Baru: alat cek usia dan milestone anak sudah bisa dipakai gratis. Coba sekarang

Kehamilan

Skincare untuk Ibu Hamil: Kandungan Aman dan yang Dihindari

Oleh Tim Redaksi Asuh Anak· 12 menit baca

Skincare untuk Ibu Hamil: Kandungan Aman dan yang Dihindari

Memilih skincare untuk ibu hamil sebenarnya tidak serumit yang sering dibayangkan, asalkan Bunda tahu kandungan mana yang perlu dihindari dan mana yang bisa didiskusikan dengan dokter. Kabar yang paling penting lebih dulu: Bunda tidak perlu membuang seluruh isi meja rias begitu tahu hasil tes kehamilan positif. Menurut Kemenkes RI, memang ada beberapa bahan pengobatan jerawat yang dikontraindikasikan pada kehamilan, seperti tazarotene topikal, isotretinoin, dan asam salisilat, tetapi bukan berarti semua perawatan kulit menjadi terlarang. Artikel ini membahas apa saja yang menurut sumber resmi perlu dihindari, apa yang bisa dipertimbangkan bersama tenaga kesehatan, dan kapan sebaiknya Bunda memeriksakan diri.

Kenapa Kulit Berubah Saat Hamil

Perubahan kulit selama kehamilan adalah hal yang lumrah dan dialami banyak ibu. Kemenkes RI menjelaskan bahwa selama kehamilan tubuh mengalami sejumlah perubahan fisik, dan perubahan ini terkadang termasuk perubahan pada kulit. Selain masalah kulit ringan seperti kulit kering dan jerawat, sebagian ibu bisa mengalami keluhan lain seperti biduran, yang dapat muncul pada setiap tahap kehamilan bahkan pada orang yang belum pernah mengalaminya seumur hidup.

Soal jerawat, penjelasan Kemenkes RI cukup menenangkan karena menunjukkan bahwa ini persoalan biologis, bukan soal kurang rajin membersihkan wajah. Jerawat umumnya justru membaik selama trimester pertama, tetapi dapat memburuk selama trimester ketiga sebagai akibat dari peningkatan konsentrasi hormon androgen pada ibu hamil ditambah dengan produksi sebum yang berlebihan. Selain perubahan hormonal, faktor imunologi terkait kehamilan juga dapat berkontribusi pada munculnya jerawat. Kemenkes RI juga mencatat bahwa lesi inflamasi (papula, pustula, dan nodul) cenderung lebih umum daripada lesi noninflamasi berupa komedo, dan seringkali tidak hanya terbatas pada wajah melainkan meluas hingga ke badan.

Bunda dengan riwayat jerawat lebih rentan

Menurut Kemenkes RI, pasien dengan riwayat jerawat sebelum kehamilan akan lebih rentan untuk mengalami jerawat selama kehamilan. Jadi bila kulit Bunda memang bermasalah sejak sebelum hamil lalu sekarang terasa memburuk, itu bukan kegagalan siapa pun. Hal serupa berlaku untuk rasa gatal. Kemenkes RI menyebut bahwa biasanya wanita hamil mengalami gatal setelah kulit menjadi sangat kering dan meregang saat janin tumbuh, sebuah proses yang wajar seiring membesarnya perut.

Memahami hal ini penting sebelum masuk ke daftar kandungan, karena perubahan kulit saat hamil sering bersifat sementara dan berkaitan dengan hormon serta peregangan kulit. Tujuan merawat kulit saat hamil bukan mengejar kulit sempurna, melainkan menjaga kenyamanan Bunda tanpa mengambil risiko yang tidak perlu bagi janin.

Kandungan Skincare yang Perlu Dihindari Saat Hamil

Inilah bagian yang paling sering dicari, dan untungnya Kemenkes RI menyebutkannya dengan cukup spesifik. Beberapa pilihan terapi jerawat pada wanita hamil harus dihindari, antara lain obat kontrasepsi oral, tazarotene topikal, isotretinoin, dan asam salisilat.

