Baru: alat cek usia dan milestone anak sudah bisa dipakai gratis. Coba sekarang

ASI

Kantong ASI: Cara Pakai, Simpan, dan Menghangatkannya

Oleh Tim Redaksi Asuh Anak· 12 menit baca

Kantong ASI: Cara Pakai, Simpan, dan Menghangatkannya

Kantong ASI adalah wadah khusus berbentuk kantong yang dipakai untuk menampung dan menyimpan ASI perah, dan menurut Kemenkes RI wadah ini termasuk pilihan yang boleh digunakan selama berbahan BPA Free. Dalam panduannya, Kemenkes RI menyebutkan bahwa wadah penampung ASI sebaiknya mudah disterilkan, bisa berupa botol yang tertutup, gelas tahan panas, atau Breastmilk Storage Bag (Kantong ASI) dengan BPA Free (bebas Bisphenol A). Jadi kalau Bunda selama ini ragu apakah kantong ASI benar-benar boleh dipakai, jawabannya boleh, asalkan jenis dan cara pakainya tepat. Artikel ini membahas tuntas cara memakai kantong ASI, mengisinya, menyimpannya di kulkas dan freezer, sampai menghangatkannya kembali dengan aman.

Apa Itu Kantong ASI dan Kapan Bunda Membutuhkannya

Kantong ASI, atau dalam kemasan produk sering tertulis sebagai breastmilk storage bag, adalah kantong plastik yang memang dibuat khusus untuk menyimpan ASI perah. Bentuknya pipih, punya perekat atau ritsleting di bagian atas, dan biasanya sudah dilengkapi kolom kecil untuk menulis tanggal. Kantong ASI dijual khusus untuk keperluan ini dan tidak dirancang untuk dicuci lalu dipakai berulang seperti botol, jadi ikuti selalu petunjuk pemakaian yang tertera pada kemasan produk yang Bunda beli.

Kebutuhan akan kantong ASI biasanya muncul ketika Bunda mulai rutin memerah. Kemenkes RI menjelaskan bahwa bagi ibu yang terhambat menyusui secara langsung, salah satunya ibu pekerja, pemberian ASI dapat dilakukan dengan ASI Perah (ASIP), yaitu ASI yang diperas kemudian disimpan dan diberikan kepada bayi sesuai dengan kebutuhannya. Di titik inilah stok ASI mulai menumpuk dan pertanyaan soal wadah menjadi penting. Bagi Bunda yang baru mulai, langkah-langkah memerahnya bisa dibaca lebih dulu di artikel pumping ASI, sementara pilihan alatnya dibahas di artikel pompa ASI elektrik.

Alasan banyak ibu memilih kantong ASI umumnya praktis: kantong yang sudah diisi bisa dibaringkan mendatar sehingga hemat tempat di freezer, dan tidak perlu mencuci puluhan botol setiap hari. Meski begitu, kepraktisan ini hanya aman kalau syarat wadah dan aturan penyimpanannya benar-benar dipenuhi, dan di sinilah banyak hal kecil sering terlewat.

Kantong ASI atau Botol? Ini Kata Kemenkes RI dan IDAI

Bunda mungkin pernah membaca dua informasi yang terdengar bertentangan soal wadah ASI. Keduanya sebenarnya bisa dipahami bersama kalau kita membaca konteksnya dengan cermat.

Kemenkes RI, dalam panduan penyimpanan ASI perah untuk ibu bekerja, menyebut tiga pilihan wadah yang mudah disterilkan: botol yang tertutup, gelas tahan panas, atau Breastmilk Storage Bag (Kantong ASI) dengan BPA Free. Artinya, kantong ASI secara eksplisit disebut sebagai salah satu pilihan yang bisa digunakan.

Sementara itu IDAI menganjurkan penggunaan botol kaca atau kontainer plastik dengan tutup yang rapat berbahan bebas bisphenol A (BPA). IDAI juga meminta agar orang tua menghindari pemakaian kantong plastik biasa maupun botol susu disposable, karena menurut IDAI wadah-wadah ini mudah bocor dan terkontaminasi.

