Artikel ini bagian dari panduan bayi baru lahir, halaman induk yang mengumpulkan seluruh bacaan untuk tahap ini.
Imunisasi DPT Adalah: Arti, Jadwal DPT-HB-Hib, dan Reaksinya
Jawaban singkat. Imunisasi DPT mencegah tiga penyakit berbahaya: difteri, pertusis (batuk rejan), dan tetanus. Di Indonesia vaksinnya berbentuk kombinasi DPT-HB-Hib yang juga melindungi dari hepatitis B dan Haemophilus influenzae tipe b. Menurut Kemenkes RI, DPT-HB-Hib diberikan pada usia 2, 3, dan 4 bulan, lalu dosis lanjutan pada usia 18 bulan.
Oleh Tim Redaksi Asuh AnakKebijakan Editorial· 12 menit baca· Terakhir diperbarui

Imunisasi DPT adalah imunisasi untuk mencegah tiga penyakit berbahaya: difteri, pertusis (batuk rejan), dan tetanus. Di Indonesia, vaksin ini diberikan dalam bentuk kombinasi DPT-HB-Hib yang sekaligus melindungi dari hepatitis B dan Haemophilus influenzae tipe b. Menurut Kemenkes RI, DPT-HB-Hib diberikan pada usia 2, 3, dan 4 bulan, lalu dosis lanjutan pada usia 18 bulan, kemudian diperkuat lewat imunisasi DT dan Td saat anak duduk di bangku SD.
Kalau Bunda membuka buku KIA, nama vaksin ini tertulis "DPT-HB-Hib" dan kolomnya muncul empat kali, lebih sering dari hampir semua vaksin lain. Wajar kalau muncul pertanyaan: kenapa sebanyak itu, apa isinya, dan apakah demam sesudahnya berbahaya. Artikel ini menjawab satu per satu, mulai dari arti tiap huruf, jadwal versi pemerintah dan IDAI, reaksi yang wajar, sampai cara mengejar jadwal yang terlewat. Untuk menghitung jadwal dari tanggal lahir si kecil, Anda bisa memakai tools Jadwal Imunisasi.
Apa arti DPT dan DPT-HB-Hib di buku KIA?
Nama DPT berasal dari huruf depan tiga penyakit: D untuk difteri, P untuk pertusis, dan T untuk tetanus. Kemenkes RI mencantumkan difteri, pertusis (batuk rejan), dan tetanus di dalam daftar penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi atau PD3I, dan ketiganya disebabkan oleh bakteri. Dua komponen tambahan pada vaksin kombinasi program pemerintah adalah HB untuk hepatitis B, penyakit akibat virus yang merusak hati, dan Hib untuk Haemophilus influenzae tipe b.
Menggabungkan beberapa antigen dalam satu suntikan bukan hal baru. WHO menyebut vaksin difteri paling sering diberikan dalam kombinasi dengan vaksin tetanus, pertusis, Haemophilus influenzae, hepatitis B, dan polio inaktif. Bagi orang tua, keuntungannya praktis: jumlah suntikan yang diterima bayi dalam satu kunjungan menjadi lebih sedikit, tetapi perlindungannya tetap mencakup lima penyakit.
Di kalangan orang tua, kombinasi ini kadang disebut "pentavalen" karena berisi lima komponen. IDAI juga memakai istilah itu, dan menyebut vaksin Hib diberikan dalam bentuk kombinasi sesuai jadwal vaksin pentavalen atau heksavalen. Jadi bila dokter menyebut pentavalen atau heksavalen, keduanya tetap termasuk keluarga imunisasi DPT.
Mengenal difteri, pertusis, dan tetanus
Ketiga penyakit ini berbeda cara penularan dan gejalanya, tetapi sama-sama bisa berakibat fatal pada anak. Mengenali ciri masing-masing membantu Bunda memahami kenapa vaksinnya diberikan sejak bayi.
Difteri menular lewat percikan ludah saat batuk, bersin, dan berbicara, serta lewat alat makan dan minum yang dipakai bersama. Kemenkes RI menyebut difteri dapat menyerang semua usia dan mengakibatkan sesak napas bahkan kematian. WHO menjelaskan bakteri difteri menghasilkan racun yang merusak jantung dan saraf, dan pada orang yang belum divaksin tanpa pengobatan yang tepat, difteri dapat berakibat fatal pada sekitar 30 persen kasus, dengan anak di bawah 5 tahun paling berisiko.
