Artikel ini bagian dari panduan ibu hamil, halaman induk yang mengumpulkan seluruh bacaan untuk tahap ini.
Tensi Normal Ibu Hamil: Batas Aman, Hipertensi, dan Tanda Bahaya
Jawaban singkat. Tensi normal ibu hamil adalah di bawah 140/90 mmHg. Kemenkes RI memakai batas 140/90 mmHg untuk menandai hipertensi saat pemeriksaan kehamilan, sedangkan ACOG menggolongkan di bawah 120/80 mmHg sebagai normal. Tensi 160/110 mmHg atau lebih tergolong berat, dan tensi di bawah 90/60 mmHg disebut rendah. Tensi diukur di setiap kunjungan pemeriksaan kehamilan.
Oleh Tim Redaksi Asuh AnakKebijakan Editorial· 11 menit baca· Terakhir diperbarui

Tensi normal ibu hamil adalah di bawah 140/90 mmHg. Angka 140/90 mmHg adalah batas yang dipakai Buku KIA Kemenkes RI untuk menandai hipertensi saat pemeriksaan kehamilan. Sebagai patokan umum, organisasi dokter kandungan Amerika (ACOG) menggolongkan tekanan darah di bawah 120/80 mmHg sebagai normal, dan tensi di bawah 90/60 mmHg disebut rendah. Yang terpenting bukan satu angka saja, melainkan pola hasil pengukuran dari kunjungan ke kunjungan.
Hampir setiap ibu hamil pernah pulang dari posyandu atau bidan sambil mengingat-ingat angka tensinya, lalu bertanya, apakah ini aman? Tekanan darah adalah salah satu pemeriksaan terpenting selama hamil, karena hipertensi dalam kehamilan sering tidak bergejala. Panduan ini menjelaskan cara membaca angka tensi, jenis hipertensi dalam kehamilan, tanda bahaya preeklampsia, faktor risiko, dan cara mengukur tensi dengan benar, berdasarkan Kemenkes RI, WHO, ACOG, dan NHS.
Bagaimana cara membaca angka tensi ibu hamil?
Hasil tensi selalu ditulis dua angka, misalnya 110/70 mmHg. Angka pertama adalah tekanan sistolik, yaitu tekanan saat jantung memompa darah. Angka kedua adalah tekanan diastolik, yaitu tekanan saat jantung beristirahat di antara dua detak. Satuannya mmHg (milimeter air raksa). Tensi disebut tinggi bila salah satu angkanya, sistolik atau diastolik, melewati batas, tidak harus keduanya.
ACOG membagi tekanan darah orang dewasa menjadi beberapa kategori. Normal bila kurang dari 120/80 mmHg. Meningkat (elevated) bila sistolik 120 sampai 129 mmHg dengan diastolik kurang dari 80 mmHg. Hipertensi tahap 1 bila sistolik 130 sampai 139 mmHg atau diastolik 80 sampai 89 mmHg. Hipertensi tahap 2 bila sistolik minimal 140 mmHg atau diastolik minimal 90 mmHg.
Dalam layanan kehamilan di Indonesia, Buku KIA Kemenkes RI menuliskan bahwa pengukuran tekanan darah bertujuan mengetahui ada atau tidaknya hipertensi, yaitu tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih. Batas ini sama dengan batas yang dipakai WHO untuk mendiagnosis preeklampsia. Jadi bila Bunda membaca tabel ACOG lalu cemas karena tensi 125/82, ingat bahwa angka itu masih di bawah batas hipertensi kehamilan, tetapi tetap perlu dipantau tren kenaikannya.
| Hasil tensi (mmHg) | Arti | Langkah yang dianjurkan |
|---|---|---|
| Di bawah 90/60 | Rendah (NHS) | Periksakan bila sering pusing, lemas, pandangan kabur, atau pingsan |
| Di bawah 120/80 | Normal (ACOG) | Lanjutkan pemeriksaan kehamilan rutin |
| 120 sampai 139 / 80 sampai 89 | Meningkat atau hipertensi tahap 1 (ACOG), belum hipertensi kehamilan (Buku KIA) | Pantau tren di kunjungan berikutnya |
| 140/90 atau lebih | Hipertensi dalam kehamilan (Buku KIA, WHO) | Pemeriksaan lanjutan oleh bidan atau dokter |
| 160/110 atau lebih | Hipertensi berat (ACOG) | Segera ke fasilitas kesehatan |
Apakah tensi ibu hamil berubah selama kehamilan?