Untuk memahami kenapa, Kemenkes RI merujuk pada klasifikasi obat kehamilan dari Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat:

  • Kategori X berarti obat tersebut dikontraindikasikan dalam kehamilan karena memiliki risiko yang sangat tinggi terhadap janin. Menurut Kemenkes RI, obat kontrasepsi oral, tazarotene, dan isotretinoin masuk kategori ini sehingga tidak boleh digunakan sama sekali pada ibu hamil.
  • Kategori C berarti terdapat kemungkinan obat tersebut memiliki dampak pada janin namun masih diperlukan lebih banyak penelitian. Obat kategori C masih dapat digunakan jika keuntungan penggunaannya melebihi risiko yang mungkin terjadi.
  • Kategori A dan B dinilai FDA masih aman digunakan untuk ibu hamil.

Posisi asam salisilat

Asam salisilat populer karena membantu eksfoliasi atau pengelupasan kulit sehingga mampu mencegah dan mengatasi pori-pori yang tersumbat. Namun Kemenkes RI mengategorikannya sebagai C karena dapat menyebabkan perdarahan dan komplikasi lainnya pada wanita hamil, dan mencantumkannya dalam daftar terapi yang harus dihindari. Perlu digarisbawahi, penilaian apakah manfaat suatu bahan kategori C melebihi risikonya adalah pekerjaan tenaga kesehatan yang tahu riwayat kehamilan Bunda, bukan kesimpulan yang aman diambil sendiri dari membaca label.

Bagaimana dengan retinol di produk kosmetik?

Tazarotene dan isotretinoin yang disebut Kemenkes RI adalah obat golongan retinoid, yaitu turunan vitamin A. Produk kosmetik di pasaran memakai banyak penamaan berbeda untuk bahan sejenis, dan sumber resmi tidak membahas setiap nama dagang satu per satu. Karena itu, alih-alih menebak dari daftar ingredient, langkah paling masuk akal adalah membawa produk yang Bunda pakai saat kontrol kehamilan dan menanyakannya langsung. Bila ragu terhadap satu produk sementara belum sempat berkonsultasi, menghentikannya dulu adalah pilihan yang wajar dan tidak merugikan.

Perhatian. Keputusan memakai obat atau produk perawatan bermedikasi selama kehamilan harus lewat konsultasi dengan dokter atau bidan. Artikel ini tidak memuat anjuran dosis dan tidak merekomendasikan merek apa pun. Kemenkes RI sangat menyarankan ibu hamil yang berjerawat untuk berobat ke dokter spesialis kulit terdekat sambil menjelaskan kondisi kehamilannya agar mendapat pengobatan yang sesuai.

Pilihan yang Bisa Didiskusikan dengan Dokter

Kabar baiknya, jerawat saat hamil bukan berarti tidak bisa ditangani. Kemenkes RI menjelaskan bahwa pengobatan jerawat pada wanita hamil berbeda berdasarkan kategori keparahan jerawat yang dialami, dan menyebut beberapa pilihan terapi:

  • Untuk jerawat ringan yang ditandai terutama oleh lesi noninflamasi, direkomendasikan asam azelaic topikal (oles) atau benzoil peroksida sebagai terapi awal.
  • Untuk jerawat dengan lesi inflamasi, terapinya dimulai dengan kombinasi eritromisin topikal atau klindamisin dengan benzoil peroksida.
  • Untuk jerawat dengan lesi inflamasi sedang hingga parah, direkomendasikan antibiotik seperti eritromisin atau sefaleksin oral, dan menurut Kemenkes RI terapi tersebut aman bila hanya digunakan beberapa minggu.
  • Untuk jerawat kista nodular fulminan, kortikosteroid seperti prednisolon oral dengan lama pemberian tidak lebih dari sebulan dapat berguna, dan diberikan setelah trimester pertama.

Penting dibaca dengan tepat: daftar di atas adalah pilihan terapi yang dinilai dan diresepkan tenaga kesehatan sesuai tingkat keparahan, bukan daftar belanja untuk dibeli sendiri. Beberapa di antaranya termasuk obat keras yang penggunaannya perlu pengawasan. Kemenkes RI mengingatkan bahwa sebagian obat jerawat memiliki dampak buruk bagi pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim, sehingga memahami batasan pengobatan menjadi penting. Karena itu, sekali lagi, keputusan minum atau mengoleskan obat apa pun saat hamil harus lewat konsultasi tenaga kesehatan yang mengetahui kondisi Bunda.

