Baru: alat cek usia dan milestone anak sudah bisa dipakai gratis. Coba sekarang

Artikel ini bagian dari panduan bayi baru lahir, halaman induk yang mengumpulkan seluruh bacaan untuk tahap ini.

ASI

Pelancar ASI: Kapan Benar-Benar Dibutuhkan dan Apa Buktinya

Oleh Tim Redaksi Asuh AnakKebijakan Editorial· 11 menit baca· Terakhir diperbarui

Cabang tanaman katuk dengan daun hijau memanjang dan bunga kecil berwarna merah tua
Daun katuk adalah bahan pelancar ASI tradisional yang paling dikenal, meski bukti ilmiahnya masih terbatas. Foto: Forest and Kim Starr / Wikimedia Commons, CC BY 3.0 us

Pelancar ASI adalah payung istilah untuk apa pun yang dipercaya bisa menambah produksi air susu, dan kabar yang jarang disampaikan iklan adalah bahwa lembaga rujukan tidak menempatkannya sebagai kebutuhan semua ibu menyusui. IDAI menyebutnya laktogogue, yaitu obat atau zat yang dipercaya dapat membantu merangsang, mempertahankan, atau meningkatkan produksi ASI, dan IDAI memberi daftar indikasi yang cukup sempit. Halaman ini membahas sisi yang paling sering dilewati: siapa yang sebenarnya diindikasikan memakainya, apa saja yang justru menurunkan produksi tanpa disadari, dan bagaimana menakar kekuatan bukti setiap kelompok pilihan.

Supaya tidak tumpang tindih, pembagiannya begini. Langkah teknis menaikkan produksi, mulai dari frekuensi, posisi, perlekatan, sampai memerah, dibahas tuntas di artikel cara memperlancar ASI. Telaah bukti untuk bahan-bahan populer seperti daun kelor, daun katuk, dan fenugreek ada di artikel ASI booster. Gambaran menyeluruh perjalanan menyusui dari hari pertama sampai dua tahun ada di panduan ASI. Halaman ini fokus pada penyaringannya: perlu atau tidak, dan atas dasar apa.

Apa yang Dimaksud Pelancar ASI dan Empat Kelompoknya

Dalam percakapan sehari-hari, "pelancar ASI" bisa berarti sayur katuk di meja makan, teh herbal kemasan, kapsul suplemen, atau obat yang ditebus dengan resep. Keempatnya sering dibicarakan seolah setara, padahal cara kerjanya, tingkat risikonya, dan mutu buktinya jauh berbeda.

IDAI menjelaskan bahwa ASI diproduksi lewat proses kompleks yang mencakup faktor fisik dan emosional serta interaksi banyak hormon, terutama prolaktin. Setelah bayi lahir dan plasenta keluar, kadar progesteron dan estrogen menurun sehingga prolaktin naik dan produksi ASI dimulai. Tahap ini disebut kontrol endokrin dan berjalan otomatis. Namun setelah beberapa hari, kadar prolaktin berkurang bertahap, sementara produksi tetap dipertahankan bahkan meningkat lewat mekanisme umpan balik lokal, yaitu pengosongan payudara. IDAI menyebutnya kontrol otokrin.

Kalimat IDAI berikutnya adalah kunci untuk menilai semua produk pelancar ASI: peningkatan kadar prolaktin diperlukan untuk meningkatkan produksi ASI, tetapi tidak untuk mempertahankannya. Artinya, zat yang menaikkan prolaktin belum tentu menyelesaikan masalah kalau payudara tetap jarang dikosongkan.

