Cara Menyapih Anak dari ASI agar Tidak Rewel pada Malam Hari
Oleh Tim Redaksi Asuh AnakKebijakan Editorial· 13 menit baca· Terakhir diperbarui

Cara menyapih anak dari ASI agar tidak rewel pada malam hari bertumpu pada satu perubahan cara pandang: sesi menyusu malam biasanya bukan lagi soal lapar, melainkan sudah menjadi cara anak kembali tidur. Karena itu, melepas sesi malam berarti mengajarkan cara menenangkan diri yang baru, bukan sekadar menolak permintaan. Kemenkes RI menegaskan bahwa penyapihan harus dilakukan dengan cara yang baik dan bertahap agar anak tidak merasa kaget dengan apa yang akan dialaminya, dan menyebut secara terbuka bahwa anak ketika disapih pasti akan rewel sehingga dibutuhkan kerja sama antara suami dan istri. Artikel ini membahas kenapa sesi malam paling sulit dilepas, kapan waktunya masuk akal untuk memulai, langkah bertahap yang bisa dijalankan, peran ayah, serta hal-hal yang justru memperburuk keadaan.
Kenapa Sesi Malam Paling Sulit Dilepaskan
Ada dua alasan yang bekerja bersamaan, dan keduanya perlu dipahami sebelum memilih strategi.
Alasan pertama, menyusu sudah menjadi pengantar tidur. IDAI mengingatkan bahwa rutinitas pengantar tidur sebaiknya tidak terlalu panjang atau terlalu merepotkan, karena jika telah terbiasa, anak akan selalu memerlukan kebiasaan ini sebagai pengantar tidur, bahkan jika ia terbangun tengah malam. Kalimat ini menjelaskan hampir seluruh masalahnya. Anak yang selalu tertidur sambil menyusu belum punya cara lain untuk masuk ke tidur, sehingga setiap kali ia terbangun secara alami di tengah malam, satu-satunya jalan kembali tidur yang ia kenal adalah menyusu lagi.
Alasan kedua, terbangun malam itu memang normal. IDAI menjelaskan bahwa pembentukan pola tidur anak melibatkan dua proses, yaitu konsolidasi dan regulasi. Konsolidasi tampak pada perubahan dari tidur singkat yang sering terputus menjadi tidur malam yang lebih panjang dengan lebih sedikit terbangun. Regulasi mengacu pada proses peningkatan kemampuan tidur sendiri tanpa bantuan dan kembali tidur saat terbangun tengah malam tanpa banyak rewel. Jadi kemampuan yang sedang Bunda ajarkan itu memang keterampilan yang berkembang bertahap, bukan sesuatu yang otomatis muncul di usia tertentu.
Perlu ditambahkan satu hal yang sering membuat Bunda serba salah. IDAI menjelaskan bahwa prolaktin umumnya dihasilkan pada malam hari, sehingga menyusui pada malam hari dapat membantu mempertahankan produksi ASI. Artinya, sesi malam memang punya peran nyata selama masa menyusui aktif. Melepasnya wajar dilakukan ketika memang sudah waktunya menyapih, bukan sebagai jalan pintas ketika Bunda sebenarnya masih ingin melanjutkan menyusui. Penjelasan lebih luas tentang bagaimana produksi ASI bertahan ada di artikel ASI bertahan berapa lama.
Menilai Apakah Waktunya Memang Sudah Tepat
Menyapih yang berjalan mulus hampir selalu dimulai pada waktu yang tepat, bukan pada waktu yang paling mendesak.
WHO dan UNICEF menganjurkan bayi menyusu eksklusif pada 6 bulan pertama, lalu menyusui dilanjutkan sampai usia 2 tahun atau lebih sambil diberi makanan pendamping yang memadai dan aman. IDAI juga menyebut pemberian ASI dilanjutkan dengan didampingi makanan pendamping idealnya selama dua tahun pertama kehidupan, dan menambahkan bahwa makin lama bayi mendapatkan ASI, makin besar perlindungannya. Angka dua tahun ini bisa menjadi patokan umum, bukan garis mati.