Perhatikan kata kuncinya: yang IDAI minta dihindari adalah kantong plastik biasa, bukan kantong yang memang diproduksi khusus untuk ASI. Kantong plastik biasa (seperti plastik gula, plastik es, atau kantong makanan sembarangan) memang tidak punya sambungan yang kuat dan tidak steril. Jadi kesimpulan praktisnya, kantong ASI khusus yang berbahan BPA Free boleh dipakai sesuai panduan Kemenkes RI, tetapi plastik sembarangan jelas tidak boleh menggantikannya.

Ringkasan pilihan wadah.
  • Boleh: botol tertutup, gelas tahan panas, atau kantong ASI khusus berbahan BPA Free, sesuai panduan Kemenkes RI.
  • Hindari: kantong plastik biasa dan botol susu disposable, karena menurut IDAI mudah bocor dan terkontaminasi.
  • Syarat utama: wadah mudah disterilkan, tertutup rapat, dan bebas BPA.

Kalau Bunda menyimpan ASI untuk jangka sangat panjang atau menyimpan ASI untuk bayi prematur dan bayi dengan kondisi medis khusus, sebaiknya tanyakan dulu pilihan wadah yang paling sesuai kepada dokter anak atau konselor laktasi yang mendampingi.

Cara Memakai Kantong ASI dengan Benar

Memakai kantong ASI kelihatan sederhana, tetapi urutan dan detailnya menentukan apakah ASI tetap aman sampai diminum bayi. Berikut langkah-langkahnya.

Sebelum mengisi kantong

Kebersihan tangan adalah langkah pertama yang paling sering diremehkan. Kemenkes RI mengingatkan agar sebelum memerah ASI, cuci tangan terlebih dahulu dengan sabun dan air mengalir. IDAI juga menekankan bahwa wadah penyimpanan harus dipastikan bersih sebelum dipakai, dan untuk wadah yang dipakai ulang seperti botol, IDAI meminta agar kontainer dicuci dengan air panas dan sabun serta dianginkan hingga kering sebelum digunakan.

Buka kantong ASI tepat saat akan dipakai, bukan jauh-jauh hari, dan usahakan tidak menyentuh bagian dalam kantong dengan jari. Pastikan pula perekat atau ritsleting di bagian atasnya benar-benar dalam kondisi baik.

Saat mengisi kantong

Ini bagian yang paling menentukan kantong Bunda bocor atau tidak di dalam freezer:

  • Jangan diisi penuh. Menurut Kemenkes RI, saat menyimpan ASI wadah jangan diisi penuh, tetapi usahakan seperempat bagian kosong, karena ASI perah cenderung mengembang dalam keadaan beku. Kantong yang penuh sesak akan tertekan dari dalam saat membeku dan sambungannya berisiko jebol.
  • Isi sesuai porsi sekali minum. Kemenkes RI mengingatkan agar sisa ASI perah tidak diberikan kembali kepada bayi di waktu yang berbeda dan tidak disimpan kembali dalam lemari pendingin. Karena itu, jika bayi sering menyisakan ASI perahnya, Kemenkes RI menyarankan agar ASI ditempatkan dan dihangatkan seperlunya saja. Mengisi kantong sesuai kebutuhan sekali minum membuat ASI jauh lebih hemat. Perkiraan kebutuhannya bisa Bunda lihat di artikel kebutuhan ASI bayi 1 bulan.
  • Keluarkan udara berlebih sebelum menutup rapat, lalu tekan perekatnya dari satu sisi ke sisi lain agar tertutup sempurna.
  • Beri label. Kemenkes RI menyarankan penggunaan label tanggal peras ASI agar memudahkan. IDAI melengkapi bahwa wadah ASI perlu diberi label berisi nama anak dan tanggal ASI diperah, yang sangat berguna terutama bila ASI dititipkan ke pengasuh atau tempat penitipan anak.
Catatan Bunda. Bekukan kantong ASI dalam posisi tidur mendatar, bukan berdiri. Selain jauh lebih hemat ruang, kantong pipih membeku dan mencair lebih cepat dan merata. Setelah beku, kantong bisa disusun berdiri berjajar seperti buku agar tanggal pada labelnya mudah dibaca dan stok yang paling lama tersimpan bisa dipakai lebih dulu.

