Baru: alat cek usia dan milestone anak sudah bisa dipakai gratis. Coba sekarang

Artikel ini bagian dari panduan bayi baru lahir, halaman induk yang mengumpulkan seluruh bacaan untuk tahap ini.

ASI

ASI Booster Mom Uung: Isinya, Klaimnya, dan Cara Menilainya

Oleh Tim Redaksi Asuh AnakKebijakan Editorial· 13 menit baca· Terakhir diperbarui

Kapsul putih berserakan di atas talenan kayu
Suplemen pelancar ASI dalam bentuk kapsul perlu dicek izin edar dan komposisinya sebelum diminum. Foto: Mx. Granger / Wikimedia Commons, CC0

ASI Booster Mom Uung adalah suplemen berbentuk kapsul yang dipasarkan untuk ibu menyusui, dan karena namanya banyak dicari, halaman ini menjawabnya apa adanya: apa isinya, apa yang diklaim, apa yang bisa diverifikasi ke sumber resmi, dan bagaimana menilai klaim produk semacam ini secara umum. Asuh Anak tidak berafiliasi dengan Mom Uung, tidak menerima komisi, tidak menerima produk gratis, dan tidak menganjurkan pembelian. Yang kami lakukan hanyalah membaca halaman resminya, mencocokkan datanya ke basis data BPOM, lalu menempatkannya di samping apa yang dikatakan IDAI, Kemenkes RI, WHO, dan LactMed tentang pelancar ASI pada umumnya.

Perlu disampaikan sejak awal supaya harapannya wajar. Artikel ini tidak akan menyimpulkan bahwa produk ini bekerja atau tidak bekerja pada Bunda, karena tidak ada data yang memungkinkan kesimpulan seperti itu. Yang bisa kami lakukan adalah memisahkan tiga hal yang sering tercampur: fakta registrasi, klaim pemasaran, dan bukti ilmiah. Untuk pertanyaan yang lebih mendasar, yaitu siapa yang sebenarnya membutuhkan pelancar ASI, uraiannya ada di artikel pelancar ASI. Telaah bukti per bahan seperti kelor, katuk, dan fenugreek dibahas di artikel ASI booster.

Apa Itu ASI Booster Mom Uung dan Apa Isinya

Pada halaman resmi produk yang kami baca pada 3 September 2026, ASI Booster Mom Uung dijelaskan sebagai kapsul yang mengandung tiga bahan per kapsul, yaitu ekstrak Moringa oleifera folium atau daun kelor 200 mg, ekstrak Channa striata atau ikan gabus 200 mg, dan ekstrak Sauropus androgynus folium atau daun katuk 100 mg. Halaman yang sama mencantumkan nomor BPOM TR 213 337 751, nomor sertifikat halal, dan pilihan kemasan 30 serta 60 kapsul.

Isi satu kapsul ASI Booster Mom Uung menurut halaman resmi produk: ekstrak daun kelor 200 mg, ekstrak ikan gabus 200 mg, dan ekstrak daun katuk 100 mg, dengan komposisi yang cocok dengan catatan CekBPOM nomor TR213337751
Takaran per kapsul berasal dari halaman resmi produk, sedangkan nama ketiga ekstraknya kami cocokkan ke catatan CekBPOM. Angka ini adalah isi kapsul, bukan anjuran takaran. Diagram: Asuh Anak, berdasarkan halaman resmi Mom Uung dan BPOM RI (CekBPOM), ditelusuri 3 September 2026.

Komposisi itu cocok dengan yang tercatat di basis data resmi. Pada penelusuran kami di CekBPOM pada tanggal yang sama, nomor TR213337751 memunculkan produk MOM UUNG ASI BOOSTER dengan komposisi tercatat Channa Striata Ekstrak, Moringa Oleifera Folium Ekstrak, dan Sauropus Androgynus Folium Extract. Jadi untuk urusan bahan, apa yang tertulis di halaman produk dan apa yang tercatat di BPOM konsisten.

