Balita: Panduan Lengkap Usia 1 sampai 5 Tahun untuk Orang Tua
Oleh Tim Redaksi Asuh AnakKebijakan Editorial· 14 menit baca· Terakhir diperbarui

Balita adalah sebutan untuk anak di bawah usia lima tahun, dan masa ini punya ciri yang berbeda dari masa bayi. Anak mulai berjalan, bicara, memilih makanan, dan menolak. Menurut Kemenkes RI, balita yang sehat dikenali dari lima hal sederhana: berat badannya naik mengikuti garis pertumbuhan, tingginya bertambah, kemampuan gerak dan bicara serta sosialisasinya bertambah sesuai usia, jarang sakit, lalu terlihat ceria, aktif, dan lincah. Halaman ini merangkum apa yang berubah setelah ulang tahun pertama, cara memantaunya, rentang normal yang perlu diketahui supaya tidak salah cemas, dan tanda yang sebaiknya dibawa ke tenaga kesehatan.
Halaman ini sengaja disusun sebagai peta, bukan sebagai satu-satunya bacaan. Topik seperti gizi, imunisasi, pola asuh, dan stunting sudah dibahas mendalam di halaman tersendiri, dan tautannya diselipkan di bagian yang relevan. Yang ingin kami rapikan di sini adalah gambaran besarnya: apa yang wajar terjadi pada rentang usia 1 sampai 5 tahun, dan mana yang perlu ditindaklanjuti.
Balita Itu Siapa dan Kenapa Batasnya Lima Tahun
Balita adalah singkatan dari bawah lima tahun. Rentangnya mencakup anak sejak lahir sampai sebelum ulang tahun kelima, meskipun dalam percakapan sehari-hari orang tua biasanya memakai kata "bayi" untuk tahun pertama dan mulai memakai kata "balita" setelah anak berumur satu tahun. Kemenkes RI sendiri memisahkan materi kesehatannya menjadi kategori bayi dan kategori balita, dengan panduan makan yang berbeda untuk kelompok 12 sampai 23 bulan dan kelompok 2 sampai 5 tahun.
Batas lima tahun bukan angka yang dipilih sembarangan. Ini adalah rentang usia yang dipakai secara internasional untuk menilai status gizi dan pertumbuhan anak, dan menjadi dasar standar antropometri yang berlaku di Indonesia. Penilaian status gizi anak di Indonesia mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak, yang ditetapkan pada 2 Januari 2020, diundangkan pada 8 Januari 2020, dan mencabut ketentuan lama dari tahun 2010. Standar inilah yang dipakai kader posyandu, bidan, dan dokter saat menyatakan pertumbuhan anak Bunda tergolong baik atau perlu perhatian.
Alat pantau hariannya juga sudah disiapkan negara. IDAI menyebut ada dua alat yang beredar di masyarakat Indonesia untuk memantau pertumbuhan, yaitu Kartu Menuju Sehat (KMS) dan Buku Kesehatan Ibu dan Anak. Keduanya sudah memakai z skor dari baku WHO 2006. Bagian anak pada Buku KIA memuat catatan dan pesan penting sejak lahir sampai usia 5 tahun, mulai dari ASI eksklusif, imunisasi, cara pemberian MPASI, cara mengatasi penyakit yang sering diderita, sampai pencegahan kecelakaan. Kalau Bunda belum terbiasa membacanya, penjelasan isi dan cara memakainya kami kupas di Buku KIA.
- Balita mencakup anak di bawah usia lima tahun, dan pemantauannya tidak berhenti setelah imunisasi dasar selesai.
- Yang dinilai bukan satu angka, melainkan arah grafik dari bulan ke bulan.
- Rentang normal perkembangan itu lebar. Beda beberapa bulan antaranak sering kali masih wajar.
Yang Berubah Setelah Ulang Tahun Pertama
Tahun pertama didominasi urusan menyusu, tidur, dan tumbuh cepat. Setelah itu, temponya berubah. Kenaikan berat badan melambat dibanding enam bulan pertama, sementara kemampuan anak melonjak. Banyak orang tua bingung karena kedua hal ini terjadi bersamaan: anak terlihat makin pintar, tetapi timbangannya naik lebih pelan daripada dulu. Keduanya bisa sama-sama normal.