Ya. ACOG menjelaskan bahwa pada paruh pertama kehamilan, tekanan darah normalnya menurun. Pada ibu dengan hipertensi ringan sebelum hamil, tekanan darahnya bahkan bisa tetap rendah atau kembali normal selama hamil. Karena itu, tensi yang sedikit lebih rendah dari biasanya di trimester awal sering merupakan bagian dari perubahan kehamilan.
ACOG juga mengingatkan bahwa tekanan darah berubah-ubah sepanjang hari. Bila satu hasil pengukuran tinggi, petugas biasanya mengukur ulang beberapa saat kemudian. Satu angka tinggi setelah naik tangga, cemas di ruang tunggu, atau baru saja makan belum tentu menggambarkan kondisi sebenarnya. Sebaliknya, hasil yang tinggi berulang kali perlu ditanggapi serius.
Tensi rendah juga perlu dipahami. Menurut NHS, tekanan darah rendah adalah hasil di bawah 90/60 mmHg. Kondisi ini tidak selalu menimbulkan gejala, tetapi perlu diperiksa bila muncul keluhan seperti kepala ringan atau pusing, mual, pandangan kabur, lemas, bingung, atau pingsan. Bila keluhan muncul saat berdiri atau berubah posisi tiba-tiba, NHS menyebutnya hipotensi postural.
NHS menyarankan beberapa langkah sederhana untuk meredakan gejala tensi rendah: bangun perlahan dari duduk ke berdiri, berhati-hati saat turun dari tempat tidur dengan bergerak bertahap dari berbaring ke duduk lalu berdiri, serta makan dalam porsi kecil tapi sering. Bila Bunda juga sering pusing, pemeriksaan Hb ibu hamil membantu menyingkirkan kemungkinan anemia pada ibu hamil, penyebab lain keluhan serupa.
Pengukuran rutin membuat perubahan ini mudah terlihat. Buku KIA mencatat hasil tensi di setiap kunjungan, sehingga bidan atau dokter bisa membandingkan angka sekarang dengan angka sebelumnya. Kenaikan bertahap dari kunjungan ke kunjungan bisa menjadi sinyal lebih awal dibanding satu angka saja.
Apa saja jenis hipertensi dalam kehamilan?
MedlinePlus dan ACOG membagi tekanan darah tinggi dalam kehamilan menjadi beberapa jenis. Membedakannya penting karena pemantauan dan risikonya berbeda.
| Jenis | Kapan muncul | Ciri utama |
|---|---|---|
| Hipertensi kronik | Sebelum hamil atau sebelum 20 minggu | Sebagian ibu baru tahu saat pemeriksaan kehamilan pertama |
| Hipertensi gestasional | Setelah 20 minggu, tensi sebelumnya normal | Biasanya tanpa gejala lain, umumnya hilang dalam 12 minggu setelah melahirkan |
| Preeklampsia | Setelah 20 minggu, biasanya trimester ketiga | Tensi tinggi disertai tanda kerusakan organ, misalnya protein dalam urine |
| Preeklampsia dengan gambaran berat | Bisa memburuk dari preeklampsia | Tensi 160/110 atau lebih, nyeri kepala hebat, gangguan penglihatan, nyeri perut atas |
Hipertensi gestasional menurut MedlinePlus adalah tekanan darah tinggi yang muncul setelah usia kehamilan 20 minggu. Dalam banyak kasus kondisi ini tidak membahayakan ibu dan bayi, dan hilang dalam 12 minggu setelah melahirkan. Namun kondisi ini meningkatkan risiko tekanan darah tinggi di masa depan, dan sebagian ibu dengan hipertensi gestasional kemudian mengalami preeklampsia. ACOG menyebut ibu dengan hipertensi gestasional biasanya dipantau sering, umumnya setiap minggu.
Hipertensi kronik adalah tekanan darah tinggi yang sudah ada sebelum hamil atau muncul sebelum minggu ke-20. MedlinePlus mencatat sebagian ibu sudah lama memilikinya tanpa sadar sampai tensinya diukur saat kunjungan kehamilan. Hipertensi kronik juga bisa berkembang menjadi preeklampsia.
