Baru: alat cek usia dan milestone anak sudah bisa dipakai gratis. Coba sekarang

Artikel ini bagian dari panduan bayi baru lahir, halaman induk yang mengumpulkan seluruh bacaan untuk tahap ini.

Imunisasi

Imunisasi Campak: Jadwal MR, Reaksi Wajar, dan Kalau Terlewat

Jawaban singkat. Imunisasi campak di Indonesia diberikan lewat vaksin campak-rubela (MR) yang sekaligus melindungi anak dari campak dan rubela. Menurut Kemenkes RI, vaksin MR diberikan pada usia 9 bulan, 18 bulan, dan saat anak duduk di kelas 1 SD atau sederajat. Kalau ada dosis yang terlewat, jadwalnya masih bisa dikejar.

Oleh Tim Redaksi Asuh AnakKebijakan Editorial· 12 menit baca· Terakhir diperbarui

Seorang ibu memperlihatkan kartu vaksinasi anaknya yang sudah mendapat vaksin campak
Kartu atau buku catatan imunisasi membantu memastikan dosis campak berikutnya tidak terlewat. Foto: IBRAHOUA / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Imunisasi campak di Indonesia diberikan lewat vaksin campak-rubela atau MR, yang sekaligus melindungi anak dari campak dan rubela. Menurut Kemenkes RI, vaksin MR diberikan pada usia 9 bulan, 18 bulan, dan saat anak duduk di kelas 1 SD atau sederajat, sebagai bagian dari imunisasi rutin lengkap program pemerintah. Kalau ada dosis yang terlewat, jadwalnya masih bisa dikejar, jadi tidak perlu panik.

Mungkin Bunda baru saja membuka buku KIA dan melihat kolom "Campak Rubela" yang masih kosong, atau mendengar kabar ada anak tetangga yang sakit campak. Artikel ini merangkum apa itu campak, kenapa imunisasinya dilakukan tiga kali, perbedaan jadwal versi pemerintah dan IDAI, reaksi yang wajar setelah suntik, sampai kapan perlu segera ke tenaga kesehatan. Untuk melihat seluruh jadwal vaksin si kecil berdasarkan tanggal lahirnya, Anda bisa memakai tools Jadwal Imunisasi.

Apa itu campak dan kenapa perlu dicegah dengan imunisasi?

Campak adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus. Kemenkes RI menjelaskan bahwa penyakit campak rubela disebabkan oleh virus campak dan virus rubela, dan menular melalui percikan ludah penderita saat batuk, bersin, dan berbicara. Gejala yang paling dikenal orang tua adalah demam dan bintik kemerahan di kulit.

Yang membuat campak diwaspadai adalah daya tularnya. WHO menyebut campak sebagai salah satu penyakit paling menular di dunia: virusnya tetap aktif di udara atau di permukaan benda sampai dua jam, dan satu orang yang terinfeksi dapat menularkan ke sampai 18 orang lain. Artinya, satu anak yang belum terlindungi di kelompok bermain bisa menjadi pintu masuk wabah.

Angka globalnya juga tidak kecil. WHO mencatat pada 2024 ada sekitar 95.000 kematian akibat campak di dunia, kebanyakan pada anak di bawah 5 tahun yang belum diimunisasi atau imunisasinya belum lengkap. Di sisi lain, WHO menyebut imunisasi campak telah mencegah hampir 59 juta kematian antara tahun 2000 dan 2024. Dua angka ini menunjukkan hal yang sama dari arah berlawanan: vaksinnya bekerja, dan yang paling berisiko adalah anak yang belum mendapatkannya.

Satu hal lagi yang jarang disadari orang tua, WHO menjelaskan bahwa campak juga melemahkan sistem kekebalan dan dapat membuat tubuh "lupa" cara melindungi diri dari infeksi lain. Jadi dampaknya bisa terasa bahkan setelah ruamnya hilang. Karena itulah imunisasi campak ditempatkan di jadwal wajib sejak usia bayi, berdampingan dengan vaksin lain yang sudah lebih dulu diberikan seperti vaksin PCV.

