Obat Penambah Darah untuk Ibu Hamil: Panduan Zat Besi
Oleh Tim Redaksi Asuh Anak· 14 menit baca

Obat penambah darah untuk ibu hamil yang paling umum di Indonesia bukanlah obat keras, melainkan suplemen gizi yang dikenal sebagai Tablet Tambah Darah atau TTD. Menurut Pedoman Penatalaksanaan Pemberian Tablet Tambah Darah dari Kemenkes RI, TTD adalah suplemen gizi yang mengandung senyawa zat besi setara dengan 60 mg besi elemental dan 400 mcg asam folat. Tujuannya satu, yaitu mencegah dan menanggulangi anemia, kondisi yang menurut data Riskesdas 2013 yang dikutip Kemenkes RI dialami 37,1% ibu hamil di Indonesia. Artikel ini membahas isi TTD, aturan minum menurut pedoman resmi, efek samping yang wajar, makanan pendukungnya, sampai kapan Bunda perlu menemui tenaga kesehatan. Satu hal yang perlu ditegaskan sejak awal: keputusan meminum obat atau suplemen apa pun selama kehamilan, termasuk TTD, harus melalui konsultasi dengan dokter atau bidan yang memeriksa Anda, karena hanya mereka yang tahu kondisi Bunda secara utuh.
Apa Itu Obat Penambah Darah untuk Ibu Hamil?
Istilah "obat penambah darah" sebenarnya adalah sebutan sehari-hari yang kita pakai untuk suplemen zat besi. Namanya memang terdengar seperti obat, padahal fungsinya bukan menambah darah secara harfiah, melainkan memasok bahan baku yang tubuh butuhkan untuk membentuk hemoglobin, protein di dalam sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen ke seluruh tubuh, termasuk ke janin.
Kemenkes RI mendefinisikan TTD sebagai suplemen gizi yang mengandung senyawa zat besi setara dengan 60 mg besi elemental dan 400 mcg asam folat. Dua komponen ini punya peran yang berbeda. Zat besi adalah bahan pembentuk hemoglobin, sedangkan asam folat berperan dalam pembentukan DNA serta perkembangan otak dan saraf janin, seperti dijelaskan Kemenkes RI dalam panduan rekomendasi suplemen semasa kehamilan. Karena perannya penting sejak awal, asam folat punya pembahasan tersendiri yang bisa Bunda baca di artikel asam folat untuk ibu hamil.
Angka 60 mg dan 400 mcg itu bukan anjuran pribadi untuk siapa pun yang membaca artikel ini, melainkan spesifikasi TTD program yang dipakai tenaga kesehatan. WHO lewat platform eLENA merekomendasikan suplementasi harian besi dan asam folat oral dengan rentang 30 mg sampai 60 mg besi elemental dan 400 mikrogram (0,4 mg) asam folat pada ibu hamil, untuk mencegah anemia maternal, sepsis nifas, berat badan lahir rendah, dan kelahiran prematur. Rentangnya ada karena kebutuhan tiap ibu berbeda. Itulah alasan penentuan akhirnya tetap ada di tangan tenaga kesehatan, bukan di tangan pembaca artikel atau penjaga toko.
- Menyediakan bahan baku pembentukan hemoglobin, pengangkut oksigen ke tubuh Bunda dan janin.
- Mencegah dan menanggulangi anemia gizi besi selama kehamilan.
- Melengkapi, bukan menggantikan, makanan bergizi seimbang sehari-hari.
Mengapa Ibu Hamil Rentan Mengalami Anemia
Kehamilan menaikkan kebutuhan zat besi secara drastis. Kemenkes RI menuliskan bahwa sepanjang kehamilannya, ibu membutuhkan tambahan zat besi sekitar 1000 mg, dan bila tambahan kebutuhan ini tidak terpenuhi dari simpanan tubuh, maka perlu didapat dari suplementasi. Inilah akar masalahnya: lonjakan kebutuhan itu sering kali lebih besar daripada yang bisa dipenuhi simpanan dan menu harian, terutama bila pola makan sehari-hari kurang kaya sumber zat besi hewani.