KelompokContohPosisi menurut rujukan
Perilaku menyusuiFrekuensi, posisi, perlekatan, pengosongan, memerahFondasi. IDAI: makin sering dan sempurna pengosongan payudara, makin meningkat produksi ASI
Makanan sehari-hariDaun katuk, daun kelor, jantung pisang, daun bangun-bangunBagian dari menu bergizi. IDAI mencatat sebagian besar belum dievaluasi secara ilmiah
Suplemen herbal kemasanKapsul, teh, biskuit, minuman serbukPelengkap yang dipertimbangkan dengan menimbang risiko dan keuntungan
Obat resepMetoklopramid, domperidon, sulpirid, klorpromazinHanya lewat penilaian dokter. IDAI: penggunaannya perlu pengawasan karena efek samping

Tabel ini membandingkan posisi menurut rujukan, bukan memberi peringkat produk. Perhatikan bahwa satu-satunya baris yang berstatus fondasi adalah yang tidak dijual siapa pun.

Kapan Pelancar ASI Sebenarnya Diindikasikan

Bagian ini yang hampir tidak pernah muncul di halaman jualan, padahal ia menjawab pertanyaan paling penting: apakah Bunda memang termasuk yang membutuhkannya.

IDAI menuliskan indikasi penggunaan laktogogue dengan cukup spesifik. Pada umumnya indikasinya adalah ibu yang ingin menyusui bayi adopsi, yaitu induksi menyusui pada ibu yang tidak mengandung bayi tersebut; ibu yang melakukan relaktasi atau menyusui kembali setelah sempat berhenti; dan ibu yang produksinya kurang lancar karena ibu atau bayi sakit, atau setelah keduanya dipisahkan.

IDAI menambahkan dua catatan situasional. Pertama, ibu yang tidak menyusui secara langsung tetapi hanya memerah dengan tangan atau pompa sering mengalami penurunan produksi setelah beberapa minggu. Kedua, alasan tersering penggunaan laktogogue adalah meningkatkan produksi ASI yang berkurang pada ibu dengan bayi prematur atau bayi sakit yang dirawat di unit perawatan intensif.

Bacalah daftar itu sekali lagi.
  • Menyusui bayi adopsi (induksi menyusui).
  • Relaktasi setelah sempat berhenti menyusui.
  • Produksi menurun karena ibu atau bayi sakit, atau karena terpisah.
  • Ibu yang hanya memerah dalam jangka panjang.
  • Ibu dengan bayi prematur atau bayi sakit yang dirawat intensif.
Bila Bunda menyusui langsung, bayi menyusu 8 sampai 12 kali sehari, dan berat badannya naik sesuai jalurnya, Bunda tidak berada di dalam daftar itu. Rasa cemas soal jumlah ASI tetap sah dan tetap perlu didampingi, tetapi jalan keluarnya bukan otomatis membeli produk.

Konsekuensi praktisnya sederhana. Kalau Bunda merasa perlu pelancar ASI, pertanyaan pertama bukan "merek mana yang paling bagus", melainkan "apakah saya sedang berada dalam salah satu keadaan di atas". Kalau jawabannya tidak, energi dan biaya jauh lebih berguna dialihkan ke pendampingan menyusui.

Perhatikan juga bahwa keadaan-keadaan dalam daftar itu punya satu kesamaan: semuanya adalah situasi ketika rangsangan pada payudara terganggu atau belum pernah terbentuk sama sekali. Pada ibu yang menyusui bayi adopsi, tubuh belum melewati kehamilan yang menurut IDAI menaikkan konsentrasi prolaktin serum dari sekitar 10 mikrogram per liter pada perempuan tidak hamil menjadi sekitar 200 mikrogram per liter pada kehamilan cukup bulan. Pada relaktasi, rangsangan sempat berhenti sepenuhnya. Pada ibu dan bayi yang terpisah, isapan langsung digantikan perahan tangan atau pompa, dan IDAI mencatat ibu yang tidak menyusui langsung sering mengalami penurunan produksi setelah beberapa minggu. Jadi laktogogue di situ menopang sistem yang sinyal alaminya sedang tidak lengkap, bukan mempercepat sistem yang sudah berjalan normal.