Kemenkes RI menyebutkan beberapa hal yang perlu diperhatikan orang tua sebelum menyapih, yaitu niat, musyawarah antara suami dan istri, tekad yang kuat, komunikasi yang baik dengan anak, serta anak harus dalam kondisi sehat. Syarat terakhir sering diremehkan padahal paling menentukan. Menyapih di tengah anak sedang sakit, sedang tumbuh gigi, atau sedang menghadapi perubahan besar seperti pindah rumah dan mulai dititipkan hampir pasti berujung pada malam yang jauh lebih berat.
Beberapa tanda yang menunjukkan waktunya lebih mendukung:
- Anak sudah makan tiga kali sehari dengan porsi yang cukup dan variasi yang memadai.
- Anak sedang sehat, tidak sedang demam, diare, atau pilek berat.
- Tidak ada perubahan besar lain yang sedang berlangsung dalam keluarga.
- Bunda dan pasangan sudah sepakat dan siap menjalani beberapa malam yang tidak nyaman.
- Bunda menjalaninya karena memang sudah waktunya, bukan karena tekanan komentar orang lain.
Kemenkes RI juga mencatat bahwa umur penyapihan cenderung makin muda dengan alasan seperti ASI dirasa sedikit, kesibukan bekerja, dan pertimbangan penampilan. Kalau alasan Bunda adalah ASI terasa sedikit, ada baiknya hal itu diperiksa lebih dulu bersama tenaga kesehatan, karena terasa sedikit dan benar-benar sedikit adalah dua hal berbeda. Pembahasan keluhan menyusui yang paling sering muncul ada di artikel masalah menyusui umum.
Menyiapkan Tidur Anak Sebelum Sesi Malam Dikurangi
Bagian ini idealnya dikerjakan satu sampai dua minggu sebelum sesi malam benar-benar dikurangi. Tujuannya menyiapkan cara tidur yang baru, agar ketika sesi menyusu berkurang, anak sudah punya pegangan lain.
Bangun rutinitas pengantar tidur yang sederhana. IDAI menganjurkan memilih satu atau dua kegiatan rutin sebagai pengantar tidur, misalnya memandikan, memijat, mengayun, berdoa, atau membacakan cerita. IDAI juga mengingatkan agar rutinitas ini tidak terlalu panjang atau terlalu merepotkan, karena akan selalu diperlukan anak setiap kali hendak tidur. Urutan yang sama, dikerjakan dengan urutan yang sama setiap malam, membuat anak mengenali bahwa waktu tidur sedang mendekat.
Letakkan anak saat mengantuk tetapi masih terjaga. Menurut IDAI, waktu terbaik meletakkan bayi di tempat tidurnya adalah saat ia dalam keadaan mengantuk namun masih terjaga. Inilah latihan inti agar anak belajar tidur sendiri. IDAI juga mengingatkan agar orang tua mengenali tanda-tanda mengantuk lebih awal, karena bila menunggu terlalu lama anak menjadi terlalu lelah dan justru makin sulit tidur.
Tegaskan perbedaan siang dan malam. IDAI menyarankan agar kegiatan yang sama diperlakukan berbeda antara siang dan malam. Setelah menyusu di siang hari anak diajak bermain, sedangkan setelah menyusu menjelang tidur suasana dibuat tenang dan siap tidur. IDAI juga menganjurkan mengurangi cahaya lampu dan suara pada malam hari serta berinteraksi seperlunya saja.
Siapkan sumber kenyamanan lain. IDAI menyebut orang tua dapat menempatkan benda kesayangan si kecil di dekatnya agar ia merasa nyaman, serta menyebut senandung ibu, musik yang menenangkan, dan pijatan lembut sebagai cara membuat anak merasa aman sehingga lebih cepat dan lebih lelap tertidur.
Perhatikan tidur siang dan jam tidur malam. IDAI menyebut waktu tidur optimal bagi anak adalah sebelum jam sembilan malam, meski ini bukan aturan kaku. IDAI juga mencatat bahwa total waktu tidur berkurang menjadi sekitar 13 jam per hari pada usia 2 tahun dan 12 jam pada usia 3 sampai 4 tahun, dengan bagian terbesar berlangsung di malam hari. Tidur siang yang terlalu sore atau terlalu panjang sering menjadi penyebab tersembunyi anak sulit tidur malam.