Anemia sendiri, menurut Kemenkes RI, adalah keadaan kadar hemoglobin dalam darah kurang dari normal, yang batasnya berbeda menurut kelompok umur, jenis kelamin, dan kondisi fisiologis. Untuk ibu hamil, Kemenkes RI menyebut kondisi dengan kadar hemoglobin di bawah 11 sebagai anemia pada kehamilan. Angka pastinya hanya bisa diketahui lewat pemeriksaan darah, bukan dari menebak berdasarkan wajah yang pucat atau badan yang terasa lemas.
Skalanya juga bukan masalah kecil. Kemenkes RI mengutip Riskesdas 2013 yang mencatat prevalensi anemia pada ibu hamil sebesar 37,1%, sementara prevalensi anemia nasional untuk semua kelompok umur 21,7%. Di tingkat global, WHO mencatat bahwa pada 2019 sebanyak 37% atau sekitar 32 juta ibu hamil berusia 15 sampai 49 tahun terkena anemia. Jadi kalau Bunda didiagnosis anemia saat kontrol kehamilan, itu bukan kelalaian pribadi. Ini kondisi yang sangat lazim dan, yang lebih penting, bisa ditangani.
Gejala yang perlu Bunda kenali
Kemenkes RI menyebut bahwa defisiensi besi, bahkan yang belum disertai anemia berat, sudah cukup menimbulkan gejala yang dikenal dengan 5 L, yaitu lesu, lemah, letih, lelah, dan lalai. Penyebabnya adalah menurunnya kadar oksigen yang dibutuhkan jaringan tubuh, termasuk otot untuk aktivitas fisik dan otak untuk berpikir. Daya tahan tubuh juga ikut menurun sehingga penderitanya lebih mudah terkena penyakit infeksi.
Dalam pembahasan anemia pada kehamilan, Kemenkes RI juga menyebut sejumlah keluhan lain seperti denyut jantung meningkat, napas terasa cepat, pusing, kulit pucat, telinga berdenging, sulit berkonsentrasi, sesak, dan ujung tangan atau kaki terasa dingin. Masalahnya, banyak dari keluhan ini mirip sekali dengan rasa lelah biasa saat hamil, seperti yang juga dibahas dalam artikel ciri-ciri hamil muda. Itulah sebabnya pemeriksaan hemoglobin rutin di posyandu atau puskesmas jauh lebih bisa diandalkan daripada perasaan sendiri.
Kenapa anemia perlu dicegah sejak awal
Kemenkes RI menjelaskan bahwa ibu hamil yang menderita anemia berisiko mengalami keguguran, bayi lahir sebelum waktunya, bayi berat lahir rendah, serta perdarahan sebelum, saat, dan setelah melahirkan. Pada anemia sedang dan berat, perdarahan dapat menjadi lebih parah sehingga berisiko terhadap terjadinya kematian ibu dan bayi. Dampaknya juga berlanjut ke anak: bayi yang lahir dari ibu anemia memiliki persediaan zat besi yang sangat sedikit di tubuhnya, sehingga berisiko mengalami anemia pada usia dini yang dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangannya.
Uraian ini sengaja kami sampaikan apa adanya, bukan untuk menakut-nakuti. Justru sebaliknya, karena semua risiko itu berhubungan langsung dengan sesuatu yang sederhana dan murah untuk dicegah. Kaitannya dengan tumbuh kembang anak jangka panjang, termasuk upaya pencegahan stunting, membuat gizi ibu selama hamil layak diperlakukan sebagai prioritas keluarga, bukan urusan ibu seorang diri.
