Artikel ini bagian dari panduan bayi baru lahir, halaman induk yang mengumpulkan seluruh bacaan untuk tahap ini.
Pompa ASI: Jenis, Cara Pakai, dan Aturan Menyimpan Hasil Perahan
Oleh Tim Redaksi Asuh AnakKebijakan Editorial· 17 menit baca· Terakhir diperbarui

Pompa ASI adalah alat bantu untuk mengeluarkan air susu dari payudara agar bisa ditampung, disimpan, dan diberikan kepada bayi di lain waktu. Jenisnya terbagi menjadi pompa manual yang digerakkan tangan, pompa elektrik satu sisi, pompa elektrik dua sisi, serta pompa wearable yang menyatu di dalam bra. Yang paling menentukan bukan jenis alatnya, melainkan kenyamanan pemakaian, kebersihan alat, dan cara menyimpan hasil perahan. Menurut IDAI, sebaiknya semua metode memerah didemonstrasikan kepada para ibu sehingga para ibu dapat mencoba dan memilih metode memerah ASI yang paling sesuai dengan dirinya. Artikel ini membahas cara kerja tiap jenis pompa secara netral, cara memakainya agar tidak menyakitkan, kebersihan dan sterilisasi alat, sampai aturan penyimpanan ASI perah lengkap dengan durasinya menurut IDAI dan Kemenkes RI.
Apa Itu Pompa ASI dan Kapan Bunda Perlu Memakainya
Pompa ASI bekerja dengan menciptakan tekanan negatif yang berulang pada payudara, meniru pola isapan bayi, sehingga ASI mengalir keluar dan tertampung dalam wadah. Alat ini tidak menambah ASI dengan sendirinya. Yang membuat produksi bertahan adalah payudara yang rutin dikosongkan, entah oleh bayi, oleh tangan Bunda, atau oleh pompa.
Perlu ditegaskan sejak awal bahwa pompa bukan syarat untuk berhasil menyusui. WHO dan UNICEF merekomendasikan bayi mulai menyusu dalam satu jam pertama kelahiran, mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan pertama, lalu tetap disusui sampai usia 2 tahun atau lebih sambil mendapat makanan pendamping yang aman dan memadai. Menyusui langsung dari payudara tetap menjadi cara utama. Pompa masuk sebagai alat bantu ketika menyusui langsung tidak memungkinkan.
IDAI menyebutkan beberapa keadaan ketika ibu mungkin perlu memerah ASI, yaitu ketika payudara sangat bengkak, bayi untuk sementara tidak dapat minum, puting sangat lecet, atau ketika ibu ingin merangsang pengeluaran ASI. Di luar itu, alasan paling umum di Indonesia adalah ibu kembali bekerja. IDAI menegaskan bahwa ibu bekerja bukanlah hambatan dalam memberikan ASI eksklusif, dan menyarankan ibu berlatih memerah sejak saat ASI pertama keluar atau payudara mulai terasa penuh, yang umumnya terjadi di minggu pertama setelah kelahiran.
Satu catatan penting yang sering terlewat: IDAI menyebutkan bahwa cara yang bersih dan praktis adalah memerah dengan tangan, dan menyarankan ibu mempertimbangkan latihan memerah ASI dengan tangan walaupun merasa belum terlalu perlu, sebagai persiapan untuk kejadian yang tidak diharapkan. IDAI bahkan mencatat bahwa kebanyakan ibu memerah ASI secara manual daripada dengan pompa saat bekerja karena merasa lebih mudah dan lebih produktif, meskipun sebagian ibu lain menganggap gerakan mekanik dari pompa lebih efektif. Jadi kalau Bunda belum sanggup membeli pompa, keterampilan tangan Bunda sendiri sudah cukup untuk memulai.
Jenis Pompa ASI Berdasarkan Cara Kerjanya
Berikut empat pendekatan yang paling umum ditemui, dijelaskan dari sisi mekanisme dan situasi pemakaian, bukan dari sisi merek atau harga.