Persiapan tidur di atas bisa diringkas menjadi lima pegangan berikut, semuanya dari penjelasan IDAI.
| Persiapan | Yang dilakukan | Tujuannya |
|---|---|---|
| Rutinitas pengantar tidur | Satu atau dua kegiatan tetap, misalnya memandikan, memijat, berdoa, atau membacakan cerita | Anak mengenali bahwa waktu tidur mendekat |
| Waktu meletakkan anak | Saat mengantuk tetapi masih terjaga, dengan tanda mengantuk dikenali lebih awal | Anak berlatih tidur sendiri |
| Beda siang dan malam | Siang diajak bermain, malam lampu dan suara dikurangi serta interaksi seperlunya | Anak membedakan waktu bermain dan waktu tidur |
| Sumber kenyamanan lain | Benda kesayangan, senandung ibu, musik tenang, pijatan lembut | Anak merasa aman tanpa harus menyusu |
| Jam tidur | Tidur malam optimal sebelum jam sembilan; total tidur sekitar 13 jam pada usia 2 tahun dan 12 jam pada usia 3 sampai 4 tahun | Anak tidak terlalu lelah saat malam tiba |
Langkah Bertahap Melepas Sesi Menyusu Malam
Kemenkes RI menganjurkan penyapihan dilakukan secara bertahap dengan membiasakan anak untuk tidak diberikan ASI seperti sebelumnya. Pendekatan bertahap juga masuk akal secara fisik, karena produksi ASI mengikuti seberapa sering payudara dikosongkan, sehingga pengurangan perlahan memberi payudara waktu menyesuaikan diri.
Tahap 1, petakan dulu apa adanya. Selama tiga sampai empat malam, catat jam berapa saja anak meminta menyusu dan berapa lama. Banyak orang tua terkejut menemukan pola yang ternyata teratur. Data ini menentukan sesi mana yang paling ringan untuk dilepas lebih dulu.
Tahap 2, lepaskan satu sesi yang paling ringan. Pilih sesi yang durasinya paling pendek atau yang anak paling cepat kembali tidur sesudahnya. Cukup satu sesi, dan pertahankan selama beberapa malam sampai terasa stabil sebelum melanjutkan.
Tahap 3, persingkat sesi yang lain secara perlahan. Kurangi durasinya sedikit demi sedikit, misalnya beberapa menit setiap dua atau tiga malam. Lepaskan payudara sebelum anak benar-benar tertidur, lalu temani dengan tepukan lembut atau senandung sampai ia tertidur. Cara ini melatih anak menutup tidurnya tanpa menyusu.
Tahap 4, siapkan tanggapan yang sama setiap kali diminta. Anak menangkap konsistensi jauh lebih cepat daripada penjelasan. Gunakan kalimat pendek yang sama setiap malam, misalnya bahwa nanti menyusu lagi saat matahari terbit, lalu tawarkan pelukan, gendongan, atau usapan punggung. Kemenkes RI menyebut komunikasi yang baik dengan anak sebagai salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam menyapih, dan komunikasi ini tetap berguna meski anak belum banyak bicara.
Tahap 5, geser sumber kenyangnya ke siang hari. Pastikan makan malam cukup mengenyangkan dan ada camilan sehat menjelang tidur bila usianya memungkinkan. Anak yang kebutuhannya sudah terpenuhi pada siang hari lebih mudah menerima perubahan pada malam hari.
Tahap 6, beri jeda bila anak sakit. Kembali ke pola lama selama beberapa malam saat anak sakit bukan kegagalan. Kemenkes RI menyebut anak harus dalam kondisi sehat sebagai salah satu syarat menyapih, dan syarat itu tetap berlaku di tengah proses.
Peran Ayah dan Kesepakatan Orang Tua
Bagian ini sering menjadi penentu, dan Kemenkes RI membahasnya dengan sangat gamblang.
Kemenkes RI menyebut musyawarah antara suami dan istri sebagai salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam menyapih, dengan alasan yang lugas: anak ketika disapih pasti akan rewel, sehingga dibutuhkan kerja sama dan saling membantu antara suami istri. Kemenkes RI menambahkan bahwa peran dan dukungan suami akan sangat meringankan proses menyapih, bukan hanya dukungan emosional tetapi juga dukungan nyata dalam bentuk tindakan, misalnya bergantian saat begadang malam, membantu berdialog dengan anak, dan melakukan pengalihan saat anak ingin menyusu pada ibunya.
