Co Parenting Adalah: Arti, Prinsip, dan Cara Menjalankannya
Jawaban singkat. Co parenting adalah kerja sama kedua orang tua dalam mengasuh anak, yaitu cara orang tua berkomunikasi dan membuat kesepakatan pengasuhan sambil saling berkoordinasi dan mendukung sebagai satu tim. Istilah ini paling sering dipakai untuk orang tua yang sudah berpisah, tetapi prinsipnya berlaku juga bagi ayah dan ibu yang masih serumah.
Oleh Tim Redaksi Asuh Anak· 11 menit baca· Terakhir diperbarui

Istilah co parenting adalah sebutan untuk kerja sama kedua orang tua dalam mengasuh anak. Penelitian keluarga mendefinisikannya sebagai cara orang tua berkomunikasi dan membuat kesepakatan terkait pengasuhan anak, dengan menekankan pentingnya saling berkoordinasi dan mendukung, bertindak sebagai satu tim. Istilah ini paling sering dipakai untuk orang tua yang sudah berpisah, tetapi prinsipnya berlaku juga bagi ayah dan ibu yang masih serumah.
Mungkin Bunda sedang mencari istilah ini karena baru berpisah dan bingung bagaimana tetap mengasuh bersama tanpa terus bertengkar. Atau mungkin Bunda dan pasangan masih serumah, tetapi merasa sering tidak kompak soal aturan untuk si kecil. Artikel ini membahas arti co-parenting menurut penelitian, kenapa kerja sama orang tua penting bagi anak, tiga pegangan yang dipakai orang tua yang berhasil, contoh kesepakatan praktis, cara melibatkan anak tanpa membebaninya, sampai kapan perlu bantuan profesional. Gambaran besar tentang gaya pengasuhan bisa Bunda baca lebih dulu di artikel parenting adalah.
Co parenting adalah kerja sama, bukan sekadar berbagi jadwal
Banyak orang mengira co-parenting cuma soal membagi jadwal anak menginap di rumah ayah atau ibu. Padahal definisinya lebih luas. Kajian di jurnal International Journal of Environmental Research and Public Health tahun 2024 menjelaskan co-parenting sebagai cara orang tua berkomunikasi dan membuat kesepakatan terkait pengasuhan, dan menekankan pentingnya saling berkoordinasi serta mendukung sebagai satu tim.
Dari definisi itu ada tiga unsur yang bisa Bunda jadikan cermin. Pertama, komunikasi: apakah kedua orang tua bisa membicarakan urusan anak dengan tenang. Kedua, kesepakatan: apakah ada aturan dan pengaturan yang disetujui bersama. Ketiga, dukungan: apakah masing-masing mendukung peran pihak lain di depan anak, atau justru saling melemahkan.
Kajian yang sama menjelaskan bahwa pada konflik antarorang tua yang tinggi, komunikasi menjadi sangat sulit dan dikaitkan dengan stres pengasuhan, sehingga hubungan co-parenting yang memadai sulit dicapai. Artinya, co-parenting bukan kondisi yang ada atau tidak ada, melainkan kualitas yang bisa naik dan turun. Kabar baiknya, kualitas itu bisa diperbaiki sedikit demi sedikit.
Kenapa kerja sama orang tua penting bagi anak?
Kajian di jurnal Frontiers in Psychology tahun 2022 menyebut cara orang tua bekerja sama dalam tugas pengasuhan sebagai penentu penting kualitas hubungan orang tua dan anak, penyesuaian diri anak yang positif, dan kualitas hubungan keluarga besar setelah perceraian. Kajian itu juga menyebut kualitas hubungan co-parenting sebagai salah satu faktor paling kuat dalam menjelaskan penyesuaian psikososial keluarga setelah pernikahan berakhir.
Konflik adalah kata kuncinya. Menurut kajian tersebut, konflik yang rendah antara orang tua diakui sebagai faktor pelindung yang membantu anak menghadapi perceraian orang tuanya dengan lebih baik. Co-parenting yang kooperatif dan rendah konflik ditandai kemampuan orang tua menyisihkan konflik pribadi mereka agar bisa mengoordinasikan pengasuhan anak secara efektif, dan pola ini mendukung ketangguhan anak.