Yang diperiksaIsi menurut CekBPOM, 3 September 2026
Nomor izin edarTR213337751
Nama produkMOM UUNG ASI BOOSTER
KategoriObat Tradisional
Bentuk sediaanKapsul
KemasanDus, botol isi 30, 60, 100, dan 120 kapsul
Pendaftar dan produsenSaraka Mandiri Semesta, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
Masa berlakusampai 3 Februari 2031 pada catatan registrasi terbaru

Satu hal yang mungkin mengejutkan pembaca: nama perusahaan yang tercatat sebagai pendaftar dan produsen di BPOM berbeda dengan nama badan usaha yang tercantum di kaki halaman resminya. Ini bukan pertanda buruk dan lazim terjadi pada produk yang diproduksi lewat perusahaan manufaktur pihak ketiga, tetapi ia menjelaskan mengapa pencarian dengan nama merek saja kadang tidak langsung membawa Bunda ke catatan yang benar.

Apa Arti dan Apa Bukan Arti Nomor Izin Edar BPOM

Bagian ini berlaku untuk semua produk, bukan hanya yang satu ini, dan mungkin merupakan hal paling berguna dalam halaman ini.

Nomor izin edar menandakan sebuah produk sudah terdaftar dan boleh diedarkan di Indonesia. Ia tidak menandakan bahwa efek yang dijanjikan iklan sudah dibuktikan lewat uji klinis pada manusia. Kedua hal itu berbeda, dan bukti paling jelas bahwa keduanya berbeda justru datang dari BPOM sendiri.

Cara mengeceknya sendiri hanya butuh satu menit:

  1. Buka cekbpom.pom.go.id lewat peramban apa pun.
  2. Masukkan nomor izin edar dari kemasan pada kolom pencarian, atau nama produknya bila nomornya belum terbaca.
  3. Cocokkan hasilnya dengan kemasan yang Bunda pegang: nama produk, bentuk sediaan, komposisi, nama pendaftar, dan masa berlaku.
  4. Bila salah satu tidak cocok, atau nomornya tidak ditemukan sama sekali, jangan buru-buru membeli. Tanyakan dulu ke penjual dan, bila perlu, laporkan ke BPOM.

BPOM merangkum kebiasaan ini dalam imbauan Cek KLIK, yaitu memastikan kemasan dalam kondisi baik, mencermati informasi label termasuk komposisi, informasi nilai gizi, peruntukan, izin edar, serta nama dan alamat produsen, memastikan produk punya izin edar, memastikan produk belum kedaluwarsa, dan menghindari konsumsi produk dengan klaim, promosi, atau iklan yang berlebihan. Butir terakhir itu penting: BPOM sendiri memisahkan "punya izin edar" dari "klaimnya wajar".

Tiga hal yang sering tercampur.
  • Fakta registrasi: nomor izin edar, kategori, komposisi, produsen, masa berlaku. Bisa dicek sendiri di CekBPOM.
  • Klaim pemasaran: kalimat di halaman produk, kemasan, dan iklan. Belum tentu sama dengan yang disetujui saat registrasi.
  • Bukti ilmiah: hasil penelitian pada manusia untuk bahan tertentu, dengan takaran tertentu. Ini yang paling jarang tersedia untuk produk jadi.
Produk bisa lolos yang pertama tetapi lemah di yang ketiga. Itu bukan berarti produknya berbahaya, hanya berarti janjinya belum tentu terpenuhi.

Catatan Publik BPOM Februari 2025 dan Apa Cakupannya

Pada 19 Februari 2025, BPOM menerbitkan Penjelasan Publik Nomor HM.01.1.2.02.25.74 tentang isu minuman serbuk yang dipromosikan untuk ibu menyusui. Isinya perlu dibaca dengan cermat karena mudah dipelintir ke dua arah.

BPOM menyatakan telah menelusuri isu di media sosial dan menemukan tiga produk pangan yang terkait, yaitu Momsy, Mama Bear, dan Mom Uung. Menurut penelusuran data registrasi, Mom Uung terdaftar pada dua kategori sekaligus, yaitu sebagai minuman serbuk yang tidak diperuntukkan bagi ibu menyusui dan sebagai minuman khusus ibu menyusui. Pengujian laboratorium terhadap Mom Uung Mylkflow Minuman Berperisa Rasa Vanilla dengan nomor MD 867010156064 tidak mendeteksi pemanis buatan sukralosa. Komposisi ketiga produk juga disebut tidak menggunakan bahan tambahan pangan pemanis buatan.