Ringkasan singkat. Imunisasi campak di Indonesia memakai vaksin MR (campak-rubela). Program pemerintah memberikannya pada usia 9 bulan, 18 bulan, dan kelas 1 SD. Campak sangat menular, dan menurut WHO anak bisa menularkan sejak 4 hari sebelum ruam muncul.

Gejala campak dan perjalanan penyakitnya

Mengenali gejala campak membantu Bunda bertindak lebih cepat, terutama karena anak sudah bisa menularkan sebelum ruam terlihat. WHO menyebut gejala biasanya mulai 7 sampai 14 hari setelah terpapar virus. Gejala awal berlangsung 4 sampai 7 hari, berupa demam, pilek, batuk, mata merah dan berair, serta bintik putih kecil di bagian dalam pipi.

Ruam muncul 3 sampai 5 hari setelah gejala pertama, biasanya dimulai di wajah dan leher bagian atas. Dalam kira-kira 3 hari ruam menyebar ke bawah, ke badan, lengan, tungkai, sampai kaki, dan biasanya bertahan 4 sampai 8 hari sebelum memudar. Kemenkes RI juga menyebut ruam campak mulai dari wajah dan telinga, kemudian menyebar ke seluruh tubuh, dan bintik Koplik berupa bintik putih kecil di dalam mulut sebagai salah satu tanda khasnya.

Diagram tiga tahap campak: 7 sampai 14 hari tanpa gejala setelah terpapar, gejala awal 4 sampai 7 hari, lalu ruam 4 sampai 8 hari, dengan masa menular 4 hari sebelum sampai 4 hari sesudah ruam
Tahapan campak menurut WHO. Pita merah muda menandai masa anak bisa menularkan, yang dimulai sebelum ruam terlihat. Diagram: Asuh Anak, berdasarkan WHO Measles fact sheet.
TahapPerkiraan waktu (WHO)Yang biasanya terlihat
Setelah terpapar7 sampai 14 hariBelum ada gejala, anak tampak sehat
Gejala awal4 sampai 7 hariDemam, pilek, batuk, mata merah berair, bintik putih di pipi dalam
RuamMuncul 3 sampai 5 hari setelah gejala awal, bertahan 4 sampai 8 hariRuam mulai di wajah dan leher atas, menyebar ke badan dan kaki
Masa menular4 hari sebelum sampai 4 hari sesudah ruam munculAnak bisa menularkan meski ruam belum tampak

Perhatikan baris terakhir tabel. Karena masa menular dimulai sebelum ruam muncul, anak yang "baru demam dan pilek" bisa saja sudah menularkan. Inilah alasan perlindungan paling andal adalah imunisasi sebelum anak terpapar, bukan menunggu gejala.

Komplikasi campak dan rubela yang perlu diketahui

Banyak orang menganggap campak sebagai penyakit anak yang "pasti dialami" dan akan sembuh sendiri. Kenyataannya, WHO menegaskan bahwa sebagian besar kematian akibat campak disebabkan oleh komplikasinya, antara lain kebutaan, ensefalitis (radang otak), diare berat dengan dehidrasi, infeksi telinga, dan gangguan napas berat termasuk pneumonia.

Menurut WHO, komplikasi paling sering terjadi pada anak di bawah 5 tahun dan orang dewasa di atas 30 tahun, dan lebih mungkin muncul pada anak yang kurang gizi, terutama yang kekurangan vitamin A atau daya tahannya lemah. Bagi Bunda yang sedang memantau berat badan bayi, ini pengingat bahwa gizi yang baik dan imunisasi saling menguatkan. Kemenkes RI juga memasukkan gizi buruk ke dalam daftar komplikasi campak, dan hubungan infeksi berulang dengan gangguan pertumbuhan dibahas lebih jauh di artikel pencegahan stunting.