Itu sebabnya menambahkan laktogogue pada ibu yang menyusui langsung dengan pola normal jarang mengubah banyak hal. Sistemnya sudah menerima sinyal penuh setiap kali bayi menyusu, dan penambahan dari luar tidak menambah sinyal itu. Yang lebih berpengaruh justru memperbanyak dan memperbaiki sinyalnya sendiri.

Membedakan Merasa Kurang ASI dari Benar-Benar Kurang

IDAI mencatat bahwa dalam praktik sehari-hari, banyak ibu merasa ASI-nya kurang karena bayinya menangis terus pada malam hari. Menangis adalah sinyal dengan banyak arti, jadi ia penanda yang buruk. Payudara juga tidak punya takaran yang bisa dibaca, sehingga perasaan "terasa kosong" bukan bukti apa-apa.

Penanda yang lebih bisa dipercaya adalah keluaran bayi. IDAI menyebut tanda normal bayi mendapat cukup ASI, antara lain buang air kecil 1 sampai 2 kali per hari dalam 12 sampai 24 jam pertama kehidupan, lalu 6 sampai 8 kali per hari setelah hari kelima. Tinja pertama atau mekonium keluar dalam 24 jam pertama, lalu menipis menjadi hijau kecoklatan atau hijau kekuningan dalam 3 sampai 6 hari. Setelah lebih dari 6 hari, tinja ASI sudah terbentuk, yaitu cair, berbau asam, dan bergas.

Sebaliknya, IDAI menyebut empat tanda bahaya yang perlu dievaluasi tenaga kesehatan: urine berwarna merah bata pada popok setelah hari kelima, buang air kecil kurang dari 6 kali dalam 24 jam setelah hari kelima, mekonium masih keluar setelah usia 5 hari, dan kehilangan berat badan 7 persen atau lebih dalam 72 jam pertama atau berat badan belum kembali ke berat lahir pada hari ke-7 sampai ke-10.

Satu hal yang sering disalahpahami di minggu pertama adalah volume yang memang masih kecil. IDAI mencatat kolostrum hari pertama sekitar 5 mL dan naik bertahap sampai 45 sampai 60 mL pada hari kelima, lalu ASI menjadi matang pada hari ke-15. Bila Bunda sedang berada di fase itu, uraiannya ada di artikel kapan ASI mulai keluar. Untuk memantau berat badan dari waktu ke waktu, tracker tumbuh kembang membantu melihat polanya, bukan angka satu hari.

Yang Justru Menurunkan Produksi ASI Tanpa Disadari

Sebelum menambah apa pun, ada baiknya memeriksa apakah ada yang sedang mengurangi. Daftar berikut semuanya berasal dari rujukan resmi, dan beberapa di antaranya terasa berlawanan dengan kebiasaan umum.

Payudara jarang dikosongkan. IDAI menyatakan bahwa jika pengosongan payudara tidak dilakukan secara teratur dan sempurna, produksi ASI akan berkurang. Ini penyebab paling umum sekaligus paling bisa diperbaiki.

Memberi air atau susu formula tanpa indikasi medis. Kemenkes RI menegaskan bahwa pemberian selain ASI akan menghambat produksi ASI, dan susu pengganti ASI diberikan ketika ada indikasi medis setelah melalui penilaian oleh dokter yang kompeten. Direktur Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kemenkes RI, dr. Lovely Daisy, MKM, menjelaskan bahwa bayi yang lebih banyak diberi formula akan kenyang lalu lebih jarang menyusu, dan ini berujung pada produksi ASI yang berkurang.

Dot dan kempeng. IDAI menyarankan tidak memberikan dot atau kempeng karena akan mengakibatkan bingung puting, yang lalu membuat sesi menyusu menjadi kurang efektif.

Nyeri dan tekanan perasaan. IDAI menjelaskan pelepasan oksitosin dihambat oleh katekolamin yang diproduksi jika ibu stres atau kesakitan, dan menyebut rasa cemas, sedih, marah, kesal, bingung, serta rasa sakit terutama saat menyusui sebagai keadaan yang dapat mengurangi produksi oksitosin. Karena oksitosin bertugas mengalirkan ASI dari pabrik ke gudang, hambatan di sini membuat payudara terasa seolah berhenti berproduksi padahal ASI tetap dibuat.