Di luar bahan bermedikasi, kebutuhan dasar kulit tetap sederhana: pembersih yang lembut, pelembap, dan perlindungan dari matahari. Bunda yang sedang menyusun kebiasaan sehat selama kehamilan bisa membaca panduan kehamilan kami untuk gambaran menyeluruh, termasuk hal-hal yang jauh lebih menentukan bagi janin daripada urutan skincare, misalnya kecukupan gizi dan vitamin ibu hamil.

Tabir Surya, Langkah Perawatan Paling Menentukan

Kalau ada satu langkah perawatan kulit yang layak diprioritaskan selama hamil, itu adalah perlindungan dari sinar matahari. Kemenkes RI menganjurkan penggunaan tabir surya dengan SPF 30 ke atas setiap kali beraktivitas di luar ruangan atau saat berada di dalam ruangan, sebagai bagian dari pencegahan sunburn. Anjuran lain yang disebut Kemenkes RI antara lain menghindari paparan sinar matahari secara langsung dari pukul 10 pagi hingga pukul 4 sore, tidak berjemur terlalu lama, serta melindungi tubuh dengan pakaian berbahan katun, topi, dan payung saat berada di luar ruangan.

WHO memberikan anjuran yang sejalan untuk melindungi diri dari paparan radiasi ultraviolet berlebihan: membatasi waktu di bawah matahari tengah hari, mencari tempat berteduh, memakai pakaian pelindung, memakai topi bertepi lebar, memakai kacamata hitam yang memberi perlindungan UV-A dan UV-B 99 hingga 100 persen, serta memakai tabir surya berspektrum luas pada area kulit yang tidak dapat ditutup pakaian. WHO menegaskan perlindungan matahari paling baik dicapai dengan berteduh dan memakai pakaian, bukan dengan mengandalkan tabir surya, dan tabir surya tidak boleh dipakai sebagai alasan untuk berlama-lama di bawah matahari. WHO menganjurkan perlindungan matahari dilakukan ketika indeks ultraviolet berada pada angka 3 ke atas.

Kenapa ini penting? Menurut Kemenkes RI, paparan sinar matahari atau sinar UV yang berlebihan selama bertahun-tahun dapat menyebabkan kemunculan tanda penuaan dini dan risiko kanker kulit. WHO mencatat bahwa paparan radiasi ultraviolet yang berlebihan menyebabkan sekitar 1,2 juta kasus baru kanker kulit non-melanoma dan 325.000 melanoma kulit, serta 64.000 kematian dini akibat kanker kulit non-melanoma dan 57.000 akibat melanoma kulit pada tahun 2020. Angka global ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan menunjukkan bahwa kebiasaan berteduh dan memakai tabir surya bernilai jangka panjang, jauh melampaui masa kehamilan.

Ringkasan. Prioritas perawatan kulit saat hamil menurut sumber resmi:
  • Hindari bahan yang dikontraindikasikan, terutama tazarotene, isotretinoin, dan asam salisilat.
  • Lindungi kulit dari matahari: berteduh, pakaian pelindung, topi, dan tabir surya SPF 30 ke atas.
  • Bawa produk yang Bunda pakai saat kontrol kehamilan, lalu tanyakan langsung ke dokter atau bidan.

Satu catatan tambahan yang relevan: Kemenkes RI menyebut konsumsi obat tertentu dapat meningkatkan sensitivitas terhadap sinar matahari, termasuk antibiotik, obat antiinflamasi non-steroid, retinoid, atau diuretik. Ini alasan lain kenapa perlindungan matahari sebaiknya berjalan berdampingan dengan terapi kulit apa pun yang diresepkan dokter.