Secara praktis, ada beberapa hal yang bisa dikerjakan ayah dan sangat membantu:
- Menjadi orang pertama yang menghampiri saat anak terbangun. Kehadiran ayah membuat pilihan menyusu tidak langsung tersedia, dan anak belajar bahwa kenyamanan bisa datang dari lebih dari satu orang.
- Mengambil alih rutinitas pengantar tidur seperti membacakan cerita atau mengusap punggung, terutama pada malam-malam ketika sesi tertentu sedang dilepas.
- Menyusun pembagian jaga malam agar Bunda mendapat setidaknya satu blok tidur yang utuh. Kelelahan Bunda ikut memengaruhi kesabaran, dan IDAI mencatat bahwa rasa cemas, sedih, marah, dan kesal termasuk keadaan yang dapat mengurangi hormon oksitosin.
- Menjaga kesepakatan di depan anak. Bila satu orang tua menolak dan yang lain menyerah, anak akan menunggu orang yang menyerah. Konsistensi antar orang tua lebih menenangkan daripada aturan yang paling longgar sekalipun.
IDAI juga menempatkan dukungan ayah sebagai faktor yang membantu, dengan menyebut dukungan ayah dalam pengasuhan bayi seperti menggendong, mengganti popok, memandikan, bermain, dan membantu pekerjaan rumah tangga sebagai hal yang mendukung ibu menyusui. Peran yang sama tetap relevan pada masa menyapih.
Yang Sebaiknya Tidak Dilakukan
Beberapa kebiasaan yang beredar turun-temurun justru membuat malam makin berat, atau membawa risiko baru.
Menghentikan menyusu mendadak dalam semalam. Kemenkes RI menganjurkan penyapihan dilakukan bertahap agar anak tidak kaget. Berhenti mendadak juga meningkatkan risiko payudara bengkak karena produksi ASI belum sempat menyesuaikan diri.
Mengoleskan sesuatu yang pahit atau menyengat pada puting. Cara ini mengandalkan rasa takut dan jijik, bukan kesiapan. Selain berisiko mengiritasi mulut anak dan kulit Bunda, cara ini juga bisa membuat anak menolak makan dan minum karena bingung.
Memisahkan anak dari ibunya beberapa hari. Ketika anak sedang belajar melepas satu bentuk kenyamanan, kehilangan sosok yang paling menenangkan sekaligus membuat prosesnya jauh lebih berat.
Mengganti sesi menyusu dengan botol susu sampai tertidur. Kemenkes RI menjelaskan bahwa minum susu dengan botol sampai tertidur adalah cara yang tidak baik, karena cairan susu menggenangi rongga mulut selama berjam-jam dan menjadi bahan yang difermentasi bakteri menjadi asam, dan menyebut bahwa makin lama serta makin sering anak mengonsumsi susu botol, makin tinggi potensi terjadinya karies. Halaman yang sama mengutip ulasan yang menyebutkan gigi yang umumnya terkena kerusakan karies adalah gigi anterior atau gigi depan rahang atas, karena genangan air susu lebih banyak berkontak dengan gigi-gigi tersebut. Bila anak perlu minum di malam hari, air putih adalah pilihan yang jauh lebih aman.
Membandingkan dengan anak lain. IDAI menegaskan adanya variasi individual yang dapat diterima dalam kebutuhan tidur anak. Anak tetangga yang lebih cepat lepas bukan ukuran keberhasilan Bunda.
Menyapih karena tekanan komentar orang lain. Keputusan ini melibatkan kesehatan dan kenyamanan Bunda serta anak, bukan kenyamanan orang yang berkomentar. Pembahasan lain seputar perkembangan anak pada usia ini bisa Bunda telusuri di artikel balita.
Menjaga Kenyamanan Bunda dan Kapan Meminta Bantuan
Menyapih malam bukan hanya perubahan bagi anak. Tubuh Bunda juga sedang menyesuaikan diri, dan bagian ini sering terlupakan.