Memerah dengan tangan
Ini bukan pompa, tetapi wajib disebut lebih dulu karena menjadi dasar semua teknik lain dan tidak memerlukan alat apa pun selain wadah bersih. IDAI memberikan langkahnya: cuci tangan, siapkan mangkuk bersih bermulut lebar, letakkan ibu jari di atas areola dan jari lain di bawah areola membentuk huruf C, tekan ke arah dada, lalu tekan sambil sedikit mengurut ke arah puting sampai ASI memancar keluar. Posisi jari diubah berkeliling supaya semua bagian terperah. IDAI menyarankan memerah satu payudara selama 3 sampai 5 menit, lalu bergantian, sampai payudara terasa kosong dalam waktu sekitar 20 sampai 30 menit. Cocok untuk keadaan darurat, saat listrik mati, saat bepergian, dan saat payudara terasa penuh tetapi pompa tidak terjangkau.
Pompa manual
Pompa manual digerakkan sepenuhnya oleh tenaga tangan Bunda, biasanya lewat tuas atau bola karet yang dipompa berulang. Karena tidak ada motor, Bunda mengendalikan sendiri irama dan kekuatan isapan, dan alatnya tidak bersuara. Konsekuensinya, tangan cepat pegal bila memerah lama atau sering. Menurut IDAI, pompa manual biasanya lebih praktis dan lebih terjangkau dibandingkan pompa elektrik. Jenis ini masuk akal bila Bunda memerah sesekali saja, misalnya untuk meredakan payudara yang penuh, atau sebagai cadangan yang selalu siap tanpa bergantung listrik.
Pompa elektrik satu sisi
Pompa elektrik memakai motor bertenaga listrik atau baterai untuk menghasilkan isapan berulang, sehingga tangan Bunda tidak perlu bekerja terus-menerus. Versi satu sisi memerah satu payudara dalam satu waktu. Kelebihannya, tenaga Bunda lebih hemat dibanding pompa manual dan biasanya ada pengaturan tingkat isapan. Kekurangannya, waktu yang dibutuhkan menjadi dua kali lipat karena payudara diperah bergantian. IDAI menyebutkan bahwa pompa elektrik harganya cukup mahal. Cocok untuk Bunda yang memerah rutin di rumah dan tidak terlalu terburu waktu.
Pompa elektrik dua sisi
Prinsip kerjanya sama dengan pompa elektrik satu sisi, tetapi satu motor menggerakkan dua corong sekaligus sehingga kedua payudara diperah bersamaan. Keuntungan utamanya sederhana dan nyata, yaitu waktu. IDAI menyebutkan bahwa biasanya diperlukan 15 sampai 20 menit untuk mengosongkan kedua payudara, dan memerah dua sisi sekaligus membantu Bunda menyelesaikan sesi dalam satu rentang waktu itu, bukan dua kali. Jenis ini masuk akal bila jeda istirahat Bunda di tempat kerja pendek, atau bila Bunda perlu memerah beberapa kali sehari secara rutin.
Pompa wearable atau hands free
Pada jenis ini motor, corong, dan wadah penampung menyatu dalam satu unit yang dimasukkan ke dalam bra, tanpa selang dan botol yang menggantung. Daya tariknya adalah kedua tangan Bunda tetap bebas dan alatnya tidak terlihat dari luar. Perlu diketahui bahwa panduan resmi IDAI, Kemenkes RI, dan WHO belum membahas jenis ini secara khusus, jadi tidak ada anjuran resmi yang bisa dikutip untuknya. Dua hal praktis yang perlu Bunda perhatikan: kapasitas penampungnya terbatas sehingga perlu dikosongkan lebih sering, dan karena corong tersembunyi di dalam bra, Bunda tidak bisa melihat posisi puting. Dalam kondisi itu, prinsip IDAI bahwa memerah jangan sampai terasa sakit menjadi satu-satunya penanda yang bisa Bunda andalkan.
