak berarti anak sudah terlindungi dari komponen lain dalam vaksin kombinasi itu, jadi seluruh jadwal tetap perlu ditinjau.

Anak dengan penyakit kronis, seperti gangguan jantung, paru, atau ginjal, sebaiknya dievaluasi bersama dokter yang merawatnya. Rencana imunisasi kejar perlu diselaraskan dengan pengobatan yang sedang berjalan, sehingga keputusan jenis dan waktu vaksin tidak diambil sendiri oleh keluarga.

Kemenkes RI mengingatkan alasan semua ini penting: anak dengan imunisasi tidak lengkap rentan tertular penyakit, dapat menularkannya ke anak atau orang lain di sekitarnya, dan bisa mengalami kecacatan bahkan kematian. Jadi begitu Bunda menyadari ada dosis yang terlewat, langkah paling berguna adalah segera menghubungi petugas, bukan menunggu jadwal berikutnya datang sendiri.

Mengapa dosis lama biasanya tidak perlu diulang?

IDAI menjawab pertanyaan ini secara langsung: bila jarak antarimunisasi lebih lama dari jarak yang dianjurkan, vaksinasi tidak perlu diulang, karena sistem imunitas tubuh dapat mengingat rangsangan vaksin terdahulu. Lanjutkan dengan vaksin yang belum diberikan dengan jarak sesuai anjuran.

Prinsip ini mencegah suntikan dan biaya yang tidak perlu. Namun, hanya dosis yang sah yang bisa dihitung. Petugas perlu melihat tanggal pemberian yang tepat, bukan sekadar keterangan bahwa anak "pernah divaksin waktu kecil". Karena itu bukti tertulis jauh lebih berguna daripada ingatan.

Jarak yang lebih panjang memang tidak menghapus respons lama, tetapi memperpanjang masa anak belum terlindungi sepenuhnya. Itulah sebabnya jadwal kejar berusaha menyelesaikan rangkaian secepat yang aman, bukan menunda sampai "waktu yang ideal".

Ada vaksin yang punya batas waktu tegas. Kemenkes RI menyebut imunisasi Hepatitis B untuk bayi baru lahir (HB 0) hanya dapat diberikan dalam waktu maksimal 24 jam setelah lahir, sedangkan BCG hanya dapat diberikan sampai usia maksimal 1 tahun. Aturan seperti ini membuat tabel umum tidak cukup untuk menyusun jadwal kejar sendiri.

Diagram dua batas waktu dari Kemenkes, HB 0 maksimal 24 jam setelah lahir dan BCG sampai usia 1 tahun, serta prinsip IDAI bahwa dosis dengan jarak lebih lama dari anjuran tidak perlu diulang
Dua batas waktu yang perlu diketahui dan satu prinsip yang menenangkan: dosis yang terlambat tidak perlu diulang dari awal. Diagram: Asuh Anak, berdasarkan Kemenkes RI (Seputar Imunisasi) dan IDAI (Tanya Jawab Jarak antar vaksinasi).

Terapi tertentu, gangguan kekebalan, atau riwayat reaksi berat juga bisa memengaruhi jenis dan waktu pemberian vaksin. Bawa nama obat dan tanggal terapinya. Jangan menghentikan obat untuk mengejar vaksin tanpa instruksi dokter yang merawat.

Dosis terlambat berbeda dari dosis gagal. Keterlambatan tidak otomatis menghapus perlindungan yang sudah dibangun. Bawa bukti dan biarkan petugas menentukan dosis mana yang sah, mana yang perlu dilanjutkan, dan kapan kunjungan berikutnya.

Dokumen apa yang perlu disiapkan?

Mulailah dari buku KIA, kartu imunisasi, foto kartu lama, ringkasan kelahiran, surat keluar rumah sakit, dan catatan klinik. Periksa juga aplikasi kesehatan atau pesan dari fasilitas bila ada. Kumpulkan semuanya apa adanya tanpa menyalin ulang menjadi catatan baru. Dokumen dengan tanggal, nama vaksin, dan stempel lebih mudah diverifikasi.

Hubungi fasilitas lama. Panduan kerja petugas, Job Aids Imunisasi Kemenkes, memuat alur pencatatan imunisasi rutin di puskesmas, termasuk pencatatan lewat aplikasi Sehat IndonesiaKu (ASIK), serta langkah pelacakan sasaran imunisasi. Artinya fasilitas mungkin masih punya data anak Bunda walau kartunya hilang.

