Imunisasi HPV: Usia, Jumlah Dosis, dan Jadwal BIAS Kelas 5
Jawaban singkat. Imunisasi HPV adalah vaksin untuk mencegah infeksi Human Papillomavirus, penyebab hampir semua kanker leher rahim. Di Indonesia, imunisasi HPV diberikan gratis lewat BIAS pada anak kelas 5 SD atau usia 11 tahun setiap Agustus. Program Kemenkes kini memakai satu dosis, sedangkan jadwal IDAI 2024 menyebut dua dosis untuk usia 9 sampai 14 tahun.
Oleh Tim Redaksi Asuh AnakKebijakan Editorial· 13 menit baca· Terakhir diperbarui

Imunisasi HPV adalah pemberian vaksin untuk mencegah infeksi Human Papillomavirus (HPV) tipe berisiko tinggi, penyebab hampir semua kasus kanker leher rahim. Di Indonesia, imunisasi ini diberikan gratis lewat Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) pada anak kelas 5 SD atau usia 11 tahun setiap bulan Agustus. Waktunya memang sengaja dipilih jauh sebelum anak dewasa, karena vaksin bekerja paling baik sebelum ada paparan virus.
Banyak orang tua baru mendengar kata HPV ketika surat dari sekolah datang, lalu bertanya-tanya: kenapa anak SD sudah divaksin untuk kanker, berapa kali suntiknya, dan apakah aman. Panduan ini merangkum jawaban dari Kementerian Kesehatan RI, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dan WHO, termasuk perbedaan jumlah dosis yang sering membingungkan. Informasi di sini bersifat umum dan tidak menggantikan penilaian tenaga kesehatan yang mengenal kondisi anak.
Apa itu HPV dan kenapa perlu dicegah sejak anak-anak?
Human Papillomavirus adalah sekelompok virus yang sangat umum. WHO menjelaskan bahwa HPV terdiri dari sekitar 200 jenis yang dikenal. Sebagian besar tidak menimbulkan masalah, tetapi infeksi oleh beberapa tipe berisiko tinggi bisa menyebabkan kutil kelamin atau kanker. HPV menular lewat kontak seksual, dan menurut WHO hampir semua orang yang aktif secara seksual akan terinfeksi pada suatu waktu, biasanya tanpa gejala.
Pada kebanyakan orang, sistem kekebalan membersihkan virus ini dengan sendirinya. Masalah muncul bila infeksi tipe berisiko tinggi menetap di leher rahim. Infeksi persisten itu dapat memicu sel abnormal (lesi prakanker) yang, bila tidak ditangani, berkembang menjadi kanker. WHO mencatat proses dari sel abnormal menjadi kanker umumnya memakan waktu 15 sampai 20 tahun, dan bisa lebih cepat (5 sampai 10 tahun) pada perempuan dengan kekebalan tubuh lemah, misalnya HIV yang tidak diobati.
Karena perjalanannya panjang dan diam-diam, pencegahan harus dimulai jauh sebelum risiko itu ada. Inilah alasan vaksin diberikan pada usia sekolah dasar: tujuannya membangun kekebalan sebelum anak mungkin terpapar virus di masa depan. Kemenkes RI menegaskan bahwa agar perlindungan bekerja maksimal, vaksin sangat penting diberikan sebelum anak terpapar.
HPV juga bukan hanya urusan perempuan. Kemenkes RI menyebut infeksi persisten HPV tertentu dapat menyebabkan setidaknya enam jenis kanker: hampir semua kasus kanker serviks, sekitar 90% kanker anus, 78% kanker vagina, 60% kanker orofaring (bagian belakang tenggorokan), 50% kanker penis, dan 25% kanker vulva. Angka ini membantu menjelaskan kenapa pembahasan HPV makin sering melibatkan anak laki-laki juga.
Seberapa besar masalah kanker leher rahim di Indonesia?