Cara Memilih Pompa ASI yang Cocok untuk Bunda
Pemilihan pompa lebih tepat dimulai dari pertanyaan tentang pola hidup Bunda, bukan dari daftar fitur. Seberapa sering Bunda akan memerah? Berapa lama waktu yang tersedia sekali memerah? Apakah ada colokan listrik dan ruangan yang layak di tempat Bunda memerah? IDAI mengingatkan bahwa tempat memerah ASI sedapat mungkin memang tersedia khusus untuk tujuan tersebut dan bukan di toilet.
Dari sisi alat, beberapa hal berikut layak diperiksa, dan semuanya bisa dinilai tanpa menyebut merek:
- Ukuran corong. Corong yang terlalu sempit atau terlalu longgar membuat memerah terasa sakit dan hasilnya sedikit. Ini titik paling sering bermasalah, dan IDAI menegaskan memerah jangan sampai terasa sakit.
- Pengaturan daya isap bertahap. Bunda perlu bisa memulai dari isapan paling lembut lalu menaikkannya perlahan sesuai kenyamanan.
- Jumlah sisi. Dua sisi bila waktu memerah Bunda terbatas, satu sisi bila Bunda hanya memerah sesekali.
- Sumber daya. Baterai atau daya isi ulang berguna bila Bunda sering berpindah tempat atau listrik di rumah sering padam.
- Kemudahan dibongkar dan dicuci. Semakin sedikit celah sempit dan sudut tersembunyi, semakin mudah alat dijaga kebersihannya.
- Ketersediaan suku cadang. Katup dan membran adalah bagian karet tipis yang paling cepat aus. Daya isap yang melemah sering kali bukan karena mesin rusak, melainkan karena bagian ini perlu diganti.
- Bahan bebas BPA. Kemenkes RI menyebutkan wadah penampung ASI sebaiknya mudah disterilkan dan berbahan BPA Free atau bebas Bisphenol A.
Bila Bunda ingin menelusuri kriteria teknis pompa bertenaga listrik lebih dalam, pembahasannya ada di artikel pompa ASI elektrik.
Cara Memakai Pompa ASI agar Nyaman dan Efektif
Sebelum memerah. Kemenkes RI meminta Bunda mencuci tangan terlebih dahulu dengan sabun dan air mengalir sebelum memerah ASI. IDAI menambahkan bahwa wadah penampung sebaiknya sudah dicuci dengan air panas mengandung sabun dan telah dibilas. Untuk memperlancar aliran, IDAI menyarankan mengompres payudara dengan air hangat dan memijatnya dengan lembut sebelum memerah, serta memijat dari dasar payudara ke arah puting untuk merangsang refleks oksitosin.
Saat memerah. Pasang corong sehingga puting berada tepat di tengah, mulai dari daya isap paling rendah, lalu naikkan perlahan sampai terasa nyaman. Berhenti menaikkan begitu mulai terasa tidak enak. IDAI menyarankan memerah di ruangan yang nyaman sambil memandang foto bayi atau mendengarkan rekaman tangis bayi, karena kondisi rileks membantu ASI mengalir. IDAI juga menganjurkan relaksasi selama 20 menit setiap hari di luar waktu memerah ASI.
Berapa lama dan berapa sering. Menurut IDAI, biasanya diperlukan 15 sampai 20 menit untuk mengosongkan kedua payudara, dan ibu disarankan berlatih memerah lebih dulu sambil memperhatikan berapa waktu yang dibutuhkan dirinya sendiri. Untuk frekuensinya, IDAI menyarankan menetapkan jadwal memerah biasanya setiap 3 sampai 4 jam, dan selama ibu bekerja diusahakan dapat memerah setiap 3 jam. Bila Bunda sedang jauh dari bayi, IDAI menyarankan memompa payudara sesuai jam bayi biasa minum.