Menyimpan Kantong ASI di Kulkas dan Freezer

Setelah kantong terisi dan tertutup rapat, ada dua hal yang menentukan keamanannya: berapa lama ASI boleh disimpan, dan di bagian mana kantong itu ditaruh.

Berapa lama ASI dalam kantong ASI bertahan?

Merujuk buku saku "Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) untuk Kader" terbitan Kemenkes RI tahun 2021 sebagaimana dikutip Kemenkes RI, berikut panduan durasinya:

Tempat penyimpananSuhuLama penyimpanan
Dalam ruangan (ASIP segar)27 sampai 32 derajat Celsius4 jam
Dalam ruangan (ASIP segar)Kurang dari 25 derajat Celsius6 sampai 8 jam
Cooler bag dengan ice packMenyesuaikan24 jam
Kulkas (lemari pendingin)Kurang dari 4 derajat Celsius2 sampai 3 hari
Freezer kulkas 1 pintu-15 sampai 0 derajat Celsius2 minggu
Freezer kulkas 2 pintu-20 sampai -18 derajat Celsius3 sampai 6 bulan

Perlu Bunda ketahui, angka ini bisa sedikit berbeda antar sumber. Dalam artikel Kemenkes RI yang lain tentang ibu bekerja, disebutkan bahwa ASI yang dipompa dan ditempatkan dalam wadah bertahan kurang lebih 8 jam pada suhu kamar, tahan hingga 24 jam dalam boks pendingin yang ditambahkan kantung es, tahan sampai 5 hari di kulkas bagian lemari pendingin dengan suhu minimal 4 derajat Celsius, dan tahan hingga 6 bulan pada freezer bersuhu -18 derajat Celsius.

Perbedaan seperti ini wajar, karena setiap panduan menetapkan batas kehati-hatian yang berbeda. Bila Bunda ragu, pilih saja angka yang paling konservatif, karena ASI yang dipakai lebih cepat tidak pernah merugikan. Pembahasan durasi yang lebih rinci untuk setiap tempat penyimpanan bisa Bunda baca di artikel berapa lama ASI bertahan di suhu ruang.

Satu hal lagi yang penting: menurut Kemenkes RI, ASI perah yang direkomendasikan diberikan kepada bayi adalah ASI segar yang diperah pada hari itu atau pada hari sebelumnya, karena kandungan zat gizinya masih optimal. Jadi stok beku sebaiknya diposisikan sebagai cadangan, bukan sebagai sumber utama bila ASI segar masih tersedia.

Aturan menaruh kantong di kulkas dan freezer

Wadah yang benar dan durasi yang tepat masih bisa gagal kalau cara menaruhnya keliru. Beberapa hal berikut layak Bunda perhatikan:

  • Jangan taruh di rak pintu kulkas. Kemenkes RI secara khusus meminta agar ASI tidak disimpan pada rak yang menempel pada pintu kulkas, untuk menghindari fluktuasi atau perubahan suhu karena temperatur yang berubah-ubah. Pintu adalah bagian kulkas yang paling sering terbuka, sehingga suhunya paling tidak stabil. Simpan kantong ASI di bagian paling dalam.
  • Hindari perubahan suhu yang ekstrem. Kemenkes RI menjelaskan bahwa ASI perah yang dibekukan sebaiknya tidak langsung dikeluarkan ke suhu ruangan, karena beberapa penelitian mengungkapkan perubahan suhu yang cepat dapat memengaruhi kandungan antibodi dalam ASI yang bermanfaat bagi bayi.
  • Pakai sistem yang paling lama dipakai lebih dulu. Susun kantong berdasarkan tanggal pada label agar stok lama tidak terlupakan sampai kedaluwarsa.
  • Lindungi kantong dari benda tajam. Kantong ASI beku relatif rapuh, jadi hindari menumpuknya bersama barang beku bersudut tajam. Menaruh kantong di dalam kotak plastik tertutup di freezer bisa membantu.
Perhatian. Menurut Kemenkes RI, proses pembekuan ASI perah kemungkinan menghilangkan beberapa zat yang penting untuk menghalau infeksi pada bayi, dan semakin lama ASI perah disimpan (baik didinginkan maupun dibekukan) kandungan vitamin C-nya akan berkurang. Meski demikian, Kemenkes RI menegaskan bahwa nilai gizi ASI perah yang didinginkan atau dibekukan itu masih jauh lebih baik dibandingkan susu formula. Jadi stok ASI beku Bunda tetap sangat berharga, dan tidak perlu merasa bersalah bila terpaksa mengandalkannya.

Cara Mencairkan dan Menghangatkan ASI dari Kantong ASI

Tahap ini sama pentingnya dengan cara menyimpan, karena kesalahan menghangatkan bisa merusak kandungan ASI yang sudah susah payah Bunda kumpulkan.

Untuk mencairkan, Kemenkes RI menjelaskan bahwa ASI perah dari freezer dapat diletakkan terlebih dahulu di ruang pendingin pada kulkas, lalu dihangatkan. IDAI memberi panduan senada, yaitu memindahkan wadah ke lemari es selama 1 malam atau ke dalam bak berisi air dingin.

Untuk menghangatkan, Kemenkes RI menyebut Bunda dapat menggunakan penghangat ASI elektrik yang bisa dipakai di rumah atau di mobil. Jika tidak tersedia, botol atau wadah penyimpanan ASI perah bisa ditempatkan ke dalam panci atau mangkuk berisi air hangat, lalu didiamkan beberapa saat. IDAI juga menganjurkan menghangatkan wadah ASI dalam bak berisi air hangat.

Bila ASI dibutuhkan segera, Kemenkes RI menjelaskan ASI dapat ditempatkan di bawah air mengalir dengan suhu biasa, lalu direndam dengan air hangat. Untuk memeriksa apakah suhunya sudah sesuai untuk bayi, Kemenkes RI menyarankan agar ASI diteteskan ke pergelangan tangan terlebih dahulu.

Yang tidak boleh dilakukan saat menghangatkan

Beberapa larangan ini disepakati oleh Kemenkes RI dan IDAI:

  • Jangan pakai microwave. Kemenkes RI meminta agar menghangatkan ASI dengan microwave dihindari, karena perubahan suhu yang terlalu cepat pada ASI perah dapat menghilangkan kandungan antibodi yang dibutuhkan bayi. IDAI menambahkan bahwa microwave tidak dapat memanaskan ASI secara merata dan justru dapat merusak komponen ASI.
  • Jangan dipanaskan di atas kompor menyala. Kemenkes RI mengingatkan agar panci atau mangkuk berisi ASI tidak ditaruh di atas kompor yang menyala. IDAI juga meminta agar ASI tidak dihangatkan dengan api kompor secara langsung.
  • Jangan dibekukan ulang. Kemenkes RI menegaskan agar ASI perah yang telah dicairkan jangan dibekukan ulang, dan IDAI menyatakan hal yang sama untuk ASI yang sudah dihangatkan.
  • Jangan simpan sisa ASI yang sudah diminum. Kemenkes RI meminta agar sisa ASI perah dibuang dan tidak diberikan kembali pada bayi di waktu yang berbeda maupun disimpan kembali dalam lemari pendingin. IDAI juga menyatakan agar sisa ASI yang sudah dikonsumsi tidak disimpan untuk pemberian berikutnya.