Temuannya ada di sisi label dan iklan. BPOM menyatakan produk minuman serbuk Mom Uung mencantumkan peruntukan "Minuman Khusus Ibu Hamil dan Menyusui" serta klaim zat gizi yang tidak sesuai dengan label yang disetujui pada saat registrasi, ditambah klaim "ASI booster" sehingga seolah-olah ditujukan untuk dikonsumsi oleh ibu menyusui. BPOM juga menyatakan ketiga produk mencantumkan klaim yang tidak sesuai ketentuan seperti pernyataan "susu pelancar ASI", lalu menjatuhkan sanksi berupa pembatalan izin edar terhadap produk yang tidak memenuhi ketentuan, penghentian produksi dan peredaran termasuk penjualan daring, perintah penarikan, serta peringatan dan pelarangan penayangan iklan yang tidak memenuhi ketentuan.

Alur penjelasan BPOM Februari 2025: tiga produk minuman serbuk ditelusuri, Mom Uung Mylkflow tidak terdeteksi sukralosa, promosi ketiga produk memuat klaim tidak sesuai ketentuan seperti Susu pelancar ASI, lalu tiga jenis sanksi BPOM
Lolos uji laboratorium untuk satu parameter tidak sama dengan klaimnya sesuai persetujuan registrasi. Penjelasan ini membahas produk minuman serbuk, dan sanksinya disebut secara umum tanpa dirinci per produk. Diagram: Asuh Anak, berdasarkan BPOM RI, Penjelasan Publik Nomor HM.01.1.2.02.25.74 (19 Februari 2025).

Dua batasan penting supaya tidak salah baca. Pertama, penjelasan itu membahas produk minuman serbuk, bukan produk kapsul yang datanya kami tampilkan di bagian sebelumnya. Kedua, BPOM menyebutkan daftar sanksi secara umum untuk pelanggaran yang ditemukan, tanpa merinci sanksi mana dikenakan pada produk yang mana, jadi kami tidak menyimpulkan produk tertentu izin edarnya dicabut.

Nilainya untuk pembaca tetap besar. Kejadian itu memperlihatkan secara konkret bahwa sebuah produk bisa benar-benar terdaftar, lolos uji laboratorium untuk parameter tertentu, namun tetap dinilai memasarkan diri dengan klaim yang tidak sesuai persetujuan registrasi. Karena itu kalimat "sudah BPOM" pada iklan tidak menjawab pertanyaan "apakah klaimnya benar".

Apa Kata Bukti tentang Bahan-Bahannya

Karena produk ini kombinasi tiga bahan, kami memisahkan pembahasannya per bahan. Perlu diingat sejak awal bahwa bukti tentang satu bahan tidak otomatis membuktikan efektivitas formula jadi dengan takaran tertentu.

Daun kelor. LactMed, basis data obat dan laktasi milik National Institutes of Health, mencatat kelor telah digunakan sebagai laktogogue di Asia dan menyebut meta-analisis terbaru serta paling komprehensif yang mencakup 14 studi dengan 865 subjek menunjukkan kelor meningkatkan prolaktin serum serta volume dan kualitas ASI. Ini dukungan bukti terkuat di antara ketiga bahan. LactMed menambahkan manfaat jangka panjang bagi bayi yang disusui belum diteliti dengan baik, dan kelor dapat merangsang pembekuan darah sehingga kehati-hatian disarankan pada siapa pun yang berisiko tinggi mengalami pembekuan darah.

Daun katuk. LactMed mencatat daun katuk digunakan sebagai laktogogue di Indonesia dan Malaysia, dan penelitian pada hewan menunjukkan peningkatan ekspresi gen prolaktin dan oksitosin pada tikus menyusui. Namun untuk manusia, LactMed menilai penelitiannya mengandung kelemahan desain yang serius dan belum tentu membuktikan bahwa katuk adalah laktogogue. LactMed juga mencatat konsumsi daun katuk segar secara berlebihan dapat menyebabkan bronkiolitis obliterans yang berpotensi fatal, bahwa daun yang dimasak kemungkinan tidak menimbulkan efek racun serupa, dan bahwa dalam satu penelitian 3 sampai 5 persen perempuan yang menerima katuk mengalami peningkatan enzim hati.