Penelitian lain memperkuat gambaran itu dari sisi remaja. Studi terhadap 191 remaja dan 227 orang tua yang bercerai di Belanda, yang terbit di Journal of Youth and Adolescence tahun 2024, menemukan bahwa orang tua bercerai yang lebih kooperatif dan lebih sedikit berkonflik memiliki anak yang secara umum melaporkan rasa otonomi yang lebih besar. Rasa memiliki terhadap keluarga, menurut studi yang sama, lebih terkait dengan kehangatan dan dukungan otonomi dari masing-masing orang tua.
Ada juga sisi yang sering luput: anak belajar mengelola emosi dengan meniru orang tuanya. Kajian IJERPH 2024 menjelaskan bahwa orang tua menyosialisasikan emosi kepada anak, sengaja maupun tidak, dengan memperlihatkan cara mereka mengungkapkan, mengelola, dan menyelesaikan konflik mereka sendiri, sehingga orang tua menjadi teladan bagi anak dalam memahami dan mengelola emosi. Jadi cara ayah dan ibu berselisih, lalu berdamai, ikut menjadi pelajaran bagi anak.
Tiga pegangan co-parenting yang rendah konflik
Apa yang dilakukan orang tua yang berhasil tetap kompak setelah berpisah? Kajian Frontiers in Psychology 2022 merujuk penelitian Stolnicu dan Hendrick (2017) yang menelaah pengalaman orang tua yang merasa berhasil melewati perpisahan. Dari pengalaman mereka, co-parenting rendah konflik dirumuskan sebagai proses tiga dimensi yang terus berkembang, dengan tiga pegangan: tetap menjadi orang tua seumur hidup, bertindak demi kepentingan terbaik anak, dan mengelola perbedaan pendapat.
| Pegangan | Artinya dalam keseharian | Contoh sikap |
|---|---|---|
| Tetap orang tua seumur hidup | Peran sebagai ayah dan ibu tidak ikut berakhir bersama hubungan pasangan | Tetap hadir di momen penting anak, seperti imunisasi atau pentas sekolah |
| Utamakan kepentingan terbaik anak | Keputusan dinilai dari dampaknya pada anak | Mengalah soal jadwal kecil demi rutinitas tidur anak yang stabil |
| Kelola perbedaan pendapat | Perselisihan dibicarakan dan diselesaikan, tidak dibiarkan meluas | Membahas perbedaan lewat pesan tertulis yang tenang, bukan di depan anak |
Ketiga pegangan ini tidak menuntut orang tua menjadi teman dekat lagi. Yang dituntut adalah kesediaan bekerja sama untuk satu tujuan yang sama, yaitu anak. Karena prosesnya terus berkembang, wajar bila ada masa naik dan turun. Yang penting, arah umumnya menuju kerja sama yang lebih baik.
Kesepakatan apa yang perlu dibuat bersama?
Kesepakatan tertulis membantu mengurangi salah paham, terutama bila anak berpindah antara dua rumah. Tidak perlu dokumen resmi, cukup catatan bersama yang disetujui kedua pihak dan diperbarui bila kebutuhan anak berubah. Berikut contoh area yang biasanya perlu disepakati.
| Area | Hal yang disepakati | Contoh |
|---|---|---|
| Rutinitas harian | Jam tidur, waktu layar, pola makan | Jam tidur sama di kedua rumah |
| Kesehatan | Jadwal imunisasi, kontrol, obat, catatan buku KIA | Buku KIA ikut berpindah bersama anak |
| Pendidikan | Sekolah, les, pertemuan dengan guru | Bergantian hadir di pertemuan wali kelas |
| Pengasuhan bayi | ASI perah, MPASI, jadwal tidur | Cara menyimpan dan mengantar ASI perah disepakati |
| Komunikasi | Saluran dan waktu membicarakan urusan anak | Pesan tertulis untuk hal rutin, telepon untuk hal mendesak |
Urusan kesehatan layak mendapat perhatian khusus. Catatan imunisasi dan pertumbuhan anak tersimpan di buku KIA, jadi sepakati siapa yang membawanya dan bagaimana hasilnya dibagikan. Jadwal vaksin bisa dipantau bersama lewat tools Jadwal Imunisasi, dan hasil penimbangan bulanan di posyandu balita bisa dicatat di tracker tumbuh kembang supaya kedua orang tua melihat data yang sama. Bila bayi masih menyusu dan berpindah rumah, pedoman berapa lama ASI bertahan di suhu ruang dan penggunaan kantong ASI membantu kedua pihak menangani ASI perah dengan aman.