Alkohol. IDAI mencatat bir sering digunakan sebagai laktogogue pada beberapa kebudayaan, tetapi alkohol dapat menurunkan produksi ASI. LactMed, basis data obat dan laktasi milik National Institutes of Health, menyebut alkohol dapat menurunkan produksi ASI dan konsumsi 5 gelas atau lebih menurunkan pengaliran ASI serta mengganggu proses menyusui sampai kadar alkohol ibu turun.

Obat tertentu. IDAI mencontohkan pseudoefedrin, obat yang lazim ada dalam sediaan flu, dengan catatan produksi ASI menurun setelah 24 jam pemberian pseudoefedrin 60 mg oral. IDAI juga mengingatkan bahwa umumnya hanya sekitar 1 persen dosis obat ibu yang sampai ke bayi lewat ASI, tetapi tetap ada sejumlah kecil obat yang benar-benar dilarang selama menyusui, sehingga konsultasi ke dokter sebelum minum obat adalah langkah yang tepat.

Perhatian. Daftar di atas bukan alat untuk menyalahkan diri sendiri. Sebagian besar butirnya adalah hal yang lazim disarankan orang sekitar dengan niat baik, misalnya menambah formula agar bayi "kenyang" atau memberi kempeng agar bayi tenang. Kalau Bunda sudah terlanjur melakukannya, itu bukan kegagalan dan bukan kerusakan permanen. Bicarakan dengan bidan, konselor laktasi, atau dokter anak untuk menyusun langkah pemulihannya, terutama bila Bunda sedang mengonsumsi obat rutin.

Seberapa Kuat Bukti Tiap Pilihan Pelancar ASI

Setelah faktor pengurang diperiksa, barulah masuk akal membicarakan penambah. Yang perlu dijaga adalah harapan yang wajar, karena mutu bukti tiap kelompok tidak sama.

Untuk kelompok perilaku, buktinya paling kokoh dan paling murah. IDAI menyatakan makin sering dan sempurna pengosongan payudara menyebabkan peningkatan produksi ASI. Kemenkes RI menyampaikan hal yang sejalan, bahwa semakin sering bayi menyusu dengan cara yang benar, semakin banyak ASI diproduksi. WHO pun menempatkan menyusui responsif, yaitu sesering yang diinginkan anak, siang maupun malam, sebagai bagian dari tindakan yang melindungi dan mendukung menyusui.

Untuk kelompok herbal dan pangan, gambarannya lebih beragam. IDAI menuliskan bahwa sepanjang sejarah perempuan telah menggunakan herbal atau makanan untuk memperkuat produksi ASI, tetapi sebagian besar bahan itu belum dievaluasi secara ilmiah, meski secara tradisional aman dan efektif, dan mekanisme kerjanya belum semua diketahui. Di Indonesia sendiri IDAI menyebut daun bangun-bangun di daerah Batak, daun katuk di Jawa, dan jantung pisang di Sulawesi Utara. Telaah rinci per bahan, termasuk yang buktinya lebih baik dan yang lebih tipis, ada di artikel ASI booster.

Untuk kelompok obat resep, IDAI membahas metoklopramid, domperidon, sulpirid, dan klorpromazin, lalu menegaskan bahwa penggunaan obat-obat tersebut perlu pengawasan karena adanya efek samping yang dilaporkan. Ini jelas bukan sesuatu yang dibeli sendiri berdasarkan cerita di grup pesan.