Bila hasil perahan di awal masih sedikit, itu wajar dan bukan tanda kegagalan. IDAI secara khusus mengingatkan agar Bunda jangan putus asa bila saat awal memerah jumlah ASI yang keluar sedikit, karena dengan memompa secara rutin biasanya produksi ASI akan meningkat dalam 2 minggu. Teknik memerah selangkah demi selangkah dibahas lebih rinci di artikel pumping ASI.
Satu hal yang perlu Bunda ketahui sejak awal soal cara memberikannya: IDAI menyebutkan bahwa ASI perah sebaiknya tidak diberikan dengan botol karena akan mengganggu penyusuan langsung dari payudara, sebab mengisap dari botol berbeda dengan menyusu langsung dari ibu. IDAI menyarankan berlatih memberikan ASI perah melalui cangkir, sendok, atau pipet, serta melatih pengasuh agar terampil menggunakannya. WHO juga menyatakan bahwa botol, dot, dan empeng sebaiknya tidak digunakan.
Kebersihan dan Sterilisasi Pompa ASI
Bagian ini paling sering diabaikan padahal risikonya nyata. Pompa memiliki banyak celah, lekukan, dan bagian karet yang menyimpan sisa ASI, dan sisa lemak susu yang mengering adalah tempat kuman berkembang biak. Prinsipnya sederhana: semua komponen yang dilalui ASI, seperti corong, katup, membran, selang yang bersentuhan dengan ASI, dan botol penampung, harus dilepas dan dibersihkan setiap selesai dipakai. Bagian mesin, kabel, dan baterai justru harus dijaga tetap kering dan tidak boleh dicuci.
Langkah mencuci. IDAI memberikan panduan kebersihan peralatan minum bayi yang prinsipnya berlaku juga di sini. Selalu cuci tangan dengan air mengalir dan sabun sebelum mencuci peralatan. Cuci peralatan secara saksama dengan air hangat dan sabun sampai semua sisa susu tersikat bersih tanpa sisa, lalu bilas dengan air bersih. IDAI menekankan agar pencucian dilakukan segera setelah dipakai, sebelum susu mengeras dan terjebak di permukaan sehingga menjadi tempat berkembang biak kuman yang sulit dibersihkan. Untuk bagian berbentuk botol, gunakan sikat botol yang panjang dan ramping agar bisa mencapai seluruh sudutnya.
Dua cara sterilisasi menurut IDAI. Dalam panduannya tentang menjaga peralatan makan bayi tetap bersih dan aman, IDAI menyebutkan dua cara sederhana yang dapat dilakukan:
- Perebusan atau uap panas. Tempatkan peralatan dalam panci besar, siram dengan air mendidih sampai seluruh peralatan terendam dan semua botol terisi air. Biarkan air terus mendidih selama 5 menit, ditandai dengan air yang terus berbuih. Setelah itu biarkan mendingin di dalam air dan tutup dengan penutup steril.
- Desinfeksi kimiawi. Larutkan sodium hipoklorit 1 persen atau pemutih sebanyak 15 mL ke dalam 1 liter air, disiapkan baru setiap hari. Rendam seluruh peralatan selama 1 jam. IDAI menegaskan larutan ini harus segera dibuang setiap harinya.
Pengeringan dan penyimpanan alat. Setelah sterilisasi, IDAI menyebutkan peralatan harus dikeringkan dengan baik dengan cara ditiriskan, lalu dilindungi dari kontaminasi. Botol diletakkan terbalik di tempat pengeringan yang steril dan idealnya ditutup dengan kain bersih. IDAI secara khusus menegaskan bahwa peralatan sebaiknya tidak dikeringkan dengan kain karena ada risiko kontaminasi. Setelah kering, simpan dalam wadah bersih dan kering yang bertutup sampai pemakaian berikutnya. Untuk wadah penampung ASI, IDAI juga menyebutkan kontainer harus dicuci dengan air panas dan sabun serta dianginkan hingga kering sebelum dipakai.