Merawat Kulit Kering dan Gatal Saat Hamil

Keluhan gatal termasuk yang paling sering mengganggu kenyamanan, terutama menjelang trimester akhir. Kemenkes RI menjelaskan bahwa wanita hamil biasanya mengalami gatal setelah kulit menjadi sangat kering dan meregang saat janin tumbuh, dan Bunda mungkin merasakan kekeringan kulit yang ekstrem di sekitar perut, bokong, dan paha. Untuk biduran, area yang sering terkena juga meliputi payudara, paha, bokong, dan perut, yaitu area tempat berat kehamilan terakumulasi sehingga kulit meregang.

Beberapa langkah sederhana yang disebut Kemenkes RI dapat membantu Bunda merasa lebih nyaman:

  • Berhenti menggaruk. Bila Bunda merasakan dorongan untuk menggaruk, sebaiknya hentikan, karena menggaruk dapat semakin memperparah rasa gatal.
  • Kelola stres dan jaga hidrasi. Kemenkes RI menganjurkan menghindari stres, menjaga diri tetap terhidrasi, serta makan makanan yang bergizi dan sehat.
  • Hindari pemicu alergi. Hindari semua makanan yang membuat Bunda alergi, karena biduran dapat merupakan reaksi alergi terhadap makanan, gigitan serangga, obat-obatan, dan bahan kimia.
  • Jaga kebersihan rumah. Kemenkes RI menyarankan menjaga kebersihan rumah dan melakukan vakum sesering mungkin.

Kemenkes RI juga menenangkan bahwa biduran selama kehamilan adalah hal yang normal, sehingga Bunda tidak perlu stres karenanya. Meski begitu, Bunda tetap disarankan segera berkonsultasi dengan dokter saat melihat gejalanya agar biduran tidak berkembang atau menyebar ke bagian tubuh lain, dan berbicara dengan dokter bila membutuhkan kejelasan lebih lanjut. Bila Bunda masih di awal kehamilan dan sedang mengenali berbagai perubahan tubuh, artikel ciri-ciri hamil muda bisa membantu memberi gambaran, sementara kalkulator kehamilan dapat membantu memperkirakan usia kehamilan Bunda.

Waspadai Krim Racikan dan Produk Pemutih Tanpa Kejelasan

Godaan memakai krim racikan biasanya muncul justru saat kulit terasa kusam atau berflek. Di sinilah Bunda perlu ekstra hati-hati. Kemenkes RI menyoroti bahwa penggunaan kortikosteroid topikal jangka panjang dan penyalahgunaannya dalam bidang estetik merupakan masalah umum yang ditemui saat ini. Penggunaan kortikosteroid topikal jangka panjang pada wajah untuk kelainan kulit seperti akne dan melasma, ataupun penyalahgunaannya pada kulit normal dengan tujuan memutihkan kulit, menyebabkan peningkatan kejadian efek samping.

Menurut Kemenkes RI, kortikosteroid topikal menjadi salah satu komponen formula yang dikenal sebagai "modified Kligman", yang banyak digunakan secara tidak terkontrol untuk krim pemutih wajah. Efek samping kortikosteroid topikal yang dapat ditemukan antara lain atrofi, striae, rosasea, dermatitis perioral, erupsi akneiformis, purpura, hipertrikosis, telangiektasis, hipopigmentasi, hiperpigmentasi, penyembuhan luka yang lambat, dan infeksi. Kemenkes RI menambahkan bahwa hipertrikosis dan telangiektasis akan tampak pada penggunaan jangka lama lebih dari enam bulan dan pada penggunaan kortikosteroid dengan potensi kuat.

Yang membuat ini makin relevan bagi Bunda: wajah dan leher termasuk lokasi tubuh yang justru meningkatkan timbulnya efek samping kortikosteroid topikal, bersama area lipatan dan regio popok pada bayi. Artinya, produk dengan kandungan tidak jelas yang dipakai rutin di wajah punya kerentanan tersendiri. Ditambah lagi, formula perawatan hiperpigmentasi yang dimaksud Kemenkes RI berkaitan dengan bahan seperti tretinoin, yang merupakan golongan retinoid, dan hidrokuinon. Karena itu, krim racikan tanpa kejelasan komposisi bukan pilihan yang bijak saat hamil.