Rubela, pasangan campak di dalam vaksin MR, punya bahaya yang berbeda. Gejalanya pada anak sering ringan, tetapi Kemenkes RI menyebut rubela pada ibu hamil dapat menyebabkan keguguran, bayi lahir mati, dan kecacatan pada bayi, termasuk kelainan jantung, kelainan mata, ketulian, dan keterlambatan tumbuh kembang. Jadi saat anak diimunisasi MR, ia juga ikut melindungi ibu hamil di sekitarnya.

Dua kolom komplikasi: campak pada anak (diare, radang paru, radang otak, kebutaan, gizi buruk, kematian) dan rubela pada ibu hamil (keguguran, bayi lahir mati, kelainan jantung dan mata, ketulian, keterlambatan tumbuh kembang)
Komplikasi campak pada anak dan rubela pada kehamilan, sesuai daftar Kemenkes RI. Karena vaksin MR mencegah keduanya, satu suntikan melindungi anak sekaligus keluarga. Diagram: Asuh Anak.

Kapan jadwal imunisasi campak menurut Kemenkes RI dan IDAI?

Di Indonesia ada dua jadwal yang sama-sama resmi, dan keduanya menempatkan imunisasi campak di waktu yang hampir sama. Jadwal program pemerintah dipakai di posyandu dan puskesmas, sementara jadwal IDAI adalah rekomendasi organisasi profesi dokter anak yang biasanya diikuti di praktik dokter anak. Pembahasan lengkap kedua jadwal ada di artikel jadwal vaksin IDAI dan jadwal imunisasi bayi.

Dalam program pemerintah, tabel resmi Kemenkes RI menempatkan Campak Rubela 1 pada usia 9 bulan dan Campak Rubela 2 pada usia 18 bulan, bersamaan dengan DPT-HB-Hib 4. Dosis berikutnya diberikan pada usia kelas 1 SD atau sederajat. Rekomendasi IDAI 2024 menyebut vaksin MR disuntikkan subkutan mulai umur 9 bulan, dosis kedua pada umur 15 sampai 18 bulan, dan dosis ketiga pada umur 5 sampai 7 tahun.

Garis waktu jadwal vaksin MR: program Kemenkes pada 9 bulan, 18 bulan, dan kelas 1 SD lewat BIAS bulan Agustus; rekomendasi IDAI 2024 pada 9 bulan, 15 sampai 18 bulan, dan 5 sampai 7 tahun
Tiga dosis vaksin MR menurut program pemerintah dan rekomendasi IDAI 2024. Polanya hampir sama, bedanya ada pada rentang usia dosis kedua dan pilihan vaksin MMR. Diagram: Asuh Anak.
DosisProgram pemerintah (Kemenkes RI)Rekomendasi IDAI 2024
Pertama9 bulan, vaksin MRMulai 9 bulan, vaksin MR
Kedua18 bulan, vaksin MR15 sampai 18 bulan, MR atau MMR
KetigaKelas 1 SD atau usia 7 tahun, lewat BIAS bulan Agustus5 sampai 7 tahun, MR atau MMR
JalurProgram pemerintah: puskesmas, posyandu, dan sekolah lewat BIASRekomendasi organisasi profesi, biasanya di praktik dokter anak

Perbedaannya kecil dan tidak perlu membuat bingung. Bila si kecil mengikuti jadwal posyandu, lanjutkan saja jadwal posyandu. Bila rutin kontrol ke dokter anak, dokter akan menyesuaikan dengan rekomendasi IDAI. Yang penting ketiga dosis terpenuhi dan tercatat di buku KIA.

Dosis ketiga lewat BIAS di sekolah

Dosis ketiga dalam program pemerintah tidak diberikan di posyandu, melainkan lewat Bulan Imunisasi Anak Sekolah atau BIAS. Menurut Kemenkes RI, sasaran imunisasi Campak Rubela dalam BIAS adalah anak kelas 1 SD, atau anak usia 7 tahun yang tidak bersekolah, diberikan satu kali pada bulan Agustus. Pada bulan November, anak kelas 1 menerima imunisasi DT.