Kesepakatan juga perlu ditinjau ulang secara berkala. Kebutuhan bayi yang masih menyusu sangat berbeda dengan kebutuhan anak prasekolah atau anak yang mulai bersekolah, sehingga aturan yang cocok tahun lalu bisa jadi sudah tidak relevan. Tetapkan waktu peninjauan, misalnya setiap kali anak memasuki tahap usia baru atau setiap pergantian semester. Bahas satu area dalam satu waktu agar percakapan tidak melebar, dan catat perubahan yang disepakati supaya tidak ada yang merasa aturan diubah sepihak. Kebiasaan meninjau bersama ini melatih komunikasi yang menjadi unsur pertama co-parenting.
Melibatkan anak tanpa membebaninya
Anak berhak didengar. Namun kajian Frontiers in Psychology 2022 mencatat para praktisi membedakan antara mendorong anak mengungkapkan pengalamannya dan memberinya kekuasaan mengambil keputusan. Memberi anak kuasa memutuskan disebut sebagai beban yang terlalu berat dan sumber rasa tidak aman. Ucapan anak juga tidak boleh dipakai dalam konflik antarorang tua, dan orang tua tetap perlu bertindak demi kepentingan terbaik anak, meskipun berbeda dengan apa yang anak katakan ia inginkan.
Contohnya, bila anak berkata tidak mau lagi menginap di rumah salah satu orang tua, kajian itu menyarankan agar alasannya dipahami dan berbagai kemungkinan dipertimbangkan, bukan langsung dituruti atau langsung ditolak. Kajian yang sama juga mencatat bahwa konflik antarorang tua dapat membuat anak menghadapi konflik kesetiaan yang berat, misalnya merasa tidak boleh menghargai orang tua tiri.
Cara orang tua menanggapi emosi anak juga penting. Kajian IJERPH 2024 merangkum empat pola: melatih emosi, yaitu menerima ungkapan emosi anak sambil mengajarinya tentang emosi; menerima emosi negatif anak; menolak emosi negatif anak; dan merasa ragu atau tidak efektif, yaitu menerima emosi negatif tetapi kurang membimbing anak melewatinya. Pola pertama adalah bentuk sosialisasi emosi yang paling aktif. Dalam masa perpisahan, anak sering sedih, marah, atau bingung, dan menerima perasaan itu sambil membantunya memberi nama pada emosinya adalah langkah yang lebih menolong daripada meminta anak berhenti menangis.
Studi Journal of Youth and Adolescence 2024 memberi gambaran sikap yang membantu: orang tua idealnya berinteraksi dengan hangat dan peka, mengakui sudut pandang anak, memberi pilihan, dan mendorong anak menjelajah. Orang tua yang mendukung otonomi membiarkan atau menerima perbedaan pendapat dan tetap menyemangati anak. Untuk anak kecil, versi sederhananya adalah mendengarkan perasaannya dengan sabar, lalu orang dewasa yang mengambil keputusan.
Bagaimana saat konflik tinggi dan kapan butuh bantuan?
Tidak semua pasangan bisa langsung kompak. Kajian Frontiers in Psychology 2022 menjelaskan konflik dapat berakar pada respons psikologis terhadap rasa ditinggalkan, dikhianati, marah, terluka, atau dipermalukan. Konflik soal keuangan juga bisa menyimpan rasa sakit dan ketidakadilan yang membuat dialog makin sulit. Kajian itu juga mencatat orang tua bisa berada di tahap duka yang berbeda: pihak yang memulai perpisahan mungkin sudah memikirkannya bertahun-tahun, sementara pihak lain baru mulai memprosesnya.