Ekstrak ikan gabus. Di sini kami harus jujur soal batas penelusuran kami. Berbeda dengan kelor dan katuk yang punya monografi tersendiri di LactMed, kami tidak menemukan rujukan dari IDAI, Kemenkes RI, WHO, maupun monografi LactMed yang menempatkan ekstrak Channa striata sebagai laktogogue. Ini bukan pernyataan bahwa ikan gabus tidak bergizi, melainkan bahwa dukungan buktinya sebagai penambah produksi ASI tidak kami temukan pada rujukan yang kami periksa.

Perbandingan kekuatan bukti tiga bahan sebagai pelancar ASI: daun kelor terkuat dengan meta-analisis 14 studi dan 865 subjek, daun katuk belum tentu terbukti karena kelemahan desain studi, ekstrak ikan gabus tanpa rujukan sebagai laktogogue
Kekuatan bukti berbeda per bahan, dan bukti satu bahan tidak otomatis berlaku untuk formula jadi dengan takaran tertentu. Diagram: Asuh Anak, berdasarkan NIH LactMed (Moringa dan Sauropus androgynus) dan IDAI.

Di atas semua itu, LactMed menempatkan satu kalimat pada monografi laktogogue yang layak jadi pegangan: laktogogue tidak boleh menggantikan evaluasi dan konseling terhadap faktor-faktor yang bisa diperbaiki yang memengaruhi produksi ASI. IDAI sampai pada kesimpulan yang sama, bahwa sebelum menggunakan laktogogue sebaiknya memperbaiki dulu teknik menyusui dan faktor lain penyebab kurangnya produksi ASI. Langkah teknisnya dibahas di artikel cara memperlancar ASI, dan gambaran menyeluruh perjalanan menyusui ada di panduan ASI.

Satu catatan keamanan yang perlu disampaikan. Halaman resmi produk yang kami baca pada 3 September 2026 memuat anjuran mencampurkan setengah kapsul ke dalam makanan bayi. Kami tidak menemukan rujukan dari IDAI, Kemenkes RI, atau WHO yang menganjurkan pemberian suplemen herbal kepada bayi, dan LactMed mencatat adanya laporan keracunan terkait konsumsi berlebihan daun katuk segar pada orang dewasa. Bayi bukan orang dewasa berukuran kecil. Jangan memberikan kapsul, ekstrak herbal, atau suplemen apa pun kepada bayi tanpa persetujuan dokter anak, termasuk sebagai campuran makanan pendamping ASI.

Cara Menilai Klaim Suplemen Pelancar ASI Secara Umum

Daftar berikut bisa dipakai untuk produk mana pun, bukan hanya yang dibahas di sini. Semuanya berangkat dari catatan lembaga rujukan.

Bedakan "terdaftar" dari "terbukti". Sudah diuraikan di atas, dan ini sumber kesalahpahaman terbesar.

Curigai janji yang terlalu rapi. BPOM secara eksplisit mengimbau masyarakat menghindari konsumsi produk dengan klaim, promosi, atau iklan yang berlebihan. Kalimat seperti "tanpa efek samping", "dijamin berhasil", atau "hasil cepat" adalah jenis janji yang jarang bisa ditepati suplemen mana pun.

Ingat bahwa isi kemasan tidak selalu sama dengan label. LactMed mencatat bahwa suplemen makanan tidak memerlukan persetujuan pra-pemasaran yang ketat dari otoritas obat dan makanan Amerika Serikat, bahwa produsen bertanggung jawab memastikan keamanan tetapi tidak perlu membuktikan keamanan dan efektivitas sebelum dipasarkan, dan bahwa sering ditemukan perbedaan antara bahan yang tertera di label dengan bahan atau jumlah yang sebenarnya. Konsekuensinya, hasil uji pada satu produk belum tentu berlaku untuk produk lain meski bahan utamanya sama.

Perlakukan testimoni sebagai cerita, bukan data. Pengalaman pengguna berguna untuk hal praktis seperti rasa, ukuran kapsul, atau toleransi pencernaan. Untuk efektivitas, ia bercampur dengan banyak hal yang berubah bersamaan: frekuensi menyusui, perbaikan pelekatan, jarak waktu dari persalinan, istirahat, dan dukungan keluarga.

Ingat bahwa apa yang ibu minum bisa sampai ke bayi. IDAI mencatat umumnya sekitar 1 persen dosis obat ibu akan sampai ke bayi lewat ASI, dan ada sejumlah kecil obat yang benar-benar dilarang selama menyusui karena dapat berpengaruh buruk pada bayi atau memengaruhi produksi ASI. Karena itu IDAI menyarankan ibu menyusui berkonsultasi ke dokter sebelum minum obat.