BIAS dilaksanakan di sekolah, madrasah, dan pesantren. Untuk anak usia sekolah yang tidak bersekolah, Kemenkes RI menyebut imunisasi dapat diberikan di puskesmas, posyandu, dan fasilitas pelayanan kesehatan lain. Kalau anak sakit atau tidak masuk pada hari pelaksanaan, imunisasi masih bisa diberikan di puskesmas atau secara mandiri di fasilitas kesehatan lain.

Kemenkes RI menjelaskan manfaat imunisasi campak rubela di usia sekolah adalah melindungi anak dari campak yang dapat menimbulkan pneumonia, ensefalitis, kebutaan, bahkan kematian. Dosis ulangan ini penting karena anak sekolah bergaul setiap hari dengan puluhan teman sekelas, lingkungan tempat penyakit menular seperti campak mudah menyebar. Menjelang Agustus, ada baiknya Bunda memeriksa apakah sekolah sudah membagikan surat pemberitahuan BIAS dan menyiapkan buku KIA atau kartu imunisasi anak.

Reaksi setelah imunisasi campak dan cara merawatnya

Setelah disuntik, sebagian anak mengalami reaksi ringan. Kemenkes RI menyebut demam ringan, ruam merah, bengkak ringan, dan nyeri di tempat suntikan setelah imunisasi sebagai reaksi normal yang akan menghilang dalam 2 sampai 3 hari, sedangkan kejadian ikutan pasca imunisasi yang serius sangat jarang terjadi. Kemenkes RI juga menegaskan vaksin dalam program imunisasi nasional sudah diakui WHO dan lulus uji Badan POM.

Di rumah, Bunda bisa membantu anak lebih nyaman dengan langkah sederhana: tetap susui atau beri minum lebih sering, pakaikan baju yang tipis dan nyaman, dan biarkan anak beristirahat. Pantau suhunya dan catat bila ada keluhan. Bila Bunda ingin memberi obat penurun demam, tanyakan dulu dosis yang sesuai berat badan anak kepada bidan atau dokter yang menyuntik, jangan menebak dosis sendiri.

Yang perlu dibedakan adalah reaksi wajar dan tanda yang perlu diperiksa. Reaksi wajar bersifat ringan dan membaik dalam beberapa hari.

Segera hubungi tenaga kesehatan bila setelah imunisasi anak demam tinggi, tampak sangat lemas atau sulit dibangunkan, tidak mau menyusu atau minum, sesak napas, kejang, atau keluhan tidak membaik setelah 2 sampai 3 hari. Lebih baik diperiksa dan ternyata tidak apa-apa daripada menunggu di rumah.

Bagaimana kalau jadwal imunisasi campak terlewat?

Jadwal terlewat adalah hal yang sangat umum, misalnya karena anak sedang sakit, pindah rumah, atau posyandu libur. Kabar baiknya, imunisasi yang terlewat masih bisa dilengkapi. Kemenkes RI meminta orang tua melihat kembali status imunisasi bayi dan baduta yang terlambat, lalu melaporkannya kepada bidan desa atau petugas imunisasi puskesmas setempat agar dilengkapi.

Rekomendasi IDAI 2024 memberi pegangan khusus untuk campak: bila sampai usia 12 bulan anak belum mendapat MR, dapat diberikan MR atau MMR, dosis kedua dengan interval 6 bulan, dan dosis ketiga pada usia 5 sampai 7 tahun. Jadi anak yang terlambat tidak perlu mengulang dari awal, cukup melanjutkan dari dosis yang tercatat.

Langkah praktisnya:

  1. Buka buku KIA atau kartu imunisasi, lihat dosis MR mana yang sudah dan belum tercatat.
  2. Datangi posyandu, puskesmas, atau dokter anak dengan membawa catatan itu.
  3. Biarkan petugas menentukan jadwal kejaran sesuai usia anak sekarang.
  4. Catat tanggal dosis berikutnya, lalu pasang pengingat di ponsel.