Kesalahan yang Sering Terjadi dan Kapan Harus Bertanya

Dari semua penjelasan di atas, ada beberapa kekeliruan yang paling sering terjadi di rumah dan sebenarnya mudah dihindari:

  1. Memakai plastik biasa sebagai pengganti kantong ASI. Ini yang IDAI minta dihindari karena mudah bocor dan terkontaminasi.
  2. Mengisi kantong sampai penuh, padahal Kemenkes RI meminta seperempat bagian dibiarkan kosong karena ASI mengembang saat beku.
  3. Menaruh kantong di rak pintu kulkas yang suhunya paling tidak stabil.
  4. Lupa memberi label tanggal, sehingga stok lama terlewat dan akhirnya terbuang.
  5. Menghangatkan dengan microwave karena terburu-buru.
  6. Menyimpan kembali sisa ASI yang sudah diminum bayi.

Bunda tidak perlu merasa gagal bila pernah melakukan salah satu di antaranya. Hampir semua ibu yang memerah pernah melewati fase belajar ini, dan yang terpenting adalah memperbaikinya mulai sekarang.

Kapan sebaiknya bertanya ke tenaga kesehatan

Ada situasi di mana penilaian tenaga kesehatan jauh lebih tepat daripada menebak sendiri di rumah. Sebaiknya konsultasikan ke bidan, dokter, atau konselor laktasi bila:

  • Bunda ragu apakah suatu stok ASI masih layak diberikan, misalnya karena lupa tanggal, kantong sempat bocor, atau listrik pernah padam lama sehingga freezer mencair.
  • Bayi menolak ASI perah yang sudah dihangatkan, atau tampak tidak nyaman setelah meminumnya.
  • Berat badan bayi tidak naik sesuai grafik pada Buku KIA meski ASI perah rutin diberikan.
  • Bayi lahir prematur atau punya kondisi medis khusus, karena penanganan ASI perahnya bisa berbeda.
  • Produksi ASI terasa menurun, atau Bunda merasa kewalahan menjaga stok. Bila keluhannya soal kelancaran ASI, Bunda bisa membaca dulu artikel cara memperlancar ASI sebagai bahan diskusi dengan tenaga kesehatan.

Bertanya bukan tanda Bunda kurang mampu. Justru tenaga kesehatan ada untuk membantu, dan mereka jauh lebih bisa menilai kondisi Bunda dan bayi secara utuh.

Menempatkan Kantong ASI pada Porsinya

Perlu diingat, kantong ASI hanyalah alat bantu, bukan tujuan. WHO dan UNICEF merekomendasikan agar anak mulai menyusu dalam satu jam pertama setelah lahir dan mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan, tanpa makanan atau cairan lain termasuk air, lalu sejak usia 6 bulan mulai mendapat makanan pendamping yang aman dan memadai sambil terus menyusu hingga usia dua tahun atau lebih. Kemenkes RI pun menegaskan bahwa yang paling utama adalah ibu sebaiknya menyusui bayi secara langsung, karena menyusui dapat membangun ikatan batin antara ibu dan bayi.

Artinya, ASI perah dan kantong ASI hadir sebagai solusi ketika menyusui langsung terhambat, misalnya karena Bunda harus kembali bekerja. Keduanya adalah jembatan yang memungkinkan bayi tetap mendapatkan ASI, dan itu adalah pencapaian yang layak dihargai. Untuk memahami konsep dasarnya lebih dalam, Bunda bisa membaca artikel ASI eksklusif adalah.

Menyimpan ASI dengan kantong ASI pada akhirnya hanya soal kebiasaan kecil yang diulang setiap hari: cuci tangan, pakai kantong khusus yang bebas BPA, isi seperempat kosong, beri label tanggal, simpan di bagian dalam kulkas atau freezer, dan hangatkan dengan air hangat saja. Kalau Bunda konsisten pada langkah sederhana ini, stok ASI di freezer akan tetap aman dan bermanfaat untuk si kecil. Untuk menelusuri topik seputar menyusui lebih jauh, silakan kunjungi kumpulan artikel ASI di Asuh Anak.