Tablet Tambah Darah dalam Program Kemenkes
Ini bagian yang paling sering ditanyakan, dan jawabannya sudah diatur dalam pedoman resmi. Menurut Pedoman Penatalaksanaan Pemberian Tablet Tambah Darah dari Kemenkes RI, upaya pencegahan anemia gizi besi pada ibu hamil dilakukan dengan memberikan satu TTD setiap hari selama kehamilan, minimal 90 tablet, dimulai sedini mungkin dan dilanjutkan sampai masa nifas.
Perlu digarisbawahi, angka minimal 90 tablet itu adalah standar program nasional yang dipakai tenaga kesehatan untuk merencanakan dan memantau pemberian TTD, bukan resep otomatis untuk setiap ibu. Konsultasikan dengan dokter atau bidan untuk dosis dan keputusan yang sesuai kondisi Anda, karena riwayat kesehatan, hasil pemeriksaan hemoglobin, dan usia kehamilan tiap orang berbeda.
Apa manfaat kepatuhannya? Pedoman yang sama mengutip WHO 2012 bahwa pemberian TTD setiap hari selama kehamilan dapat menurunkan risiko anemia maternal 70% dan defisiensi besi 57%. Angka sebesar itu untuk satu tablet kecil per hari adalah salah satu intervensi kesehatan dengan hasil paling sepadan yang tersedia bagi ibu hamil.
Soal ketersediaan, Kemenkes RI menyebutkan bahwa TTD dapat diperoleh di puskesmas atau tempat pelayanan kesehatan pemerintah lainnya, atau secara mandiri dibeli di apotek, toko obat, dan tempat pelayanan kesehatan swasta. Artinya biaya semestinya bukan penghalang. Bila Bunda rutin kontrol kehamilan, TTD biasanya sudah menjadi bagian dari layanan, dan catatan konsumsinya dapat dipantau bersama petugas lewat Buku KIA.
Bagaimana kalau sudah terlanjur anemia?
Pedoman Kemenkes RI membedakan antara pencegahan dan pengobatan. Untuk ibu hamil yang sudah didiagnosis anemia, pedoman tersebut mengatur pemberian yang berbeda dari pencegahan, disertai pemeriksaan kadar hemoglobin untuk memantau perkembangannya. Namun perlu ditegaskan bahwa ketentuan itu ditujukan bagi tenaga kesehatan dan berpijak pada hasil pemeriksaan, sehingga Bunda tidak boleh menaikkan sendiri jumlah tablet yang diminum.
Kemenkes RI juga mencatat bahwa sebagian anemia, terutama anemia berat dengan kadar hemoglobin di bawah 7 g/dL, biasanya disertai penyakit yang melatarbelakanginya, antara lain TBC, infeksi cacing, atau malaria. Karena itu selain penanggulangan anemianya, penyakit penyerta tersebut juga harus diobati. Inilah alasan kuat mengapa anemia tidak bisa diselesaikan sendiri di rumah dengan menambah tablet. Diperlukan pemeriksaan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
- Menambah atau mengurangi jumlah tablet sendiri tanpa penilaian tenaga kesehatan.
- Membeli suplemen zat besi hanya berdasarkan saran teman, iklan, atau ulasan di media sosial.
- Menghentikan TTD diam-diam karena merasa mual, tanpa memberi tahu bidan atau dokter.
Cara Minum Tablet Tambah Darah agar Penyerapannya Optimal
Zat besi termasuk zat gizi yang penyerapannya mudah terganggu, sehingga cara meminumnya sangat berpengaruh. Kabar baiknya, aturannya sederhana dan bisa dijalankan siapa saja.
Untuk meningkatkan penyerapan, Kemenkes RI menyarankan TTD sebaiknya dikonsumsi bersama buah-buahan sumber vitamin C seperti jeruk, pepaya, mangga, dan jambu biji, serta bila memungkinkan bersama daging, ikan, atau unggas. Dalam penjelasan tentang anemia pada kehamilan, Kemenkes RI juga menyebut TTD diminum satu kali sehari atau sesuai indikasi dan sebaiknya diminum bersama vitamin C untuk membantu penyerapan.