- Merendam bagian pompa dalam air bekas cucian piring atau membiarkannya menumpuk semalaman sebelum dicuci
- Mengelap corong dan katup dengan lap dapur atau tisu, karena IDAI menyebut pengeringan dengan kain berisiko mengontaminasi kembali
- Memakai bersama bagian yang bersentuhan dengan ASI dengan ibu lain
- Merebus komponen yang tidak tahan panas, jadi periksa dulu buku petunjuk produsen untuk batas suhu tiap bagian
- Menyimpan alat yang masih lembap dalam wadah tertutup rapat
Aturan Menyimpan ASI Perah: Suhu Ruang, Kulkas, dan Freezer
Bagian ini adalah yang paling menentukan keamanan ASI perah, jadi angkanya diambil langsung dari IDAI dan Kemenkes RI. Perlu Bunda ketahui bahwa keduanya mencantumkan angka yang sebagian berbeda, dan hal itu wajar karena tiap lembaga menetapkan batas kehati-hatian sendiri.
| Tempat penyimpanan | Suhu | Menurut Kemenkes RI | Menurut IDAI |
|---|---|---|---|
| Suhu ruangan panas | 27 sampai 32 derajat Celsius | maksimal 4 jam | tidak dicantumkan |
| Suhu ruangan sejuk | maksimal 25 derajat Celsius | 6 sampai 8 jam | 6 sampai 8 jam |
| Cooler bag dengan ice pack | sekitar 15 derajat Celsius | maksimal 24 jam | 24 jam |
| Kulkas bagian pendingin | kurang dari 4 derajat Celsius | 48 sampai 72 jam (2 sampai 3 hari) | sampai 5 hari |
| Freezer kulkas 1 pintu | minus 15 sampai 0 derajat Celsius | 2 minggu | 2 minggu |
| Freezer kulkas 2 pintu | minus 20 sampai minus 18 derajat Celsius | 3 sampai 6 bulan | 3 sampai 6 bulan |
| Deep freezer yang jarang dibuka | minus 20 derajat Celsius | tidak dicantumkan | 6 sampai 12 bulan |
Angka Kemenkes RI di atas dicantumkan pada laman Ayo Sehat dan juga dirujuk dari buku saku Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) untuk Kader terbitan Kemenkes RI tahun 2021. Angka IDAI diambil dari tabel penyimpanan ASI pada panduan IDAI. Selisih paling mencolok ada di kulkas, yaitu 2 sampai 3 hari versus 5 hari. Bila Bunda ragu, pilih durasi yang lebih pendek, karena tidak ada kerugian dari bersikap lebih hati-hati.
- IDAI menegaskan bahwa petunjuk penyimpanan di atas berlaku untuk bayi cukup bulan yang sehat, tidak untuk bayi yang dirawat di rumah sakit atau bayi prematur. Untuk kondisi tersebut, mintalah petunjuk khusus dari tenaga kesehatan yang merawat.
- Kemenkes RI mengingatkan agar Bunda menghindari perubahan suhu yang terlalu ekstrem pada ASI perah. IDAI juga mencatat bahwa ASI yang disimpan lebih lama dari waktu yang dianjurkan tetap aman, tetapi kandungan lemaknya mulai terdegradasi sehingga kualitasnya menurun.
Aturan wadah dan penataan
- Kemenkes RI menyebutkan wadah penampung ASI sebaiknya mudah disterilkan, bisa berupa botol yang tertutup, gelas tahan panas, atau kantong khusus ASI berbahan bebas Bisphenol A. IDAI menganjurkan wadah yang keras dari kaca atau plastik keras, bertutup rapat, dan kedap udara, serta menghindari kantong plastik biasa dan botol susu disposable karena mudah bocor dan terkontaminasi. Menurut IDAI, kantong plastik khusus penyimpan ASI sebaiknya dipakai untuk jangka pendek saja, yaitu kurang dari 72 jam. Pembahasan khusus soal wadah ini ada di artikel kantong ASI.