Bila anak sedang sakit di hari jadwal, sampaikan kondisinya kepada petugas. Mereka akan menilai apakah imunisasi bisa diberikan hari itu atau perlu ditunda sebentar.

Merawat anak yang tertular campak dan kapan ke tenaga kesehatan

Bila anak menunjukkan gejala yang mirip campak, bawa ke fasilitas kesehatan agar diperiksa langsung. Beri tahu petugas sejak awal bahwa anak diduga campak, supaya anak lain di ruang tunggu, terutama bayi yang belum cukup umur untuk diimunisasi dan ibu hamil, bisa dilindungi.

WHO menjelaskan bahwa tidak ada pengobatan khusus untuk campak, sehingga perawatan berfokus meredakan gejala, membuat anak nyaman, dan mencegah komplikasi. Minum yang cukup penting untuk mencegah dehidrasi, begitu juga makanan bergizi. WHO juga merekomendasikan dua dosis vitamin A untuk semua anak di bawah 5 tahun yang diduga campak, diberikan saat diagnosis dan diulang keesokan harinya, dengan dosis yang ditentukan tenaga kesehatan. Vitamin A ini membantu mencegah kerusakan mata dan kebutaan.

Selama sakit, jauhkan anak dari ibu hamil. Kemenkes RI secara khusus menganjurkan penderita campak rubela dijauhkan dari ibu hamil, dan WHO mencatat campak saat hamil dapat berujung keguguran atau bayi lahir prematur dengan berat badan rendah. Bila Bunda sendiri sedang hamil sambil merawat kakak yang sakit, bicarakan dengan bidan atau dokter kandungan sesegera mungkin. Informasi lain seputar menjaga kesehatan selama hamil tersedia di panduan kehamilan, termasuk imunisasi yang dianjurkan untuk ibu seperti suntik TT.

Tanda yang perlu segera diperiksa

Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan bila ia demam disertai ruam, terutama bila ada batuk, pilek, dan mata merah. Tanda yang lebih mendesak antara lain napas cepat atau sesak, anak sangat lemas atau sulit dibangunkan, tidak mau minum, diare terus-menerus, mata sangat merah atau silau, dan kejang. WHO mencatat komplikasi campak mencakup gangguan napas berat, diare berat dengan dehidrasi, radang otak, dan kebutaan, jadi tanda-tanda itu tidak boleh ditunggu.

Untuk imunisasinya sendiri, jadikan kunjungan rutin ke posyandu atau dokter sebagai momen memastikan jadwal MR tetap berjalan. Catatan imunisasi yang rapi juga membantu memantau tumbuh kembang anak secara keseluruhan. Bila ada pertanyaan ringan di luar jam layanan, Asisten Tanya Bunda bisa menjadi teman diskusi awal, meski tetap tidak menggantikan pemeriksaan langsung oleh tenaga kesehatan. Panduan vaksin lainnya dapat Bunda telusuri di kategori Imunisasi.

Tiga dosis vaksin MR mungkin terasa sepele di tengah kesibukan merawat anak. Namun setiap dosis yang terpenuhi menutup satu celah bagi penyakit yang, menurut WHO, termasuk yang paling mudah menular di dunia.

Sumber

Artikel ini disusun untuk edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Jadwal imunisasi dapat diperbarui dari waktu ke waktu dan kondisi setiap anak berbeda, sehingga keputusan mengenai pemberian vaksin campak-rubela pada anak Anda sebaiknya dibicarakan dengan bidan, dokter, atau petugas kesehatan terdekat.