Sebaliknya, ada beberapa hal yang menurut Kemenkes RI sebaiknya dihindari bersamaan dengan TTD:
- Susu. Susu hewani umumnya mengandung kalsium dalam jumlah tinggi sehingga dapat menurunkan penyerapan zat besi di mukosa usus.
- Teh dan kopi. Keduanya mengandung senyawa fitat dan tanin yang mengikat zat besi menjadi senyawa kompleks sehingga tidak dapat diserap.
- Tablet kalsium dosis tinggi. Kalsium dosis tinggi dapat menghambat penyerapan zat besi.
- Obat maag yang melapisi permukaan lambung. Kemenkes RI memasukkannya ke dalam daftar yang mengganggu penyerapan besi.
Poin tentang kalsium sering membingungkan, karena Kemenkes RI juga merekomendasikan kalsium selama kehamilan untuk mencegah preeklampsia. Keduanya tidak bertentangan. Yang menjadi masalah adalah meminumnya berbarengan, bukan mengonsumsi keduanya dalam satu hari. Cara paling aman adalah menanyakan langsung kepada bidan bagaimana mengatur jeda antara TTD, kalsium, dan suplemen lain, sebagaimana juga dibahas dalam panduan vitamin ibu hamil.
- Minum TTD dengan air putih, lalu makan buah kaya vitamin C seperti jeruk atau pepaya.
- Beri jarak dengan teh, kopi, dan susu, jangan diminum berbarengan.
- Bila mual, coba minum pada malam hari menjelang tidur.
- Bawa kemasan TTD saat kontrol supaya petugas bisa memantau jumlah yang sudah diminum.
- Minta bantuan suami atau anggota keluarga untuk mengingatkan setiap hari.
Efek Samping Tablet Tambah Darah dan Cara Menyiasatinya
Kemenkes RI mengakui secara terbuka bahwa kepatuhan konsumsi TTD di Indonesia masih sangat rendah, dan salah satu penyebab utamanya adalah efek samping. Pada individu tertentu, konsumsi TTD dapat menimbulkan gejala seperti mual, nyeri di daerah lambung, muntah, dan kadang-kadang terjadi diare atau sulit buang air besar.
Yang menarik, pedoman tersebut justru menekankan bahwa mual selain bisa muncul karena minum TTD juga merupakan kondisi yang umum terjadi pada ibu hamil pada trimester pertama. Karena itu, menurut Kemenkes RI, perlu diberikan pengertian bahwa penyebab mual tersebut bukanlah semata-mata karena TTD. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi mual atau nyeri lambung adalah mengonsumsi TTD pada malam hari menjelang tidur. Pedoman itu juga menyampaikan bahwa gejala-gejala tersebut tidak berbahaya, dan tubuh akan menyesuaikan sehingga gejalanya semakin berkurang seiring berjalannya waktu.
Satu efek yang paling sering membuat panik adalah tinja berwarna hitam. Kemenkes RI menyatakan bahwa terjadinya perubahan warna hitam pada tinja menunjukkan tanda yang normal karena mengonsumsi TTD, dan warna hitam itu disebabkan adanya sisa zat besi yang tidak diserap oleh tubuh. Jadi ini bukan tanda perdarahan akibat TTD, melainkan hal yang memang diharapkan terjadi.
Tiga anggapan yang sering membuat Bunda berhenti minum TTD
- "Mual berarti tubuh saya menolak TTD." Menurut Kemenkes RI, mual pada trimester pertama adalah hal yang umum pada kehamilan dan tidak semata-mata disebabkan TTD. Mengonsumsinya menjelang tidur adalah salah satu siasat yang dianjurkan sebelum memutuskan berhenti.
- "Tinja hitam berarti ada yang salah." Kemenkes RI justru menyebutnya tanda yang normal, akibat sisa zat besi yang tidak diserap tubuh.