Pertusis dikenal juga sebagai batuk rejan atau batuk 100 hari. Menurut Kemenkes RI, penyakit bakteri ini menular lewat percikan ludah dan gejalanya berupa batuk keras terus-menerus, diawali tarikan napas panjang lewat mulut dengan bunyi melengking, kadang disertai muntah setelah batuk. Bila tidak ditangani, komplikasinya meliputi sesak napas, perdarahan pada mata, dan malnutrisi.
Tetanus tidak menular dari orang ke orang. WHO menjelaskan tetanus terjadi ketika luka atau goresan terinfeksi spora bakteri Clostridium tetani, yang ada di mana-mana di lingkungan, termasuk di tanah, abu, dan kotoran hewan maupun manusia. Pada bayi baru lahir, Kemenkes RI menyebut tetanus neonatorum bisa terjadi lewat pemotongan dan perawatan tali pusat yang tidak bersih, dengan gejala sulit menyusu, mulut mencucu, kejang, dan kaku.
| Penyakit | Penyebab dan penularan | Gejala yang perlu dikenali |
|---|---|---|
| Difteri | Bakteri, lewat percikan ludah dan alat makan bersama | Nyeri menelan, demam atau tanpa demam, selaput putih di tenggorokan, leher bengkak |
| Pertusis | Bakteri, lewat percikan ludah | Batuk keras terus-menerus dengan tarikan napas melengking, kadang muntah |
| Tetanus | Spora bakteri masuk lewat luka, tidak menular antarmanusia | Pada bayi: sulit menyusu, mulut mencucu, kejang, kaku |
Kapan jadwal imunisasi DPT menurut Kemenkes RI dan IDAI?
Program pemerintah: empat dosis bayi dan tiga dosis sekolah
Dalam program pemerintah, imunisasi yang mengandung komponen difteri dan tetanus diberikan tujuh kali dari bayi sampai kelas 5 SD. Tabel resmi Kemenkes RI menempatkan DPT-HB-Hib 1 pada usia 2 bulan, DPT-HB-Hib 2 pada usia 3 bulan, DPT-HB-Hib 3 pada usia 4 bulan, dan DPT-HB-Hib 4 pada usia 18 bulan bersama Campak Rubela 2. Pada kunjungan yang sama bayi biasanya juga menerima vaksin lain seperti polio, PCV, dan rotavirus.
Setelah balita, perlindungan diperkuat lewat Bulan Imunisasi Anak Sekolah atau BIAS. Kemenkes RI menetapkan imunisasi DT untuk murid kelas 1, serta Td untuk murid kelas 2 dan kelas 5, masing-masing diberikan satu kali pada bulan November. Anak yang tidak bersekolah tetap menjadi sasaran pada usia yang setara, yaitu 7, 8, dan 11 tahun.
| Usia atau kelas | Vaksin (program pemerintah) | Keterangan |
|---|---|---|
| 2 bulan | DPT-HB-Hib 1 | Imunisasi dasar |
| 3 bulan | DPT-HB-Hib 2 | Imunisasi dasar |
| 4 bulan | DPT-HB-Hib 3 | Imunisasi dasar |
| 18 bulan | DPT-HB-Hib 4 | Imunisasi lanjutan baduta, bersama Campak Rubela 2 |
| Kelas 1 SD (usia 7 tahun) | DT | BIAS, bulan November |
| Kelas 2 SD (usia 8 tahun) | Td | BIAS, bulan November |
| Kelas 5 SD (usia 11 tahun) | Td | BIAS, bulan November |
Semua catatan ini sebaiknya tersimpan rapi di buku KIA. Susunan lengkap vaksin di tahun pertama bisa Bunda lihat pada artikel jadwal imunisasi bayi.
Rekomendasi IDAI 2024
Ikatan Dokter Anak Indonesia punya rekomendasi sendiri yang biasanya diikuti di praktik dokter anak. IDAI 2024 menyebut vaksin DTPw atau DTPa disuntikkan intramuskular dan dapat diberikan mulai usia 6 minggu. DTPa dapat diberikan pada usia 2, 3, 4 bulan atau 2, 4, 6 bulan, dengan booster pertama pada usia 18 bulan.
Booster berikutnya menurut IDAI diberikan pada usia 5 sampai 7 tahun dan 10 sampai 18 tahun. Mulai usia 7 tahun, vaksin yang dipakai adalah Td atau Tdap. IDAI juga mencatat bahwa pada BIAS, murid SD kelas 1 menerima DT, kelas 2 menerima Td, dan kelas 5 menerima Td, sama dengan program pemerintah.