Kanker leher rahim (kanker serviks) adalah kanker yang tumbuh di bagian bawah rahim yang terhubung ke vagina. Secara global, WHO melaporkan kanker serviks menjadi penyebab kanker dan kematian akibat kanker keempat terbanyak pada perempuan pada 2022, dengan sekitar 660.000 kasus baru dan sekitar 350.000 kematian di seluruh dunia. Lebih dari 90% kanker terkait HPV pada perempuan adalah kanker serviks.
Untuk Indonesia, halaman topik kesehatan Kemenkes RI tentang kanker serviks menyebut setiap tahunnya sekitar 36.000 perempuan Indonesia didiagnosis penyakit ini, dan sekitar 21.000 di antaranya meninggal dunia. Angka kematian yang tinggi sebagian terjadi karena kanker baru ditemukan pada tahap lanjut, padahal lesi prakanker jarang menimbulkan gejala.
Kabar baiknya, kanker serviks termasuk kanker yang sebagian besar bisa dicegah. WHO menyebut pencegahannya bertumpu pada dua hal: vaksinasi HPV dan skrining rutin. Semua negara, termasuk Indonesia, berkomitmen menghapus kanker serviks sebagai masalah kesehatan masyarakat. Salah satu target global WHO untuk tahun 2030 adalah 90% anak perempuan sudah divaksin HPV sebelum usia 15 tahun.
Di dalam negeri, target ini diterjemahkan lewat Keputusan Menteri Kesehatan No. HK.01.07/MENKES/2176/2023 tentang Rencana Aksi Nasional (RAN) Eliminasi Kanker Leher Rahim 2023 sampai 2030, seperti tercantum di halaman BIAS Kemenkes. Keputusan inilah yang mengubah jumlah dosis HPV di program pemerintah, yang akan dibahas di bagian berikutnya.
Bagi keluarga, artinya sederhana. Vaksin yang diterima anak di kelas 5 hari ini adalah investasi perlindungan untuk 20 sampai 30 tahun ke depan. Banyak hal bisa terjadi dalam rentang waktu itu, tetapi satu risiko besar sudah bisa dikurangi sejak sekarang, dengan cara yang gratis dan diberikan di sekolah.
Imunisasi HPV diberikan usia berapa dan berapa dosis?
Ini bagian yang paling sering membingungkan, karena ada dua jadwal resmi yang berbeda angka dosisnya. Keduanya sah, hanya konteksnya yang berbeda.
Program pemerintah (Kemenkes RI). Menurut Kemenkes RI, imunisasi HPV cukup satu dosis bila diberikan sebelum usia 20 tahun. Untuk perlindungan optimal, Indonesia memberikannya pada anak kelas 5 SD/MI, atau usia 11 tahun bagi anak yang tidak bersekolah formal. Perubahan dari dua dosis menjadi satu dosis dilakukan dalam rangka RAN Eliminasi Kanker Leher Rahim tadi.
Rekomendasi IDAI 2024. Jadwal imunisasi IDAI 2024 menulis vaksin HPV disuntikkan ke otot pada anak perempuan usia 9 sampai 14 tahun sebanyak 2 dosis dengan interval 6 sampai 12 bulan. Mulai usia 15 tahun, jadwalnya sama dengan dosis dewasa, yaitu 3 dosis: untuk vaksin bivalen pada bulan 0, 1, dan 6, sedangkan untuk vaksin quadrivalen atau nonavalen pada bulan 0, 2, dan 6.