- "Kalau makan saya sudah bergizi, TTD tidak perlu." Kemenkes RI menyebut kebutuhan tambahan zat besi selama kehamilan sekitar 1000 mg dan perlu didapat dari suplementasi bila tidak terpenuhi dari simpanan tubuh. Makanan tetap pilar utama, tetapi keduanya saling melengkapi.
Kalau keluhannya terasa berat atau tidak juga mereda, jalan keluarnya bukan berhenti diam-diam, melainkan bicara dengan bidan atau dokter. Mereka bisa menyesuaikan pengaturannya. Prinsip ini berlaku untuk semua yang Bunda telan selama hamil, termasuk saat sedang sakit ringan, seperti dibahas dalam artikel obat batuk untuk ibu hamil.
Makanan Penambah Darah yang Bisa Melengkapi TTD
TTD bukan pengganti makan yang baik. Kemenkes RI menempatkan konsumsi makanan bergizi seimbang yang terdiri dari aneka ragam makanan, termasuk sumber pangan hewani yang kaya zat besi dalam jumlah proporsional, sebagai upaya utama mencegah anemia. Contoh makanan kaya zat besi yang disebut adalah hati, ikan, daging, dan unggas. Buah-buahan disebut akan meningkatkan penyerapan zat besi karena mengandung vitamin C yang tinggi.
Ada satu hal teknis yang berguna Bunda ketahui. Zat besi dari pangan nabati adalah jenis non heme, yang penyerapannya jauh lebih dipengaruhi oleh makanan lain yang disantap bersamaan. Kemenkes RI menyebut vitamin C, daging, ikan, dan unggas dapat meningkatkan penyerapan zat besi, sedangkan kalsium dan serat bersifat menghambat. Karena itu, menurut pedoman tersebut, dibutuhkan pangan nabati dalam jumlah yang banyak untuk mencukupi kebutuhan zat besi dalam sehari, dan hal ini sulit dilakukan sehari-hari.
Ini bukan alasan untuk meremehkan sayur. Justru sebaliknya, ini alasan untuk memasangkannya dengan cerdas. Beberapa kebiasaan yang bisa dicoba:
- Sandingkan sumber zat besi nabati seperti bayam atau kacang-kacangan dengan sumber vitamin C, misalnya tumis sayur yang ditutup dengan buah potong sebagai pencuci mulut.
- Sertakan sumber hewani seperti ikan, telur, hati ayam, atau daging dalam menu mingguan sesuai kemampuan keluarga, karena zat besi hewani lebih mudah diserap.
- Geser waktu minum teh manis atau kopi ke jam yang jauh dari waktu makan utama dan waktu minum TTD.
- Perhatikan pengolahan: Kemenkes RI menyebut pengolahan makanan yang terlalu lama dengan temperatur terlalu tinggi berpengaruh terhadap penyerapan zat besi.
- Cukupi protein harian, karena Kemenkes RI menyebut protein berperan dalam pembentukan hemoglobin.
Kemenkes RI juga menyinggung fortifikasi, yaitu penambahan satu atau lebih zat gizi ke dalam pangan untuk meningkatkan nilai gizinya, dan menyarankan agar konsumen membiasakan diri membaca label kemasan. Kalau Bunda ingin membaca gambaran menyeluruh soal perawatan kehamilan dari awal, artikel panduan kehamilan bisa menjadi titik mulai yang enak diikuti.
Kapan Harus ke Dokter atau Bidan
Sebelum masuk ke daftar tanda bahaya, penting diingat bahwa kontrol kehamilan rutin adalah cara paling andal untuk memantau anemia, karena hemoglobin hanya bisa diketahui lewat pemeriksaan, bukan lewat perasaan. Jadi jangan menunggu ada keluhan untuk datang.