Preeklampsia adalah kenaikan tekanan darah mendadak setelah minggu ke-20, biasanya di trimester terakhir, yang sering disertai tanda kerusakan organ seperti hati atau ginjal. WHO mendiagnosisnya bila muncul hipertensi 140/90 mmHg atau lebih disertai protein dalam urine (minimal 0,3 g per 24 jam) setelah usia kehamilan 20 minggu. WHO menekankan deteksi dan penanganan dini sangat penting untuk mencegah eklampsia, yaitu kondisi yang disertai kejang. Keduanya bisa mengancam nyawa.
Rangkaian pemeriksaan laboratorium yang menyertai kehamilan, termasuk tes urine, dibahas di artikel cek lab ibu hamil.
Apa tanda bahaya preeklampsia yang harus diwaspadai?
Preeklampsia bisa berkembang diam-diam. ACOG menyebut kenaikan tensi bisa menjadi tanda pertama, dan ibu bisa tidak merasakan apa-apa. Karena itu pemeriksaan rutin tetap penting meskipun Bunda merasa sehat. Namun ada beberapa gejala yang tidak boleh ditunggu.
Kemenkes RI menjelaskan bahwa bengkak di tangan, kaki, dan wajah bisa terjadi selama kehamilan. Namun bila pembengkakan itu disertai pusing kepala, nyeri ulu hati, kejang, dan pandangan kabur, ibu hamil harus segera dibawa ke dokter karena bisa menjadi pertanda preeklampsia. Buku KIA juga mencantumkan pandangan kabur, nyeri perut hebat, dan kejang di antara tanda bahaya yang perlu segera ditangani.
ACOG merinci gejala preeklampsia yang perlu diwaspadai:
- bengkak di wajah atau tangan
- sakit kepala yang tidak kunjung hilang
- melihat bintik-bintik atau penglihatan berubah
- nyeri di perut bagian atas atau bahu
- mual dan muntah di paruh kedua kehamilan
- berat badan naik mendadak
- sulit bernapas
Bengkak di kaki sendiri sangat umum menjelang akhir kehamilan dan tidak selalu berarti preeklampsia. Perbedaannya, dan kapan bengkak perlu dicurigai, dibahas lebih rinci di artikel kaki bengkak saat hamil.
Siapa yang berisiko tinggi dan bagaimana mencegahnya?
WHO menyebut beberapa faktor yang meningkatkan risiko preeklampsia: kehamilan pertama, kehamilan kembar dua atau lebih, obesitas, kondisi yang sudah ada sebelumnya seperti hipertensi, diabetes, atau penyakit ginjal, serta riwayat preeklampsia dalam keluarga. WHO menegaskan memiliki faktor risiko tidak selalu berarti preeklampsia akan terjadi, tetapi pengawasan medis yang lebih ketat dianjurkan.
Di Indonesia, Buku KIA Kemenkes RI memuat formulir skrining preeklampsia yang diisi tenaga kesehatan pada usia kehamilan di bawah 20 minggu. Kriterianya mencakup antara lain kehamilan dengan pasangan baru pada ibu yang pernah melahirkan, kehamilan dengan teknologi reproduksi berbantu, usia 35 tahun atau lebih, kehamilan pertama, jarak dari kehamilan sebelumnya lebih dari 10 tahun, riwayat preeklampsia pada ibu atau saudara perempuan, obesitas sebelum hamil (IMT di atas 30), kehamilan kembar, diabetes, hipertensi kronik, penyakit ginjal, dan penyakit autoimun.
Formulir itu juga memakai pemeriksaan fisik berupa Mean Arterial Pressure (MAP), yaitu tekanan arteri rata-rata yang dihitung dari dua kali diastolik ditambah sistolik, lalu dibagi tiga. Buku KIA mencantumkan MAP di atas 90 mmHg sebagai salah satu kriteria, ditambah pemeriksaan protein urine. Penilaian akhirnya dilakukan petugas dengan menggabungkan semua kriteria; Buku KIA menyebut ibu yang tergolong berisiko preeklampsia dirujuk secara terencana agar pemeriksaan kehamilan, persalinan, dan nifasnya dilakukan di rumah sakit.