Perubahan paling terasa ada di empat wilayah. Pertama, cara makan. Anak berpindah dari makanan lumat ke makanan keluarga, dan mulai punya pendapat sendiri soal apa yang mau ditelan. Kedua, gerak. Berjalan membuka akses ke seluruh isi rumah, sehingga urusan keamanan rumah tiba-tiba menjadi topik harian. Ketiga, bahasa. Menurut IDAI, pada usia dua tahun anak diharapkan sudah mampu mengucapkan kalimat yang terdiri atas dua kata. Keempat, kemandirian dan emosi. Anak mulai ingin melakukan sendiri, sekaligus belum punya kata untuk menyampaikan kecewa.
IDAI memberi contoh kegiatan yang bisa dilatih di rumah pada rentang ini. Saat anak berusia satu tahun, tunjukkan cara melepas pakaian, melepas sepatu dan kaus kaki, memakai sendok, serta minum sendiri lewat kegiatan makan bersama. Ajari mencuci dan mengeringkan tangan setelah makan, lalu mulai bantu anak menyikat gigi. Perkenalkan tempat menaruh pakaian kotor dan sepatunya sendiri, dan bantu anak menentukan pilihan dengan menawarkan dua atau tiga pilihan saja. Di usia dua tahun, keterampilan itu dinaikkan sedikit, misalnya memakai baju sendiri dan mengelap mulut, dan inilah usia ketika toilet training bisa mulai dilatih bersama satu atau dua aturan rumah yang sederhana.
Satu prinsip dari IDAI layak digarisbawahi karena sering terlewat: sebaiknya orang tua tidak segera mengambil alih tindakan yang sedang dilakukan anak, kecuali berpotensi berbahaya. Anak butuh kesempatan dan waktu untuk berlatih, dan hasil awalnya memang tidak akan rapi. Menunggu tiga puluh detik lebih lama sering kali lebih bermanfaat daripada menyelesaikannya untuk dia.
Pemantauan Pertumbuhan Balita yang Sering Berhenti Terlalu Cepat
Ada satu kebiasaan yang Kemenkes RI soroti secara khusus, dan patut disebut apa adanya. Kunjungan ke posyandu biasanya semakin berkurang saat anak mencapai usia 1 tahun atau setelah imunisasi dasarnya lengkap. Padahal, menurut Kemenkes RI, hingga anak berusia 5 tahun orang tua tetap perlu rutin membawanya ke puskesmas atau posyandu untuk memantau pertumbuhan lewat penimbangan berat badan dan pengukuran panjang atau tinggi badan.
Kegiatan di posyandu tidak hanya menimbang. Kemenkes RI merinci pengukuran yang dilakukan meliputi penimbangan berat badan, pengukuran panjang atau tinggi badan, serta pengukuran lingkar kepala dan lingkar lengan atas (LILA), semuanya memakai alat antropometri sesuai standar. Setelah itu kader mengisi KMS untuk menentukan status gizi dan pertumbuhan anak. Status pertumbuhan dinyatakan baik bila kenaikan berat serta panjang atau tinggi badan mengikuti standar grafik pertumbuhannya.
Soal frekuensi, Kemenkes RI menyebut angka yang mudah diingat: penimbangan dan pengukuran dilakukan setiap bulan di posyandu, dengan minimal 8 kali penimbangan dan 2 kali pengukuran dalam setahun. Selain pemantauan, kunjungan posyandu juga memberi akses ke pemberian makanan tambahan, imunisasi dasar, serta konseling dengan kader atau petugas kesehatan.