Pertanyaan yang sering muncul

Imunisasi campak diberikan usia berapa?
Dalam program pemerintah, imunisasi campak diberikan dalam bentuk vaksin campak-rubela (MR) sebanyak tiga kali. Menurut Kemenkes RI, dosis pertama pada usia 9 bulan, dosis kedua pada usia 18 bulan, dan dosis berikutnya saat anak duduk di kelas 1 SD atau sederajat melalui Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). Rekomendasi IDAI 2024 memakai pola yang mirip, yaitu 9 bulan, 15 sampai 18 bulan, dan 5 sampai 7 tahun.
Apa bedanya vaksin campak, MR, dan MMR?
Vaksin MR melindungi dari dua penyakit sekaligus, yaitu campak (measles) dan rubela, dan inilah yang dipakai program imunisasi pemerintah. Vaksin MMR menambahkan perlindungan terhadap gondongan (mumps). Menurut jadwal IDAI 2024, dosis kedua dan ketiga boleh memakai MR atau MMR, dan anak yang sampai usia 12 bulan belum mendapat MR dapat diberikan MR atau MMR.
Di mana anak bisa mendapat imunisasi campak?
Campak-rubela termasuk imunisasi rutin lengkap dalam program pemerintah. Untuk bayi dan baduta, Kemenkes RI mengarahkan orang tua ke bidan desa atau petugas imunisasi puskesmas setempat. Dosis usia sekolah diberikan lewat BIAS di sekolah, madrasah, atau pesantren setiap bulan Agustus, sedangkan anak yang tidak bersekolah dapat menerimanya di puskesmas, posyandu, atau fasilitas kesehatan lain. Vaksin MMR tidak tercantum dalam jadwal program pemerintah, sehingga biasanya diberikan di luar program, misalnya di praktik dokter anak.
Apakah wajar anak demam setelah imunisasi campak?
Kemenkes RI menyebut demam ringan, ruam merah, bengkak ringan, dan nyeri di tempat suntikan setelah imunisasi sebagai reaksi normal yang akan menghilang dalam 2 sampai 3 hari. Kejadian ikutan pasca imunisasi yang serius sangat jarang terjadi. Bila demam tinggi, anak tampak sangat lemas, atau keluhan tidak membaik setelah beberapa hari, segera periksakan ke bidan atau dokter.
Bagaimana kalau jadwal imunisasi campak anak terlewat?
Imunisasi yang terlewat masih bisa dikejar, jadi tidak perlu mengulang dari awal. Kemenkes RI meminta orang tua melihat kembali status imunisasi di buku KIA lalu melapor ke bidan desa atau petugas imunisasi puskesmas agar dilengkapi. IDAI 2024 menyebut anak yang sampai usia 12 bulan belum mendapat MR dapat diberikan MR atau MMR, dosis kedua dengan interval 6 bulan, dan dosis ketiga pada usia 5 sampai 7 tahun.
Apakah ada obat khusus untuk campak?
Tidak ada obat khusus yang membunuh virus campak. WHO menjelaskan perawatannya berfokus meredakan gejala, mencegah dehidrasi, dan mencegah komplikasi. WHO merekomendasikan dua dosis vitamin A untuk semua anak di bawah 5 tahun yang diduga campak, diberikan saat diagnosis dan diulang keesokan harinya sesuai dosis dari tenaga kesehatan. Karena itu pencegahan lewat imunisasi jauh lebih penting daripada mengandalkan pengobatan.
Kenapa ibu hamil perlu dijauhkan dari anak yang sakit campak atau rubela?
Karena keduanya berbahaya pada kehamilan. Kemenkes RI menyebut rubela pada ibu hamil dapat menyebabkan keguguran, bayi lahir mati, dan kecacatan pada bayi seperti kelainan jantung, kelainan mata, ketulian, serta keterlambatan tumbuh kembang. WHO juga mencatat campak saat hamil dapat berujung keguguran atau bayi lahir prematur dengan berat badan rendah. Kemenkes RI secara khusus menganjurkan penderita dijauhkan dari ibu hamil.

Konten ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Untuk keputusan medis, hubungi dokter atau bidan Anda.

Punya pertanyaan seputar imunisasi?

Tanya lewat WhatsApp