Bila keluarga pernah tinggal di luar negeri, minta catatan dalam bahasa aslinya. Nama merek bisa berbeda, tetapi komponen vaksin membantu petugas menentukan kesetaraannya. Jangan menerjemahkan nama vaksin kombinasi secara bebas, karena satu komponen bisa terhitung dua kali atau justru tidak tercatat.

Catat riwayat penyakit, alergi berat, reaksi setelah vaksin, rawat inap, operasi, dan obat yang sedang diminum. Riwayat ini tidak selalu melarang vaksin, tetapi bisa mengubah jenis, waktu, dan tempat pemberiannya.

Jika kartu hilang dan bukti tidak ditemukan, jangan mengarang tanggal. Katakan dosis mana yang benar-benar diingat dan seberapa yakin. Tenaga kesehatan dapat menyusun rencana berdasarkan usia dan riwayat yang dapat dipercaya. Catatan jujur lebih aman daripada kepastian palsu yang membuat dosis penting terlewat.

Setelah kunjungan, buat salinan digital. Foto harus tajam dan mencakup satu halaman penuh, tetapi simpan secara privat karena memuat data kesehatan. Pastikan pengasuh lain tahu letak kartu dan tanggal kunjungan berikutnya.

Bagaimana petugas menyusun jadwal imunisasi kejar?

Petugas biasanya memetakan semua dosis menurut jenis vaksinnya, membandingkannya dengan kebutuhan sesuai usia anak, lalu menyusun urutan kunjungan. Prosesnya bisa diringkas dalam lima langkah berikut.

  1. Kumpulkan bukti. Buku KIA, kartu imunisasi, foto kartu lama, dan ringkasan rumah sakit.
  2. Laporkan. Kemenkes RI meminta orang tua melaporkan status imunisasi yang terlambat kepada bidan desa atau petugas imunisasi puskesmas agar dilengkapi.
  3. Dinilai. Petugas menentukan dosis yang sah. Sesuai penjelasan IDAI, dosis yang terlambat dilanjutkan, bukan diulang dari awal.
  4. Diberikan. Beberapa vaksin bisa diberikan pada hari yang sama di bagian tubuh berjauhan dengan alat suntik berbeda.
  5. Dicatat. Simpan catatan baru dan tanggal kunjungan berikutnya.
Diagram lima langkah imunisasi kejar: kumpulkan buku KIA dan kartu, laporkan ke bidan desa atau petugas puskesmas, dosis sah dinilai dan dilanjutkan, beberapa vaksin boleh disuntik sekaligus di bagian tubuh berjauhan, lalu dicatat
Alur imunisasi kejar dari mengumpulkan bukti sampai mencatat jadwal berikutnya. Langkah 2 dan 3 adalah tugas petugas, bukan orang tua. Diagram: Asuh Anak, berdasarkan Kemenkes RI (Seputar Imunisasi) dan IDAI (Tanya Jawab Jarak antar vaksinasi).

IDAI menyatakan pemberian beberapa jenis vaksin sekaligus tidak berbahaya, asalkan disuntikkan di bagian tubuh yang letaknya berjauhan, memakai alat suntik berlainan, dan memperhatikan ketentuan umum pemberian vaksin. Kemenkes juga mencontohkan IPV dan DPT-HB-Hib yang diberikan bersamaan di paha kiri dan kanan, dan menyebut pemberian dua suntikan bersamaan ini aman, hemat, dan bermanfaat.

Petugas juga menilai kondisi anak saat itu. Job Aids Kemenkes memuat daftar kontraindikasi dan bukan kontraindikasi yang dipakai saat skrining. Reaksi lokal ringan pada dosis sebelumnya berbeda dari reaksi alergi berat, jadi ceritakan gejalanya secara rinci agar vaksin tidak ditunda tanpa alasan.

Rencana yang baik mencantumkan tanggal, nama vaksin, nomor dosis, dan tempat pemberian. Mintalah salinan yang mudah dibaca, tandai kunjungan di kalender, dan buat pengingat. Bila anak sakit atau vaksin sedang kosong, segera hubungi fasilitas untuk menentukan tanggal pengganti.