Ketegangan ini merembet ke pengasuhan. Kajian IJERPH 2024 menjelaskan efek limpahan: perselisihan, tekanan, dan ketegangan yang terus-menerus dalam hubungan pasangan akan menghambat fungsi co-parenting, dan kesulitan itu dapat melemahkan kemampuan mengasuh masing-masing orang tua. Studi yang sama menemukan orang tua dengan lebih sedikit gejala fisik dan psikologis menunjukkan lebih banyak perilaku yang membantu anak memahami dan mengelola emosi. Jadi merawat kesehatan diri sendiri juga bagian dari mengasuh.
Bila konflik terus berulang, bantuan profesional seperti psikolog atau konselor keluarga bisa membantu kedua pihak menemukan cara berkomunikasi yang lebih aman. Untuk urusan hukum seperti hak asuh dan nafkah, mintalah nasihat dari penasihat hukum atau lembaga yang berwenang, karena artikel ini tidak membahas aspek hukumnya.
Co-parenting saat masih serumah
Walaupun penelitian paling banyak membahas orang tua yang berpisah, pasangan yang masih serumah juga menjalankan co-parenting setiap hari. Efek limpahan yang dijelaskan kajian IJERPH 2024 berlaku di sini juga: ketegangan terus-menerus antara suami dan istri dapat menghambat kekompakan dalam mengasuh. Sebaliknya, pasangan yang saling mendukung memudahkan masing-masing menjalankan perannya.
Masa bayi adalah waktu yang tepat untuk mulai berlatih. Bagi tugas secara jelas, misalnya siapa yang menyiapkan perlengkapan saat bayi terbangun malam, siapa yang mengantar ke posyandu, dan siapa yang memantau jadwal imunisasi campak atau vaksin lain. Bila Bunda menyusui, dukungan pasangan bisa berupa hal sederhana seperti membantu menyiapkan pumping ASI atau mengambil alih pekerjaan rumah agar Bunda bisa beristirahat.
Beberapa kebiasaan praktis bisa dicoba bersama pasangan. Sediakan waktu singkat setiap minggu untuk membahas urusan anak, misalnya jadwal kontrol, kebutuhan sekolah, atau perubahan pola tidur, supaya keputusan tidak diambil terburu-buru di tengah kelelahan. Sepakati siapa yang memegang catatan kesehatan anak dan di mana catatan itu disimpan. Saat salah satu pihak menegakkan aturan, pihak lain sebaiknya mendukung di depan anak, lalu membicarakan keberatan secara pribadi bila ada.
Satu kebiasaan kecil yang berdampak besar: bicarakan perbedaan pendapat soal aturan anak di luar pendengaran anak, lalu sampaikan keputusan bersama dengan satu suara. Anak yang melihat orang tuanya kompak lebih mudah memahami aturan. Untuk pertanyaan seputar pengasuhan sehari-hari, Bunda bisa berdiskusi awal dengan Asisten Tanya Bunda, dan membaca panduan tumbuh kembang anak atau kategori Parenting di Asuh Anak.
Sumber
- Physical and Psychological Symptomatology, Co-Parenting, and Emotion Socialization in High-Conflict Divorces: A Profile Analysis, Int J Environ Res Public Health 2024 (PMC)
- Healing the Separation in High-Conflict Post-divorce Co-parenting, Frontiers in Psychology 2022 (PMC)
- Parenting, Coparenting, and Adolescents' Sense of Autonomy and Belonging After Divorce, Journal of Youth and Adolescence 2024 (PMC)
- Kementerian PPPA - Layanan SAPA 129
Artikel ini disusun untuk edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan psikolog, konselor keluarga, atau penasihat hukum. Setiap keluarga punya situasi yang berbeda, sehingga cara menjalankan co-parenting sebaiknya disesuaikan dengan kondisi anak dan kedua orang tua, dan bila perlu didampingi tenaga profesional.
Pertanyaan yang sering muncul
Co parenting adalah apa?
Apa bedanya co-parenting dengan parenting biasa?
Apakah co-parenting hanya untuk orang tua yang bercerai?
Kenapa co-parenting penting bagi anak?
Apa tiga pegangan co-parenting yang rendah konflik?
Bolehkah anak ikut menentukan tinggal dengan ayah atau ibu?
Ke mana mencari bantuan kalau konflik sudah melibatkan kekerasan?
Konten ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Untuk keputusan medis, hubungi dokter atau bidan Anda.
Punya pertanyaan seputar parenting?
Tanya lewat WhatsApp