Perhatian. Bila Bunda memakai produk racikan tanpa komposisi yang jelas, hentikan dulu dan konsultasikan ke dokter, terutama bila muncul kulit menipis, guratan, kemerahan menetap, atau pertumbuhan rambut halus berlebih di wajah. Jangan menambahkan produk baru untuk "memperbaiki" reaksi dari produk sebelumnya.

Kapan Harus ke Dokter atau Bidan

Merawat kulit saat hamil sebaiknya menyatu dengan perawatan kehamilan secara keseluruhan, bukan berdiri sendiri. Kemenkes RI menjelaskan bahwa pemeriksaan kehamilan atau Antenatal Care (ANC) bertujuan memantau kondisi kesehatan fisik dan mental ibu hamil, dan dilakukan minimal 6 kali selama kehamilan, yaitu 1 kali pada trimester pertama, 2 kali pada trimester kedua, dan 3 kali pada trimester ketiga. Pada setiap pemeriksaan kehamilan di puskesmas, ibu juga dapat melakukan temu wicara atau konseling dengan bidan atau dokter yang menangani. Manfaatkan sesi ini untuk bertanya tentang produk yang Bunda pakai, karena bertanya sekarang jauh lebih baik daripada menebak berbulan-bulan.

Segera periksakan diri bila Bunda mengalami hal berikut:

  • Biduran atau bilur yang menyebar ke bagian tubuh lain, karena Kemenkes RI menyarankan konsultasi segera agar tidak berkembang atau menyebar.
  • Gatal yang terasa sangat mengganggu, menyakitkan, atau tidak mereda.
  • Jerawat yang berat, meluas hingga ke badan, atau berupa nodul dan kista.
  • Reaksi setelah memakai produk baru, misalnya kemerahan menetap, perih, atau kulit mengelupas.
  • Kekhawatiran bahwa Bunda terlanjur memakai produk yang termasuk daftar yang perlu dihindari, sebelum tahu sedang hamil.

Poin terakhir itu perlu ditegaskan: banyak Bunda baru menyadari kehamilannya setelah beberapa minggu, dan sempat memakai produk apa adanya. Ini situasi yang umum dan tidak perlu dihadapi dengan rasa bersalah. Yang paling berguna adalah menceritakannya secara terbuka kepada dokter atau bidan, karena mereka bisa menilai konteksnya dengan tepat. Tenaga kesehatan ada untuk membantu, bukan untuk menghakimi pilihan Bunda di masa lalu.

Bila Bunda ingin menelusuri pertanyaan seputar penggunaan obat lain selama kehamilan, misalnya untuk keluhan sehari-hari, artikel paracetamol untuk ibu hamil membahas prinsip serupa: sumber resmi sebagai acuan, tanpa dosis yang dianjurkan sendiri, dan keputusan tetap di tangan tenaga kesehatan. Topik kehamilan lainnya bisa Bunda telusuri di kumpulan artikel kehamilan Asuh Anak.

Menutup semuanya, memilih skincare saat hamil pada dasarnya soal menyederhanakan, bukan menyempurnakan. Hindari bahan yang jelas dikontraindikasikan, lindungi kulit dari matahari, rawat kulit kering dengan lembut, jauhi produk racikan yang komposisinya tidak jelas, dan bawa pertanyaan Bunda ke ruang konsultasi. Kulit yang berubah selama sembilan bulan ini adalah bagian dari proses yang sedang Bunda jalani, dan sebagian besar keluhannya membaik seiring waktu.

Sumber

Artikel ini disusun sebagai edukasi dan bukan pengganti konsultasi langsung dengan tenaga kesehatan. Informasi tentang bahan dan terapi kulit di atas dikutip dari sumber resmi dan tidak dimaksudkan sebagai anjuran pengobatan mandiri, termasuk soal dosis. Untuk diagnosis dan penanganan yang sesuai dengan kondisi kehamilan Anda, silakan berkonsultasi dengan bidan, dokter, atau dokter spesialis kulit terdekat.