Posisi WHO. WHO memperbarui rekomendasinya pada Desember 2022. Menurut WHO, jadwal satu dosis dapat memberi efikasi dan daya tahan perlindungan yang sebanding dengan jadwal dua dosis. WHO juga menyebut orang dengan kekebalan tubuh lemah, termasuk orang dengan HIV, idealnya menerima dua atau tiga dosis.
| Sumber | Sasaran usia | Jumlah dosis | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Kemenkes RI (program BIAS) | Kelas 5 SD/MI atau usia 11 tahun | 1 dosis | Gratis, bulan Agustus, berlaku bila sebelum usia 20 tahun |
| IDAI 2024 | Anak perempuan 9 sampai 14 tahun | 2 dosis, jarak 6 sampai 12 bulan | Rekomendasi dokter anak, bisa di layanan mandiri |
| IDAI 2024 | Mulai 15 tahun | 3 dosis | Bivalen 0, 1, 6 bulan; quadrivalen atau nonavalen 0, 2, 6 bulan |
| WHO | Anak perempuan 9 sampai 14 tahun (prioritas) | 1 atau 2 dosis | Kekebalan lemah idealnya 2 atau 3 dosis |
Jadi, mana yang diikuti? Untuk sebagian besar keluarga, cukup pastikan anak tidak melewatkan imunisasi HPV di BIAS. Bila Bunda ingin mengikuti jadwal IDAI (misalnya menambah dosis kedua di layanan mandiri), atau anak punya kondisi kekebalan tubuh tertentu, keputusan sebaiknya diambil bersama dokter anak. Bawa buku KIA atau kartu imunisasi agar riwayat dosisnya jelas.
Bagaimana jadwal BIAS dan di mana mendapatkan imunisasi HPV?
BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah) adalah kegiatan imunisasi rutin pemerintah untuk anak SD dan SMP atau sederajat, baik yang bersekolah maupun tidak. Kemenkes RI membagi pelaksanaannya menjadi dua bulan: Agustus untuk Campak Rubela dan HPV, serta November untuk DT dan Td.
| Sasaran (sekolah) | Sasaran (tidak sekolah) | Vaksin | Bulan |
|---|---|---|---|
| Kelas 1 | Usia 7 tahun | Campak Rubela | Agustus |
| Kelas 1 | Usia 7 tahun | DT | November |
| Kelas 2 | Usia 8 tahun | Td | November |
| Kelas 5 | Usia 11 tahun | HPV | Agustus |
| Kelas 5 | Usia 11 tahun | Td | November |
| Kelas 6 (bertanda khusus) | Usia 12 tahun | HPV | Agustus |
| Kelas 9 (bertanda khusus) | Usia 15 tahun | HPV | Agustus |
Pada tabel resmi itu, baris kelas 6 dan kelas 9 diberi tanda bintang tanpa penjelasan tertulis di badan halaman. Karena itu, bila anak Bunda duduk di kelas 6 atau kelas 9 dan belum pernah mendapat HPV, tanyakan ke sekolah atau puskesmas apakah anak termasuk sasaran tahun itu. Jangan menyimpulkan sendiri bahwa anak sudah terlambat.
Mengenai biaya, Kemenkes RI menyatakan imunisasi HPV diberikan gratis bagi peserta didik di sekolah lewat BIAS setiap Agustus. Anak yang tidak bersekolah formal juga bisa mendapatkannya gratis di puskesmas atau pos imunisasi lain. Vaksinasi HPV di klinik atau rumah sakit swasta di luar program umumnya berbayar, dan jenis vaksinnya bisa berbeda.
Imunisasi HPV adalah bagian dari rangkaian panjang yang dimulai sejak bayi. Kalau Bunda ingin melihat gambaran keseluruhan, artikel imunisasi dan jadwal vaksin IDAI membahas urutan dari lahir sampai remaja, sedangkan imunisasi DPT menjelaskan dosis Td yang juga diberikan di kelas 5. Bunda juga bisa memantau jadwal anak lewat alat jadwal imunisasi.
Apakah anak laki-laki juga perlu imunisasi HPV?
Dulu imunisasi HPV di program pemerintah identik dengan anak perempuan, dan jadwal IDAI 2024 pun menulis sasaran anak perempuan. Namun tanya jawab Kemenkes RI yang diperbarui 25 September 2026 sudah membahas imunisasi HPV untuk anak laki-laki usia 11 tahun.