Karena produksi ASI mengikuti pengosongan, melepas sesi malam akan menurunkan produksi secara bertahap. IDAI menyatakan bahwa makin banyak ASI yang dikeluarkan dari gudang ASI makin banyak produksinya, dan sebaliknya makin jarang bayi mengisap makin sedikit payudara menghasilkan ASI. Pada masa peralihan, payudara bisa terasa penuh, terutama pada malam-malam pertama setelah satu sesi dilepas. Bila terasa tidak nyaman, keluarkan sedikit saja sampai terasa lega, bukan sampai kosong, karena pengosongan penuh justru menjadi sinyal untuk memproduksi lebih banyak.
Perhatikan juga sisi emosinya. Banyak Bunda merasa sedih, kehilangan, atau bersalah pada masa ini, dan perasaan itu wajar karena menyusui bukan sekadar pemberian makan. Kemenkes RI menggambarkan masa menyusui dan menyapih sebagai masa yang memengaruhi perkembangan serta kematangan emosional anak, dan menekankan bahwa prosesnya perlu dijalani dengan cara yang baik. Menjalaninya perlahan justru menjaga kelekatan itu tetap utuh.
Temui bidan, dokter, atau konselor laktasi bila muncul salah satu dari keadaan berikut: ada area payudara yang keras, kemerahan, nyeri hebat, atau disertai demam; puting lecet atau berdarah; anak menolak makan dan minum selama proses menyapih; berat badan anak tidak naik sesuai kurva pertumbuhan; anak terus terbangun berkali-kali sepanjang malam disertai keluhan lain seperti mendengkur berat, sesak, atau rewel yang tidak biasa pada siang hari; atau Bunda merasa kewalahan dan kelelahan berkepanjangan.
Terakhir, izinkan diri Bunda menurunkan target. Menyapih malam yang berhasil bukan yang paling cepat, melainkan yang membuat anak tetap merasa aman dan Bunda tetap sanggup menjalaninya. Kalau satu tahap terasa terlalu berat, bertahan lebih lama di tahap itu adalah keputusan yang matang, bukan kemunduran. Panduan menyusui lain selengkapnya ada di kategori ASI.
Sumber
- Kemenkes RI - Pengaruh Penyapihan pada Kesehatan Anak
- IDAI - Perkembangan Tidur Normal pada Batita
- IDAI - Pentingnya Proses Menidurkan si Kecil
- IDAI - Manajemen Laktasi
- IDAI - Nilai Menyusui
- Kemenkes RI - Pengaruh Pemakaian Dot pada Gigi Balita
- WHO - Infant and young child feeding
Artikel ini disusun sebagai bahan edukasi berdasarkan sumber resmi, bukan pengganti pemeriksaan dan nasihat tenaga kesehatan. Rentang usia dan durasi tidur yang disebutkan adalah gambaran umum dari penjelasan IDAI dan WHO, bukan target yang harus dicapai, dan IDAI sendiri menegaskan adanya variasi individual yang dapat diterima. Setiap anak memiliki kesiapan, temperamen, dan kondisi kesehatan yang berbeda, begitu pula setiap ibu. Untuk keputusan menyapih, keluhan payudara pada masa peralihan, gangguan tidur anak yang berlanjut, atau kekhawatiran mengenai asupan dan pertumbuhan anak, konsultasikan dengan bidan, dokter umum, dokter spesialis anak, atau konselor laktasi di fasilitas kesehatan terdekat.
Pertanyaan yang sering muncul
Kenapa menyusu malam hari paling sulit dilepaskan dibanding sesi siang?
Umur berapa sebaiknya menyapih menyusu malam?
Berapa lama proses menyapih malam biasanya berlangsung?
Bolehkah menyusu malam diganti susu botol supaya anak cepat tidur lagi?
Anak menangis keras setiap kali sesi malam dilewati, apakah proses ini harus dihentikan?
Apakah produksi ASI akan langsung berhenti kalau sesi malam dilepas?
Payudara terasa penuh dan nyeri setelah sesi malam dilewati, apa yang harus dilakukan?
Konten ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Untuk keputusan medis, hubungi dokter atau bidan Anda.
Punya pertanyaan seputar asi?
Tanya lewat WhatsApp