| Yang diukur | Alat yang dipakai | Kenapa penting |
|---|---|---|
| Berat badan | Timbangan bayi dan balita digital | Paling cepat berubah, jadi paling awal memberi sinyal |
| Panjang atau tinggi badan | Infantometer atau stadiometer | Menunjukkan pertumbuhan jangka panjang, dasar penilaian perawakan pendek |
| Lingkar kepala | Pita ukur | Bagian dari pemantauan pertumbuhan, terutama pada usia dini |
| Lingkar lengan atas (LILA) | Pita LILA | Membantu menilai status gizi anak |
Yang paling sering disalahpahami adalah makna satu titik pengukuran. IDAI menegaskan bahwa pengukuran yang dilakukan satu kali hanya menunjukkan ukuran pada saat itu dan tidak memberikan informasi tentang perubahan yang terjadi, sehingga diperlukan pengukuran cermat yang dibandingkan dengan pengukuran sebelumnya. Artinya, berat badan yang berada di bawah rata-rata belum tentu masalah bila arahnya tetap naik mengikuti kurva, sedangkan grafik yang mendatar dua bulan berturut-turut tetap perlu ditanyakan meskipun angkanya terlihat wajar. Cara membaca angka berat badan per usia kami bahas lebih rinci di berat badan bayi normal, sedangkan konsep dasar pertumbuhan dan perkembangan ada di tumbuh kembang anak.
Rentang Normal Perkembangan Balita Menurut WHO
Bagian ini biasanya paling menenangkan. Banyak kecemasan orang tua bermula dari membandingkan anak dengan anak tetangga yang seumuran, padahal rentang normalnya jauh lebih lebar daripada yang dibayangkan.
WHO Multicentre Growth Reference Study menyusun apa yang disebut windows of achievement, yaitu rentang usia pencapaian enam kemampuan gerak kasar pada anak yang sehat. Batas kiri dan batas kanannya menandai rentang variasi normal, bukan target yang harus dikejar tepat waktu. Angka di bawah ini diambil langsung dari tabel resmi WHO.
| Kemampuan gerak kasar | Batas bawah (bulan) | Batas atas (bulan) |
|---|---|---|
| Duduk tanpa bantuan | 3,8 | 9,2 |
| Berdiri dengan bantuan | 4,8 | 11,4 |
| Merangkak dengan tangan dan lutut | 5,2 | 13,5 |
| Berjalan dengan bantuan | 6,0 | 13,7 |
| Berdiri sendiri | 6,9 | 16,9 |
| Berjalan sendiri | 8,2 | 17,6 |
Perhatikan baris terakhir. Rentang usia normal untuk berjalan sendiri membentang dari 8,2 bulan sampai 17,6 bulan, jadi selisih hampir sepuluh bulan antara dua anak yang sama-sama sehat adalah hal yang memang diperhitungkan dalam data WHO. Kalau anak Bunda baru berjalan di usia 15 bulan sementara sepupunya berjalan di usia 10 bulan, keduanya berada di dalam rentang yang sama.
Satu catatan tambahan soal merangkak. Merangkak dengan tangan dan lutut bukan tahapan wajib. Sebagian anak yang sehat melewatinya begitu saja dan langsung berpindah ke berdiri lalu berjalan. Jadi anak yang tidak pernah merangkak belum tentu bermasalah, selama kemampuan lain berkembang dan arah pertumbuhannya baik.
Yang tetap perlu diperhatikan adalah pola, bukan satu tonggak yang telat sedikit. Kemampuan yang jauh melewati batas atas rentangnya, beberapa kemampuan yang tertinggal sekaligus, atau kemampuan yang sudah dikuasai lalu menghilang, semuanya alasan yang cukup untuk membuat janji dengan dokter anak.
Tanda yang Perlu Dibicarakan dengan Tenaga Kesehatan
Bahasa adalah wilayah yang paling sering membuat orang tua menunggu terlalu lama, biasanya karena mendengar kalimat "nanti juga bisa sendiri". IDAI menyediakan daftar tanda bahaya perkembangan bicara dan bahasa yang cukup konkret, dan daftar ini lebih berguna daripada menebak-nebak.