- Jangan mengisi wadah sampai penuh. Kemenkes RI menyarankan menyisakan sekitar seperempat bagian kosong karena ASI perah cenderung mengembang dalam keadaan beku, dan IDAI menyebutkan angka sekitar 2,5 cm dari tutup botol.
- Beri label berisi nama anak dan tanggal ASI diperah, lalu gunakan yang paling dulu disimpan terlebih dahulu.
- Jangan menyimpan ASI di rak pintu lemari es atau freezer, karena suhu di sana paling sering berubah. IDAI menyarankan menaruhnya di bagian belakang, tempat suhu paling stabil.
- Simpan dalam porsi kecil sekitar 60 sampai 120 mL sesuai anjuran IDAI, agar ASI yang tidak habis tidak terbuang percuma.
- ASI yang diperah pada hari yang sama boleh digabung dengan cara mendinginkan ASI yang baru diperah minimal 1 jam di kulkas lebih dulu, baru ditambahkan ke ASI yang sudah dingin. IDAI menegaskan jangan menambahkan ASI hangat ke dalam ASI yang sudah dibekukan, dan ASI yang diperah pada hari berbeda disimpan di wadah berbeda.
Mencairkan dan menghangatkan
Untuk ASI beku, IDAI menyarankan memindahkan wadahnya ke lemari es selama satu malam agar mencair, lalu menghangatkannya dengan merendam wadah dalam air hangat. Kemenkes RI juga menyarankan memindahkan ASI dari freezer ke ruang pendingin kulkas terlebih dahulu, baru dihangatkan, dan menyebutkan bahwa ASI perah dihangatkan dengan merendamnya dalam wadah berisi air hangat atau memakai penghangat ASI elektrik. Gunakan gelas atau mangkuk berbahan kaca atau keramik, dan hindari plastik atau melamin. Sebelum diberikan, teteskan sedikit ASI ke pergelangan tangan untuk memeriksa suhunya, lalu goyang wadah dengan lembut agar krim yang mengapung tercampur kembali, bukan dikocok kuat.
Yang dilarang jelas dan disepakati kedua lembaga: IDAI menegaskan jangan menaruh wadah ASI dalam microwave karena microwave tidak memanaskan ASI secara merata, dapat merusak komponen ASI, dan membentuk bagian panas yang melukai bayi, serta botol dapat pecah bila terlalu lama di dalamnya. Kemenkes RI menyebut perubahan suhu yang terlalu cepat dapat menghilangkan kandungan antibodi yang dibutuhkan bayi. IDAI juga melarang memasak ASI atau memanaskannya langsung di atas api kompor. Selain itu, ASI yang sudah dicairkan tidak boleh dibekukan ulang, ASI yang sudah dihangatkan sebaiknya diberikan dalam waktu 24 jam, dan sisa ASI pada wadah yang tidak dihabiskan bayi tidak boleh dipergunakan ulang. Ulasan durasi penyimpanan yang lebih rinci bisa Bunda baca di artikel berapa lama ASI bertahan di suhu ruang.
Kesalahan Umum dan Kapan Harus Menemui Konselor Laktasi
Beberapa hal berikut sering terjadi dan mudah diperbaiki begitu Bunda menyadarinya:
- Langsung menyetel isapan paling kuat. Isapan kuat tidak membuat ASI keluar lebih banyak, hanya membuat puting nyeri. IDAI menegaskan memerah jangan sampai terasa sakit.
- Mengejar jumlah, bukan frekuensi. Yang menjaga produksi adalah payudara yang rutin dikosongkan setiap 3 sampai 4 jam sesuai anjuran IDAI, bukan satu sesi panjang sekali sehari.
- Menilai produksi ASI dari hasil sekali memerah. Jumlah perahan tidak selalu mencerminkan produksi, dan IDAI mengingatkan hasil yang sedikit di awal adalah hal biasa yang biasanya membaik dalam 2 minggu.