Segera hubungi bidan, dokter, atau fasilitas kesehatan terdekat bila Bunda mengalami hal berikut:
- Keluhan yang disebut Kemenkes RI pada anemia kehamilan muncul makin nyata, misalnya sesak napas, nyeri dada, jantung berdebar, atau pusing hebat sampai sulit beraktivitas.
- Rasa lelah, lemah, dan sulit berkonsentrasi yang tidak membaik meski istirahat cukup.
- Efek samping TTD seperti mual, muntah, atau nyeri lambung yang berat sehingga Bunda tidak sanggup melanjutkan konsumsinya.
- Ada perdarahan dari jalan lahir, dalam bentuk apa pun dan sebanyak apa pun.
- Kulit, bibir, atau kelopak mata bagian dalam tampak sangat pucat.
- Bunda punya riwayat penyakit tertentu, sedang minum obat lain, atau pernah dinyatakan memiliki gangguan darah seperti talasemia, sebelum mulai suplemen apa pun.
Datang untuk diperiksa bukan berarti Bunda berlebihan. Kalaupun hasilnya baik-baik saja, Anda pulang dengan hati yang lebih tenang, dan itu sudah cukup berharga. Bila ada pertanyaan yang ingin ditelusuri dulu sebelum kontrol, Bunda bisa memakai Asisten AI Bunda sebagai teman mencari informasi awal, dengan catatan tetap tenaga kesehatan yang memberi keputusan.
Menutup semuanya, obat penambah darah untuk ibu hamil sejatinya adalah hal sederhana yang berdampak besar: satu tablet kecil, diminum konsisten setiap hari, dengan cara yang tepat, ditemani makanan bergizi dan kontrol kehamilan yang rutin. Bunda tidak perlu menghafal angka-angka di artikel ini. Yang perlu Bunda bawa pulang cuma dua: minum TTD sesuai arahan tenaga kesehatan yang memeriksa Anda, dan jangan ragu bertanya bila ada yang mengganjal. Untuk menelusuri topik seputar masa kehamilan lebih jauh, silakan mampir ke kumpulan artikel kehamilan di Asuh Anak.
Sumber
- Kemenkes RI - Pedoman Penatalaksanaan Pemberian Tablet Tambah Darah (PDF)
- Kemenkes RI - Ayo Sehat: Buku Pedoman Penatalaksanaan Pemberian Tablet Tambah Darah
- Kemenkes RI - Anemia pada Kehamilan
- Kemenkes RI - Ayo Sehat: Rekomendasi Suplemen Semasa Kehamilan
- WHO - Anaemia (fact sheet)
- WHO - eLENA: Daily iron and folic acid supplementation during pregnancy
Artikel ini disusun sebagai edukasi dan bukan pengganti konsultasi langsung dengan tenaga kesehatan. Angka dan aturan yang dikutip di sini berasal dari pedoman resmi yang ditujukan bagi tenaga kesehatan, sehingga tidak boleh dijadikan patokan dosis pribadi. Untuk penilaian kadar hemoglobin, penentuan kebutuhan suplemen zat besi, dan penanganan yang sesuai dengan kondisi Anda, silakan berkonsultasi dengan bidan atau dokter yang memeriksa kehamilan Anda.
Pertanyaan yang sering muncul
Apa obat penambah darah yang biasa diberikan untuk ibu hamil?
Berapa banyak tablet tambah darah yang perlu diminum selama hamil?
Kenapa tablet tambah darah membuat tinja jadi hitam?
Bolehkah minum tablet tambah darah bersama susu, teh, atau kopi?
Bagaimana kalau tablet tambah darah membuat mual?
Apakah makan sayur dan daging saja cukup, tanpa tablet tambah darah?
Kalau saya sudah didiagnosis anemia, apakah tabletnya ditambah sendiri?
Konten ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Untuk keputusan medis, hubungi dokter atau bidan Anda.
Punya pertanyaan seputar kehamilan?
Tanya lewat WhatsApp