Huruf kecil "w" dan "a" pada DTPw dan DTPa merujuk pada jenis komponen pertusisnya. Keduanya tercantum sebagai pilihan dalam jadwal IDAI, dan dokter akan menjelaskan mana yang tersedia serta cocok untuk anak Anda. Perbedaan kecil seperti ini tidak perlu membuat bingung. Bila anak mengikuti jadwal posyandu, lanjutkan jadwal posyandu. Bila rutin kontrol ke dokter anak, dokter akan menyesuaikan dengan rekomendasi IDAI. Perbandingan lengkap kedua jadwal untuk semua vaksin dibahas di artikel jadwal vaksin IDAI.
Kenapa imunisasi DPT perlu diulang berkali-kali?
Pertanyaan ini sangat wajar, dan jawabannya ada pada cara tubuh membangun kekebalan terhadap penyakit tertentu. WHO menyebut difteri adalah penyakit yang bisa dicegah dengan vaksin, tetapi dibutuhkan beberapa dosis dan dosis penguat untuk membentuk dan mempertahankan kekebalan. WHO merekomendasikan semua anak mendapat seri primer lengkap ditambah 3 dosis booster untuk perlindungan jangka panjang.
Untuk tetanus, anjurannya bahkan lebih rinci. WHO merekomendasikan total 6 dosis vaksin berisi toksoid tetanus agar terlindungi seumur hidup, yaitu 3 dosis primer dan 3 booster yang sebaiknya diberikan pada usia 12 sampai 23 bulan, 4 sampai 7 tahun, dan 9 sampai 15 tahun. Pola ini sejalan dengan jadwal Indonesia: dosis bayi, dosis 18 bulan, lalu dosis di kelas 1, 2, dan 5 SD.
Ada satu fakta lagi yang sering mengejutkan orang tua. WHO menegaskan orang yang sembuh dari tetanus tidak membentuk kekebalan alami dan tetap bisa terinfeksi lagi. Artinya, untuk tetanus tidak ada "kebal karena pernah sakit". Perlindungan hanya datang dari vaksin, dan itulah alasan setiap dosis di buku KIA layak dikejar sampai lengkap.
Reaksi setelah imunisasi DPT dan cara merawatnya
Setelah suntikan DPT-HB-Hib, sebagian bayi rewel atau demam. Kemenkes RI menjelaskan demam ringan, ruam merah, bengkak ringan, dan nyeri di tempat suntikan setelah imunisasi adalah reaksi normal yang akan menghilang dalam 2 sampai 3 hari, sedangkan kejadian ikutan pasca imunisasi yang serius sangat jarang terjadi. Kemenkes RI juga menyebut vaksin dalam program imunisasi nasional sudah diakui WHO dan lulus uji Badan POM.
Di rumah, beberapa langkah sederhana membantu bayi lebih nyaman. Susui lebih sering, karena menyusu menenangkan sekaligus menjaga cairan tubuh. Pakaikan baju tipis yang tidak menekan area bekas suntikan, dan biarkan bayi banyak beristirahat. Bila Bunda ingin memberi obat penurun demam, tanyakan dulu dosis yang sesuai berat badan bayi kepada bidan atau dokter, jangan menebak sendiri. Panduan posisi yang nyaman saat menyusui bayi yang rewel bisa Bunda baca di artikel posisi menyusui yang benar.
Bedakan reaksi wajar dengan tanda yang perlu diperiksa. Reaksi wajar bersifat ringan dan membaik dalam 2 sampai 3 hari.
Bagaimana kalau jadwal imunisasi DPT terlambat?
Jadwal yang mundur karena bayi sakit, pindah kota, atau posyandu libur adalah hal yang sangat umum. Imunisasi yang terlambat tidak perlu diulang dari awal, cukup dilanjutkan. Kemenkes RI meminta orang tua melihat kembali status imunisasi bayi dan baduta yang terlambat, lalu melaporkannya kepada bidan desa atau petugas imunisasi puskesmas setempat agar dilengkapi.
Langkah praktisnya:
- Buka buku KIA dan hitung dosis DPT-HB-Hib yang sudah tercatat.
- Bawa buku itu ke posyandu, puskesmas, atau dokter anak.
- Biarkan petugas menentukan jadwal kejaran sesuai usia anak sekarang.
- Catat tanggal dosis berikutnya dan pasang pengingat di ponsel.
Jangan lupa bahwa dosis usia sekolah juga bisa terlewat, misalnya karena anak tidak masuk pada hari BIAS. Kemenkes RI menyebut anak usia sekolah yang belum mendapat imunisasi pada hari pelaksanaan BIAS dapat menerimanya di puskesmas atau secara mandiri di fasilitas pelayanan kesehatan lain. Kalau Bunda ragu dosis mana yang sudah lengkap, catatan di buku KIA adalah pegangan utama. Artikel imunisasi merangkum gambaran besar semua vaksin anak bila Bunda ingin melihat konteks yang lebih luas.