| Faktor risiko (WHO dan Buku KIA) | Yang bisa dilakukan |
|---|---|
| Kehamilan pertama atau kembar | Hadiri setiap pemeriksaan kehamilan, ukur tensi tiap kunjungan |
| Hipertensi, diabetes, atau penyakit ginjal sebelum hamil | Kontrol penyakit dasar bersama dokter sejak awal kehamilan |
| Obesitas sebelum hamil | Jaga berat badan dan aktivitas sesuai anjuran tenaga kesehatan |
| Riwayat preeklampsia pada diri atau keluarga | Sampaikan riwayat ini sejak kunjungan pertama |
| Usia 35 tahun atau lebih | Ikuti skrining preeklampsia sebelum usia kehamilan 20 minggu |
Untuk pencegahan, WHO menyebut beberapa langkah: menjaga berat badan sehat dan aktivitas fisik bila diizinkan, mengelola penyakit yang sudah ada terutama hipertensi, aspirin dosis rendah yang dimulai sebelum 20 minggu atau sejak awal pemeriksaan kehamilan pada ibu berisiko tinggi, suplementasi kalsium di wilayah dengan asupan kalsium rendah, dan pengobatan hipertensi yang sudah ada dengan obat antihipertensi. Semua obat dan suplemen ini diberikan atas penilaian dan resep tenaga kesehatan, bukan dimulai sendiri. Penjelasan tentang kalsium untuk ibu hamil dan pola makanan sehat untuk ibu hamil bisa melengkapi diskusi dengan bidan.
Bagaimana cara mengukur tensi ibu hamil dengan benar?
Hasil tensi yang akurat dimulai dari cara pengukuran yang benar. NHS menjelaskan prosedur dasarnya: duduk, gulung lengan baju atau lepaskan pakaian berlengan panjang, luruskan lengan dan letakkan di atas meja dalam keadaan rileks, lalu manset dipasang di lengan atas. Tetap pada posisi itu selama manset mengembang. Rasa tidak nyaman beberapa detik itu wajar dan hilang saat udara dilepas. NHS juga menyebut pengukuran bisa diulang beberapa kali untuk memastikan hasilnya.
Sebagian ibu, terutama yang memiliki hipertensi, diminta memantau tensi di rumah. ACOG menyebut pemantauan di rumah kadang diperlukan, dan setelah melahirkan ibu dengan hipertensi kronik tetap perlu memantau tensi di rumah selama 1 sampai 2 minggu karena tekanan darah sering naik pada minggu-minggu setelah persalinan. Beberapa kebiasaan yang membantu:
- Pakai alat dengan manset lengan atas, seperti yang dipakai di fasilitas kesehatan menurut penjelasan NHS.
- Catat setiap hasil beserta tanggal dan jamnya, lalu bawa catatan itu saat kontrol.
- Ulangi pengukuran bila hasil pertama tinggi, setelah beristirahat sejenak.
- Jangan mengubah dosis obat berdasarkan satu hasil di rumah; laporkan ke dokter.
Pemeriksaan tensi hanyalah satu bagian dari layanan kehamilan yang lengkap. Pemantauan tinggi fundus seperti dijelaskan di artikel TFU sesuai usia kehamilan, kenaikan berat badan, dan tes laboratorium saling melengkapi. Gambaran tahap demi tahap kehamilan ada di panduan kehamilan, dan Bunda bisa menghitung usia kehamilan dengan kalkulator usia kehamilan. Artikel lain seputar kehamilan tersedia di kategori kehamilan.
Sumber
- Kemenkes RI - Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Edisi 2024 (PDF)
- Kemenkes RI - Ayo Sehat: Tanda Bahaya Kehamilan yang Harus Diketahui Oleh Ibu Hamil
- WHO - Pre-eclampsia (fact sheet)
- ACOG - Preeclampsia and High Blood Pressure During Pregnancy (FAQ)
- MedlinePlus - High Blood Pressure in Pregnancy
- NHS - Low blood pressure (hypotension)
- NHS - Blood pressure test
Artikel ini bersifat edukasi umum dan tidak menggantikan pemeriksaan oleh bidan atau dokter. Keputusan minum obat penurun tensi, aspirin, maupun suplemen selama hamil harus melalui konsultasi dengan tenaga kesehatan.
Pertanyaan yang sering muncul
Berapa tensi normal ibu hamil?
Tensi 140/90 pada ibu hamil berbahaya?
Berapa tensi ibu hamil yang terlalu rendah?
Apa tanda preeklampsia yang harus diwaspadai?
Seberapa sering tensi ibu hamil harus diukur?
Siapa yang berisiko tinggi preeklampsia?
Apakah ibu hamil dengan tensi tinggi boleh minum obat penurun tensi?
Konten ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Untuk keputusan medis, hubungi dokter atau bidan Anda.
Punya pertanyaan seputar kehamilan?
Tanya lewat WhatsApp