Ada satu kalimat yang diulang LactMed pada monografi laktogogue dan layak dijadikan pegangan: laktogogue tidak boleh menggantikan evaluasi dan konseling terhadap faktor-faktor yang bisa diperbaiki yang memengaruhi produksi ASI. IDAI menutup bahasannya dengan nada yang sama, bahwa sebelum menggunakan laktogogue sebaiknya memperbaiki dulu teknik menyusui dan faktor lain yang mungkin menjadi penyebab kurangnya produksi ASI, dan bahwa laktogogue herbal dapat dipertimbangkan penggunaannya pada keadaan kekurangan ASI dengan mempertimbangkan risiko dan keuntungannya.

Urutan Langkah yang Masuk Akal dan Kapan Minta Bantuan

Bila semua di atas dirangkai, urutannya menjadi jelas dan tidak perlu mahal.

  1. Periksa dulu apakah produksinya memang kurang, memakai penanda keluaran bayi dan berat badan dari IDAI, bukan dari perasaan soal isi payudara.
  2. Perbaiki frekuensi dan perlekatan lebih dulu. Langkah teknisnya, termasuk empat kunci posisi dan empat kunci perlekatan versi Kemenkes RI, dibahas terpisah di artikel cara memperlancar ASI.
  3. Hilangkan hal yang sedang menurunkan produksi, misalnya tambahan minuman tanpa indikasi, penggunaan dot, nyeri saat menyusui yang dibiarkan, atau obat yang belum didiskusikan dengan dokter.
  4. Baru pertimbangkan laktogogue, itu pun bila Bunda memang berada dalam salah satu indikasi IDAI, dan setelah dibicarakan dengan tenaga kesehatan.
  5. Minta pendampingan lebih awal, jangan menunggu keadaan memburuk.

Soal langkah terakhir, Kemenkes RI menyarankan ibu menghubungi konselor menyusui di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat atau mengakses telekonseling menyusui bila mengalami keraguan atau kendala terkait menyusui. WHO bahkan menempatkan konseling menyusui untuk semua keluarga dengan anak di bawah 2 tahun sebagai standar dukungan yang perlu diperluas pemerintah, bukan layanan mewah.

Catatan Bunda. Kalau setelah semua ini Bunda tetap ingin mencoba produk pelancar ASI, itu tidak salah, selama bahannya sudah dibicarakan dengan tenaga kesehatan dan Bunda tidak mengurangi frekuensi menyusui karena merasa produk sudah mengambil alih tugasnya. Yang perlu dijaga hanyalah harapannya. Kalau tidak terasa efeknya, itu sesuai dengan gambaran bukti yang ada, bukan cerminan usaha Bunda.

Menyusui memang proses alami, tetapi IDAI mengingatkan bahwa ia tetap harus dipelajari, dan anjuran menyusui tanpa diikuti bimbingan proses menyusui yang baik justru sering menimbulkan masalah. Jadi meminta bantuan bukan tanda menyerah, melainkan bagian dari cara kerjanya. Topik menyusui lainnya bisa ditelusuri di kategori ASI, dan untuk menyusun pertanyaan yang tepat sebelum bertemu tenaga kesehatan, Asisten Bunda bisa dipakai sebagai teman berpikir, bukan pengganti pemeriksaan.

Sumber

Artikel ini disusun sebagai edukasi dan bukan pengganti pemeriksaan tenaga kesehatan. Indikasi laktogogue, tanda cukup ASI, tanda bahaya, dan catatan tentang obat di atas mengacu pada rujukan IDAI, Kemenkes RI, WHO, dan LactMed yang dicantumkan. Halaman ini tidak menganjurkan produk, merek, atau takaran apa pun. Keputusan mengonsumsi obat, jamu, atau suplemen selama menyusui harus dibicarakan lebih dulu dengan bidan, dokter, atau konselor laktasi, terutama bila Bunda memiliki kondisi medis tertentu atau sedang mengonsumsi obat lain. Bila bayi jarang buang air kecil, berat badannya tidak naik, tampak sangat lemas, atau Bunda merasa asupannya kurang, periksakan segera dan jangan menunda karena sedang menunggu efek suatu produk.