Sumber

Artikel ini disusun sebagai edukasi dan bukan pengganti konsultasi langsung dengan tenaga kesehatan. Untuk keputusan yang sesuai dengan kondisi Bunda dan bayi, termasuk bila ada keraguan mengenai kelayakan stok ASI perah, silakan berkonsultasi dengan bidan, dokter, atau konselor laktasi terdekat.

Pertanyaan yang sering muncul

Apakah kantong ASI aman dipakai menyimpan ASI perah?
Aman, selama kantong yang dipakai memang kantong khusus ASI dan memenuhi syarat yang ditetapkan. Kemenkes RI menyebut wadah penampung ASI bisa berupa botol tertutup, gelas tahan panas, atau Breastmilk Storage Bag (Kantong ASI) dengan bahan BPA Free (bebas Bisphenol A). Yang tidak dianjurkan adalah kantong plastik biasa, karena menurut IDAI wadah semacam itu mudah bocor dan terkontaminasi.
Kenapa kantong ASI tidak boleh diisi sampai penuh?
Karena ASI memuai saat membeku. Menurut Kemenkes RI, saat menyimpan ASI wadah jangan diisi penuh, tetapi usahakan seperempat bagian kosong, sebab ASI perah cenderung mengembang dalam keadaan beku. Kalau diisi penuh, kantong berisiko menggembung dan sambungannya bisa bocor di dalam freezer.
Berapa lama ASI dalam kantong ASI bertahan di freezer?
Bergantung pada jenis freezer-nya. Merujuk buku saku PMBA Kemenkes RI tahun 2021, ASI perah di freezer kulkas satu pintu tahan 2 minggu pada suhu -15 sampai 0 derajat Celsius, sedangkan di freezer kulkas dua pintu tahan 3 sampai 6 bulan pada suhu -20 sampai -18 derajat Celsius. Semakin dingin dan stabil suhunya, semakin lama ASI dapat disimpan.
Bolehkah kantong ASI dicuci lalu dipakai lagi?
Sebaiknya tidak. Kantong ASI dijual khusus untuk menyimpan ASI perah dan tidak dirancang untuk dicuci lalu dipakai berulang seperti botol. Kemenkes RI menekankan wadah penampung ASI harus mudah disterilkan, dan kantong bekas pakai sulit dibersihkan sampai ke lipatan serta sambungannya. Ikuti selalu petunjuk pemakaian pada kemasan produk yang Bunda beli.
Bagaimana cara menghangatkan ASI dari kantong ASI?
Menurut Kemenkes RI, ASI beku sebaiknya dipindahkan dulu ke bagian pendingin kulkas, lalu dihangatkan dengan merendamnya dalam wadah berisi air hangat, atau memakai penghangat ASI elektrik. Jangan menaruh panci atau mangkuk berisi ASI di atas kompor yang menyala. Sebelum diberikan, teteskan sedikit ASI ke pergelangan tangan untuk memeriksa suhunya.
Apakah kantong ASI boleh dihangatkan di microwave?
Tidak. Kemenkes RI meminta agar menghangatkan ASI dengan microwave dihindari, karena perubahan suhu yang terlalu cepat dapat menghilangkan kandungan antibodi yang dibutuhkan bayi. IDAI juga menegaskan microwave tidak memanaskan ASI secara merata dan justru dapat merusak komponen ASI. Pakailah rendaman air hangat sebagai gantinya.
Apakah ASI beku yang sudah dicairkan boleh dibekukan lagi?
Tidak boleh. Kemenkes RI dan IDAI sama-sama menegaskan bahwa ASI perah yang telah dicairkan jangan dibekukan ulang. Selain itu, sisa ASI perah yang sudah diminum bayi sebaiknya tidak disimpan kembali untuk pemberian berikutnya. Agar tidak banyak terbuang, hangatkan ASI seperlunya saja sesuai kebutuhan sekali minum.

Konten ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Untuk keputusan medis, hubungi dokter atau bidan Anda.

Punya pertanyaan seputar asi?

Tanya lewat WhatsApp