Menurut IDAI, tanda yang perlu diwaspadai antara lain anak tidak bersuara sama sekali sampai usia 6 bulan, tidak mengoceh sampai usia 12 bulan, tidak ada satu kata pun yang bukan ocehan atau tiruan ucapan orang lain pada usia 16 bulan, tidak mampu menunjuk untuk memperlihatkan ketertarikannya terhadap benda pada usia 20 bulan, kurang mampu berbagi perhatian atau ketertarikan dengan orang lain pada usia 20 bulan, tidak mampu membuat frasa yang bermakna setelah usia 24 bulan, orang tua masih tidak mengerti perkataan anak pada usia 30 bulan, sering mengulang ucapan orang pada usia 30 bulan, respons yang tidak konsisten terhadap suara atau bunyi, serta hilangnya kemampuan bicara yang sebelumnya sudah tercapai.
IDAI juga menyebut penyebab keterlambatan bicara bisa bermacam-macam, mulai dari kelainan bentuk organ penghasil suara, gangguan pendengaran, gangguan perilaku, gangguan perkembangan umum, disabilitas intelektual, kurang stimulasi, sampai masalah psikososial. Karena penyebabnya berbeda-beda, penanganannya juga berbeda, dan itulah alasan penilaian harus dilakukan tenaga kesehatan alih-alih disimpulkan sendiri di rumah. Kabar baiknya, semakin dini penanganan dilakukan, semakin baik hasil yang diharapkan.
Untuk pencegahannya, IDAI menekankan stimulasi yang sederhana dan sehari-hari: membaca dengan suara jelas, mengajak anak bercakap-cakap, menanggapi ocehannya dengan kata sederhana, menjawab pertanyaannya, dan bernyanyi. Ada satu kalimat IDAI yang perlu dikutip apa adanya karena sering diperdebatkan di grup orang tua, yaitu bahwa gawai dan televisi bukan metode stimulasi yang baik.
- Grafik berat atau tinggi badan mendatar atau menurun pada dua kali penimbangan berturut-turut.
- Kemampuan gerak kasar belum tercapai padahal usia anak sudah melewati batas atas rentang WHO di tabel sebelumnya.
- Salah satu tanda bahaya bicara dan bahasa dari daftar IDAI di atas.
- Kemampuan yang tadinya sudah dikuasai anak justru hilang.
Makan Balita: Dari MPASI ke Makanan Keluarga
Usia balita adalah masa peralihan pola makan, dan di sinilah banyak kekhawatiran gizi bermula. WHO menganjurkan jumlah makan dinaikkan bertahap, yaitu 2 sampai 3 kali sehari untuk bayi usia 6 sampai 8 bulan, lalu 3 sampai 4 kali sehari untuk usia 9 sampai 23 bulan, ditambah 1 sampai 2 selingan bergizi bila dibutuhkan. Pemberian ASI dianjurkan diteruskan sampai usia 2 tahun atau lebih, karena menurut WHO ASI masih menyumbang sekitar sepertiga kebutuhan energi anak antara usia 12 dan 24 bulan.
WHO juga menyoroti masalah yang sebenarnya paling umum, yaitu keragaman pangan, bukan sekadar jumlah. Antara 2018 dan 2024, kurang dari sepertiga anak usia 6 sampai 23 bulan di dunia, tepatnya 30,8 persen, mendapatkan pola makan yang memenuhi kebutuhan gizinya menurut ukuran keragaman pangan minimum, dan hanya separuh dari mereka yang mendapat jumlah waktu makan sebanyak yang dibutuhkan. Artinya, pertanyaan yang lebih berguna bukan "anak saya makan banyak atau tidak", melainkan "hari ini piringnya berisi apa saja".
Kemenkes RI menyediakan panduan porsi yang praktis lewat poster Isi Piringku, dengan versi berbeda untuk balita usia 12 sampai 23 bulan dan balita usia 2 sampai 5 tahun, ditambah kumpulan resep untuk anak usia 24 sampai 59 bulan yang lengkap dengan informasi nilai gizinya. Dasar-dasar pemberian makanan pendamping bisa Bunda baca di MPASI adalah, sedangkan contoh menu hariannya ada di resep MPASI dan hal yang perlu dihindari dirangkum di makanan yang harus dihindari saat MPASI.
Kaitan gizi dengan pertumbuhan panjang badan juga penting dipahami sejak dini, karena WHO memperkirakan sekitar 150 juta anak di bawah usia 5 tahun mengalami stunting pada 2024. Penjelasan lengkap soal apa itu stunting ada di stunting adalah, dan langkah pencegahannya kami susun di pencegahan stunting.