Pedoman Imunisasi di Indonesia Edisi 7 Tahun 2024 dari IDAI memuat jadwal imunisasi IDAI 2024, vaksin baru, prosedur imunisasi, imunisasi kejar, suntikan ganda, dan pelaporan KIPI. Buku ini ditujukan bagi tenaga kesehatan, sehingga rinciannya perlu diterapkan dengan penilaian klinis, bukan disalin orang tua sebagai resep mandiri. Ringkasan jadwal IDAI bisa Bunda baca di artikel jadwal vaksin IDAI.

Apa yang sering membuat jadwal kejar gagal?

Beberapa kebiasaan membuat jadwal kejar berhenti di tengah jalan. Kenali sejak awal supaya bisa dihindari.

Kesalahan umumDampaknyaYang sebaiknya dilakukan
Menunggu semua dokumen lengkapMasa anak belum terlindungi makin panjangDatang dengan bukti yang ada, petugas membantu menelusuri sisanya
Memisahkan vaksin karena takut terlalu banyakKunjungan bertambah dan masa rentan lebih lamaIkuti pemberian bersama yang dianjurkan; IDAI menyatakan tidak berbahaya bila ketentuannya dipenuhi
Berhenti setelah kunjungan pertamaRangkaian tidak selesaiCatat semua tanggal lanjutan dan pasang pengingat
Tidak menyampaikan obat atau reaksi sebelumnyaPetugas sulit memilih langkah yang amanCeritakan riwayat secara rinci saat skrining
Menganggap BIAS sudah menutup semua kekuranganDosis masa bayi tetap terlewatTanyakan vaksin apa yang masih kurang dari masa bayi

Rasa bersalah juga sering membuat orang tua menunda. Tenaga kesehatan membutuhkan informasi, bukan kesempurnaan. Jelaskan hambatan secara terbuka. Datang hari ini lebih berguna daripada menunggu waktu yang terasa ideal.

Satu hal lagi: periksa catatan baru sebelum pulang. Pastikan tanggal, nama vaksin, dan nomor dosis tertulis jelas. Bila tulisannya sulit dibaca, minta dikoreksi saat itu juga. Satu menit memeriksa dapat mencegah kebingungan bertahun-tahun kemudian.

Langkah praktis memulai minggu ini

  1. Hari pertama: kumpulkan buku KIA, kartu, foto, dan dokumen rumah sakit. Tulis fasilitas yang pernah dikunjungi dan nomor kontaknya. Pisahkan informasi yang pasti dari ingatan yang belum bisa diverifikasi.
  2. Hari kedua: hubungi bidan desa, puskesmas, atau dokter. Jelaskan usia anak dan bahwa jadwalnya belum lengkap. Tanyakan hari layanan imunisasi dan dokumen yang perlu dibawa.
  3. Saat kunjungan: bawa anak dalam kondisi nyaman, daftar obat, dan pertanyaan. Minta petugas menjelaskan dosis yang sah, kekurangan, dan tanggal berikutnya.
  4. Setelah imunisasi: ikuti masa observasi, pantau reaksi di rumah, dan simpan catatannya. Panduan efek samping imunisasi membantu Bunda mengenali reaksi yang normal dan tanda yang perlu diperiksa.
  5. Sebelum kunjungan berikutnya: pastikan ketersediaan vaksin dan transportasi. Bila anak sakit, hubungi fasilitas untuk meminta tanggal pengganti, jangan menghilang dari jadwal.

Gunakan alat Jadwal Imunisasi sebagai pengingat tambahan, tetapi jadwal tertulis dari petugas tetap menjadi acuan utama. Untuk memahami istilah dan manfaat tiap vaksin, Bunda bisa membaca artikel imunisasi bayi atau menjelajahi kategori Imunisasi.

Catatan Bunda. Imunisasi kejar bukan hukuman karena terlambat, melainkan kesempatan memperbaiki perlindungan mulai hari ini. Petugas di puskesmas dan posyandu terbiasa membantu keluarga yang jadwalnya tertinggal.