Periksa apakah Bunda memang termasuk yang diindikasikan. IDAI menyebut indikasi laktogogue pada umumnya adalah induksi menyusui pada ibu dengan bayi adopsi, relaktasi, dan peningkatan produksi yang berkurang karena ibu atau bayi sakit atau setelah terpisah, dengan alasan tersering berupa ibu yang bayinya prematur atau sakit dan dirawat intensif.

Kapan Sebaiknya ke Konselor Laktasi atau Dokter

Kalau ada satu tindakan yang paling mungkin mengubah keadaan, ini dia, dan biayanya jauh lebih kecil daripada berlangganan suplemen.

Kemenkes RI menyarankan ibu menghubungi konselor menyusui di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat atau mengakses telekonseling menyusui bila mengalami keraguan atau kendala terkait menyusui. WHO menempatkan konseling menyusui untuk semua keluarga dengan anak di bawah 2 tahun sebagai bagian dari dukungan berbasis bukti yang perlu diperluas, bukan layanan tambahan yang opsional.

Jangan menunda bila muncul keadaan berikut: berat badan bayi tidak naik sesuai pemantauan pertumbuhan, bayi jarang buang air kecil, bayi tampak sangat mengantuk dan sulit dibangunkan untuk menyusu, puting lecet sampai berdarah, atau payudara bengkak disertai demam. Bunda juga sebaiknya berkonsultasi lebih dulu sebelum memulai suplemen apa pun bila memiliki kondisi seperti diabetes, gangguan pembekuan darah, asma, atau gangguan hati, atau sedang mengonsumsi obat rutin.

Catatan Bunda. Kalau setelah membaca semua ini Bunda tetap memilih mencoba produknya, itu keputusan Bunda dan bukan sesuatu yang perlu dipertanggungjawabkan kepada siapa pun. Yang kami sarankan hanya tiga hal: cocokkan nomor dan komposisi pada kemasan lewat CekBPOM, bicarakan dulu dengan bidan, dokter, atau konselor laktasi bila Bunda punya kondisi medis atau minum obat lain, dan jangan mengurangi frekuensi menyusui karena merasa produk sudah mengurus pasokan ASI. Pengosongan payudara tetap mesin utamanya.

Pertanyaan seputar menyusui lainnya bisa ditelusuri di kategori ASI. Bila ada pertanyaan yang muncul tengah malam saat semua tempat tutup, Asisten Bunda bisa membantu menyusun pertanyaan yang tepat untuk dibawa ke tenaga kesehatan esok harinya, bukan menggantikan pemeriksaannya.

Sumber

Artikel ini disusun sebagai edukasi konsumen dan bukan pengganti pemeriksaan tenaga kesehatan. Asuh Anak tidak berafiliasi dengan Mom Uung, tidak menerima komisi, dan tidak menerima produk untuk ulasan ini. Data registrasi, komposisi, dan klaim produk di atas ditelusuri pada 3 September 2026 dan dapat berubah sewaktu-waktu, jadi selalu cocokkan ulang dengan kemasan dan basis data CekBPOM sebelum membeli. Halaman ini tidak menganjurkan atau melarang pembelian produk mana pun dan tidak menyebutkan takaran sebagai anjuran. Keputusan mengonsumsi suplemen atau obat pelancar ASI harus dibicarakan lebih dulu dengan bidan, dokter, atau konselor laktasi, terutama bila Bunda memiliki kondisi medis tertentu atau sedang mengonsumsi obat lain, dan tidak ada suplemen yang boleh diberikan kepada bayi tanpa persetujuan dokter anak.