Pertanyaan yang sering muncul

Apakah ibu hamil boleh memakai skincare yang mengandung retinoid?
Menurut Kemenkes RI, beberapa terapi jerawat golongan retinoid seperti tazarotene topikal dan isotretinoin termasuk yang harus dihindari saat hamil, bahkan dikategorikan X oleh FDA sehingga tidak boleh digunakan sama sekali pada ibu hamil. Karena banyak produk kosmetik memakai penamaan yang berbeda-beda, cara paling aman adalah membawa produk yang Bunda pakai saat berkonsultasi. Dokter atau bidan yang dapat menilai apakah produk itu sesuai dengan kondisi kehamilan Bunda.
Apakah asam salisilat aman untuk ibu hamil?
Kemenkes RI menyebut asam salisilat sebagai salah satu terapi jerawat yang harus dihindari pada ibu hamil dan mengategorikannya sebagai C, karena dapat menyebabkan perdarahan dan komplikasi lainnya pada wanita hamil. Obat kategori C masih dapat digunakan bila keuntungannya melebihi risiko yang mungkin terjadi, tetapi penilaian itu bukan keputusan yang bisa diambil sendiri di rumah. Konsultasikan dengan dokter atau bidan untuk keputusan yang sesuai dengan kondisi Anda.
Bolehkah ibu hamil memakai tabir surya setiap hari?
Kemenkes RI menganjurkan penggunaan tabir surya dengan SPF 30 ke atas setiap kali beraktivitas di luar ruangan maupun saat berada di dalam ruangan sebagai bagian dari pencegahan sunburn. WHO juga menganjurkan pemakaian tabir surya berspektrum luas pada area kulit yang tidak tertutup pakaian. WHO menekankan perlindungan terbaik justru didapat dengan berteduh dan memakai pakaian pelindung, bukan hanya mengandalkan tabir surya.
Apakah jerawat saat hamil itu normal?
Menurut Kemenkes RI, jerawat umumnya membaik selama trimester pertama tetapi dapat memburuk pada trimester ketiga akibat peningkatan konsentrasi hormon androgen ditambah produksi sebum yang berlebihan. Selain perubahan hormonal, faktor imunologi terkait kehamilan juga dapat berkontribusi. Ibu yang punya riwayat jerawat sebelum kehamilan cenderung lebih rentan mengalaminya saat hamil, jadi ini bukan tanda Bunda kurang merawat diri.
Bolehkah ibu hamil memakai krim pemutih racikan?
Sebaiknya tidak, terutama bila kandungannya tidak jelas. Kemenkes RI menyoroti bahwa kortikosteroid topikal menjadi salah satu komponen formula yang banyak digunakan secara tidak terkontrol untuk krim pemutih wajah, dan penggunaannya jangka panjang di wajah dapat menimbulkan efek samping seperti atrofi, striae, dermatitis perioral, hingga hiperpigmentasi. Bila Bunda ingin mengatasi flek saat hamil, bicarakan dulu dengan dokter spesialis kulit.
Kenapa kulit terasa kering dan gatal saat hamil?
Kemenkes RI menjelaskan bahwa wanita hamil biasanya mengalami gatal setelah kulit menjadi sangat kering dan meregang seiring pertumbuhan janin. Kekeringan kulit yang ekstrem kerap terasa di sekitar perut, bokong, dan paha. Menggaruk justru dapat memperparah rasa gatal, jadi bila keluhannya mengganggu sebaiknya konsultasikan ke dokter.
Apa langkah paling aman menyusun skincare saat hamil?
Sederhanakan rutinitas dan jangan mencoba banyak produk baru sekaligus, agar mudah menelusuri bila ada reaksi. Kemenkes RI sangat menyarankan ibu hamil yang memiliki jerawat untuk berobat ke dokter spesialis kulit terdekat sambil menjelaskan kondisi kehamilannya, supaya mendapat pengobatan yang sesuai. Manfaatkan juga sesi konseling yang tersedia pada setiap pemeriksaan kehamilan di fasilitas kesehatan.

Konten ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Untuk keputusan medis, hubungi dokter atau bidan Anda.

Punya pertanyaan seputar kehamilan?

Tanya lewat WhatsApp