Peta Bacaan Balita di Asuh Anak
Karena kata "balita" mencakup terlalu banyak hal untuk satu halaman, bagian ini berfungsi sebagai penunjuk arah. Ambil yang sedang Bunda butuhkan, sisanya bisa dibaca lain waktu.
Untuk urusan imunisasi, IDAI menerbitkan jadwal imunisasi anak usia 0 sampai 18 tahun yang diperbarui pada 2024, dan jadwal itu memuat vaksin yang jatuh tempo pada usia balita, bukan hanya pada tahun pertama. Versi yang sudah kami rapikan per usia ada di jadwal imunisasi bayi dan jadwal vaksin IDAI 2025, sedangkan pengingat otomatisnya bisa Bunda pakai lewat jadwal imunisasi.
Untuk urusan pengasuhan, empat gaya pola asuh beserta penerapannya per rentang usia dibahas terpisah di parenting adalah. Sementara itu, bila Bunda sedang bersiap menyambut adik dan ingin membandingkan kebutuhan bayi baru lahir dengan kebutuhan kakaknya yang sudah balita, bayi baru lahir bisa menjadi titik awal. Bahasan lain seputar tahapan usia terkumpul di kategori tumbuh kembang.
Terakhir, satu pengingat yang sering menolong. Masa balita terasa panjang saat dijalani hari per hari, tetapi jendela pemantauannya justru pendek dan mudah terlewat. Menimbang setiap bulan, mencatat di Buku KIA, dan bertanya saat ada yang mengganjal adalah tiga kebiasaan kecil yang dampaknya jauh lebih besar daripada mencari jawaban di internet tengah malam.
Sumber
- Kemenkes RI - Ayo Sehat: Balita (1000 Hari Pertama Kehidupan)
- Kemenkes RI - Ayo Sehat: Manfaat Penimbangan Balita di Posyandu untuk Cegah Stunting
- Kemenkes RI - Ayo Sehat: Buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak)
- Kemenkes RI - Permenkes Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak
- WHO - Motor development milestones (Child Growth Standards)
- WHO - Windows of achievement for six gross motor milestones (tabel)
- WHO - Infant and young child feeding (fact sheet)
- IDAI - Pemantauan Pertumbuhan Anak
- IDAI - Mencegah Terlambat Bicara pada Anak
- IDAI - Memupuk Kemandirian Batita (Bagian I)
- IDAI - Jadwal Imunisasi Anak Usia 0-18 Tahun, Rekomendasi 2024
Artikel ini disusun sebagai edukasi kesehatan berdasarkan sumber resmi, bukan pengganti pemeriksaan dan nasihat tenaga kesehatan. Rentang usia pencapaian kemampuan gerak yang dikutip berasal dari data WHO pada populasi anak sehat, sehingga menggambarkan variasi normal secara umum, bukan alat diagnosis untuk anak tertentu. Kondisi setiap anak berbeda, termasuk riwayat kelahiran, riwayat penyakit, dan faktor keluarga yang hanya dapat dinilai lewat pemeriksaan langsung. Untuk penilaian pertumbuhan, perkembangan, gizi, atau imunisasi anak Anda, konsultasikan dengan bidan, dokter umum, atau dokter spesialis anak di fasilitas kesehatan terdekat.
Pertanyaan yang sering muncul
Balita itu usia berapa sampai berapa?
Apa saja ciri balita yang sehat menurut Kemenkes?
Berapa kali balita perlu ditimbang di posyandu dalam setahun?
Anak saya belum bisa berjalan di usia 14 bulan, apakah terlambat?
Kenapa balita harus ditimbang rutin, apakah sekali timbang tidak cukup?
Berapa kali balita perlu makan dalam sehari?
Kapan keterlambatan bicara pada balita perlu diperiksakan?
Konten ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Untuk keputusan medis, hubungi dokter atau bidan Anda.
Punya pertanyaan seputar tumbuh kembang?
Tanya lewat WhatsApp