Pertanyaan yang sering muncul

Apa itu ASI Booster Mom Uung?
Berdasarkan penelusuran kami di basis data CekBPOM pada 3 September 2026, nomor izin edar TR213337751 terdaftar atas nama produk MOM UUNG ASI BOOSTER berbentuk kapsul, kategori obat tradisional, dengan pendaftar dan produsen tercatat Saraka Mandiri Semesta di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Komposisi yang tercatat pada basis data itu adalah ekstrak Channa striata, ekstrak Moringa oleifera folium, dan ekstrak Sauropus androgynus folium, atau dalam bahasa sehari-hari ekstrak ikan gabus, daun kelor, dan daun katuk. Asuh Anak tidak berafiliasi dengan produk ini dan tidak menerima komisi apa pun.
Apakah nomor BPOM berarti produk terbukti menambah ASI?
Tidak. Nomor izin edar menandakan produk sudah terdaftar dan boleh diedarkan, bukan bahwa efeknya sudah dibuktikan lewat uji klinis. Bukti bahwa keduanya berbeda datang dari BPOM sendiri: dalam penjelasan publik 19 Februari 2025, BPOM menyatakan ada produk minuman serbuk terdaftar yang labelnya mencantumkan klaim tidak sesuai dengan label yang disetujui saat registrasi. BPOM juga mengimbau masyarakat menghindari konsumsi produk dengan klaim, promosi, atau iklan yang berlebihan.
Bagaimana cara saya mengecek sendiri izin edar sebuah produk?
Buka cekbpom.pom.go.id, masukkan nomor izin edar atau nama produk pada kolom pencarian, lalu bandingkan hasilnya dengan kemasan. Yang perlu dicocokkan bukan hanya ada atau tidaknya nomor itu, melainkan juga nama produk, bentuk sediaan, komposisi, nama pendaftar, dan masa berlaku. Bila nama atau komposisi pada kemasan berbeda dengan yang tercatat, itu alasan untuk berhati-hati dan bertanya lebih dulu.
Apa kata bukti ilmiah tentang bahan-bahannya?
Berbeda-beda per bahan. Untuk daun kelor, LactMed milik National Institutes of Health menyebut meta-analisis terbaru dan paling komprehensif atas 14 studi dengan 865 subjek menunjukkan kenaikan prolaktin serum serta volume dan kualitas ASI. Untuk daun katuk, LactMed menilai penelitian pada manusia mengandung kelemahan desain yang serius dan belum tentu membuktikan efeknya. Untuk ekstrak ikan gabus, kami tidak menemukan rujukan dari IDAI, Kemenkes RI, WHO, maupun monografi LactMed yang menempatkannya sebagai laktogogue.
Apakah halaman produk boleh menganjurkan mencampurkan kapsul ke makanan bayi?
Halaman resmi produk yang kami baca pada 3 September 2026 memuat anjuran mencampurkan setengah kapsul ke dalam makanan bayi. Kami tidak menemukan rujukan dari IDAI, Kemenkes RI, atau WHO yang menganjurkan pemberian suplemen herbal kepada bayi. LactMed juga mencatat konsumsi daun katuk segar secara berlebihan dapat menyebabkan bronkiolitis obliterans, gangguan paru yang berpotensi fatal. Jangan memberikan suplemen apa pun kepada bayi tanpa persetujuan dokter anak.
Siapa yang sebenarnya membutuhkan pelancar ASI atau laktogogue?
Menurut IDAI, indikasi laktogogue pada umumnya adalah ibu yang ingin menyusui bayi adopsi, relaktasi atau menyusui kembali setelah berhenti, dan meningkatkan produksi yang kurang lancar karena ibu atau bayi sakit atau setelah dipisahkan. Alasan tersering pemakaiannya adalah produksi ASI yang berkurang pada ibu dengan bayi prematur atau bayi sakit yang dirawat di unit perawatan intensif. IDAI juga menyarankan agar sebelum memakai laktogogue, teknik menyusui dan faktor lain yang mungkin menjadi penyebab kurangnya produksi ASI diperbaiki lebih dulu.
Kalau begitu, apa yang sebaiknya saya lakukan saat ASI terasa kurang?
IDAI menegaskan bahwa sebelum menggunakan laktogogue sebaiknya perbaiki dulu teknik menyusui dan faktor lain yang mungkin menjadi penyebab kurangnya produksi ASI. Kemenkes RI menyarankan menghubungi konselor menyusui di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat atau mengakses telekonseling menyusui bila ada keraguan atau kendala. Bila Bunda tetap ingin mencoba suplemen, bicarakan dulu dengan bidan, dokter, atau konselor laktasi, terutama bila punya kondisi medis atau sedang mengonsumsi obat lain.

Konten ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Untuk keputusan medis, hubungi dokter atau bidan Anda.

Punya pertanyaan seputar asi?

Tanya lewat WhatsApp