Kemenkes RI menyebut dua alasan. Pertama, perlindungan diri sendiri dari kanker anus, kanker penis, dan kanker tenggorokan (orofaring) di masa depan. Kedua, memutus rantai penularan, sehingga anak laki-laki tidak menjadi pembawa virus bagi pasangan hidupnya kelak. Kemenkes juga menyebut vaksin ini sudah memiliki izin edar BPOM, direkomendasikan WHO, Komite Imunisasi Nasional, dan Kemenkes, dan 93 negara serta wilayah telah memiliki kebijakan imunisasi HPV untuk anak laki-laki.
WHO sendiri menempatkan anak perempuan 9 sampai 14 tahun sebagai prioritas, sambil mencatat bahwa beberapa negara memilih ikut memvaksin anak laki-laki untuk menurunkan sebaran HPV di masyarakat dan mencegah kanker terkait HPV pada laki-laki.
Pelaksanaan di lapangan bisa berbeda antardaerah dan antartahun. Bila Bunda punya anak laki-laki di kelas 5, tanyakan ke wali kelas atau puskesmas apakah sekolahnya sudah termasuk sasaran. Bila belum, dokter anak dapat menjelaskan pilihan vaksinasi mandiri yang sesuai usianya.
Apakah vaksin HPV aman dan apa efek sampingnya?
Pertanyaan soal keamanan wajar muncul, apalagi bila kabar simpang siur beredar di grup percakapan orang tua. Menurut Kemenkes RI, efek samping imunisasi HPV umumnya ringan dan biasanya hilang dalam beberapa hari. Efek samping serius sangat jarang terjadi. Kemenkes juga mencatat ratusan juta anak laki-laki dan perempuan di berbagai negara telah mendapatkan imunisasi HPV.
| Reaksi | Seberapa sering | Yang bisa dilakukan |
|---|---|---|
| Nyeri di tempat suntikan | Umum, ringan | Istirahatkan lengan, pakai baju yang longgar |
| Bengkak atau kemerahan di tempat suntikan | Umum, ringan | Biasanya hilang dalam beberapa hari |
| Reaksi lain setelah imunisasi | Tidak umum | Orang tua dan guru melapor ke petugas puskesmas terdekat |
| Efek samping serius | Sangat jarang | Segera ke fasilitas kesehatan |
Kemenkes RI meminta orang tua dan guru segera melapor ke petugas puskesmas terdekat bila terjadi reaksi setelah imunisasi HPV, agar anak mendapat pemeriksaan lebih lanjut. Laporan seperti ini juga membantu petugas memantau keamanan vaksin secara berkelanjutan. Jangan memberi obat atau ramuan tertentu tanpa arahan tenaga kesehatan.
Mengenai efektivitas, Kemenkes RI menyebut berbagai studi menunjukkan perlindungan hampir 100% terhadap tipe HPV berisiko tinggi bila diberikan sejak dini, dengan efektivitas yang bertahan lebih dari 10 tahun setelah imunisasi. WHO menambahkan bahwa semua vaksin HPV berlisensi melindungi dari HPV tipe 16 dan 18, yang menyebabkan sekitar 76% kanker serviks.
Salah satu hoaks yang paling sering beredar adalah vaksin HPV menyebabkan kemandulan. Kemenkes RI menegaskan tidak ada bukti ilmiah bahwa vaksin HPV memengaruhi kesuburan di masa depan. Bila Bunda menerima pesan berantai seperti itu, cek dulu ke petugas puskesmas atau layanan HALO KEMENKES sebelum memutuskan. Untuk gambaran umum soal reaksi setelah vaksin pada usia lebih kecil, artikel imunisasi bayi bisa membantu.
Ada kalanya anak tidak bisa hadir saat BIAS karena sakit atau berhalangan. Kemenkes RI menyarankan dua langkah: laporkan ke guru atau wali kelas agar anak diikutkan imunisasi susulan, atau datang ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan dosis yang tertinggal. Prinsipnya, lebih baik terlambat daripada tidak terlindungi sama sekali.