- Panik melihat warna atau bau ASI berubah. Menurut IDAI, warna ASI bisa berbeda setiap hari tergantung makanan ibu dan dapat terlihat kebiruan, kekuningan, atau kecoklatan, sedangkan ASI beku memang berbau berbeda dari ASI segar. IDAI menyatakan tidak ada alasan membuang ASI selama bayi masih mau meminumnya.
- Menunda mencuci alat. Sisa ASI yang mengering jauh lebih sulit dibersihkan, dan inilah pintu masuk kontaminasi.
Ada pula kondisi yang tidak bisa diselesaikan dengan mengatur alat dan sebaiknya diperiksa langsung. Segera hubungi bidan, dokter, atau konselor laktasi bila Bunda mengalami nyeri saat memerah yang tidak hilang meski daya isap sudah diturunkan dan ukuran corong sudah disesuaikan, puting lecet atau berdarah, payudara bengkak keras dan kemerahan apalagi disertai demam, produksi ASI menurun drastis meski Bunda sudah memerah rutin, bayi menolak menyusu langsung, atau berat badan bayi tidak naik sesuai grafik pertumbuhan. Bayi prematur dan bayi yang sedang dirawat memerlukan petunjuk tersendiri, karena IDAI menegaskan panduan penyimpanan umum tidak berlaku untuk mereka. Masalah menyusui lain yang sering muncul dibahas di artikel masalah menyusui umum.
Terakhir, satu pengingat yang sering dilupakan. IDAI menekankan bahwa keberhasilan memberikan ASI eksklusif pada ibu bekerja sangat bergantung pada dukungan suami, anggota keluarga lain, rekan sekerja, dan komunitas, sehingga ibu dapat dengan nyaman memberikan ASI serta mengasuh anaknya sambil bekerja. Memberikan ASI bukanlah semata-mata masalah ibu seorang diri, melainkan juga masalah keluarga dan masyarakat. Jadi meminta bantuan bukan tanda Bunda kurang mampu. Bacaan lain seputar topik ini bisa Bunda telusuri di kumpulan artikel ASI Asuh Anak.
Sumber
- IDAI - Memerah ASI
- IDAI - Sukses Menyusui Saat Bekerja
- IDAI - Penyimpanan ASI Perah
- IDAI - Menyusui dalam Keadaan Bencana
- IDAI - Menyiapkan Formula Bayi Secara Aman di Rumah
- Kemenkes RI - Ayo Sehat: ASI Eksklusif 6 Bulan Kuncinya
- Kemenkes RI - Jaga Kualitas Nutrisi, Ini Rekomendasi Terbaik Pemberian ASI
- Kemenkes RI - Ibu Bekerja Juga Bisa ASI Eksklusif
- WHO - Breastfeeding (health topic)
- WHO - Infant and young child feeding (fact sheet)
Artikel ini disusun sebagai bahan edukasi dan bukan pengganti konsultasi langsung dengan konselor laktasi atau tenaga kesehatan. Pemilihan pompa ASI, pengaturan jadwal memerah, dan keputusan seputar pemberian ASI perah, terutama pada bayi prematur atau bayi dengan kondisi medis tertentu, perlu didiskusikan dengan bidan, dokter, atau konselor laktasi yang memeriksa Bunda dan bayi secara langsung.
Pertanyaan yang sering muncul
Apa saja jenis pompa ASI dan mana yang paling cocok?
Apakah harus punya pompa ASI untuk bisa memberikan ASI perah?
Berapa jam sekali sebaiknya memerah dengan pompa ASI?
Berapa lama ASI perah boleh disimpan di suhu ruang, kulkas, dan freezer?
Bagaimana cara mensterilkan pompa ASI dengan benar?
Kenapa memakai pompa ASI terasa sakit?
Bolehkah memakai pompa ASI bekas atau meminjam punya ibu lain?
Konten ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Untuk keputusan medis, hubungi dokter atau bidan Anda.
Punya pertanyaan seputar asi?
Tanya lewat WhatsApp