Pertanyaan yang sering muncul

Apa sebenarnya yang disebut pelancar ASI?
Istilah pelancar ASI merujuk pada apa yang dalam bahasa medis disebut laktogogue. IDAI mendefinisikannya sebagai obat atau zat yang dipercaya dapat membantu merangsang, mempertahankan, atau meningkatkan produksi air susu ibu. Cakupannya luas, mulai dari makanan sehari-hari, suplemen herbal kemasan, sampai obat resep yang hanya boleh dipakai di bawah pengawasan dokter. Perlu dicatat bahwa kata kuncinya adalah dipercaya, bukan terbukti, karena kekuatan buktinya berbeda-beda untuk tiap zat.
Siapa yang sebenarnya diindikasikan memakai pelancar ASI?
Menurut IDAI, indikasi penggunaan laktogogue pada umumnya adalah ibu yang ingin menyusui bayi adopsi (induksi menyusui), ibu yang melakukan relaktasi atau menyusui kembali setelah berhenti, dan ibu yang produksinya menurun karena ibu atau bayi sakit atau setelah keduanya terpisah. IDAI juga mencatat alasan tersering pemakaiannya adalah untuk meningkatkan produksi pada ibu dengan bayi prematur atau bayi sakit yang dirawat di unit perawatan intensif. Ibu yang menyusui langsung dan bayinya tumbuh baik umumnya tidak berada dalam daftar indikasi ini.
Apakah ada hal yang justru menurunkan produksi ASI?
Ada, dan justru ini yang paling sering terlewat. IDAI menjelaskan bahwa jika pengosongan payudara tidak dilakukan secara teratur dan sempurna, produksi ASI akan berkurang. Kemenkes RI menambahkan bahwa pemberian selain ASI akan menghambat produksi karena bayi kenyang lalu jarang menyusu. IDAI juga menyebut rasa cemas, sedih, marah, kesal, bingung, dan rasa sakit saat menyusui dapat mengurangi hormon oksitosin yang bertugas mengalirkan ASI.
Apakah minum jamu atau suplemen pelancar ASI aman?
Tidak otomatis aman hanya karena bahannya alami. IDAI menyimpulkan bahwa laktogogue herbal dapat dipertimbangkan penggunaannya pada keadaan kekurangan ASI dengan mempertimbangkan risiko dan keuntungannya, jadi bukan sesuatu yang dianjurkan untuk semua ibu. IDAI juga mengingatkan bahwa umumnya sekitar 1 persen dari dosis obat ibu akan sampai ke bayi melalui ASI, sehingga konsultasi ke dokter sebelum minum obat atau suplemen apa pun adalah langkah yang tepat.
Kalau saya merasa ASI kurang, apa langkah pertamanya?
Langkah pertama bukan membeli produk, melainkan memastikan apakah produksinya memang kurang. IDAI memberi penanda yang objektif, yaitu buang air kecil 6 sampai 8 kali per hari setelah hari kelima, pola tinja yang berubah sesuai usia, dan berat badan yang kembali ke berat lahir pada hari ke-7 sampai ke-10. Setelah itu, IDAI menegaskan bahwa sebelum menggunakan laktogogue sebaiknya perbaiki dulu teknik menyusui dan faktor lain yang mungkin menjadi penyebab kurangnya produksi ASI.
Kapan saya harus menemui konselor laktasi atau dokter?
Segera, bila muncul tanda bahaya yang disebut IDAI: urine berwarna merah bata pada popok setelah hari kelima, buang air kecil kurang dari 6 kali dalam 24 jam setelah hari kelima, mekonium masih keluar setelah usia 5 hari, atau berat badan turun 7 persen atau lebih dalam 72 jam pertama. Kemenkes RI juga menyarankan ibu menghubungi konselor menyusui di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat atau mengakses telekonseling menyusui bila ada keraguan atau kendala, tanpa perlu menunggu keadaan memburuk.

Konten ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Untuk keputusan medis, hubungi dokter atau bidan Anda.

Punya pertanyaan seputar asi?

Tanya lewat WhatsApp