Setelah imunisasi kejar, reaksi yang muncul umumnya sama dengan imunisasi sesuai jadwal. Kemenkes RI menyebut demam ringan, ruam merah, bengkak ringan, dan nyeri di tempat suntikan sebagai reaksi normal yang menghilang dalam 2 sampai 3 hari, sedangkan kejadian ikutan pascaimunisasi yang serius sangat jarang. Bila anak menerima beberapa suntikan dalam satu kunjungan, catat lokasi tiap suntikan agar Bunda tahu bekas mana yang perlu dipantau.

Dengan dokumen yang jujur, penilaian tenaga kesehatan, dan pengingat yang realistis, sebagian besar keluarga dapat kembali ke jalur tanpa mengulang semua dosis.

Sumber

Artikel ini bersifat edukasi. Jadwal kejar harus disusun tenaga kesehatan berdasarkan usia, dosis yang sah, jarak antardosis, kondisi medis, dan pedoman yang berlaku.

Pertanyaan yang sering muncul

Apa yang dimaksud dengan imunisasi kejar?
Imunisasi kejar adalah penyesuaian jadwal untuk melengkapi dosis yang belum diterima atau terlambat. Petugas menilai usia, catatan vaksin, jarak antardosis, dan kondisi kesehatan anak. Tujuannya memberi perlindungan secepat mungkin tanpa mengulang dosis yang sudah tercatat.
Apakah imunisasi yang terlambat harus diulang dari awal?
Umumnya tidak. IDAI menjelaskan bahwa bila jarak antarimunisasi lebih lama dari anjuran, vaksinasi tidak perlu diulang karena sistem kekebalan dapat mengingat rangsangan vaksin terdahulu. Rangkaian dilanjutkan dengan vaksin yang belum diberikan, dengan jarak sesuai anjuran.
Ke mana melapor bila imunisasi anak terlambat?
Kemenkes RI meminta ibu atau ayah melihat kembali status imunisasi bayi dan baduta yang terlambat, lalu melaporkannya kepada bidan desa atau petugas imunisasi puskesmas setempat agar dilengkapi. Klinik, rumah sakit, atau dokter anak yang menyediakan layanan imunisasi juga dapat membantu menyusun jadwalnya.
Apa yang harus dibawa untuk imunisasi kejar?
Bawa buku KIA, kartu imunisasi, foto atau salinan kartu lama, ringkasan rumah sakit, daftar obat, dan riwayat alergi atau reaksi setelah imunisasi. Jangan mengisi tanggal yang tidak diingat. Bukti yang jujur membantu petugas menentukan dosis yang sah dan menghindari pemberian yang tidak perlu.
Apakah beberapa vaksin dapat diberikan sekaligus saat mengejar?
Bisa. IDAI menyatakan pemberian beberapa jenis vaksin sekaligus tidak berbahaya, asalkan disuntikkan di bagian tubuh yang letaknya berjauhan, memakai alat suntik berlainan, dan mengikuti ketentuan umum pemberian vaksin. Cara ini mempercepat perlindungan dan mengurangi jumlah kunjungan.
Apakah semua vaksin bisa dikejar kapan saja?
Tidak semuanya. Kemenkes RI menyebut imunisasi Hepatitis B untuk bayi baru lahir (HB 0) hanya dapat diberikan maksimal 24 jam setelah lahir, dan BCG hanya sampai usia maksimal 1 tahun. Karena aturan tiap vaksin berbeda, jadwal kejar perlu disusun tenaga kesehatan.
Bagaimana jika kartu imunisasi hilang?
Hubungi fasilitas yang pernah memberikan vaksin, periksa buku KIA, rekam medis rumah sakit, aplikasi kesehatan, dan foto keluarga. Jangan menebak tanggal. Bila bukti tetap tidak ditemukan, tenaga kesehatan menyusun rencana berdasarkan usia, riwayat yang dapat dipercaya, dan pedoman yang berlaku.
Apakah anak yang sedang sakit boleh mengikuti imunisasi kejar?
Keputusannya ada pada petugas setelah skrining. Hubungi fasilitas lebih dulu dan sampaikan demam, pola minum, obat yang sedang diminum, riwayat rawat inap, serta gangguan kekebalan bila ada. Bila imunisasi perlu ditunda, minta tanggal pengganti agar jadwal tidak terputus.

Konten ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Untuk keputusan medis, hubungi dokter atau bidan Anda.

Punya pertanyaan seputar imunisasi?

Tanya lewat WhatsApp