Cara mendampingi anak sebelum dan sesudah imunisasi HPV
Anak usia 11 tahun sudah bisa diajak bicara dengan bahasa yang jujur dan sederhana. Penjelasan yang tenang dari orang tua sering lebih menenangkan daripada kalimat "nggak sakit kok". Bunda bisa menjelaskan bahwa vaksin ini melindungi tubuh dari virus yang bisa menimbulkan penyakit berat saat dewasa, dan suntikannya cepat.
Beberapa hal praktis yang membantu:
- Baca surat dari sekolah sampai tuntas. Biasanya ada formulir persetujuan dan tanggal pelaksanaan. Bila ada pertanyaan, tulis dan sampaikan ke wali kelas.
- Pastikan anak sarapan di hari imunisasi agar tubuhnya tidak lemas.
- Ceritakan riwayat kesehatan penting kepada petugas, misalnya alergi berat, kondisi kekebalan tubuh, atau obat yang sedang diminum.
- Minta anak memberi tahu guru bila merasa pusing atau tidak enak badan setelah disuntik.
- Catat tanggal imunisasi di buku KIA atau catatan kesehatan anak, lalu simpan foto kartunya.
Pada anak praremaja, topik HPV juga bisa menjadi pintu pembuka obrolan tentang tubuh, kebersihan diri, dan menjaga diri, sesuai usia dan nilai keluarga. Kemenkes RI menyebut menjaga kebersihan diri, terutama daerah intim, sebagai langkah pendamping imunisasi. Pendekatan pengasuhan yang hangat dan terbuka seperti dibahas di artikel parenting membuat anak lebih nyaman bertanya kepada orang tuanya, bukan ke sumber yang keliru.
Untuk para ibu, imunisasi anak juga momen yang baik untuk mengingat kesehatan diri sendiri. WHO menganjurkan perempuan menjalani skrining kanker serviks dengan tes berkinerja tinggi setiap 5 sampai 10 tahun mulai usia 30, dan perempuan dengan HIV setiap 3 sampai 5 tahun mulai usia 25. Tanyakan ke puskesmas tentang layanan deteksi dini yang tersedia di daerah Bunda. Bunda juga bisa membaca kategori imunisasi untuk panduan vaksin lain sepanjang masa anak.
Sumber
- Kemenkes RI - Pertanyaan Umum Seputar Imunisasi HPV (Ayo Sehat, 25 September 2026)
- Kemenkes RI - Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS)
- Kemenkes RI - Kanker Serviks (Kanker Leher Rahim), Topik Kesehatan Ayo Sehat
- IDAI - Jadwal Imunisasi Anak Umur 0-18 Tahun Rekomendasi IDAI 2024 (PDF)
- WHO - Cervical cancer (fact sheet, 3 Juli 2026)
- WHO - Human papillomavirus and cancer (fact sheet)
- WHO - WHO updates recommendations on HPV vaccination schedule (20 Desember 2022)
Artikel ini bersifat edukasi umum dan tidak menggantikan konsultasi dengan dokter, bidan, atau petugas imunisasi. Jadwal dan jumlah dosis dapat berubah mengikuti kebijakan terbaru Kemenkes RI, jadi selalu konfirmasi ke sekolah atau puskesmas setempat.
Pertanyaan yang sering muncul
Imunisasi HPV untuk mencegah apa?
Imunisasi HPV diberikan usia berapa?
Imunisasi HPV berapa kali?
Apakah imunisasi HPV gratis?
Apa efek samping imunisasi HPV?
Apakah vaksin HPV menyebabkan kemandulan?
Anak terlewat imunisasi HPV di kelas 5, apa yang harus dilakukan?
Konten ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Untuk keputusan medis, hubungi dokter atau bidan Anda.
Punya pertanyaan seputar imunisasi?
Tanya lewat WhatsApp