Perlindungan keluarga dan kapan segera ke tenaga kesehatan
Difteri dan tetanus pada ibu, bayi, dan keluarga
Perlindungan terhadap difteri dan tetanus tidak berhenti pada anak. Kemenkes RI mencantumkan imunisasi Td pada wanita usia subur (berdasarkan penapisan) sebagai salah satu cara mencegah difteri dan tetanus neonatorum, di samping persalinan di fasilitas kesehatan dan perawatan tali pusat yang bersih. Informasi tentang imunisasi tetanus saat hamil dibahas di artikel suntik TT ibu hamil.
WHO mencatat bahwa pada 2021 sedikit di atas 7.700 bayi baru lahir meninggal akibat tetanus neonatorum, turun 84 persen sejak tahun 2000, terutama berkat perluasan imunisasi. Penurunan sebesar itu menunjukkan bahwa kombinasi imunisasi ibu, persalinan yang bersih, dan imunisasi bayi benar-benar bekerja. Bagi Bunda yang sedang merencanakan persalinan, panduan kehamilan di Asuh Anak bisa menjadi titik awal.
Untuk difteri, peran keluarga juga penting. Kemenkes RI mewajibkan orang yang kontak dengan penderita difteri minum antibiotik sesuai arahan petugas kesehatan sampai habis, melengkapi imunisasi, dan menjalani pengambilan swab tenggorokan bila diminta. Jadi bila ada kasus difteri di lingkungan sekolah atau tempat tinggal, ikuti arahan puskesmas setempat.
Tanda yang tidak boleh ditunggu
Bawa anak ke fasilitas kesehatan secepatnya bila muncul tanda difteri seperti nyeri menelan, selaput putih di tenggorokan, atau leher bengkak, dengan atau tanpa demam. WHO menegaskan risiko komplikasi atau kematian akibat difteri turun banyak bila pengobatan yang tepat diberikan sejak awal penyakit, jadi jangan menunggu. Batuk keras terus-menerus dengan tarikan napas melengking, apalagi pada bayi, juga perlu segera diperiksa.
Untuk tetanus, WHO menyebut penyakit ini adalah kegawatdaruratan medis yang membutuhkan perawatan di rumah sakit. Pada bayi baru lahir, tanda yang disebut Kemenkes RI adalah sulit menyusu, mulut mencucu, kejang, dan kaku. Luka yang dalam atau kotor pada anak sebaiknya juga diperiksakan agar tenaga kesehatan bisa menilai status imunisasinya.
Imunisasi DPT mungkin terasa rutin, empat kali di masa bayi dan tiga kali di sekolah. Namun setiap dosis itulah yang menjaga agar penyakit seperti difteri dan tetanus tetap jarang terdengar. Pantau juga tumbuh kembang anak dan berat badan bayi pada kunjungan yang sama supaya satu perjalanan ke posyandu memberi manfaat ganda. Untuk pertanyaan ringan di luar jam layanan, Asisten Tanya Bunda bisa menjadi teman diskusi awal, meski tidak menggantikan pemeriksaan langsung. Panduan vaksin lain, termasuk imunisasi campak, tersedia di kategori Imunisasi.
Sumber
- Kemenkes RI - Seputar Imunisasi (Ayo Sehat, 1000 Hari Pertama Kehidupan)
- Kemenkes RI - Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS)
- IDAI - Jadwal Imunisasi Anak Umur 0-18 Tahun Rekomendasi IDAI 2024 (PDF)
- WHO - Diphtheria (fact sheet)
- WHO - Tetanus (fact sheet)
Artikel ini disusun untuk edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Jadwal imunisasi dapat diperbarui dari waktu ke waktu dan kondisi setiap anak berbeda, sehingga keputusan mengenai pemberian vaksin DPT-HB-Hib, DT, atau Td pada anak Anda sebaiknya dibicarakan dengan bidan, dokter, atau petugas kesehatan terdekat.
Pertanyaan yang sering muncul
Imunisasi DPT adalah imunisasi untuk mencegah apa?
Imunisasi DPT diberikan usia berapa?
Apa bedanya DPT, DT, dan Td?
Apakah wajar anak demam setelah imunisasi DPT?
Kalau jadwal imunisasi DPT terlambat, apakah harus diulang dari awal?
Kenapa imunisasi difteri dan tetanus perlu diulang sampai usia sekolah?
Apa tanda difteri yang perlu segera dilaporkan?
Konten ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Untuk keputusan medis, hubungi dokter atau bidan Anda.
Punya pertanyaan seputar imunisasi?
Tanya lewat WhatsApp

